Penderita kanker mulut rahim di Indonesia ternyata
jumlahnya sangat banyak. Menurut perkiraan Departemen
Kesehatan saat ini ada sekitar 100 kasusper 100 ribu
penduduk atau 200 ribu kasus setiap tahunnya. Selain itu,
lebih dari 70 persen kasus yang datang ke rumah
sakitditemukan dalam keadaan stadium lanjut.
Menurut Dr. Bambang Dwipoyono SpOG dari divisi Kanker
Ginekologik RS Kanker Dharmais Jakarta, faktor resiko
epidemiologik penyumbang terjadinya dan berkembangnya
kanker serviks adalah infeksi virus papiloma manusia
atau Human Virus Papilloma (HVP). Akibat yang
ditimbulkan penyakit ini diantaranya berupa penurunan
harapan hidup, lamanya penderitaan, dan tingginya biaya
pengobatan. “Karena itu upaya prevensi harus mulai
dilakukan,” tegas Bambang.
Dia menyebutkan, berdasarkan data RS Kanker Dharmais,
pasien yang menderita kanker serviks pada stadium lanjut
pada tahun 1993-1997 sebanyak 710 kasus baru. Sebesar 65
persen pasien datang pada stadium lanjut (IIB-IV). Angka
ketahanan hidup dalam dua tahun stadium lanjut tersebut
berkisar 53,2 persen dan untuk stadium awal hampir 90
persen.
Bambang juga menambahkan, penelitian yang dilakukan
Bank Dunia mendukung pendapat bahwa program penapisan
kanker serviks tak hanya menyelamatkan jiwa tapi juga
biaya yang dikeluarkan jadi murah. Sebagai perbandingan,
program penapisan untuk satu orang untuk setiap lima
tahun menghabiskan US$100 dan wanita tersebut masih
dapat bekerja karena terhindar dari kanker serviks. Tapi
di sisi lain, biaya pengobatan kanker US$2600 dan wanita
tersebut tak dapat bekerja lagi.
Jika menilik perjalanan penyakit itu, menurut Bambang,
hampir 90 persen kasus berasal dari epitel permukaan (epitel
skuamosa). Didapatkan suatu keadaan yang disebut
pembakal kanker atau prakanker. Keadaan tersebut dimulai
dari yang bersifat ringan sampai menjadi karsinoma in
situ yang semuanya dapat didiagnosa dengan skrining atau
penapisan. Dalam proses perkembangannya, dapat terjadi
perubahan atau perpindahan daru satu tingkat ke tingkat
yang lain. “Dari yang ringan ke yang lebih berat atau
sebaliknya,” papar Bambang.
Terjadinya perubahan tersebut diperlukan keadaan yang
“cocok”, sehingga untuk menjadi kanker diperlukan
waktu 10-20 tahun. Namun jika sudah menjadi kanker
stadium awal, penyakit ini dapat menyebar ke daerah di
sekitar mulut rahim.
Kondisi prakanker sampai karsinoma in situ (stadium
0) sering tak menunjukkan gejala karena proses
penyakitnya berada di dalam lapisan epitel dan belum
menimbulkan perubahan yang nyata dari mulut rahim. Pada
akhirnya gejala yang ditimbulkan adalah keputihan,
perdarahan paska sanggama dan pengeluaran cairan encer
dari vagina. Lalu jika sudah menjadi invasif akan
ditemukan gejala seperti perdarahan spontan, perdarahan
paska sanggama, keluarnya cairan (keputihan) dan rasa
tak nyaman saat melakukan hubungan seksual.
Dalam perjalanannya, lanjut Bambang, penyakit kanker
mulut rahim membutuhkan waktu yang cukup lama dari
kondisi normal sampai menjadi kanker. Dalam penelitian
secara epidemiologik dan laboratorik ada beberapa faktor
yang berperan secara langsung maupun tak langsung.
Pertama, skrining atau penapisan. Dalam pemantauan
perjalanan penyakit, diagnosis displasia sering
ditemukan pada usia 20 tahunan. Karsinoma in situ pada
usia 25-35 tahun dan kanker serviks invasif pada usia 40
tahun. “Untuk mendeteksi adanya kanker mulut rahim
dengan cara tes pap yaitu pemeriksaan sitologi,”kata
dia.
Kedua, penularan penyakit kanker ini melalui hubungan
seksual. Penelitian awal menunjukkan tingginya kejadian
kanker serviks pada perempuan lajang dan menikah pada
usia muda. Terdapat pula peningkatan dua kali lipat pada
perempuan yang mulai berhubungan seksual sebelum usia 16
tahun. “Juga meningkat pada perempuan dengan seksual
partner yang multiple,” paparnya.
Ketiga, peran pasangan pria. Pada penelitian terhadap
perempuan yang menikah dengan seorang laki-laki yang
pernah mempuyai istri yang menderita kanker mulut rahim,
kejadian penyakit kanker pada kelompok perempuan itu
jadi meningkat. Keempat, karakteristik reproduksi dan
menstruasi, dan terakhir faktor merokok.
Bambang memaparkan, untuk pengobatan kanker mulut
rahim ditentukan oleh berat ringan penyakit atau
stadium. Umumnya pada stadium awal tindakan operasi
menjadi pilihan pertama. Pilihan modalitas pengobatan
lain seperti penyinaran dan pemberian sitostatika (kemoterapi)
dilakukan pada kasus yang lanjut atau khusus. Ada juga
tindakan pengobatan berupa gabungan yang terdiri dari
operasi dan radiasi; operasi dan kemoterapi; radiasi dan
kemoterapi; atau operasi, radiasi dan kemoterapi.
Namun, tegas Bambang, upaya pencegahan kanker serviks
merupakan langkah yang mesti dilakukan. Cara yang bisa
dilakukan dalam rangka menurunkan faktor resiko seperti
mencegah hubungan seksual pada usia dini, faktor pada
pria, jumlah pasangan seks, dan kebiasaan merokok.
Pencegahan ini bertujuan menghilangkan resiko perilaku
seksual yang meningkatkan paparan terhadap virus
papiloma manusia.
Hal lain yang bisa dilakukan adalah memperbanyak
mengkonsumsi sayuran berwarna hijau tua dan kuning yaitu
yang banyak mengandung beta karoten, vitamin C dan
vitamin E. Serta vaksinasi terhadap virus papiloma yang
bertujuan mencegah dan pengobatan terhadap infeksi
virus. “Pemberian vaksin dilakukan sedini mungkin
sebelum seseorang aktif melakukan hubungan seksual,”
ucap Bambang. (hilman hilmansyah)