OZZY

Fokus:

X







 

Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Depan > Usia Lanjut (Aging)  

Perlu Kematangan Mental Memasuki Menopause

Kematangan mental, kedewasaan berpikir, faktor ekonomi, budaya, dan wawasan mengenai menopause akan menentukan berat ringannya seseorang menghadapi kekhawatiran saat memasuki masa menopause.

Hal itu diungkapkan psikolog M Louise Maspaitela dari RS Harapan Kita pada seminar bertema Menjelang menapause tetap aktif, sehat, dan bahagia di Jakarta, Sabtu (13/3).

Louise menjelaskan sindroma menopause pada perempuan ditandai dengan berhentinya mentruasi secara mendadak. Bisa juga menstruasi yang berkurang secara berangsur-angsur, siklus menjadi lebih pendek dengan arus pendarahan yang lancar dan deras.

Tanda lain adalah sistem reproduksi menurun dan berhenti, penampilan kewanitaan menurun karena hormon-hormon estrogen di ovariumnya berkurang, sehingga lekuk tubuh menjadi rata, payudara tidak kencang, bulu pubis lebih tipis, kulit menjadi kering dan kurang halus serta kelenturannya berkurang.

''Perempuan yang memasuki menopause juga akan mengalami rambut beruban, menipis dan mudah rontok. Selain itu, ketidaknyamanan fisik, seperti jantung yang berdebar lebih cepat, kepala sering pusing,'' kata Louise.

Menurutnya, bila seorang perempuan tidak siap mental menghadapi periode klimakterik atau fase menjelang menopause dan lingkungan psikososial tidak memberikan dukungan positif akan berakibat tidak baik.

Perempaun itu akan menjadi kurang percaya diri, merasa tidak diperhatikan, tidak dihargai, merasa stres dan khawatir berkepanjangan tentang perubahan fisiknya, misalnya khawatir fisiknya tidak seindah dan sesehat ketika muda. ''Kemudian merasa adanya perubahan psikologis ataupun sikap lingkungan psikososial,'' jelasnya.

Ada pula, kata Louise, wanita yang seolah-olah ingin mengingkari ketuaannya. Dia ingin mengulang kembali pola kebiasaannya di masa muda, sehingga muncul perilaku yang aneh dan janggal yang tidak sesuai dengan umurnya. Dia mungkin menimbun dirinya dengan dandanan yang mencolok agar kelihatan seperti 'remaja'. Orang awam sering menyebutnya sebagai pubertas kedua.

''Manifestasi perilaku yang janggal dan aneh-aneh itu menyebabkan fase klimaterium disebut usia berbahaya (the dangerous age), karena biasanya mengakibatkan efek-efek psikologis cukup tragis,'' katanya.

Louise mengatakan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan kaum perempuan untuk mengatasi kegelisahan tersebut: Pertama, memperkuat keyakinan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Kedua, bagi perempuan yang energinya terpusat untuk anak dan keluarga, perlu memeriksa kembali apa yang ingin dilakukan dalam hidupnya. ''Selain menunaikan kewajibannya sebagai seorang ibu,'' ujarnya.

Ketiga, Louise menyarankan, untuk sementara agar masalah menopause yang menimbulkan perasaan khawatir di-black-out. Dianjurkan agar mengembangkan kemampuan otak. Untuk waktu tertentu tidak memikirkan situasi yang tidak menyenangkan, tetapi diminta memusatkan pikiran pada sesuatu hal yang lain dan menyenangkan.

Keempat, berusaha istirahat sejenak di kala bekerja. Kelima, lakukan poison pen therapy, yaitu menulis catatan harian untuk diri sendiri guna mengeluarkan semua unek-unek mengenai perubahan fisik dan psikologis yang menimbulkan kekhawatiran. (Drd/V-1)

sumber: Media Indonesia Online

 

kembali ke atas

kembali ke index aging

 

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan