|
Depan
> Usia
Lanjut (Aging)
Hidup Lebih Bermakna dan Kreatif di Usia Senja
''Pada usia saya saat ini, saya mengantisipasi agar tidak mengalami
kematian psikologis dan kematian sosial. Kematian psikologis berupa
kebencian dan kemarahan terhadap diri sendiri karena merasa tidak berguna
lagi. Sedangkan kematian sosial adalah perasaan tidak dibutuhkan dan
menjadi beban bagi lingkungan sosial di sekitar saya.''
Pernyataan itu diungkapkan psikolog Sartono Mukadis lewat tayangan
video yang diputar saat peluncuran Yayasan Kencana, pekan lalu di Jakarta.
Yayasan Kencana merupakan komunitas orang berusia 50 tahun ke atas (golden
age) untuk menjalani kehidupan lebih bermakna, aktif, kreatif,
mandiri, dan bahagia.
Keberadaan lansia memang sering dipersepsikan negatif oleh masyarakat
luas. Kaum lansia sering dianggap tidak berdaya, sakit-sakitan, tidak
produktif, dan sebagainya. Tak jarang mereka diperlakukan sebagai beban
keluarga, masyarakat, hingga negara. Mereka sering tidak disukai serta
sering dikucilkan di panti-panti jompo.
Adanya anggapan negatif terhadap para lansia itulah yang membuat
beberapa sosiolog, psikolog, dokter ahli saraf, dan ahli gizi mendirikan
Komunitas Kencana. Tujuannya tidak lain untuk menetralisasi anggapan
negatif itu.
Salah satu pendiri Yayasan Kencana, Jackie Ambadar, memaparkan ketika
memasuki usia di atas 30 tahun, tubuh cenderung mengalami perubahan.
Perubahan yang terjadi bisa menimbulkan berbagai kelainan hingga berbagai
penyakit. Hal ini harus diantisipasi sebelum terjadi.
''Yang sering terjadi pada warga usia kencana adalah soal kesehatan
fisik. Ini sering disebabkan masalah psikis, misalnya depresi. Penyebabnya
rasa kesepian karena ruang lingkup pergaulan yang menyempit, post-power
syndrome, rutinitas kehidupan yang statis dan tidak variatif,'' kata
Jackie di sela-sela peresmian Komunitas Kencana pekan lalu di Jakarta.
Semua hal itu, lanjutnya, bisa membuat lansia depresi. Maka jangan
heran kalau melihat para lansia tampak lesu, tidak bergairah, merasa tidak
dihargai, serta merasa tidak bermakna sehingga cepat merasa tua.
Menurut pengusaha ini, seseorang akan terus-menerus merasa muda jika
lingkup pergaulannya luas, memiliki banyak teman untuk bertukar pikiran,
intelektualitasnya selalu terasah, aktif, dan menjalankan kehidupan
dinamis. Kehidupan seperti itu akan menghasilkan perasaan awet muda,
gembira, dan sikap positif. Jika seseorang merasa muda, kemungkinan
kesehatannya selalu terjaga dengan baik.
Di tempat yang sama, salah satu penggagas Yayasan Kencana dr Adre Mayza
menuturkan yayasannya mengembangkan enam dimensi hidup sehat bagi
komunitas kencana. Pertama, dimensi fisik berupa kebutuhan akan gaya hidup
sehat yang dapat dicapai dengan kegiatan olahraga, mengatur pola makan
sehat, serta pemeriksaan kesehatan yang teratur. Kedua, dimensi sosial
berupa kebutuhan untuk memiliki hubungan yang sehat dalam komunikasi
positif, melalui beragam kegiatan, rekreasi bersama, serta kompetisi.
Ketiga, dimensi emosional, yaitu kebutuhan untuk dapat meningkatkan
kemampuan mengelola, menyalurkan, dan mengendalikan emosi yang diasah
melalui konsultasi kepada ahli atau teman dekat, terapi, meditasi, serta
saling berbagi dalam kelompok.
Keempat, dimensi intelektual untuk mengasah serta meningkatkan
kemampuan, pengetahuan, dan keahlian dengan membaca buku. Kelima,
vokasional, yaitu kebutuhan aktualisasi diri yang dapat terwujud melalui
kegiatan bersifat hobi untuk menyalurkan bakat serta keahlian khusus
seperti melukis, berkebun, atau kerajinan tangan. Keenam, dimensi
spiritual, yaitu kebutuhan untuk mengisi kebutuhan rohani dalam upaya
mendalami makna hidup sesungguhnya.(CR-48/H-1)
sumber:
Media Indonesia Online, Rabu, 1 Juni 2004
kembali
ke atas
kembali
ke index aging
|