OZZY

Fokus:

X







 

Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Usia Lanjut (Aging)  

Menopause

Oleh: Titi Irawati

Menopause dan ketuaan bukanlah mitos. Keduanya merupakan kenyataan. Pengalaman peremupan dengan kedua kenyataan tersebut, apakah penuh penderitaan atau tidak, tergantung dari bagaimana perasaan perempuan mengenai dirinya sendiri.

Menopause juga bukanlah peristiwa yang terjadi secara mendadak. Ia merupakan proses yang berlangsung lama, bahkan pada beberapa orang ia dapat berlangsung selama sepuluh tahun. Artinya, meskipun seorang perempuan mengalami haid yang berhenti sama sekali pada usia 50 tahun, misalnya, ia mungkin sudah merasa bahwa siklus haidnya mulai berubah sejak ia berusia 40 tahun. Menstruasi itu benar-benar tidak datang lagi rata-rata seorang perempuan mencapai umur 50 tahun (dengan rentang antara 48 dan 52 tahun). Secara medis seorang perempuan akan dinyatakan sebagai “telah mengalami menopause” jika selama setahun tidak pernah sama sekali haid lagi.

Proses menuju menopause terjadi ketika fungsi kandung telur mulai mengalami penurunan dalam memproduksi hormon. Pada saat mulai terjadi penurunan fungsi ini gejala-gejala menopause mungkin mulai terasa meskipun menstruasi tetap datang. Saat itu mulai nampak ada perubahan pada haid. Misalnya menjadi lebih singkat atau lebih memanjang, atau banyaknya darah haid yang keluar tidak konsisten lagi dari bulan ke bulan. Pada saat ini ia sebenarnya tidak diperlukan terapi, kecuali menambah vitamin-vitamin dan zat kapur (kalsium) sebagai suplemen (tambahan) dan penyangga karena penurunan produksi hormon estrogen akan diikuti dengan meningkatnya kalsium yang terbuang dari tubuh seorang perempuan.

Tubuh seorang perempuan memang dipersiapkan bagi kemungkinan melahirkan anak selama jangka waktu sekitar 35 tahun. Selama itu, sekitar 400 butir telur dilepaskan melalui siklus haid. Proses ini kemudian berhenti tanpa bisa kita hindari. Adalah mustahil dan bahkan merugikan diri sendiri untuk bertingkah seakan tak terjadi apa-apa pada saat siklus haid kita berhenti. Apabila seorang perempuan tidak mengakui terjadinya perubahan itu bukan tidak mungkin bahwa ia menyangkal perasaannya sendiri. Karena, sesungguhnya terjadi banyak perubahan pada tubuh dan pikiran seorang perempuan pada saat ia mengalami menopause.

Kata menopause berasal dari dua bahasa Yunani yang berarti “bulan” dan “penghentian sementara”. Berdasarkan definisinya, kata menopause itu berarti masa istirahat. Sebenarnya, secara linguitik, istilah yang lebih tepat adalah menocease yang berarti berhentinya masa menstruasi.

Memang, dengan datangnya menopause, seorang perempuan dapat diartikan telah berusia lanjut. Namun, ini bukan berarti ia kemudian menjadi lapuk. Orang bijak mengatakan bahwa proses menjadi tua sebenarnya sudah dimulai sejak manusia lahir. Hanya saja, antara tahap kelahiran dan kedewasaan disebut sebagai proses pematangan. Sedangkan setelah mencapai kedewasaan, proses tersebut lebih dikenal sebagai “perjalanan menjadi tua”. Menopause hanyalah salah satu tonggak pada lintasan antara dua tahapan kehidupan, dan tentu bukan suatu akhir.

Sebagai salah satu tonggak dalam lintasan perjalanan hidup yang akan pasti dialami oleh semua perempuan, masa perubahan ini akan dapat dilalui dengan baik, tanpa gangguan berarti, jika kita mampu menyesuaikan diri dengan kondisi baru yang dimunculkannya. Tahun-tahun itu bahkan akan tetap menyenangkan asal saja kita mau membuatnya demikian. Faktor penentu apakah perempuan siap dengan datangnya masa menopause ini adalah di tangan perempuan sendiri.

Penyebab Menopause

Sering kita mendengar atau membaca penjelasan tentang menopause seperti: “indung telur rusak”, “estrogen tidak ada lagi”, atau “kekurangan hormon”. Kenyataan sebenarnya tidak begitu. Indung telur perempuan tidak rusak pada saat menopause, ia hanya mengikuti proses degenerasi atau penuaan secara alamaih. Begitu pula, hormon estrogen[1] tak berhenti diproduksi dalam tubuh, tetapi produksinya memang sudah mulai berkurang secara berangsur-angsur bahkan sejak perempuan memasuki usia 20-an.

Untuk memahami mengapa terjadi menopause, mengapa dan bagaimana menopause itu mempengaruhi perempuan, pertama-tama kita harus memiliki pemahaman dasar tentang system endokrin perempuan. Sistem endokrin adalah system yang mengatur semua zat penting di dalam tubuh perempuan yang dikenal sebagai hormon. Dua hormon penting yang dihasilkan perempuan adalah estrogen dan progesterone. Salah satu bagian tubuh perempuan yang menghasilkan hormon estrogen adalah indung telur.

Keduanya berfungsi dan diperlukan untuk pelepasan jaringan dinding rahim. Meskipun saling berhubungan dan berkaitan satu sama lain, hormon-hormon ini berbeda.

Pada masa menopause, hormon diproduksi secara tidak teratur karena sedang terjadi penyesuaian keseimbangan pada kelenjar endokrin. Dalam keadaan seimbang, hormon-hormon tersebut akan bekerja sama secara teratur untuk membantu fungsi tubuh. Dalam keadaan berkurangnya salah satu hormon, hormon lain pada kelenjar ini akan ikut terpengaruh. Ketidak tetapan produksi hormon bisa terjadi bukan saja pada indung telur, tapi juga pada payudara, pituitary, thyroid, dan hypothalamus. Hormon estrogen kemudian mengatur persediaan dirinya hingga mencapai suatu tingkatan yang tetap. Beberapa ahli mengatakan bahwa proses ini bisa berlangsung sampai usia 70-an.

Persediaan hormon progesterone akan menciut pada saat hormon ini tidak lagi melakukan fungsinya. Fungsi tersebut adalah untuk menyediakan tempat di dalam rahim bagi telur yang telah dibuahi, atau untuk menghancurkan dinding uterus sehingga menimbulkan perdarahan pada waktu menstruasi. Jadi, jika kita tidak menstruasi, tubuh kita tidak perlu lagi memproduksi hormon progesterone untuk menghancurkan jaringan di dalam rahim. Pengurangan ini merupakan proses yang terjadi secara perlahan-lahan dan diimbangi dengan kadar estrogen yang terus diproduksi meskipun dalam jumlah yang sedikit. Mengingat bahwa hormon progesterone baru muncul pada pertengahan siklus menstruasi, sebenarnya hormon ini tidaklah sepenting hormon estrogen.

Salah satu hal yang istimewa mengenai tubuh perempuan ialah jika salah satu organ melemah maka organ yang lain akan membantu. Itu pula yang terjadi dengan persediaan estrogen perempuan. Ketika indung telur, yang merupakan bagian tubuh yang berhubungan erat dengan produksi estrogen, kehilangan sel-selnya (sama halnya dengan bagian-bagian lain dari tubuh kita sejalan dengan bertambahnya usia) maka kelenjar-kelenjar adrenalin akan mengambil alih sebagaian produksi.

Oleh karenanya seorang perempuan yang mengalami menopause bukan berarti otomatis/langsung menurun gairah seksualnya.

Gejala-gejala Menopause

Haid adalah peristiwa yang terjadi secara khas pada individu, baik dalam awal pertama kali terjadi, dalam siklus, jumlah darah yang keluar, maupun dalam gejala-gejala yang menyertainya. Demikian pula ketika terjadi menopause akan menimbulkan gejala-gejala yang berbeda pada tiap orang. Meskipun demikian, dapatlah dikatakan bahwa gejala-gejala menopause dapat berupa insomnia, rasa panas (hot flash), banyak berkeringat, depresi, berkurangnya daya ingat, sulit menahan dorongan untuk kencing (inkontinensia), dsb. Karena sifat gejala yang berbeda-beda pada tiap orang itu maka ada baiknya jika Anda mencatat tanggal-tanggal haid Anda serta gejala-gejala “yang tidak biasa” yang mungkin terjadi, setelah Anda mencapai atau melampaui usia 40 tahun.

Sebenarnya “menopause” juga terjadi pada laki-laki. Studi endokrinologi menunjukkan bahwa sejak usia 35 tahun, produksi hormon seksual pada pria mulai menurun. Proses penurunan ini kian meningkat dengan bertambahnya usia. Tetapi, pengaruhnya pada perubahan mental dan kesehatan fisik kaum laki-laki belum banyak diketahui. Belum lama ini, sebuah penelitian mengenai topik ini dilakukan oleh seorang ahli fisiologi, Prof. Anette Degenhardt dari Universitas Frankfrut. Penelitian tersebut melibatkan 400 laki-laki berprofesi di Jerman. Mereka ditanyai tentang gejala-gejala yang dialami berkaitan dengan menopause. Diketahui gejala yang paling sering adalah kelelahan (69%), sakit punggung (66%), berkurangnya daya ingat (64%), dan berkurangnya konsentrasi (63%). Penelitian ini menyimpulkan adanya hubungan antara persepsi subyektif gejala menopause dengan keperkasaan fisik pada laki-laki usia 45 hingga 54 tahun.

Rasa Panas (Hot Flash)

Hal pertama yang harus diketahui mengenai hot flash atau rasa panas yang datang secara ialah bahwa hal ini tidaklah berbahaya. Ia akan lekas hilang dan tidak perlu ditakuti. Sesungguhnya, ada beberapa jenis pengalaman dengan rasa panas yang berbeda ukuran, bentuk, maupun intensitasnya. Biasanya, hot flash berlangsung hanya selama 15 detik sampai 1 menit. Sama sulitnya seperti kita menggambarkan menopause, demikian pula halnya dengan upaya menjelaskan pengalaman dengan upaya arus panas.

Rasa panas biasanya timbul pada saat darah haid mulai berkurang dan mulai berlangsung sampai saat haid benar-benar berhenti. Sebagian besar perempuan yang mengalaminya menyatkan tidak terlalu terganggu karena arus panas terasa ringan saja. Hanya sebagian kecil yang merasa terganggu karena ada rasa tergelitik pada jari-jari, kaki dan tangan, atau kepala, atau mulai dari jari kaki dan merayap ke kepala. Arus panas kadang timbul pada bagian tertentu saja dan kadang dialami secara lebih menyeluruh. Frekuensi timbulnya hot flash sebenarnya tidak dapat diduga sebelumnya, mungkin hanya sekali dalam beberapa jam, atau bahkan selama 15 menit selama berjam-jam.

Ada perempuan yang mengalami arus panas hanya sebagai keringat yang melebihi biasanya. Ini termasuk gejala yang sangat ringan dan sama sekali tidak tampak oleh orang lain. Ada juga yang mengalaminya sebagai peningkatan suhu badan secara tiba-tiba yang menyebabkan wajah menjadi kemerahan dan keringat mengucur di seluruh tubuh. Berkeringat pada wakut malam disebut keringat malam dan mungkin saja diikuti atau tidak diikuti rasa panas. Rasa panas ini tidak membahayakan dan akan cepat berlalu. Sisi buruknya hanyalah rasa tidak nyaman, tanpa disertai rasa sakit.

Cara Mengatasi “Hot Flash”

Rosetta, seroang pemerhati masalah menopause, menyarankan bahwa salah satu cara yang terbaik untuk mengatasi hot flash adalah dengan membicarakannya. Tak perlu merasa malu untuk bercerita tentang keadaan ini. Semakin sering kita membicarakannya, semakin mudah pula kita mengatasinya. Ceritakan pengalaman kita pada orang di sekitar kita: keluarga, teman, atau rekan sekerja. Satu hal yang perlu diperhatikan, terimalah menopause dan rasa panas tersebut sebagai kenyataan biasa. Semua itu merupakan bagian dari hidup kita.

