|
Depan
> Usia
Lanjut (Aging)
Apakah
Terapi Estrogen Aman Bagi Perempuan?
NEW
YORK: Para perempuan yang telah mengalami menopause
dan menjalani terapi estrogen agaknya tidak perlu
khawatir dengan adanya sinyalemen bahwa upaya kesehatan
itu dapat mengakibatkan resiko stroke.
Jennifer
Hays, direktur Pusat Kesehatan Perempuan di Baylor
College, Houston, Amerika Serikat mengharapkan pengakuan
dari pengalaman perempuan yang berusia 50 tahun yang
telah menjalani terapi estrogen.
Namun
ketika Hays membuka pesan-pesan e-mail dan mengikuti
siaran televisi ternyata terapi itu juga diikuti oleh
perempuan yang berusia 40 tahun. Umumnya mereka telah
mengalami pemindahan indung telur (ovarium) karena
alasan kesehatan, menjelang masa menopause.
"Jika
engkau menjadi dokter, akankah engkau menyarankan agar
diriku meneruskan terapi estrogen," tanya seorang
perempuan. Dalam debat mengenai terapi hormon, para
pasien yang usianya relatif lebih muda dan telah
menjalani hysterectomi cenderung merasa dirinya
diabaikan. Jumlah mereka cukup banyak, dan para dokter
dituntut untuk menangani mereka.
Selama
enam dekade ini, estrogen sebagai terapi menjadi pilihan
di Amerika Serikat bagi para perempuan. Karena uterus
mereka umumnya telah diambil, para perempuan itu
menjalani terapi estrogen tanpa khawatir dirinya terkena
kanker, demikian situs harian International Herald
Tribune (IHT).
Studi
mengenai estrogen dihentikan pada pekan lalu yang
merupakan bagian dari usaha lembaga Inisiatif Kesehatan
Perempuan. Menurut lembaga itu, terapi hormon tidak
menyebabkan serangan jantung dan resiko stroke. Pada
tahun 2002, sebuah studi lain menyatakan, pemberian
kombinasi terapi estrogen dihentikan ketika para
peneliti mendapati bahwa peningkatan hormon beresiko
kanker. Namun tidak satu pun dari studi itu meneliti
para perempuan yang berusia lebih muda yang menjalani
terapi estrogen.
Menopause
yang diakibatkan oleh pengambilan indung telur kerapkali
berbeda dengan menopause yang ditimbulkan oleh
pertambahan usia.
Robert
Brzyski, ahli kandungan dari Universitas Texas di Pusat
Ilmu Kesehatan di San Antonio mengatakan banyak
perempuan yang indung telurnya telah diambil menyatakan
bahwa dirinya tidak akan berfungsi tanpa asupan
estrogen. Mereka juga khawatir mengalami keropos tulang.
Perempuan
yang menulis kepada Hays ingin mengetahui hasil temuan
yang berkaitan dengan resiko stroke. Akankah mereka yang
telah menginjak usia 40 tahun perlu khawatir dengan
terapi estrogen?
Margery
Gass, profesor ahli bidang kesehatan kandungan pada
Universitas Cincinnati yang pernah juga menjadi ketua
dari Masyarakat Menopause Amerika Utara mengatakan,
"Masalahnya adalah jawaban kita yang kemungkinan
tidak berdasarkan data."
Ia
mengatakan dirinya akan menyatakan kepada seorang pasien
perempuan yang masih relatif muda bahwa resiko terkena
stroke akan sama peluangnya dengan perempuan yang telah
lanjut usia. Jika memang estrogen menjadikan diri
seorang perempuan tampak lebih muda dari usia
sesungguhnya, hal itu dapat dicoba lebih lanjut.
Isaac
Schiff, ketua unit kesehatan kandungan pada Rumah Sakit
Umum Massachusetts di Boston mengatakan ia akan merujuk
pada data mengenai pil anti hamil yang coba diterapkan
untuk menanggulangi resiko akibat pemakaian estrogen
pada perempuan yang usianya di bawah 50 tahun. Namun ia
menambahkan estrogen dapat melindungi tulang dan
mencegah simptom menopause.
Studi
mengenai pil anti hamil, katanya, membuktikan adanya
jaminan keamanan. Pil tersebut tidak mengakibatkan
kanker. Namun ketika seorang perempuan menginjak usia 50
tahun, terapi tersebut harus dievaluasi kembali. (IHT/Ant/O-1)
sumber: Media
Indonesia Online
kembali
ke atas
kembali
ke index aging
|