OZZY

Fokus:

X







 

Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Usia Lanjut (Aging)  

Kenali Osteoporosis Sejak Dini

Hati-hatilah terhadap osteoporosis, terutama bagi kaum manula karena proses penipisan dan pelemahan tulang ini berlangsung tanpa disadari.

Osteoporosis akan menghilangkan elastisitas tulang sehingga menjadi rapuh dan menyebabkan mudah terjadi patah tulang (fraktur) hanya karena cedera ringan.

Menurut Kanis, seorang tokoh Organisasi Kesehatan DUnia (WHO) dalam bidang osteoporisis, jumlah patah tulang osteoporotik meningkat dengan cepat sehingga memicu pertambahan penderita osteoporosis. Sebagai contoh, pada tahun 1980-an, di AS terjadi 1,5 juta patah tulang pertahun. Di seluruh dunia, pada tahun 1990 terjadi 1,7 juta kasus patah tulang panggul. Angka ini diperkirakan mencapai 6,3 juta pada tahun 2050. “Persoalan osteoporosis menjadi perkara dunia,” tegas Chehab Rukni Hilmy, Sp.B,Sp.B.O, Guru Besar Ilmu Bedah Orthopaedi, Program Studi Ilmu Kedokteran Olahraga, FKUI.

Osteoporosis tak hanya disebabkan terhentinya menstruasi (menopausal steoporisis), tapi juga karena lanjut usia (osteoporosis senilis). Di Amerika Serikat, penderita penyakit ini mencapai 28,7 juta orang, terdiri dari wanita dan pria berumur di atas 50 tahun. Saat ini, wanita berusia 50 tahun beresiko 40 persen menderita patah tulang karena osteoporosis.

Hilmy menambahkan, kadar kehilangan tulang (bone loss) paling cepat terjadi pada tahun pertama setelah menopause dan semakin dipercepat oleh usia lanjut. Kehilangan tulang pascamenopause berakibat ketebalan tulang yang rendah (low bone density) yang merupakan determinan penting terjadinya patah tulang. Yang mengkhawatirkan, berdasarkan literatur, patah tulang panggul penyebab kematian yang cukup besar, yaitu sekitar 10-12 persen hingga 15-20 persen pada tahun pertama setelah mengalami patah tulang.

Hilmy menyarankan agar semua wanita sebaiknya dari usia muda mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan osteoporosis. Waspadai beberapa faktor resiko seperti kekurangan hormon karena menopause, kurang kalsium, kurang melakukan aktivitas fisik, banyak merokok, mengonsumsi obat-obat tertentu.

Pada wanita, menopause merupakan tanda permulaan terjadinya kehilangan tulang yang cepat. Kondisi dapat dihambat dengan pemberian terapi pengganti hormon yang dapat memperkecil resiko terjadinya patah tulang hingga 50 persen untuk lima tahun ke depan. Menurut Hilmy, kadar kehilangan tulang dapat diperlambat pula melalui pemberian Bisphoshonates, Calcitonin, Steroid Anabolic, Testosterone, Sodium Fluoride, Hormon Parathyroid atau Vitamin D. “Osteoporosis dapat diobati tapi tidak bisa dikembalikan seperti keadaan semula,”ucapnya.

Sementara, Dr. Sofyanuddin, SpBO, spesialis orthopaedi menyebutkan, untuk menghindari osteoporosis seseorang mesti mencapai puncak kepadatan tulang (peak bone mess) yang bisa dicapai pada usia 25-30 tahun. Makin tinggi puncak kepadatan tulang yang dapat dicapai, maka makin besar perlindungan diri seseorang terhadap kemungkinan osteoporosis.

Ada beberapa hal yang dapat membantu tercapainya puncak kepadatan tulang yang tinggi, yaitu olah raga teratur, diet seimbang dan kaya kalsium serta menghindari rokok, alkohol, dan kafein. Olah raga penting untuk kesehatan tulang. Latihan yang terbaik untuk tulang adalah menumpu berat badan (weight bearing exercise), seperti jalan, jogging, dansa dan naik tangga. Yang harus diingat, aktivitas high impact seperti lari dan loncat tidak cocok untuk orang tua. Bagi kalangan sepuh sebaiknya jalan kaki selama 30-40 menit sebanyak tiga kali seminggu. ”Kurangnya aktivitas yang lama akan menyebabkan hilangnya tulang (bone loss). Hal ini disebabkan kurangnya tarikan otot dan gaya tarik bumi terhadap tulang,” paparnya.

Sementara itu diet yang baik untuk mencegahan dan pengobatan osteoporosis adalah yang cukup mengandung protein, kalsium dan vitamin D. sumber makanan yang mengandung unsur itu bisa diperoleh dari susu dan olahannya, ikan, daging, buah-buahan, dan sayur-sayuran.

Sofyan menjelaskan, pengobatan osteoporosis dilakukan untuk mencegah kehilangan tulang lebih lanjut dan mengganti tulang yang sudah hilang. Kalsium yang cukup dalam makanan sangat penting untuk pertumbuhan dan pemeliharaan tulang yang normal. Untuk umur di atas 50 tahun, kebutuhan kalsiumnya sebesar 1500 mg perhari. Sementara kebutuhan vitamin D 400-800 iu perhari. Vitamin D penting untuk pembentukan tulang dan absorpsi kalsium dari usus ke dalam darah. Sekarang ini sudah diproduksi metabolit dari vitamin D yaitu calcitriol dan alpha calcidol. Metabolit ini mampu mengurangi resiko patah tulang akibat osteoporosis.

Sementara terapi sulih hormon menggunakan estrogen pada wanita pasca menopause, menurut Sofyan, efektif mengurangi turnover tulang dan memperlambat hilangnya massa tulang. Tapi pemberian estrogen jangka panjang berkaitan dengan peningkatan resiko keganasan pada rahim dan payudara. Sehingga sekarang sebagai alternatif pengganti estrogen adalah golongan obat yang disebut SERM (Selective Estrogen Receptor Modulator). “Obat ini berkhasiat meningkatkan massa tulang tetapi tidak memiliki efek negatif dari estrogen,” ungkapnya.

Hal lain yang juga harus diperhatikan, menurut Dr. Nora Sutarina, SpKO dari Program Studi Ilmu Kedokteran Olahraga FKUI, penderita osteoporosis perlu memperhatikan zat gizi yang dapat memelihara kesehatan tulangnya. Kalsium merupakan mineral utama pada tulang. Kalsium dan fosfor memberi kepadatan pada tulang. Asupan kalsium yang tak sesuai dengan yang dibutuhkan tubuh tentunya akan berpengaruh pada kesehatan tulang. “Maka untuk memelihara kesehatan tulang sebaiknya menerapkan pola makan gizi seimbang dengan kalsium tinggi,” papar Nora. (hilman hilmansyah)

sumber: Kliniknet

 

kembali ke atas

kembali ke index aging

 

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan