OZZY

Fokus:

X







 

Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Depan > Usia Lanjut (Aging)  

Orang Lansia pun Wajib Diimunisasi

Ketika memasuki usia lanjut, tiap orang akan mengalami perubahan secara fisik maupun mental. Tubuh tidak lagi kuat, kulit mulai keriput, rambut memutih, mengunyah makanan sangat pelan, jalan pun tidak lagi cepat. Secara mental, para lanjut usia (lansia) juga sering berbeda persepsi dengan orang lebih muda.

Pada peringatan Hari Lansia Nasional ke-9 pada 29 Mei lalu, jumlah populasi kelompok orang usia lanjut di Indonesia dilaporkan meningkat. Bila tidak ditangani serius penambahan lansia akan menimbulkan masalah di bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memperhitungkan pada 2020 Indonesia akan mengalami peningkatan jumlah warga lansia sebesar 414%. Sebuah peningkatan tertinggi di dunia.

Berdasarkan sensus penduduk 2000, jumlah lansia mencapai 15,8 juta jiwa atau 7,6%. Pada 2005 meningkat menjadi 18,2 juta jiwa atau 8,2%. Sedangkan pada 2015 diperkirakan mencapai 24,4 juta jiwa atau 10%. Data Badan Pusat Statistik dan Depsos 2001 menyebutkan dari jumlah lansia yang mencapai 15,8 juta itu, 21,75% di antaranya dikategorikan sebagai lansia telantar. Sedangkan 33,89% masuk ke dalam rawan telantar.

Menurut spesialis penyakit dalam dr Czeresna Heriawan Soejono dari Divisi Geriatri Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo, salah satu masalah penting yang dihadapi para lansia adalah kesehatan. Masalah kesehatan pada populasi usia lanjut, lanjutnya, bukan saja terletak pada aspek penyakit kronis dan degeneratif, melainkan juga kerentanan terhadap infeksi cukup tinggi.

''Biaya preventif di rumah sakit pun tinggi, karena berulang kali datang ke rumah sakit untuk perawatan.''

Penyakit paling banyak diderita para lansia, kata Heriawan, infeksi akut paru-paru (pneumonia) dan kardiovaskular. Penyakit pneumonia saat ini menjadi ancaman bagi lansia dan berdampak pada morbiditas maupun mortalitas.

''Untuk mencegah terjadinya morbiditas dan mortalitas, upaya pencegahan bisa dilakukan dengan imunisasi. Tetapi Imunisasi untuk lansia berbeda dengan anak-anak. Ada dua imunisasi wajib bagi lansia, yakni imunisasi flu dan pneumonia,'' kata Heriawan.

Imunisasi itu, katanya, untuk menekan angka kematian dan morbiditas pada lansia akibat influenza dan infeksi paru. Sayangnya, imunisasi pada orang tua tidak dibiayai negara. Pasien harus beli sendiri vaksinnya, dan masih diimpor. ''Kami mengharapkan kebijakan pemerintah nantinya bisa membuat vaksin di dalam negeri dan imunisasi ini bisa gratis, seperti halnya imunisasi anak-anak.''

 

Wajib

Imunisasi influenza memang merupakan referensi WHO, sebab organisasi kesehatan dunia itu mencatat pada 1957-1958 terjadi wabah flu Spanyol (Spanish flu) kemudin pada 1968-1969 terjadi wabah flu Hong Kong. Kedua wabah itu banyak menewaskan lansia.

Itulah sebabnya pada 2004, kata Heriawan, WHO mencanangkan perlunya imunisasi pada lansia untuk setiap negara. Imunisasi influenza diberikan sekali dalam setahun sedangkan imunisasi pneumonia diberikan satu kali seumur hidup. Bisa juga lima tahun sekali.

Heriawan mengakui vaksinasi tidak seratus persen memproteksi tubuh lansia dari serangan virus. ''Namun sekitar 77-84% vaksin ini mampu memproteksi tubuh dari serangan virus. Harga vaksin influenza saat ini masih berkisar Rp125 ribu sedangkan vaksin pneumonia Rp175 ribu.'' Imunisasi bagi lansia memang relatif baru dan belum banyak diketahui orang. Di Indonesia, lanjutnya, masalah lansia baru masuk divisi geriatri pada 1996. Dan kini baru empat rumah sakit pendidikan yang memiliki dokter di bidang itu, yakni RSUPN Jakarta, RSUD Karyadi Semarang, RSUD Sardjito Yogyakarta dan RSUD Sanglah Bali.

Menurut Heriawan, ada efek samping saat tubuh lansia menerima vaksinasi tersebut, yaitu kulit kemerahan, dan demam. Tetapi efek samping itu bisa diatasi dengan minum parasetamol satu tablet. ''Pasien juga harus jujur apabila alergi makan telur, karena bisa menyebabkan gatal dan biduran. Untuk tingkat sedang efek samping imunisasi influenza bisa menyebabkan sesak napas dan diare. Bahkan pada tingkat berat bisa menimbulkan kebiru-biruan, saluran napas tersumbat dan menyebabkan kematian.''

Sementara itu, dr Nina Kemala Sari, juga dari Divisi Geriatri Departemen Penyakit Dalam FKUI/RSUPN Cipto Mangunkusumo mengatakan, penyakit pada usia lanjut memang sangat spesifik dibandingkan mereka yang berusia di bawah 60 tahun. Menurutnya, hal itu disebabkan komposisi tubuh pada lansia berubah. Misalnya, massa otot bebas lemak berkurang.

''Cairan tubuh mulai berkurang dari sekitar 60% pada usia muda menjadi 45% pada usia lanjut. Selain itu lansia sering mengalami gangguan penyimpangan air dan pemeliharaan keseimbangan natrium akibat penyakit kronik yang menyertainya.''

Pada lansia, lanjut Nina, mulai terjadi gangguan persepsi terhadap rasa haus. Ambang rasa haus meningkat, sehingga tidak mudah merasa haus meskipun tubuh mengalami kekurangan cairan. Ini menyebabkan dehidrasi. Sering keluarga tidak menyadari bahwa kebiasaan minum sedikit ini sangat berbahaya bagi kesehatan mereka.

Nina mengatakan, banyak orang menganggap remeh dehidrasi pada orang tua. Padahal kekurangan cairan itu sering memunculkan faktor psikologis pada lansia, misalnya, mereka sering bingung, kehilangan orientasi, dan marah bila segala sesuatunya tidak sesuai dengan keinginannya. Selain itu, lanjut Nina, kekurangan cairan merupakan salah satu pencetus kematian lansia.

Heriawan menambahkan hal lain yang perlu diwaspadai pada lansia, yakni kurang gizi akibat sedikit asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh. ''Mestinya orang tua tetap makan seperti biasa dengan porsi wajar.''

Namun, lanjutnya, ada beberapa jenis makanan dan minuman yang sebaiknya dihindari para lansia, yaitu biskuit, makanan kering dan berlemak, minum teh atau kopi. ''Teh dan kopi menyebabkan jumlah natrium berkurang. Teh menarik air dari air kencing, sehingga natrium berkurang. Akibatnya, tubuh lemas bila kebanyakan teh. Sebaiknya minum air putih,'' kata Nina.

Makanan terlalu manis juga sebaiknya dihindari, apalagi lansia pengidap diabetes. Sebab sering kali lansia makan makanan manis berlebihan.(Nda/H-1).

sumber: Media Indonesia Online, Rabu, 1 Juni 2004

 

kembali ke atas

kembali ke index aging

 

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan