OZZY

Fokus:

X







 

Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Usia Lanjut (Aging)  

Pemanfaatan Obat Tradisional untuk Kesehatan Usila

LESTARI HANDAYANI
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan dan Teknologi Kesehatan

Pendahuluan

Kelompok umur usia lanjut (usila) semakin tinggi dari tahun ke tahun sebagai hasil dari semakin baiknya tingkat kesehatan di Indonesia. Kelompok ini pada umumnya merupakan kelompok yang kurang produktif, ditambah lagi dengan kondisi kesehatan yang mulai menurun seiring dengan meningkatnya usia mereka. Degenerasi dari organ tubuh menyebabkan sebagian usila menderita penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus (kencing manis), penyakit jantung koroner, rematik, dll.

Perhatian Departemen Kesehatan terhadap keberadaan mereka diwujudkan dalam bentuk program usila di Puskesmas yang berupaya untuk melakukan pemeliharaan kesehatan dan pengobatan penyakit pada kelompok ini. Program pelayanan kesehatan di puskesmas pada saat yang lalu lebih difokuskan pada pemanfaatan obat-obatan yang telah tersedia, yaitu obat moderen yang terbuat dari bahan kimia berkhasiat obat. Dengan adanya program penggalakan pemanfaatan TOGA (taman obat keluarga), pemikiran untuk pemanfaatan obat tradisional dengan menggunakan bahan berasal dari TOGA sangatlah tepat. Dengan telah dibentuknya posyandu usila di bawah binaan puskesmas maka obat tradisional berasal dari TOGA dapat diajarkan kepada usila untuk dimanfaatkan dalam upaya pengobatan sendiri oleh kelompok usila. Cara-cara sederhana ini telah dicoba diterapkan pada posyandu usila di beberapa puskesmas Jawa Timur dan Jawa Tengah pada 2000--2001 dan mendapat respons yang baik dari petugas kesehatan maupun kelompok usila.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari suatu program yang berisi kegiatan upaya pemberdayaan masyarakat melalui posyandu usila dengan memberikan tambahan ketrampilan dan pengetahuan praktis, antara lain cara pembuatan ramuan obat tradisional sederhana, senam usila, pijat refleksi, dan rehabilitasi medis. Pelatihan diberikan secara berjenjang, dimulai dari tenaga kesehatan puskesmas yang selanjutnya akan melatih kader posyandu usila, kemudian mempraktikkan langsung bersama peserta posyandu. Tulisan ini menyampaikan tentang pengetahuan dan ketrampilan meramu obat tradisional sederhana yang diajarkan dan dilatihkan pada petugas kesehatan. Evaluasi mengenai upaya tersebut sedang dilakukan untuk memperoleh masukkan demi perbaikan program posyandu usila .

Manfaat TOGA bagi Kelompok Usila

Pemanfaatan TOGA bagi kelompok usila tidaklah sekadar untuk pengobatan. Pembudidayaan tumbuhan berkhasiat obat merupakan suatu proses tersendiri yang dapat dimanfaatkan dalam rangka mendukung upaya pemeliharaan kesehatan kelompok usila. TOGA dan obat tradisional dapat dimanfaatkan oleh usila dari berbagai segi, yaitu:

  1. Latihan fisik dan kesehatan mental

    Pemeliharaan TOGA oleh para usila akan memberikan aktivitas tersendiri yang akan membantu menghilangkan kejenuhan karena sudah tidak banyak aktivitas yang dapat dilakukan. Dengan melakukan penyiraman tanaman, penyiangan, pemotongan daun-daun kering, serta memetik buah dan bunga yang sudah waktunya dipanen, akan memberikan kegembiraan tersendiri. Apalagi bila hasil kerja mereka kemudian dapat dimanfaatkan baik untuk kebutuhan sendiri, anggota keluarga, tetangga, maupun kerabat dekat mereka yang akan memberikan motivasi agar mereka dapat terus berkarya. Hasil kerja yang dihargai akan meningkatkan semangat hidup dan lebih menggairahkan aktivitas sehari-hari mereka.

