|
Depan
> Usia
Lanjut (Aging)
Tetap
Bercahaya Sampai Tua!
Kemudaan biasa
diidentikkan dengan kulit halus, cantik, berseri.
Ketika usia menua, secara
alami kulit pun akan kehilangan cahaya, menjadi kusam
dan keriput. Jangan biarkan hal itu terlalu
cepat menyapa Anda!
Tentu dengan membiasakan
pola hidup sehat sejak muda, dan tak lupa asupan
antioksidan. Bagian terluar tubuh, yakni kulit,
seringkali menjadi cermin yang paling jelas atas usia
seseorang. Namun, terkadang sulit sekali menduga usia
bila tampilan kulit tampak lebih tua atau sebaliknya,
jauh lebih muda.
Tentulah kebanyakan dari
kita mendambakan kondisi yang terakhir. Masalahnya
sekarang, apakah kita selama ini sudah sedemikian penuh
perhatian terhadap kulit?
Kulit merupakan organ
yang sungguh hebat dan menempati bagian terbesar dari
tubuh. Sayangnya, organ ini justru seringkati terabaikan.
Orang baru akan menaruh
perhatian lebih bila kulit mengalami masalah, misalnya
menjadi kering, berminyak, berbintik hitam
atau berbercak kemerahan, berjerawat, serta berkerut.
Mulai Kering
Kolagen adalah molekul
protein yang menjadi bahan penunjang utama kulit,
ligamen, tulang, dan tulang rawan.
Seperti halnya karet,
kolagen itu lembut dan kenyal, serta mudah dibuat
bermacam-macam bentuk. Berkat kolagen bentuk kulit bisa
tampak indah sebab halus tak berkerut. Oleh karena
itulah, faktor terpenting dalam memelihara kehalusan
kulit adalah dengan menjaga keberadaan kolagen.
Serat-serat
kolagen mulai mengalami kerusakan ketika usia manusia
sekitar 25 tahun karena kulit hanya mampu
menyimpan sedikit air. Ini yang menyebabkan kulit mulai
tampak kering.
Proses penuaan sendiri
bisa berjalan secara alami dan bisa juga berlangsung
dini. Salah satu biang keladi penuaan yang datang lebih
cepat adalah radikal bebas. Seperti diketahui, radikal
bebas yang sangat reaktif dan dapat menimbulkan
kerusakan sel-sel tubuh, bisa datang dari dalam maupun
luar tubuh.
Polusi, asap
rokok, alkohol, limbah kendaraan bermotor, paparan sinar
ultraviolet dari matahari adalah radikal
bebas dari luar tubuh. Yang datang dari dalam tubuh
misalnya sisa metabolisme atau efek dari kerja sistem
kekebalan tubuh yang memerangi serangan infeksi yang
begitu hebat.
Sebetulnya tubuh sudah
dipersenjatai dengan mekanisme untuk menangkal radikat
bebas. Namun, sejalan bertambahnya usia, timbunan
radikal bebas itu juga sudah menggunung, sehingga tak
lagi mempan diatasi sendiri. Untuk itu tubuh harus
mendapat bantuan armada dari luar, dalam bentuk makanan
yang bersifat antioksidan. Makanan itu intinya
mengandung vitamin C, E, A atau betakaroten,
ditambah zinc dan selenium.
Suplemen
Antioksidan
-
Kurangnya
asupan vitamin E dan C yang memiliki fungsi
antioksidan sangat kuat, menurut penelitian di
Edinburgh University, berhubungan dengan kelebihan
berat badan, kadar kolesterol, serta tekanan darah
tinggi.
Semua itu merupakan
faktor yang juga sangat erat kaitannya dengan proses
penuaan.
Selain mencegah penyakit
degeneratif, seperti kolesterol tinggi dan hipertensi
yang dapat berujung pada kejadian stroke dan penyakit
jantung, konsumsi antioksidan juga sangat menunjang
terpeliharanya kecantikan kulit.
Vitamin C
misalnya, sangat membantu dalam pembentukan
kolagen, sehingga elastisitasnya tetap terjaga. Kulit
pun akan tampak bercahaya, meski usia sudah di ambang
senja.
Mendapatkan bahan makanan sumber antioksidan
alami, tidaklah sulit. Kita bisa
memperolehnya dari wortel, bayam, brokoli,
ubi merah, kubis brussel, asparagus, bawang, jamur,
kembang kol, tomat, dan sebagainya. Juga
terdapat dalam buah kiwi, pisang, stroberi,
mangga, pepaya, alpukat, kacang kedelai, almond, ikan,
kerang, dan lain-lain.
Selama pola makan kita
mengikuti aturan gizi seimbang dan beragam, kebutuhan
antioksidan alami itu akan terpenuhi dengan baik. Namun,
bagi Anda yang tidak bisa rutin menerapkan pola tersebut,
dapat memenuhinya dari suplemen yang diperkaya dengan
berbagai vitamin dan mineral antioksidan.
Mudah, kan?
sumber:
Kompas Online, Selasa, 11 Januari 2005
kembali
ke atas
kembali
ke index aging
|