|
Depan
> Usia
Lanjut (Aging)
“Stroke” dan Disfungsi Seksual
Oleh: Prof. DR. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp. And, Dokter Ahli
Andrologi dan Seksologi
Nama stroke menimbulkan kesan yang mengerikan. Kesan stroke yang
identik dengan hilangnya kesadaran, kelumpuhan, atau hilangnya kemampuan bicara,
sangat kuat melekat di benak masyarakat banyak.
Walaupun tidak sedikit orang yang mengalami stroke yang kemudian dapat hidup
seperti orang normal, tetapi kesan mengerikan tetap saja tidak dapat hilang.
Kesan tersebut cukup beralasan bila melihat penderitaan yang dialami oleh mereka
yang mengalami stroke ataupun akibat yang dialami setelah serangan.
Stroke adalah suatu penyakit akibat gangguan aliran darah di otak. Karena
stroke diakibatkan oleh gangguan aliran darah di otak, maka akibatnya menjadi
sangat luas. Sebab, otak merupakan pusat kehidupan. Maka gangguan aliran darah
di pusat kehidupan itu akan menimbulkan akibat yang cukup mengganggu, bahkan
mengancam kehidupan.
Salah satu akibat yang terjadi setelah mengalami stroke ialah disfungsi
seksual. Akibat berupa disfungsi seksual mudah dimengerti karena stroke
merupakan manifestasi dari gangguan aliran darah di otak, sedang disfungsi
seksual sangat dipengaruhi oleh aliran darah dan fungsi otak, di samping
pengaruh faktor lain.
Mengapa tidak banyak laporan disfungsi seksual akibat stroke?
Dalam hubungan dengan stroke, tidak banyak laporan tentang gangguan fungsi
seksual pada penderita setelah mengalami serangan gangguan pembuluh darah di
otak itu. Padahal banyak penderita yang mengalami disfungsi seksual setelah
stroke.
Ada beberapa kemungkinan mengapa tidak banyak laporan tentang disfungsi
seksual pada penderita stroke, yaitu 1). Perhatian dokter semata-mata ditujukan
kepada akibat lain yang dianggap menyangkut fungsi tubuh yang dapat menimbulkan
akibat lebih fatal, 2). Orang yang mengalami stroke merasa bersyukur dapat lolos
dari maut akibat stroke, sehingga untuk melaporkan adanya gangguan fungsi
seksual khawatir dianggap terlalu mengada-ada, atau penderita merasa malu untuk
melaporkan gangguan yang dianggap tidak fatal itu, 3). Pasangan orang yang
mengalami stroke mungkin menganggap wajar bila setelah stroke terjadi gangguan
fungsi seksual, sehingga merasa tidak wajar untuk menyuruhnya berkonsultasi
lebih lanjut.
Disfungsi seksual apa saja yang dapat terjadi akibat stroke?
Disfungsi seksual yang dapat terjadi akibat stroke ialah: 1). Dorongan
seksual menurun atau hilang, 2). Disfungsi ereksi, 3). Ejakulasi terhambat, 4).
Kegagalan orgasme, 5). Dispareunia.
Disfungsi seksual tersebut terjadi sebagai akibat gangguan aliran darah
akibat stroke dan juga akibat gangguan otak sendiri pada bagian yang berhubungan
dengan fungsi seksual.
Bagaimana mengatasinya?
Untuk mengatasi disfungsi seksual setelah mengalami stroke, seyogyanya
didasarkan pada jenis penyebab stroke, jenis gangguan fungsi seksual, dan jenis
penyebab gangguan fungsi seksual. Maka harus diketahui dengan benar apa penyebab
stroke, jenis gangguan fungsi seksual yang terjadi, dan apa penyebab gangguan
fungsi seksual itu.
Dengan mengetahui secara benar, maka penanganan gangguan fungsi seksual
menjadi lebih baik dan diharapkan hasilnya juga lebih baik.
Konseling sangat penting untuk mengatasi tekanan psikis yang menyebabkan
gangguan fungsi seksual, di samping untuk memberi pengertian yang benar tentang
kehidupan seksual setelah stroke.
Obat-obat untuk memperbaiki sirkulasi darah dan fungsi syaraf harus diberikan
karena juga akan berpengaruh bagi perbaikan fungsi seksual. Penanganan disfungsi
ereksi setelah stroke juga didasarkan pada pilihan berdasarkan tiga tahap
pengobatan disfungsi ereksi, yaitu pengobatan lini pertama, lini kedua, dan lini
ketiga.
Memang ada sebagian orang yang tidak merasa perlu mendapatkan penanganan
gangguan fungsi seksualnya, karena merasa cukup senang telah terlepas dari
serangan maut. Tetapi seyogyanya mereka juga memikirkan kepentingan seksual
pasangannya. Kecuali kalau pasangannya juga sudah tidak merasa berkepentingan
dengan kehidupan seksualnya. Kalau pasangan memang sudah merasa tidak
berkepentingan lagi dengan kehidupan seksual, maka tidak ada lagi masalah
seksual pada pasangan itu.*
sumber:
Kompas Online
kembali
ke atas
kembali
ke index aging
|