|
Depan
> Usia
Lanjut (Aging)
Perlu
Kematangan Mental Memasuki Menopause
Kematangan
mental, kedewasaan berpikir, faktor ekonomi, budaya, dan
wawasan mengenai menopause akan menentukan berat
ringannya seseorang menghadapi kekhawatiran saat
memasuki masa menopause.
Hal
itu diungkapkan psikolog M Louise Maspaitela dari RS
Harapan Kita pada seminar bertema Menjelang menapause
tetap aktif, sehat, dan bahagia di Jakarta, Sabtu
(13/3).
Louise
menjelaskan sindroma menopause pada perempuan ditandai
dengan berhentinya mentruasi secara mendadak. Bisa juga
menstruasi yang berkurang secara berangsur-angsur,
siklus menjadi lebih pendek dengan arus pendarahan yang
lancar dan deras.
Tanda
lain adalah sistem reproduksi menurun dan berhenti,
penampilan kewanitaan menurun karena hormon-hormon
estrogen di ovariumnya berkurang, sehingga lekuk tubuh
menjadi rata, payudara tidak kencang, bulu pubis lebih
tipis, kulit menjadi kering dan kurang halus serta
kelenturannya berkurang.
''Perempuan
yang memasuki menopause juga akan mengalami rambut
beruban, menipis dan mudah rontok. Selain itu,
ketidaknyamanan fisik, seperti jantung yang berdebar
lebih cepat, kepala sering pusing,'' kata Louise.
Menurutnya,
bila seorang perempuan tidak siap mental menghadapi
periode klimakterik atau fase menjelang menopause dan
lingkungan psikososial tidak memberikan dukungan positif
akan berakibat tidak baik.
Perempaun
itu akan menjadi kurang percaya diri, merasa tidak
diperhatikan, tidak dihargai, merasa stres dan khawatir
berkepanjangan tentang perubahan fisiknya, misalnya
khawatir fisiknya tidak seindah dan sesehat ketika muda.
''Kemudian merasa adanya perubahan psikologis ataupun
sikap lingkungan psikososial,'' jelasnya.
Ada
pula, kata Louise, wanita yang seolah-olah ingin
mengingkari ketuaannya. Dia ingin mengulang kembali pola
kebiasaannya di masa muda, sehingga muncul perilaku yang
aneh dan janggal yang tidak sesuai dengan umurnya. Dia
mungkin menimbun dirinya dengan dandanan yang mencolok
agar kelihatan seperti 'remaja'. Orang awam sering
menyebutnya sebagai pubertas kedua.
''Manifestasi
perilaku yang janggal dan aneh-aneh itu menyebabkan fase
klimaterium disebut usia berbahaya (the dangerous age),
karena biasanya mengakibatkan efek-efek psikologis cukup
tragis,'' katanya.
Louise
mengatakan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan kaum
perempuan untuk mengatasi kegelisahan tersebut: Pertama,
memperkuat keyakinan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Kedua,
bagi perempuan yang energinya terpusat untuk anak dan
keluarga, perlu memeriksa kembali apa yang ingin
dilakukan dalam hidupnya. ''Selain menunaikan
kewajibannya sebagai seorang ibu,'' ujarnya.
Ketiga,
Louise menyarankan, untuk sementara agar masalah
menopause yang menimbulkan perasaan khawatir di-black-out.
Dianjurkan agar mengembangkan kemampuan otak. Untuk
waktu tertentu tidak memikirkan situasi yang tidak
menyenangkan, tetapi diminta memusatkan pikiran pada
sesuatu hal yang lain dan menyenangkan.
Keempat,
berusaha istirahat sejenak di kala bekerja. Kelima,
lakukan poison pen therapy, yaitu menulis catatan
harian untuk diri sendiri guna mengeluarkan semua
unek-unek mengenai perubahan fisik dan psikologis yang
menimbulkan kekhawatiran. (Drd/V-1)
sumber: Media
Indonesia Online
kembali
ke atas
kembali
ke index aging
|