OZZY

Fokus:

X







 

Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Depan > Usia Lanjut (Aging)  

Riset IPB: Tempe dapat Perlambat Menopause

Bagi kalangan perempuan, premenoupause menjadi momok tersendiri, kendati hal ini alamiah terjadi pada semua perempuan yang berusia menjelang 40 tahun ke atas, yang ditandai dengan perubahan-perubahan fisik seperti pengeriputan di kulit.

Namun, sebuah riset yang dilakukan Herry Winarsi, mahasiswa S-3 Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukan bahwa pada kacang-kacangan terutama kedelai, yang juga biasa dikenal sebagai bahan baku tempe, diyakini memiliki sifat yang dapat memperlambat menopause pada perempuan, demikian dilaporkan dari Kampus IPB, Kamis.

Riset tersebut kemudian dijadikan disertasi untuk meraih gelar doktornya dengan judul Respons Hormonal dan Imunitas Wanita Premenopause terhadap Minuman Fungsional Berbahan Dasar Susu Skim yang di Suplementasi dengan Isoflavon kedelai dan Zn.

Di depan sidang tebuka yang dihadiri Prof Dr Ir Deddy Muchtadi, MS, Dr Ir Fransiska Rungkat Zakaria, MSc, Dr drh Bambang Purwantara, MSc sebagai dosen pembimbing dan Dr drh I Wayan T Wibawan, MS serta Prof Dr dr Dedi Subardja, Sp.A sebagai penguji luar komisi, ia memulai penjelasan mengenai kondisi premenopause.

Premenopause, menurut perempuan kelahiran Sleman, Yogyakarta 1 Maret 1957 yang menjadi staf pengajar pada Fakultas Biologi di Universitas Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah itu, adalah suatu kondisi fisiologis pada perempuan yang telah memasuki proses penuaan (aging), yang ditandai dengan menurunnya kadar estrogen ovarium.

Penurunan kadar estrogen tersebut sering menimbulkan gejala yang sangat mengganggu aktivitas kehidupan para perempuan, bahkan mengancam kebahagiaan rumah tangga.

Gejala tersebut, kata dia, disebut sindroma menopause, yang meliputi hot flushes (semburan panas dari dada hingga wajah), night sweat keringatan di malam hari), dryness vaginal (kekeringan vagina), penurunan daya ingat, insomnia (susah tidur), depresi (rasa cemas), fatigue (mudah capek), penurunan libido, drypareunia (rasa sakit ketika berhubungan seksual) dan incontinence urinary (beser).

Ia juga mengemukakan bahwa sindroma menopause dialami oleh banyak perempuan hampir di seluruh dunia, sekitar 70-80 persen perempuan Eropa, 60 persen di Amerika Serikat 57 persen, di Malaysia, 18 persen di Cina dan 10 persen di Jepang dan Indonesia. "Perbedaan jumlah tersebut karena pola makannya," katanya.

Disebutkan bahwa perempuan di Eropa dan Amerika mempunyai estrogen yang lebih banyak ketimbang di Asia.

"Ketika terjadi menopause, wanita Eropa dan Amerika estrogennya menurun drastis dibanding wanita Asia yang kadar estrogennya moderat," katanya.

Ia mengatakan, sindroma menopause sendiri memicu munculnya berbagai penyakit degeneratif antara lain kanker, tumor, osteoporosis (tulang keropos), astesklerosis dan sebagainya.

Selain itu, pada keadaan tersebut fungsi sistem imun mengalami penurunan, khususnya aktivitas yang diperantai oleh sel T.

Hal ini karena kelenjar timus atrofi (mengkerut), padahal kelenjar timus merupakan tempat pendewasaan sel T, sehingga dengan atrofinya timus, sel T yang dewasa berkurang, demikian pula fungsinya, di mana kondisi itu berdampak pada fungsi sel B dalam memproduksi antibodi.

Minuman fungsional

Dari riset yang dilakukannya, Herry Winarsi, mencoba memformulasi kacang-kacangan terutama kedelai, yang juga biasa dikenal sebagai bahan baku tempe, dan diyakini memiliki sifat yang dapat memperlambat menopause pada perempuan dalam bentuk minuman fungsional.

Minuman fungsional yang dibuat dalam riset itu kaya akan isoflavon kedelai dan Zn. Isoflavon dapat ditemukan pada kacang-kacangan terutama kedelai yang diyakini memiliki sifat estrogenik, antikarsinogenik, antiosteoporoisitik, antioksidatif dan dapat memperbaiki sindroma menopause.

Kemiripan struktur molekul isoflavom kedelai dengan estrogen endogen, katanya, membuat isoflavon mampu berikatan dengan reseptor estrogen, dan pada akhirnya isoflavon dapat menggantikan fungsi estrogen.

"Meskipun demikian, potensi isoflavon sangat lemah, bila dibandingkan dengan potensi estrogen endogen," tambah Ibu dari Andreas dan Margaretta, dua mahasiswa Kedokteran Universitas Soedirman itu.

Minuman fungsional buatannya tersebut telah diujicobakan pada 33 perempuan premenopause yang tinggal di Purwokerto, selama dua bulan.

Hasilnya, pada bulan kedua responden diimunisasi dengan vaksin Tetanus secara intramuscular, dan ternyata minuman ini terbukti secara ilmiah memperbaiki fungsi sistem imun.

Untuk memperkuat keilmiahannya, ia mengambil sampel darah responden sebanyak tiga kali. Kemudian, sampel darah tersebut diteliti kadar estrogen, timulin, IgM dab IgG anti Tetanus (TT), aktivitas enzim Superoxide Dismutase (SOD) limfosit, katalase, aktivitas enzim Glutation Peroxidase (GSH-PX) limfosit, MDA (oksidasi lipid), Hormon estradiol, profil darah periferir dan kadar Zn-nya.

Minuman fungsional buatan istri dari dr Agus Purwanto, MS tersebut, dapat menurunkan bahkan menghilangkan dryness vaginas, dyspareunia, penurunan daya ingat dan fatigue.

Selain itu, juga meningkatkan aktivitas SOD, aktivase katalase, aktivitas GPX sel limfosit yang bisa mencegah kanker, di samping menurunkan MDA (produk radikal bebas), juga mampu meningkatkan kadar IgG anti TT serum dan kadar hormone timulin.

"Penemuan minuman ini tergolong hal baru dan sangat bermanfaat bagi semua kalangan, tidak hanya kaum wanita tapi juga pria. Alangkah baiknya jika ada industri pangan yang memproduksinya, kemudian mendistribusikan ke masyarakat luas," kata Prof Dr Ir Deddy Muchtadi, MS, Ketua Tim Penguji, yang akhirnya mengantarkan Herry Winarsi menjadi doktor Ilmu Pangan baru yang dihasilkan IPB. (Ant/O-1)

sumber: Media Indonesia Online

 

kembali ke atas

kembali ke index aging

 

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan