|
Depan
> Usia
Lanjut (Aging)
Pemanfaatan
Obat Tradisional untuk Kesehatan Usila
LESTARI HANDAYANI
Pusat
Penelitian dan Pengembangan Pelayanan dan Teknologi
Kesehatan
Pendahuluan
Kelompok umur usia lanjut (usila) semakin tinggi dari
tahun ke tahun sebagai hasil dari semakin baiknya
tingkat kesehatan di Indonesia. Kelompok ini pada
umumnya merupakan kelompok yang kurang produktif,
ditambah lagi dengan kondisi kesehatan yang mulai
menurun seiring dengan meningkatnya usia mereka.
Degenerasi dari organ tubuh menyebabkan sebagian usila
menderita penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus
(kencing manis), penyakit jantung koroner, rematik, dll.
Perhatian Departemen Kesehatan terhadap keberadaan
mereka diwujudkan dalam bentuk program usila di
Puskesmas yang berupaya untuk melakukan pemeliharaan
kesehatan dan pengobatan penyakit pada kelompok ini.
Program pelayanan kesehatan di puskesmas pada saat yang
lalu lebih difokuskan pada pemanfaatan obat-obatan yang
telah tersedia, yaitu obat moderen yang terbuat dari
bahan kimia berkhasiat obat. Dengan adanya program
penggalakan pemanfaatan TOGA (taman obat keluarga),
pemikiran untuk pemanfaatan obat tradisional dengan
menggunakan bahan berasal dari TOGA sangatlah tepat.
Dengan telah dibentuknya posyandu usila di bawah binaan
puskesmas maka obat tradisional berasal dari TOGA dapat
diajarkan kepada usila untuk dimanfaatkan dalam upaya
pengobatan sendiri oleh kelompok usila. Cara-cara
sederhana ini telah dicoba diterapkan pada posyandu
usila di beberapa puskesmas Jawa Timur dan Jawa Tengah
pada 2000--2001 dan mendapat respons yang baik dari
petugas kesehatan maupun kelompok usila.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari suatu program
yang berisi kegiatan upaya pemberdayaan masyarakat
melalui posyandu usila dengan memberikan tambahan
ketrampilan dan pengetahuan praktis, antara lain cara
pembuatan ramuan obat tradisional sederhana, senam usila,
pijat refleksi, dan rehabilitasi medis. Pelatihan
diberikan secara berjenjang, dimulai dari tenaga
kesehatan puskesmas yang selanjutnya akan melatih kader
posyandu usila, kemudian mempraktikkan langsung bersama
peserta posyandu. Tulisan ini menyampaikan tentang
pengetahuan dan ketrampilan meramu obat tradisional
sederhana yang diajarkan dan dilatihkan pada petugas
kesehatan. Evaluasi mengenai upaya tersebut sedang
dilakukan untuk memperoleh masukkan demi perbaikan
program posyandu usila .
Manfaat TOGA bagi Kelompok Usila
Pemanfaatan TOGA bagi kelompok usila tidaklah sekadar
untuk pengobatan. Pembudidayaan tumbuhan berkhasiat obat
merupakan suatu proses tersendiri yang dapat
dimanfaatkan dalam rangka mendukung upaya pemeliharaan
kesehatan kelompok usila. TOGA dan obat tradisional
dapat dimanfaatkan oleh usila dari berbagai segi, yaitu:
- Latihan fisik dan kesehatan mental
Pemeliharaan TOGA oleh para usila akan memberikan
aktivitas tersendiri yang akan membantu
menghilangkan kejenuhan karena sudah tidak banyak
aktivitas yang dapat dilakukan. Dengan melakukan
penyiraman tanaman, penyiangan, pemotongan daun-daun
kering, serta memetik buah dan bunga yang sudah
waktunya dipanen, akan memberikan kegembiraan
tersendiri. Apalagi bila hasil kerja mereka kemudian
dapat dimanfaatkan baik untuk kebutuhan sendiri,
anggota keluarga, tetangga, maupun kerabat dekat
mereka yang akan memberikan motivasi agar mereka
dapat terus berkarya. Hasil kerja yang dihargai akan
meningkatkan semangat hidup dan lebih menggairahkan
aktivitas sehari-hari mereka.
Pekerjaan berkebun yang ringan akan memberikan
latihan otot dan sendi, namun bila dilakukan secara
berlebihan akan memberikan beban pada otot dan sendi
yang dapat menyebabkan keluhan/gangguan kesehatan.
Dengan keterbatasan kondisi usila di mana otot sudah
tidak sekuat tenaga muda, persendian sudah sering
terserang nyeri, jantung yang sudah tidak sesehat
pada waktu berusia tiga puluhan, akan memberikan
mereka beberapa keterbatasan. Oleh karena itu, dalam
melakukan kegiatan berkebun harus disesuaikan dengan
kemampuan fisik usila. Mencangkul merupakan
pekerjaan yang berat. Mengangkat air berember-ember
untuk menyiram tanaman juga akan menguras tenaga
mereka. Pilihan pekerjaan dalam proses pemeliharaan
TOGA harus menjadi perhatian khusus. Di samping itu,
alat bantu yang dapat meringankan pekerjaan serta
memberikan perlindungan terhadap kemungkinan terjadi
kecelakaan perlu dipikirkan. Misalnya membuatkan
jalan setapak yang terbuat dari batu bata agar tidak
licin, menyiapkan selang air yang cukup panjang
untuk memudahkan penyiraman. Pengawasan dari anggota
keluarga lain tetap diperlukan untuk menghindari
kecelakaan yang tidak diharapkan.
- Peningkatan ekonomi
Usia lanjut bukan berarti sudah tidak produktif
lagi dari sisi ekonomi. Bagi usila yang masih mampu
secara fisik dan mental, dapat memanfaatkan TOGA
sebagai salah satu lahan bisnis, yaitu dengan cara
menjual hasil kebun dalam bentuk daun (misalnya daun
apokat, pecut kuda, katu), rimpang (misalkan kencur,
jahe, temulawak), membuat jamu gendong untuk
diperdagangkan, dan menjual bibit tanaman berkhasiat
obat. Dengan cara produktif tersebut, usila masih
tetap menghasilkan dan membantu ekonomi keluarga.
- Pemeliharaan kesehatan
Hasil panen kebun TOGA dapat dimanfaatkan untuk
membuat jamu sebagai pemeliharaan kesehatan. Jamu
beras kencur yang dibuat dari bahan utama kencur dan
beras dapat dibuat sendiri oleh usila untuk
menghilangkan pegal pada otot dan sendi, di samping
meningkatkan nafsu makan. Rebusan temulawak dapat
dibuat untuk memperbaiki pencernaan yang pada usila
sering mengalami gangguan. Dengan memanfaatkan hasil
kebun sendiri, akan meningkatakn semangat dalam
memelihara TOGA.
- Pengobatan
Karena kondisi fisik yang sudah menurun
menyebabkan kelompok usila sering terserang beberapa
penyakit, mulai dari penyakit infeksi ringan seperti
batuk, pilek, sampai penyakit yang terkait dengan
usia lanjut mereka seperti penyakit rematik, jantung,
dll. Beberapa penyakit ringan dapat diobati sendiri
dengan menggunakan obat tradisional yang diramu dari
tumbuhan obat. Usila yang banyak menderita nyeri
sendi dan otot dapat memanfaatkan obat tradisional
sebagai pengganti obat moderen. Untuk beberapa
penyakit yang memerlukan pengawasan tenaga medis,
perlu konsultasi terlebih dahulu dengan dokter yang
merawat. Penggunaan sendiri obat tradisional untuk
penyakit tertentu seperti hipertensi dan diabetes
mellitus memerlukan pertimbangan khusus dan
pengawasan dari dokter atau perawat. Sebaiknya
penggunaan sendiri obat tradisional untuk penyakit
tertentu, hanya terbatas pada kondisi yang ringan
atau hanya sebagai obat penunjang. Kontrol rutin
kepada dokter harus tetap dilakukan meskipun kondisi
kesehatannya dirasakan sudah membaik, karena keluhan
yang dirasakan tidak selalu sama dengan keadaan
penyakit.
Pembuatan Ramuan Obat Tradisional
Untuk membuat obat tradisional berupa ramuan yang
dibuat sendiri, dapat dilakukan cara sederhana dengan
mengikuti petunjuk pembuatan ramuan. Telah diajarkan
cara tersebut dan ternyata dapat dipraktikkan dengan
mudah, karena bahan yang digunakan mudah didapat serta
pembuatan yang sederhana. Pengajaran pertama diberikan
kepada petugas kesehatan berupa teori singkat dan
praktik pembuatan ramuan menggunakan bahan-tanaman obat
setempat dan peralatan dapur yang ada. Pengetahuan yang
diberikan antara lain tentang:
- Bahan baku
Dibutuhkan pengetahuan tentang pengenalan
tanaman berkhasiat obat. Bahan baku yang digunakan
adalah bagian tanaman atau seluruh tanaman yang
masih segar dan dicuci dahulu sebelum digunakan.
Pilih tanaman atau bagian tanaman yang tumbuh
subur, dalam keadaan utuh tidak dimakan serangga
atau ulat dan tidak busuk atau layu. Bahan segar
yang dapat disimpan adalah kunyit, temuwak, kencur,
buah jeruk nipis, kencur, dll. Bila menggunakan
bahan yang sudah kering, pilih yang belum
bercendawan dan dimakan serangga. Sebelum
digunakan dicuci dahulu.
- Air
Gunakan air bersih untuk mencuci bahan yang
akan digunakan dan untuk membuat ramuan. Pembuatan
obat tradisional yang tidak membutuhkan pendidihan
atau dimasak harus menggunakan air masak.
- Peralatan
Dapat digunakan peralatan memasak yang ada di
dapur seperti pisau, talenan, panci, parut, dll.
Peralatan dicuci bersih terlebih dahulu sebelum
digunakan dan setelah digunakan sehingga tidak
tercampur dengan bahan masakan, khususnya yang
berasal dari hewan. Untuk merebus, dapat digunakan
panci yang dilapisi email atau menggunakan kuali/periuk
dari tanah liat. Jangan menggunakan panci yang
terbuat dari kuningan atau besi untuk
menghindarkan timbulnya endapan, konsentrasi
larutan yang rendah, timbulnya racun, atau efek
samping lain akibat terjadinya reaksi kimia dengan
bahan obat. Khusus untuk merebus jamu yang
memberikan rasa pahit, sebaiknya digunakan panci
khusus.
- Meramu
Sebelum meramu, cuci tangan sampai bersih,
siapkan bahan, dan letakkan pada wadah yang bersih.
Pastikan bahwa telah diketahui resep ramuan yang
akan dibuat (bila perlu melihat catatan).
- Bobot dan takaran
Untuk mengukur bobot/takaran dapat digunakan
peralatan yang ada di rumah tangga, misalnya gelas,
cangkir, sendok, jari, helai, dll. Bobot dan
takaran sesuaikan dengan resep yang telah
diketahui.
- Cara merebus ramuan
Untuk merebus bahan/ramuan segar maupun kering,
perlu diperhatikan hal berikut:
- Bahan yang terlalu tebal seperti rimpang,
batang dipotong-potong tipis terlebih dahulu.
- Masukkan bahan ke dalam wadah dan masukkan
air sampai bahan terendam (sesuai takaran) dan
nyalakan api. Api dapat kecil atau besar
sesuai kebutuhan. Obat yang bersifat tonik
biasanya direbus dengan api kecil sehingga
bahan aktif dapat secara lengkap dikeluarkan
ke dalam air rebusan. Obat yang bersifat
mengeluarkan keringat, misalnya ramuan untuk
influensa, gunakan api besar sehingga dapat
mendidih dengan cepat. Dengan cara tersebut,
penguapan dari bahan aktif yang mudah menguap
dapat dicegah.
- Bila tidak ada ketetuan lain maka perebusan
dianggap selesai bila air rebusan tersisa
setengah dari jumlah air semula.
- Jika ramuan terdiri dari banyak bahan yang
keras seperti batang, biji, maka perebusan
dianggap selesai bila air tersisa sepertiganya
- Penggunaan
Pastikan bahwa telah diketahui cara penggunaan
ramuan. Obat tradisional ada yang digunakan dengan
cara diminum atau merupakan obat luar. Penggunaan
obat tradisional selama tiga sampai empat hari dan
belum ada tanda-tanda penyembuhan atau perbaikan
keluhan, segera dibawa ke tempat pelayanan
pengobatan terdekat. Bila keluhan semakin memburuk,
segera dibawa ke tempat pelayanan pengobatan
terdekat tanpa menunggu atau mencoba-coba ramuan
lainnya lagi.
- Aturan minum dan jangka waktu pemakaian
Ikuti petunjuk atau aturan minum yang sudah
diketahui atau diajarkan. Dosis perlu diperhatikan
dan ditaati agar pengobatan mencapai hasil yang
diharapkan. Obat biasanya diminum sebelum makan,
kecuali bila ramuan tersebut merangsang lambung.
Obat yang bersifat menenangkan dan menyebabkan
kantuk sebaiknya diminum menjelang tidur malam.
Obat tradisional yang digunakan bersama-sama obat
moderen sebaiknya diberi jangka waktu minum, yaitu
selisih sekitar 2 jam untuk kedua jenis obat ini.
Sebaiknya, ramuan segera diminum dalam keadaan
segar. Untuk ramuan yang tidak dididihkan atau
direbus, gunakan segera dalam waktu 12 jam.
Sedangkan ramuan yang direbus dapat digunakan
dalam jangka waktu 24 jam
untuk artikel
selengkapnya dapat dilihat di
sini
sumber: Medika
Online
kembali
ke atas
kembali
ke index aging
|