|




|
Website ini diterbitkan
dalam
rangka menyebarluaskan
informasi mengenai
kesehatan reproduksi dan
seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang
mempunyai
kepedulian
terhadap kesehatan
reproduksi dan jender.
Redaksi
menerima sumbangan
pemikiran, opini, hasil
kajian
lapangan serta pengalaman
yang berkaitan
dengan
maksud penerbitan
website ini.
Tim
Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette
Kritik
& Saran:
Mitra INTI
Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id |
|
|
Depan
> Usia
Lanjut (Aging)
Kanker Indung
Telur, Si "Musuh Dalam Selimut"
Ternyata, indung telur (ovarium) seorang wanita pun
tidak luput dari serangan kanker. Tumor ganas yang
tumbuh dalam organ reproduksi ini kita kenal dengan
sebutan kanker indung telur. Meski lebih sering diderita
oleh para wanita yang berusia lebih dari 50, kanker ini
sebenarnya dapat menyerang wanita dari kelompok usia
yang lebih muda.
Berdasarkan jenis sel yang membentuknya, kanker indung
telur dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu: kanker
epitelial, kanker sel germinal, dan kanker stromal.
Kanker epitelial ialah kanker indung telur yang bermula
di permukaan ovarium dan merupakan jenis yang paling
lazim ditemukan. Sedangkan kedua jenis yang lainnya
lebih jarang ditemukan.
Bagaimana tanda dan gejalanya?
Berhubung tanda dan gejalanya yang tidak jelas,
kanker indung telur sering kali baru terdiagnosa pada
stadium yang lebih lanjut dimana massa tumor sudah mulai
menekan organ-organ di sekitarnya. Namun, tanda dan
gejala kanker indung telur dapat berupa:
- Rasa tidak enak di
perut.
- Gangguan saluran cerna
yang terus-menerus, seperti diare, kembung, atau
sembelit.
- Rasa nyeri dan berat
di rongga panggul.
- Peningkatan atau
penurunan berat badan yang tidak jelas penyebabnya.
- Pembengkakan perut
yang tidak nyeri.
- Perdarahan melalui
vagina yang tidak lazim.
- Mual-mual.
- Kehilangan nafsu makan.
- Sering buang air kecil.
- Sesak napas.
- Demam.
- Nyeri saat berhubungan
intim.
Bagaimana kanker ini bisa
timbul?
Ketika sel-sel telur menembus selubung ovarium pada
saat ovulasi, selubung tersebut mengalami sedikit
kerusakan –kadang-kadang bahkan sampai terjadi sedikit
perdarahan. Kemudian sel-sel baru tumbuh untuk
menggantikan sel-sel yang telah rusak.
Kadang-kadang, sebuah sel abnormal tercipta dan sel itu
pada akhirnya dapat menjadi sebuah sel kanker yang ganas.
Namun, para ahli masih belum mampu memastikan faktor apa
yang memicu tumbuhnya sel-sel abnormal ini.
Sel-sel kanker dapat tumbuh keluar dari ovarium serta
menyebar ke berbagai jaringan dan organ di dekatnya.
Bila kanker indung telur yang diderita oleh seorang
wanita mulai mengalami penyebaran, maka ia cenderung
untuk menyebar ke peritoneum (selaput dinding perut) dan
diafragma (sekat rongga badan).
Terkadang, sel-sel kanker juga dapat menyebar melalui
pembuluh darah atau pembuluh getah bening. Apabila
keadaan ini terjadi, maka sel-sel kanker dapat menyebar
dan tumbuh sebagai jaringan-jaringan tumor baru di
berbagai bagian tubuh yang lain.
Jadi, apa saja faktor risikonya?
Para ahli telah menemukan sederetan faktor spesifik
yang dapat meningkatkan risiko seorang wanita mengidap
kanker indung telur jenis epitelial. Faktor-faktor
tersebut diantaranya:
- Usia
:
Sebagian besar kanker indung telur mulai berkembang
setelah seorang wanita memasuki masa menopause. Lebih
kurang setengah dari kasus kanker indung telur
ditemukan pada wanita-wanita yang telah berusia lebih
dari 65.
- Riwayat reproduksi
:
Para wanita yang mulai datang bulan sebelum usia 12,
tidak memiliki anak atau memilikinya setelah usia 30,
dan/atau mengalami menopause setelah usia 50,
kemungkinan memiliki risiko mengidap kanker indung
telur yang lebih besar.
- Penggunaan obat-obat
kesuburan:
Setelah melakukan serangkaian penelitian, para ahli
menemukan bahwa penggunaan obat-obat kesuburan dalam
waktu lama dapat meningkatkan kemungkinan timbulnya
kanker indung telur. Apalagi bila pemakainya tidak
pernah berhasil mencapai kehamilan.
- Riwayat kanker indung
telur dalam keluarga:
Risiko mengidap kanker indung telur para wanita dapat
meningkat bila ada anggota keluarga mereka yang
mengidap kanker tersebut. Sekitar 10 persen kasus
memiliki riwayat kanker indung telur dalam keluarga.
- Riwayat kanker
payudara:
Para
wanita yang pernah mengidap kanker payudara ternyata
memiliki risiko yang lebih besar juga untuk mengidap
kanker indung telur.
Sebagai informasi,
faktor-faktor risiko di atas tidak berlaku untuk kedua
jenis kanker indung telur yang lain.
Kesulitan untuk melakukan deteksi dini
Para wanita dan dokter boleh dikatakan 'buta' ketika
berbicara mengenai pemeriksaan dan deteksi dini. Pada
saat ini masih belum ada jenis pemeriksaan dan metode
deteksi terbaik untuk kanker ovarium. Hal terbaik yang
dapat dilakukan adalah menyarankan agar para wanita
melakukan pemeriksaan fisik dan panggul secara rutin
setiap tahun.
Selama suatu pemeriksaan panggul, dokter akan menilai
keadaan kedua indung telur dan rahim untuk mengetahui
ukuran, bentuk, dan konsistensinya. Para dokter mungkin
akan merekomendasikan pemeriksaan USG transvagina bagi
para wanita yang berisiko tinggi. Pemeriksaan ini
dilakukan dengan memasukkan sebuah instrumen lewat
vagina dan hasilnya ternyata cukup dapat diandalkan.
Para dokter mungkin juga akan melakukan suatu tes darah
CA-125 bagi mereka yang berisiko tinggi. CA-125
merupakan suatu senjata yang cukup ampuh untuk memonitor
apakah kanker indung telur yang telah diobati mulai
kambuh kembali. Namun hasil-hasilnya sebagai sebuah alat
pemeriksaan awal seringkali keliru dan menyesatkan.
Sumber:
SatuMed
kembali
ke atas
kembali
ke index aging |
|
|