|
Depan
> Usia
Lanjut (Aging)
Saatnya
Memperhatikan Kesehatan
Wanita Usia Menopause
dengan Serius
Oleh: Albiner Siagian
Walaupun
wanita, umumnya, memiliki
umur harapan hidup (UHH) lebih tinggi daripada pria,
mereka menghadapi masalah kesehatan yang lebih rumit.
Secara kodrati, wanita mengalami fase perubahan
fisiologis yang berbeda dengan yang dialami pria.
Mengawali masa remajanya, wanita mulai mengalami
menstruasi yang kemudian, secara normal, terjadi setiap
bulan selama masa usia reproduktif. Selanjutnya, mereka
akan menjalani masa hamil dan menyusui yang melelahkan.
Fase ini diakhiri dengan datangnya masa menopause yang
umumnya mulai terjadi
pada usia 45 tahun.
Masa
menopause memiliki konsekuensi kesehatan yang serius.
Penyebabnya, antara lain, adalah berhentinya produksi
estrogen. Menurunnya daya tahan tubuh, seiring dengan
bertambahnya usia, juga memperberat masalah kesehatan
wanita usia menopause.
Masalah
utama kesehataan pada masa menopause adalah penyakit
jantung dan stroke. Pada tahun 2000, penyakit
jantung menduduki urutan pertama penyebab kematian
wanita di Amerika Serikat (366.000 kasus). Tempat kedua
diduduki oleh stroke (103.000 kasus). Kebanyakan
kasus tersebut terjadi pada usia menopause. Angka ini
jauh di atas angka kematian yang disebabkan oleh kanker
payudara yang hanya 42.000 kasus.
Walaupun
angka tersebut tidak secara tepat menggambarkan penyakit
penyebab kematian wanita di Indonesia, namun
kecenderungan ke arah itu sudah mulai terlihat. Data
prevalensi obesitas¾salah
satu faktor risiko penyakit jantung dan stroke¾pada
wanita memperkuat perkiraan tersebut. Hasil pantauan
masalah gizi lebih pada dewasa yang dilakukan oleh
Departemen Kesehatan tahun 1997 menunujukkan prevalensi
obesitas pada orang dewasa adalah 2,5% dan 5,9%
masing-masing untuk pria dan wanita. Prevalensi obesitas
tertinggi terjadi pada kelompok wanita berumur 45 tahun
ke atas (9,2%). Saat ini, diperkirakan lebih dari 6 juta
wanita dewasa Indonesia menderita obesitas.
Memasuki
Masa Menopause
Pada
usia reproduktif, indung telur (ovary) wanita
mengandung 200.000-400.000 kantong kecil (follicle)
yang berisi bahan-bahan yang diperlukan untuk membentuk
sel telur matang (ova). Indung telur juga
menghasilkan dua jenis hormon utama, yaitu estrogen dan
progesteron. Kemampuan indung telur menghasilkan follicle
dan hormon menurun dengan bertambahnya usia. Menopause
terjadi apabila pembentukan sel telur pada follicle
telah dihentikan. Menopause juga ditandai dengan
berhentinya sekresi estrogen dan progesteron.
Walaupun
sekresi estrogen sudah berhenti, indung telur masih bisa
menghasilkan testosteron dalam jumlah kecil yang dapat
diubah menjadi estrogen. Namun, jumlah estrogen yang
dihasilkan ini jauh dari jumlah estrogen yang dibutuhkan
untuk membina kesehatan yang baik pada masa menopause.
Estrogen
diketahui berperan melindungi wanita dari penyakit
jantung dan stroke. Penghentian produksi hormon
estrogen berdampak pada meningkatnya risiko penyakit ini.
Pada awalnya (pada usia muda), wanita memiliki risiko
yang lebih kecil untuk menderita penyakit kardiovaskular
daripada pria. Namun, setelah masa menopause, risiko
kematian akibat penyakit kardiovaskular menjadi sama
antara pria dan wanita. Hilangnya estrogen dipercaya
sebagai salah satu penyebab utamanya.
Peran
pelindungan oleh estrogen dapat dijelaskan sebagai
berikut. Kira-kira dua tahun sebelum masa menopause,
produksi estrogen mulai menurun. Akibatnya adalah kadar LDL-cholesterol
(kolesterol ‘jahat’) mulai meningkat, sementara
kadar HDL-cholesterol (kolesterol ‘baik’)
menurun. Kadar LDL-cholesterol tinggi dan kadar HDL-cholesterol
rendah merupakan indikator meningkatnya risiko
penyakit jantung dan stroke.
Pembuluh
darah dapat dianalogikan dengan pipa pembuangan air dan
limbah di perkotaan. Jika pipanya sempit, pampat, atau
rapuh, air dan limbah yang mengalir akan tersendat atau
bahkan berhenti. Pada pipa yang dindingnya rapuh,
tekanan air yang besar akan berakibat pada jebolnya
dinding pipa. Demikian juga halnya dengan pembuluh darah.
Aliran darah akan terhambat apabila pembuluh darah
sempit atau pampat. Stroke terjadi apabila pembuluh
darah di otak pecah akibat pampat atau dindingnya rapuh.
Estrogen
memiliki efek memperlebar dan menghaluskan pembuluh
darah bagian dalam serta melenturkannya. Akibatnya
adalah aliran darah lancar dan tekananya turun. Estrogen
mempengaruhi faktor penggumpalan darah di hati. Hal ini
akan mengurangi kekentalan darah dan meningkatkan
fibrinolisis, suatu proses alami untuk memecah gumpalan
darah. Selain itu, estrogen diketahui tidak hanya
sekadar hormon tetapi juga sebagai anti-oksidan yang
membersihkan radikal bebas perusak arteri.
Faktor Risiko
Terdapat
dua golongan besar faktor risiko penyakit jantung dan stroke,
yaitu faktor yang tidak dapat diubah dan yang dapat
diubah. Faktor risiko yang tidak dapat diubah meliputi
usia, riwayat keluarga, jenis kelamin, dan ras.
Sedangkan faktor risiko yang dapat diubah adalah rokok,
kadar kolesterol dan lemak darah, tekanan darah,
aktivitas fisik, obesitas, dan diabetes melitus.
Kebiasaan
merokok akan berdampak pada meningkatnya risiko
menderita penyakit jantung dan stroke. Sementara
itu, kadar kolesterol, terutama LDL-cholesterol,
darah merupakan faktor utama penyebab penyakit jantung
dan meningkatnya risiko mengalami stroke.
Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa kadar HDL-cholesterol
yang rendah akan lebih berisiko pada wanita dibandingkan
pada pria. Faktor risiko utama yang lain adalah tekanan
darah yang tinggi. Wanita berpeluang mengalami
peningkatan tekanan darah tinggi jika bobot badannya 10
kg atau lebih di atas bobot badan normalnya.
Berbagai
penelitian menunjukkan bahwa orang yang tidak aktif
berisiko menderita penyakit jantung 2 kali lebih tinggi
daripada risiko pada orang yang aktif. Sementara itu,
bobot badan yang jauh di atas normal, terutama jika
timbunan lemak berada di sekitar pinggang (apple-shape),
akan meningkatkan masalah kesehatan, yaitu tekanan darah
tinggi, kadar kolesterol darah yang tinggi, diabetes,
dan penyakit kardiovaskular. Wanita yang menderita
diabetes berisiko terkena serangan jantung 3-7 kali
lebih tinggi daripada risiko pada wanita sebayanya yang
tidak menderita diabetes.
Faktor
lain yang juga diketahui berkontribusi pada meningkatnya
risiko penyakit kardiovaskular pada wanita adalah
penggunaan pil kontrasepsi tertentu, konsumsi alkohol,
dan faktor psiskososial (stress). Diduga stress
meningkatkan faktor risiko lain seperti tekanan darah
dan konsumsi rokok atau alkohol sebagai kompensasi dari
perasaan tertekan.
Bagaimana
menurunkan risiko penyakit jantung dan stroke
pada wanita? Karena faktor risiko yang dapat diubah,
semuanya, berkaitan dengan gaya hidup, maka jawabannya
adalah perbaikan gaya hidup. Ungkapan bijak
‘SEHAT’
(Seimbangkan gizi, Enyahkan
rokok, Hindari stress, Awasi tekanan darah,
dan Teratur olah raga)
merupakan petunjuk praktis untuk pola hidup sehat.
“Anda lebih baik memiliki seekor anjing untuk diajak
jalan-jalan sore daripada memiliki seekor kucing untuk
teman bercanda di atas sofa!”
Duapuluh
Lima Tahun yang Menyenangkan
Saat
ini, UHH wanita Indonesia adalah 67 tahun. Badan
Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan UHH orang Indonesia
adalah 75 tahun pada tahun 2025. Hal ini berarti wanita
memiliki kesempatan untuk hidup rata-rata 25 tahun lagi
sejak awal masa menopause. Berbagai upaya perlu
dilakukan agar waktu yang cukup lama itu dijalani dengan
semenyenangkan mungkin.
Sejaiuh
ini, perhatian pemerintah pada masalah kesehatan wanita
usia menopause masih belum seserius pada masalah
kesehatan pada kelompok umur lain, seperti kesehatan ibu
hamil atau ibu menyusui. Karena tingkat pendapatan
masyarakat makin meningkat¾yang
berdampak pada perubahan gaya hidup¾dan
meningkatnya umur harapan hidup, sudah saatnya perhatian
besar diberikan pada masalah kesehatan wanita usia
menopause, misalnya dengan mendirikan pusat-pusat
layanan kesehatan wanita usia lanjut. Kebijakan otonomi
daerah memberi kesempatan kepada setiap daerah untuk
mengembangkan bentuk pelayanan kesehatan bagi wanita
menopause.
Masyarakat
juga dapat berperan menurunkan angka penyakit jantung
dan stroke pada wanita melalui berbagai upaya,
misalnya kampanye wanita tanpa rokok atau menggiatkan
olah raga. Memeriksakan kesehatan secara teratur,
memperbaiki pola makan (mengonsumsi
pangan yang beraneka ragam dan seimbang)
termasuk memilih dan menggunakan lemak secara
tepat adalah upaya lain yang sangat berperan mengurangi
risiko penyakit jantung dan stroke. Semuanya itu
bertujuan untuk membuat masa menopause menjadi ‘masa
25 tahun yang menyenangkan’.
kembali
ke atas
kembali
ke index aging
|