    Pekerjaan berkebun yang ringan akan memberikan latihan otot dan sendi, namun bila dilakukan secara berlebihan akan memberikan beban pada otot dan sendi yang dapat menyebabkan keluhan/gangguan kesehatan. Dengan keterbatasan kondisi usila di mana otot sudah tidak sekuat tenaga muda, persendian sudah sering terserang nyeri, jantung yang sudah tidak sesehat pada waktu berusia tiga puluhan, akan memberikan mereka beberapa keterbatasan. Oleh karena itu, dalam melakukan kegiatan berkebun harus disesuaikan dengan kemampuan fisik usila. Mencangkul merupakan pekerjaan yang berat. Mengangkat air berember-ember untuk menyiram tanaman juga akan menguras tenaga mereka. Pilihan pekerjaan dalam proses pemeliharaan TOGA harus menjadi perhatian khusus. Di samping itu, alat bantu yang dapat meringankan pekerjaan serta memberikan perlindungan terhadap kemungkinan terjadi kecelakaan perlu dipikirkan. Misalnya membuatkan jalan setapak yang terbuat dari batu bata agar tidak licin, menyiapkan selang air yang cukup panjang untuk memudahkan penyiraman. Pengawasan dari anggota keluarga lain tetap diperlukan untuk menghindari kecelakaan yang tidak diharapkan.

  2. Peningkatan ekonomi

    Usia lanjut bukan berarti sudah tidak produktif lagi dari sisi ekonomi. Bagi usila yang masih mampu secara fisik dan mental, dapat memanfaatkan TOGA sebagai salah satu lahan bisnis, yaitu dengan cara menjual hasil kebun dalam bentuk daun (misalnya daun apokat, pecut kuda, katu), rimpang (misalkan kencur, jahe, temulawak), membuat jamu gendong untuk diperdagangkan, dan menjual bibit tanaman berkhasiat obat. Dengan cara produktif tersebut, usila masih tetap menghasilkan dan membantu ekonomi keluarga.

  3. Pemeliharaan kesehatan

    Hasil panen kebun TOGA dapat dimanfaatkan untuk membuat jamu sebagai pemeliharaan kesehatan. Jamu beras kencur yang dibuat dari bahan utama kencur dan beras dapat dibuat sendiri oleh usila untuk menghilangkan pegal pada otot dan sendi, di samping meningkatkan nafsu makan. Rebusan temulawak dapat dibuat untuk memperbaiki pencernaan yang pada usila sering mengalami gangguan. Dengan memanfaatkan hasil kebun sendiri, akan meningkatakn semangat dalam memelihara TOGA.

  4. Pengobatan

    Karena kondisi fisik yang sudah menurun menyebabkan kelompok usila sering terserang beberapa penyakit, mulai dari penyakit infeksi ringan seperti batuk, pilek, sampai penyakit yang terkait dengan usia lanjut mereka seperti penyakit rematik, jantung, dll. Beberapa penyakit ringan dapat diobati sendiri dengan menggunakan obat tradisional yang diramu dari tumbuhan obat. Usila yang banyak menderita nyeri sendi dan otot dapat memanfaatkan obat tradisional sebagai pengganti obat moderen. Untuk beberapa penyakit yang memerlukan pengawasan tenaga medis, perlu konsultasi terlebih dahulu dengan dokter yang merawat. Penggunaan sendiri obat tradisional untuk penyakit tertentu seperti hipertensi dan diabetes mellitus memerlukan pertimbangan khusus dan pengawasan dari dokter atau perawat. Sebaiknya penggunaan sendiri obat tradisional untuk penyakit tertentu, hanya terbatas pada kondisi yang ringan atau hanya sebagai obat penunjang. Kontrol rutin kepada dokter harus tetap dilakukan meskipun kondisi kesehatannya dirasakan sudah membaik, karena keluhan yang dirasakan tidak selalu sama dengan keadaan penyakit.

Pembuatan Ramuan Obat Tradisional

Untuk membuat obat tradisional berupa ramuan yang dibuat sendiri, dapat dilakukan cara sederhana dengan mengikuti petunjuk pembuatan ramuan. Telah diajarkan cara tersebut dan ternyata dapat dipraktikkan dengan mudah, karena bahan yang digunakan mudah didapat serta pembuatan yang sederhana. Pengajaran pertama diberikan kepada petugas kesehatan berupa teori singkat dan praktik pembuatan ramuan menggunakan bahan-tanaman obat setempat dan peralatan dapur yang ada. Pengetahuan yang diberikan antara lain tentang:

  1. Bahan baku

    Dibutuhkan pengetahuan tentang pengenalan tanaman berkhasiat obat. Bahan baku yang digunakan adalah bagian tanaman atau seluruh tanaman yang masih segar dan dicuci dahulu sebelum digunakan. Pilih tanaman atau bagian tanaman yang tumbuh subur, dalam keadaan utuh tidak dimakan serangga atau ulat dan tidak busuk atau layu. Bahan segar yang dapat disimpan adalah kunyit, temuwak, kencur, buah jeruk nipis, kencur, dll. Bila menggunakan bahan yang sudah kering, pilih yang belum bercendawan dan dimakan serangga. Sebelum digunakan dicuci dahulu.

  2. Air

    Gunakan air bersih untuk mencuci bahan yang akan digunakan dan untuk membuat ramuan. Pembuatan obat tradisional yang tidak membutuhkan pendidihan atau dimasak harus menggunakan air masak.

  3. Peralatan

    Dapat digunakan peralatan memasak yang ada di dapur seperti pisau, talenan, panci, parut, dll. Peralatan dicuci bersih terlebih dahulu sebelum digunakan dan setelah digunakan sehingga tidak tercampur dengan bahan masakan, khususnya yang berasal dari hewan. Untuk merebus, dapat digunakan panci yang dilapisi email atau menggunakan kuali/periuk dari tanah liat. Jangan menggunakan panci yang terbuat dari kuningan atau besi untuk menghindarkan timbulnya endapan, konsentrasi larutan yang rendah, timbulnya racun, atau efek samping lain akibat terjadinya reaksi kimia dengan bahan obat. Khusus untuk merebus jamu yang memberikan rasa pahit, sebaiknya digunakan panci khusus.

  4. Meramu

    Sebelum meramu, cuci tangan sampai bersih, siapkan bahan, dan letakkan pada wadah yang bersih. Pastikan bahwa telah diketahui resep ramuan yang akan dibuat (bila perlu melihat catatan).

  5. Bobot dan takaran

    Untuk mengukur bobot/takaran dapat digunakan peralatan yang ada di rumah tangga, misalnya gelas, cangkir, sendok, jari, helai, dll. Bobot dan takaran sesuaikan dengan resep yang telah diketahui.

  6. Cara merebus ramuan

    Untuk merebus bahan/ramuan segar maupun kering, perlu diperhatikan hal berikut:

     

    1. Bahan yang terlalu tebal seperti rimpang, batang dipotong-potong tipis terlebih dahulu.
    2. Masukkan bahan ke dalam wadah dan masukkan air sampai bahan terendam (sesuai takaran) dan nyalakan api. Api dapat kecil atau besar sesuai kebutuhan. Obat yang bersifat tonik biasanya direbus dengan api kecil sehingga bahan aktif dapat secara lengkap dikeluarkan ke dalam air rebusan. Obat yang bersifat mengeluarkan keringat, misalnya ramuan untuk influensa, gunakan api besar sehingga dapat mendidih dengan cepat. Dengan cara tersebut, penguapan dari bahan aktif yang mudah menguap dapat dicegah.
    3. Bila tidak ada ketetuan lain maka perebusan dianggap selesai bila air rebusan tersisa setengah dari jumlah air semula.
    4. Jika ramuan terdiri dari banyak bahan yang keras seperti batang, biji, maka perebusan dianggap selesai bila air tersisa sepertiganya
  7. Penggunaan

    Pastikan bahwa telah diketahui cara penggunaan ramuan. Obat tradisional ada yang digunakan dengan cara diminum atau merupakan obat luar. Penggunaan obat tradisional selama tiga sampai empat hari dan belum ada tanda-tanda penyembuhan atau perbaikan keluhan, segera dibawa ke tempat pelayanan pengobatan terdekat. Bila keluhan semakin memburuk, segera dibawa ke tempat pelayanan pengobatan terdekat tanpa menunggu atau mencoba-coba ramuan lainnya lagi.

  8. Aturan minum dan jangka waktu pemakaian

    Ikuti petunjuk atau aturan minum yang sudah diketahui atau diajarkan. Dosis perlu diperhatikan dan ditaati agar pengobatan mencapai hasil yang diharapkan. Obat biasanya diminum sebelum makan, kecuali bila ramuan tersebut merangsang lambung. Obat yang bersifat menenangkan dan menyebabkan kantuk sebaiknya diminum menjelang tidur malam. Obat tradisional yang digunakan bersama-sama obat moderen sebaiknya diberi jangka waktu minum, yaitu selisih sekitar 2 jam untuk kedua jenis obat ini.

    Sebaiknya, ramuan segera diminum dalam keadaan segar. Untuk ramuan yang tidak dididihkan atau direbus, gunakan segera dalam waktu 12 jam. Sedangkan ramuan yang direbus dapat digunakan dalam jangka waktu 24 jam

untuk artikel selengkapnya dapat dilihat di sini

sumber: Medika Online

 

kembali ke atas

kembali ke index aging

 

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan