Hati-hatilah terhadap osteoporosis, terutama bagi kaum manula karena proses
penipisan dan pelemahan tulang ini berlangsung tanpa disadari.
Osteoporosis akan menghilangkan elastisitas tulang sehingga menjadi rapuh dan
menyebabkan mudah terjadi patah tulang (fraktur) hanya karena cedera ringan.
Menurut Kanis, seorang tokoh Organisasi Kesehatan DUnia (WHO) dalam bidang
osteoporisis, jumlah patah tulang osteoporotik meningkat dengan cepat sehingga
memicu pertambahan penderita osteoporosis. Sebagai contoh, pada tahun 1980-an,
di AS terjadi 1,5 juta patah tulang pertahun. Di seluruh dunia, pada tahun 1990
terjadi 1,7 juta kasus patah tulang panggul. Angka ini diperkirakan mencapai 6,3
juta pada tahun 2050. “Persoalan osteoporosis menjadi perkara dunia,” tegas
Chehab Rukni Hilmy, Sp.B,Sp.B.O, Guru Besar Ilmu Bedah Orthopaedi, Program Studi
Ilmu Kedokteran Olahraga, FKUI.
Osteoporosis tak hanya disebabkan terhentinya menstruasi (menopausal
steoporisis), tapi juga karena lanjut usia (osteoporosis senilis). Di Amerika
Serikat, penderita penyakit ini mencapai 28,7 juta orang, terdiri dari wanita
dan pria berumur di atas 50 tahun. Saat ini, wanita berusia 50 tahun beresiko 40
persen menderita patah tulang karena osteoporosis.
Hilmy menambahkan, kadar kehilangan tulang (bone loss) paling cepat terjadi
pada tahun pertama setelah menopause dan semakin dipercepat oleh usia lanjut.
Kehilangan tulang pascamenopause berakibat ketebalan tulang yang rendah (low
bone density) yang merupakan determinan penting terjadinya patah tulang. Yang
mengkhawatirkan, berdasarkan literatur, patah tulang panggul penyebab kematian
yang cukup besar, yaitu sekitar 10-12 persen hingga 15-20 persen pada tahun
pertama setelah mengalami patah tulang.
Hilmy menyarankan agar semua wanita sebaiknya dari usia muda mempersiapkan
diri menghadapi kemungkinan osteoporosis. Waspadai beberapa faktor resiko
seperti kekurangan hormon karena menopause, kurang kalsium, kurang melakukan
aktivitas fisik, banyak merokok, mengonsumsi obat-obat tertentu.
Pada wanita, menopause merupakan tanda permulaan terjadinya kehilangan tulang
yang cepat. Kondisi dapat dihambat dengan pemberian terapi pengganti hormon yang
dapat memperkecil resiko terjadinya patah tulang hingga 50 persen untuk lima
tahun ke depan. Menurut Hilmy, kadar kehilangan tulang dapat diperlambat pula
melalui pemberian Bisphoshonates, Calcitonin, Steroid Anabolic, Testosterone,
Sodium Fluoride, Hormon Parathyroid atau Vitamin D. “Osteoporosis dapat
diobati tapi tidak bisa dikembalikan seperti keadaan semula,”ucapnya.
Sementara, Dr. Sofyanuddin, SpBO, spesialis orthopaedi menyebutkan, untuk
menghindari osteoporosis seseorang mesti mencapai puncak kepadatan tulang (peak
bone mess) yang bisa dicapai pada usia 25-30 tahun. Makin tinggi puncak
kepadatan tulang yang dapat dicapai, maka makin besar perlindungan diri
seseorang terhadap kemungkinan osteoporosis.
Ada beberapa hal yang dapat membantu tercapainya puncak kepadatan tulang yang
tinggi, yaitu olah raga teratur, diet seimbang dan kaya kalsium serta
menghindari rokok, alkohol, dan kafein. Olah raga penting untuk kesehatan tulang.
Latihan yang terbaik untuk tulang adalah menumpu berat badan (weight bearing
exercise), seperti jalan, jogging, dansa dan naik tangga. Yang harus diingat,
aktivitas high impact seperti lari dan loncat tidak cocok untuk orang tua. Bagi
kalangan sepuh sebaiknya jalan kaki selama 30-40 menit sebanyak tiga kali
seminggu. ”Kurangnya aktivitas yang lama akan menyebabkan hilangnya tulang
(bone loss). Hal ini disebabkan kurangnya tarikan otot dan gaya tarik bumi
terhadap tulang,” paparnya.
Sementara itu diet yang baik untuk mencegahan dan pengobatan osteoporosis
adalah yang cukup mengandung protein, kalsium dan vitamin D. sumber makanan yang
mengandung unsur itu bisa diperoleh dari susu dan olahannya, ikan, daging,
buah-buahan, dan sayur-sayuran.
Sofyan menjelaskan, pengobatan osteoporosis dilakukan untuk mencegah
kehilangan tulang lebih lanjut dan mengganti tulang yang sudah hilang. Kalsium
yang cukup dalam makanan sangat penting untuk pertumbuhan dan pemeliharaan
tulang yang normal. Untuk umur di atas 50 tahun, kebutuhan kalsiumnya sebesar
1500 mg perhari. Sementara kebutuhan vitamin D 400-800 iu perhari. Vitamin D
penting untuk pembentukan tulang dan absorpsi kalsium dari usus ke dalam darah.
Sekarang ini sudah diproduksi metabolit dari vitamin D yaitu calcitriol dan
alpha calcidol. Metabolit ini mampu mengurangi resiko patah tulang akibat
osteoporosis.
Sementara terapi sulih hormon menggunakan estrogen pada wanita pasca
menopause, menurut Sofyan, efektif mengurangi turnover tulang dan memperlambat
hilangnya massa tulang. Tapi pemberian estrogen jangka panjang berkaitan dengan
peningkatan resiko keganasan pada rahim dan payudara. Sehingga sekarang sebagai
alternatif pengganti estrogen adalah golongan obat yang disebut SERM (Selective
Estrogen Receptor Modulator). “Obat ini berkhasiat meningkatkan massa tulang
tetapi tidak memiliki efek negatif dari estrogen,” ungkapnya.
Hal lain yang juga harus diperhatikan, menurut Dr. Nora Sutarina, SpKO dari
Program Studi Ilmu Kedokteran Olahraga FKUI, penderita osteoporosis perlu
memperhatikan zat gizi yang dapat memelihara kesehatan tulangnya. Kalsium
merupakan mineral utama pada tulang. Kalsium dan fosfor memberi kepadatan pada
tulang. Asupan kalsium yang tak sesuai dengan yang dibutuhkan tubuh tentunya
akan berpengaruh pada kesehatan tulang. “Maka untuk memelihara kesehatan
tulang sebaiknya menerapkan pola makan gizi seimbang dengan kalsium tinggi,”
papar Nora. (hilman hilmansyah)