Pembahasan soal penyakit tulang kini semakin diminati oleh masyarakat. Sebab,
jumlah penderitanya terus mengalami peningkatan, terutama diderita oleh kaum
perempuan yang sudah melewati masa menopause.
Penyakit tulang yang banyak dikeluhkan saat ini adalah keropos tulang
(osteoporis). Penyakit ini terjadi karena kepadatan (densitas) massa tulang
berkurang drastis. Akibatnya, tulang menjadi keropos dan ketika digerakkan atau
terjatuh tulang bisa patah. Maka, sangat penting memiliki tulang yang kuat dan
sehat agar terhindar dari keropos tulang ketika usia sudah tua.
Menurut Dr Siti Annisa Nuhonni, dari Departemen Rehabilitasi Medik RSUPN Dr
Cipto Mangunkusumo/Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, tubuh manusia
terdiri atas 40 persen cairan, 30 persen otot, 20 persen jaringan cadangan
lemak, dan 10 persen tulang. Dengan demikian, 90 persn beban tubuh menempel dan
disangga oleh tulang.
Manusia sering kali tidak menyadari betapa berat beban tulang sebagai tempat
bergantung seluruh anggota tubuh. ''Tulang yang menjadi pilar utama tubuh juga
berfungsi melindungi jantung, paru-paru, otak, dan organ penting lainnya dari
luka akibat benturan. Tulang juga merupakan rumah yang menyimpan cadangan
kalsium yang dibutuhkan,'' katanya Siti pada peluncuran kampanye nasional Strong
Women Strong Bones oleh Produgen, pekan lalu di Jakarta.
Menurut Siti, umumnya manusia menyepelekan pentingnya tulang hingga saat
tulang tak lagi mampu bekerja sebagaimana seharusnya.
Tulang merupakan jaringan yang hidup sangat dinamis. Dalam menjalankan
tugasnya, tulang akan selalu mengalami proses perusakan dan pembentukan kembali.
Agar berfungsi dengan baik, tulang harus memperoleh nutrisi dan latihan fisik
yang cukup.
''Sepanjang usia kehidupan manusia, tulang secara tetap dan teratur berproses
dinamis, dibongkar untuk kemudian dibangun kembali, menjadi tulang baru dan
segar. Proses ini harus seimbang, dikontrol oleh beberapa hormon. Proses yang
seimbang akan menjamin kesehatan tulang,'' ujarnya.
Spesialis gizi klinik, Dr Samuel Oetoro MS SpGK, pada kesempatan tersebut
menambahkan, tulang memiliki struktur tersendiri, terdiri atas protein (kolagen,
glikoprotein, dan proteoglikan) dan mineral (kalsium dan phosfor)
Tulang, lanjutnya, akan mengalami proses pembentukan atau formation
dan perombakan atau resorpsion. Pembentukan ditentukan oleh aktivitas
osteoblas dan proses mineralisasi, sedangkan perombakan oleh aktivitas
osteoklas.
Pengurangan massa tulang
Nuhonni menjelaskan, kondisi yang bisa menimbulkan tulang kehilangan massanya
terkait dengan aktivitas fisik. Antara lain tidak aktif, tirah baring lama,
parese/paralisa otot, imobilisasi, dan berada di ruang hampa.
Menurut Samuel, faktor risiko yang bisa mengakibatkan massa tulang berkurang
adalah wanita yang berusia di atas 50 tahun, riwayat keluarga, tidak minum susu
dan produk susu, lebih sering makan makanan siap saji, dan diet tinggi protein.
''Pemakaian obat-obatan, tidak aktif, merokok, minum kopi, alkohol, cola dan
karbonat juga merupakan faktor risiko yang bisa menyebabkan masalah pada
tulang,'' tutur Samuel.
Ia melanjutkan, pada saat kanak-kanak hingga usia 20 tahun, kita seharusnya
secara serius menabung kalsium dalam tulang. Karena, saat itu tulang sedang pada
masa pertumbuhan dan perkembangan. Setelah itu, massa tulang akan menurun secara
alamiah. Kecepatan perusakan tulang tak lagi dibarengi dengan kecepatan untuk
memperbaiki diri. Jika tak banyak menabung kalsium dalam tulang, seseorang bisa
terkena keropos tulang.
''Proses bertahun-tahun ini tidak kita sadari karena tak menyebabkan rasa
sakit hingga kita diketahui terkena osteoporosis. Makanya, penyakit yang hampir
tidak bisa disembuhkan ini disebut sebagai silent disease,'' ungkap
Samuel.
Umumnya, lanjutnya, wanita berhenti minum susu saat remaja karena takut
gemuk. Padahal, penelitian memperlihatkan mereka yang minum susu tinggi kalsium
bebas lemak akan dapat menjaga berat badan. Bahkan, mereka bisa mengurangi berat
badan selama jumlah makanan yang dikonsumsi lebih rendah dibandingkan energi
yang dikeluarkan.
Setelah wanita berusia 30 tahun, kecepatan pertumbuhan tulang mereka akan
kalah dibandingkan proses perusakannya. Sehingga setiap tahun, massa tulang akan
berkurang satu persen. Bahkan pengurangan bisa mencapai tiga hingga lima persen
pada saat lima hingga tujuh tahun pertama setelah menopause. ''Dengan demikian,
tanpa pasokan dan tabungan kalsium yang cukup, tulang akan kehilangan
kekuatannya,'' jelas Samuel.
Perlu Latihan Fisik
Salah satu hal penting yang bisa mencegah keropos tulang adalah melakukan
aktivitas fisik dan olahraga secara teratur. Menurut Dr Siti Annisa Nuhonni,
dari Departemen Rehabilitasi Medik RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo/ Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, olahraga yang tepat bagi kekuatan tulang
adalah yang membebani tulang. Misalnya berjalan, berdansa, melompat, naik
tangga, dan fitness.
Komponen physical fitness yang bisa meningkatkan kesehatan tulang dan
sendi adalah otot yang kuat (otot menggerakkan tulang), stamina (ketahanan untuk
melakukan latihan dalam kurun waktu lama), dan kelenturan (kemampuan gerak sendi
secara bebas, tanpa menimbulkan nyeri atau kerusakan jaringan).
Yang dimaksud gerakan dinamis adalah gerak isotonis yang lebih memberi
manfaat bagi tulang. Latihan endurance berupa aerobik low impact
akan memberikan nilai tambah untuk kebugaran. Sementara latihan koordinasi dan
keseimbangan penting untuk keamanan mobilitas, dan menghindari jatuh. Dosis
latihan fisik yang dianjurkan adalah 3-5 kali per minggu dengan durasi 30 sampai
60 menit. Sedangkan waktu yang tepat sebaiknya terpapar matahari, yaitu pukul
07.00 - 09.00 atau 15.00 - 16.30.
Latihan fisik untuk kesehatan tulang harus menerapkan prinsip spesifisitas,
progresiviotas, reversibilitas, dan prinsip nilai awal. ''Kontraksi otot secara
penuh menjadi syarat mutlak untuk stimulan tarikan terhadap tulang,'' lanjutnya.
Selain berolahraga, untuk menjaga kesehatan tulang juga bisa dilakukan dengan
cara diet seimbang kaya kalsium, hidup aktif dan sehat, menghindari kebiasaan
buruk, waspada dan menganut prinsip pencegahan, serta diagnosis dini dan terapi
tepat.
Faktor risiko penyebab massa tulang berkurang
1. Wanita berusia di atas 50 tahun
2. Riwayat keluarga (ada anggota keluarga terkena osteoporosis)
3. Tidak minum susu dan produk susu
4. Lebih sering mengonsumsi makanan siap saji
5. Diet protein tinggi
6. Pemakaian obat-obatan tertentu
7. Tidak aktif (sangat kurang gerak)
8. Merokok
9. Minum kopi, alkohol, cola dan minuman berkarbonat
10. Tirah baring lama
11. Berada di ruang hampa