Hal yang Sebaiknya Dicegah

Apa yang harus kita cegah jika mengalami hot flash? Kepanikan!. Arus yang menyebabkan rasa panas itu merupakan fenomena normal bagi perempuan setengah baya. Duduk, diam, dan tenangkan diri Anda. Itulah nasihat yang paling bermanfaat. Tarik napas dalam-dalam dan hembuskan secara perlahan-lahan. Jika mungkin, lepaskan sepatu dan bukalah pakaian dan aksesori yang menyesakkan. Selalu diingat bahwa rasa panas ini akan berlalu dengan cepat.

Hindari penggunaan baju yang tidak dapat menyerap keringat. Sebagai upaya untuk berjaga-jaga, selalulah membawa baju ganti karena kadang-kadang keringat mengucur dengan deras sehingga Anda membutuhkan baju untuk ganti. Selalu tersedia handuk kecil, saputangan atau tissu. Hindari penggunaan make up atau bahan kimia yang justru menutup pori-pori kulit.

Perempuan yang memperhatikan gizi makanannya dan olah raga secara teratur, lebih mudah mengatasi rasa panas ini. Sangat mungkin masih ada hubungan yang nyata antara badan yang sehat dan pengalaman dengan menopause yang lebih ringan.

Gejala Lainnya

Gejala lain yang menjadi tanda menopause adalah gangguan sembelit, gangguan punggung, dan tulang belulang, bengkak, linu, serta nyeri.

Sembelit

Jika kita mengalami sembelit sebelum atau selama masa haid, ada kemungkinan gangguan buang air besar itu juga akan muncul sekitar menopause. Tapi, jika sembelit merupakan persoalan yang tidak ada hubungannya dengan siklus haid, hal itu mungkin terjadi karena tubuh sedang menyesuaikan diri dengan aspek psikologisnya. Memang, seluruh proses metabolisme tidak menurun pada waktu kita bertambah umur. Ketika tubuh kita sedang mencari ambang estrogen yang baru, muncullah sembelit.

Ada perempuan yang mengalami sembelit jika menambah kalsium pada makanannya. Jika itu perlu dilakukan untuk kepentingan tulang maka kita harus mengimbanginya dengan kiat tertentu agar usus besar tidak harus menanggung akibatnya. Sembelit juga bisa terjadi karena kurangnya koordinasi pada fungsi saraf, otot usus besar, dan isi perut lainnya. Kekenduran pada gerak usus berarti otot dinding perut tidak mampu mendorong bahan yang tidak terpakai dari tubuh.

Manusia itu individual. Jadi, apa yang bagi seseorang merupakan penyebab sembelit belum tentu berlaku bagi orang lain. Ada perempuan yang buang air besar 3 kali sehari dan yang lain 3 hari sekali, meskipun yang paling umum adalah buang air besar setiap hari. Kenyamanan dan pengetahuan akan tubuh sendiri menentukan apa yang normal bagi kita masing-masing.

Penggunaan pencahar untuk mengatasi sembelit sebaiknya menjadi pilihan penyelesaian terakhir. Sebab, cara ini ikut menghilangkan bakteri yang berguna bagi usus dan dapat menyebabkan sembelit menjadi kronis. Lebih baik mengunakan cara yang alamiah, seperti bahan makanan yang mudah diserap tubuh (yang berserat). Jika merasakan mujarabnya jenis makanan berserat, tapi kemudian mengalami rasa kembung, jangan putus asa karena kekembungan tersebut hanya bersifat sementara. Ini merupakan masa peralihan sampai akhirnya kita menjadi terbiasa.

Gangguan Tulang

Berhentinya produksi estrogen oleh kandung telur akan mempengaruhi keseimbangan metabolisme zat kapur (kalsium) dalam tulang. Setelah menopause, akan makin banyak kalsium yang dibuang daripada yang disimpan. Hal ini secara berangsur akan menyebabkan tulang menjadi semakin keropos. Proses pengeroposan tulang ini disebut osteoporosis. Tulang-tulang menjadi rapuh dan mudah retak. Osteoporosis merupakan penyakit tulang kerangka yang paling umum dan terutama menjadi persoalan bagi mereka yang berumur dan bagi perempuan yang telah memasuki masa menopause.

Keretakan tulang menjadi suatu yang ditakutkan oleh banyak orang karena hampir sepermpat dari perempuan kulit putih yang berusia di atas 60 tahun mengalami keretakan tulang punggung. Pada perempuan usia 90 tahun, kemungkinan mengalami keretakan pinggul sekurang-kurangnya 20%. Hampir 20% perempuan meninggal karena keretakan pinggul setelah tiga bulan terluka. Ketakutan ini tidak begitu banyak dialami oleh perempuan berkulit gelap karena mereka ternyata tidak banyak kehilangan sel-sel tulangnya.

Literatur kedokteran menyatakan bahwa hilangnya kalsium dalam tulang berlangsung lebih cepat pada perempuan dibanding laki-laki. Perempuan dan laki-laki mencapai puncak pertumbuhan tulangnya sekitar usia 35 tahun. Setelah itu, terjadi peningkatan yang tetap atau terjadi penurunan. Osteoporosis tulang belakang empat kali lebih sering dialami oleh perempuan daripada laki-laki, sedangkan keretakan pinggul dua kali lebih banyak dialami perempuan.

Rasa mudah pegal yang dialami oleh perempuan yang mengalami masa menopause tidak selalu berkaitan dengan osteoporosis ini. Rasa pegal-pegal tersebut lebih disebabkan oleh otot-otot yang tidak lentur lagi serta adanya penggantian beberapa jaringan ikat dengan lemak akibat dari proses metabolisme kalsium yang makin tidak seimbang.

Sakit Kepala

Sakit kepala sebenarnya bukanlah keunikan khas dari menopause. Sakit kepala terjadi karena pembuluh darah yang menuju ke otak dan kepala mengembang atau mengkerut. Begitu pun yang gerjadi pada syaraf.

Ada ahli yang menduga bahwa sakit kepala timbul karena terjadinya penimbunan air di dalam tubuh seperti ketika haid. Akibatnya, ada cairan yang tertahan di otak dan menjadi penyebab sakit kepala. Saluran darah yang sedang membengkak menyebabkan darah yang mengalir melalui pembuluh darah terhambat sehingga menimbulkan denyutan yang mengakibatkan rasa sakit pada kepala.

Satu hal yang pasti bahwa sebagian besar sakit kepala diakibatkan oleh adanya ketegangan pada otak. Jika otot kepala dan leher terus menegang maka akan menyulitkan kelancaran aliran darah menuju ke otak. Jadi, jika kita didera sakit kepala, bersantailah dan istirahat.

Bengkak

Pembengkakan merupakan salah satu cirri menopause. Perempuan umumnya terbiasa dengan gejala ini karena memang sering dialami pada saat menstruasi. Sama halnya dengan arus panas, pembengkakan tidak terjadi pada semua orang. Jika pembengkakan menjadi bagian dari pengalaman menstruasi, dan jika perempuan berkulit gelap serta memiliki buah dada yang besar, kemungkinan untuk mengalaminya waktu menopause sangat besar.

Para ahli memperingatkan agar perempuan tidak terlalu banyak mengkonsumsi garam jika perempuan mempunyai kecenderungan mengalami pembengkakan selama menopause. Dengan mengurangi pemakaian garam, dapat menghindari atau mengurangi penumpukan air. Langkah lain yang bisa dilakukan adalah dengan banyak berjalan kaki sehingga merangsang gerakan di seluruh tubuh dan mengurangi pembengkakan. Jika tidak, cobalah cara berikut: berbaring dan bernapaslah dalam-dalam selama beberapa menit, kemudian regangkan tubuh dengan bangun-berdiri dan menyentuh ujung jari kaki.

Ada juga beberapa usulan menarik. Gunakan diuretic alamiah seperti seledri, semangka, jeruk, nanas, dan ketimun. Jauhilah karbohidrat dan gula, kecuali yang terdapat pada buah-buahan. Ada pula yang menganjurkan penambahan vitamin C.

Linu dan Rasa Nyeri

Semua orang tentu pernah mengalami linu dan nyeri. Namun, tidak setiap kali muncul rasa tidak nyaman itu kita pergi ke dokter. Dengan mengenali tubuh kita dengan baik, kita akan lebih mampu menghargai dan mengasihinya. Walaupun tidak ke dokter, setiap perasaan sakit perlu mendapat perhatian. Karena, kesakitan merupakan cara tubuh memberitahukan sesuatu. Perhatikanlah karena tubuh sedang memberi peringatan. Salah satu cara untuk mengatasinya adalah dengan memberi cukup istirahat pada tubuh, menyesuaikan derap kehidupan kita pada tuntutan tubuh dengan penuh kesadaran bahwa badan dan pikiran adalah dua hal yang tidak terpisahkan.

Bagaimana Kehidupan Seksual Kita?

Adakah menopause mempengaruhi kehidupan seksual perempuan? Simak pengalaman dan pendapat beberapa perempuan di bawah ini.

Kehidupan seksual sesudah menopause ternyata tidak mengalami perubahan pada 60% perempuan. Dua puluh persen di antaranya mengalami peningkatan keinginan seksual dan 20% lagi mengalami pengurangan. Karena tidak ada lagi risiko kehamilan, banyak perempuan mempunyai keinginan seksual yang lebih besar dan bahkan kadang memperbaiki hubungan antara pasangan. Memang, dalam kenyataannya, nafsu seksual tidak ada hubungannya dengan produksi hormon pada saat atau sesudah menopause.

Penelitian di Amerika menunjukkan bahwa perempuan masih tetap mempunyai nafsu seksual sampai pada usia yang lebih tua dibanding kaum laki-laki. Setiap tujuh di antara 10 pasangan di Amerika masih tetap melakukan senggama sesudah usia 60 tahun. Alasan utama berhentinya kegiatan seksual mereka biasanya disebabkan oleh adanya gangguan kesehatan, yang biasanya terjadi pada pihak laki-laki. Kendati demikian, sementara sebagian perempuan tidak mengalami perubahan pada keinginannya untuk berhubungan seks, sebagian lainnya tidak peduli jika ia tidak berhubungan dengan pasangannya selama berbulan-bulan.

Terapi Estrogen Pengganti (Replacement Hormon Therapy)

Pada saat ini ada obat lain yang ditujukan untuk melindungi perempuan dari kemungkinan terkena osteoporosis dan penyakit jantung koroner tetapi tidak meningkatkan risiko kanker payudara. Obat ini disebut sebagai Selective Estrogen Receptor Modulators (SERMS) dengan nama generic: Raloxifene. Hanya saja obat ini tidak dapat menekan gejala-gejala menopause yang lainnya.

Selain Terapi Estrogen Pengganti

Tidak semua perempuan yang mengalami menopause memerlukan terapi estrogen pengganti, sebagian lagi hanya memerlukannya selama beberapa bulan, karena tidaks emua perempuan mengalami gejala menopause yang demikian mengganggu sehingga memerlukan estrogen pengganti. Diduga factor sosio-kultural ikut berperan terhadap munculnya gejala-gejala menopause, selain juga factor ras. Di masyarakat Asia pada umumnya, gejala menopause tidak banyak dikeluhkan karena secara cultural orang-orang yang menjadi lanjut usia justru mendapatkan kedudukan social yang terhormat. Perempuan yang masih tetap aktif ketika memasuki masa menopause juga tidak mengalami gejala menopause yang berarti.

Selain itu kegiatan-kegiatan berikut ini juga dapat menekan pemunculan gejala-gejala menopause:

Olah Raga (exercising)

Tetap berusaha agar hidup aktif akan menekan gejala insomnia, memperlambat osteoporosis dan penyakit jantung, dan juga mencegah “hot flashes”.

Berhenti Merokok

Merokok sebenarnya ikut mempercepat munculnya menopause. Berhenti merokok juga akan meringankan gejala-gejala menopause.

Mengkonsumsi Kalsium

Perempuan, terutama menjelang usia-usia menopause, sebaiknya mengkonsumsi kalsium sebanyak 1000-1500 gram seharinya. Sebagian besar dapat diperoleh dari makanan, seperti susu, yoghurt, beberapa jenis sayuran (antara lain brokoli). Kalau jumlah kalsium dari makanan kurang mencukupi, dapat juga memakan tablet kalsium.

Vitamin Tambahan

Sebagian besar vitamin yang diperlukan tubuh sudah diperoleh melalui makanan kita sehari-hari. Tetapi adakalanya, terutama mereka yang aktif, memerlukan juga tambahan vitamin. Vitamin yang diperlukan antara lain B1, B6, B12, asam folat, dan terutama bagi mereka yang menginjak usia menopause memerlukan vitamin-vitamin antioksidan seperti vitamin A dan vitamin E (400-600 unit/hari).

Kedelai

Seperti telah diungkapkan di atas, kedelai mengandung fitoestrogen, atau estrogen yang berasal dari tumbuh-tumbuhan. Kedelai dapat kita konsumsi dari kecap, tempe, tahu, tauco, atau susu kedelai.

Ketika estrogen pertama kali bisa diisolasi pada tahun 1920-an, hormon ini digunakan untuk menyembuhkan perempuan yang kehilangan kedua indung telurnya dan bagi mereka yang mengalami masalah parah sesudah memasuki masa menopause-nya. Meskipun begitu, penggunaan estrogen baru meluas mulai tahun 1960-an, melalui sebuah buku berjudul Feminine Forever karya Robert Wilson yang mempopulerkan pemakaian estrogen bagi perempuan yang ingin menghambat proses penuaan dan mempertahankan daya tarik keperempuanannya. Penggunaan estrogen pengganti atau Estrogen Replacement Therapy, kemudian menyebar luas di antara perempuan kalangan menengah dan atas. Mereka menginginkan terapi ini dalam rangka memperlambat penuaan, membuat diri kelihatan lebih menarik, dan menghindari rasa tidak nyaman pada waktu menopause.

Banyak juga dokter yang mempromosikan terapi estrogen pengganti untuk mengatasi masalah-masalah seperti rasa panas, insomnia (tidak bisa tidur), rasa pegal pada vagina, krisis usia setengah baya, dan tekanan jiwa.

Estrogen adalah salah satu kelompok hormon steroid yang penting bagi fungsi seksual dan merupakan karakteristik sekunder perempuan. Di masa reproduktif (pra-menopause), 95% estrogen dalam tubuh perempuan dihasilkan oleh kandung telur (ovarium).

Seorang ahli bernama Grundy[2] melaporkan bahwa kadar kolesterol pada perempuan di atas usia 45-50 tahun lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki sehat yang seusia. Peningkatan kolesterol terjadi terutama pada kolesterol yang terkandung dalam partikel lipoprotein berdensitas rendah (LDL, Low Density Lipoprotein). Kolesterol LDL sering disebut “kolesterol jahat” karena naiknya kadar kolesterol LDL akan meningkatkan risiko mengidap penyakit jantung koroner, yang disebut aterosklerosis.

Sedangkan kadar kolesterol HDL atau “kolesterol yang baik” di dalam darah cenderung tetap atau menurun setelah menopause. Hal ini cepat atau lambat akan menimbulkan gangguan kesehatan, termasuk meningkatnya risiko mengidap penyakit jantung koroner (PJK). Sudah sewajarnyalah para perempuan yang telah mengalami menopause lebih memperhatikan susunan diet sehari-hari sehingga kadar lipid darah tidak melebihi batas normal.

Walaupun pada mulanya suplementasi estrogen dilakukan terutama untuk menanggulangi osteoporosis, akibat hasil survei epidemiologi terhadap perempuan di Amerika Serikat dan Eropa. Terapi tersebut kini juga digunakan untuk mencegah PJK di masa menopause.

Seuplementasi estrogen memperbaiki lemak darah karena menurunkan kadar trigliserida, kolesterol LDL, dan meningkatkan kolesterol HDL darah. Namun, yang terpenting ialah angka kejadian PJK pada perempuan menopause ternyata dapat ditekan hampir separuhnya melalui suplementasi estrogen. Hal ini begitu besar artinya sehingga saat ini suplementasi estrogen dianggap cukup ampuh untuk menangkal insiden PJK pada perempuan menopause.[3]

Meskipun mulai popular, cara pengobatan hormon ini tidak terlepas dari efek samping yang tidak ringan, yaitu kanker payudara dan rahim, terutama bagi perempuan yang berisiko tinggi terhadap penyakit tersebut. Akibatnya, tidak setiap penderita dapat memanfaatkan cara pengobatan ini. Alternatif yang menarik adalah pemanfaatan estrogen nabati atau lebih dikenal dengan sebuatan fitoestrogen, yaitu estrogen yang berasal dari tanaman.

Tanaman yang banyak mengandung fitoestrogen antara lain kacang kedelai.[4] Selain memiliki struktur molekul yang mirip sekali dengan estrogen, senyawa tersebut juga terbukti memiliki aktivitas estrogen. Yang istimewa ialah bahwa fitoestrogen tidak menimbulkan risiko kanker. Bahkan, dilaporkan justru dapat mencegah beberapa penyakit kanker, seperti kanker payudara dan rahim.

Karena sifat kimiawi yang berbeda dengan estrogen, fitoestrogen berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai alternatif bagi terapi estrogen pengganti. Apalagi telah dilaporkan bahwa perempuan Jepang yang banyak mengkonsumsi pangan asal kedelai jarang menderita gejala menopause. Karena kacang kedelai juga merupakan bahan baku pangan tradisional Indonesia, seperti untuk tahu dan tempe, besar kemungkinan perempuan Indonesia pun telah mendapatkan manfaat fitoestrogen tersebut.

  Catat Perasaan yang Anda Alami

Pengalaman Rosetta Reitz pantas disimak. Selama 32 bulan ia mencatat segala gejala yang sering dialaminya selama menopause. “Dengan menuliskannya, perasaan takut saya menghadapi menopause jadi berkurang,” tulis Reitz.[5]

Saya mulai membuat catatan haid ketika saya berusia 50 tahun 4 bulan. Daur haid saya sekitar 30 hari selama 5 hari. Tapi, saya tak mengalaminya lagi. Saya berusia 50 tahun 6 bulan ketika pertama kali haid saya berhenti. Darah yang ke luar mulai berkurang selama 5 tahun terakhir dan sejak 10 tahun sebelumnya saya telah merasakan gejala-gejala timbulnya menopause.

“Sebaiknya anda mencatat masa haid anda, “ tulis Reitz dalam buku Menopause Suatu Pendekatan Positif. Hal itu merupakan salah satu cara untuk memelihara diri sendiri. Yang saya maksudkan bukan hanya tanggal, tapi juga bntuk darah, lamanya serta gejala yang dirasakan. Begitu juga dengan perasaan yang mengikutiny. Mungkin akan menemukan gejala sakit kepala yang menyertainya beberapa kali periode haid, sedangkan gejala yang lain telah Anda lupakan. Kesadaran bahwa sebenarnya anda pernah mengalami gejala itu sebelumnya akan menjadikan anda terhibur.

Manfaat pokok dari mencatat tanggal haid ialah menghilangkan dugaan. Anda tak perlu kaget karena anda tahun dengan pasti. Jika anda tahu bahwa anda mulai merasa lemah ketika menginjak masa pra-menstruasi, maka anda telah memiliki catatannya, sehingga anda dapat mengendalikan perilaku anda. Niscaya anda akan merasa santai. Beristirahatlah yang cukup. Manjakanlah diri anda. Hargailan bahwa tubuh anda tengah menjalani fungsi keperwanannya. Jangan membenci tubuh anda. Semua hal itu merupakan langakh untuk mencintai diri dan tubuh anda. Menerima perubahan-perubahan yang sedang terjadi dalam tubuh anda berarti anda menerima diri sendiri.

Cara terbaik untuk mengenal dan menerima diri sendiri seperti apa adanya ialah dengan menulis buku harian. Tak perlu mencatat sesuatu dengan kaku. Anda cukup mencatat perasaan yang anda alami. Ketika tengah kacau, anda akan mudah mengatasinya. Mengenali diri sendiri secara pribadi dan dengan cara yang menyenangkan akan mengurangi perasaan takut akan hal-hal yang negatif yang terjadi dalam diri anda. Kita semua akan mengalaminya. Dengan menuliskannya, perasaan takut itu akan hilang.

 Memperlambat Datangnya Menopause[6]

Datangnya menopause memang tidak dapat dihindari. Tapi ada persiapan-persiapan yang bisa kita lakukan untuk memperlambat kedatangannya.

Menurut penelitian, usia menopause di Indonesia adalah sekitar 50 tahun, relatif sama dengan perempuan di negara Barat. Menjelang masa ini perempuan akan mengalami perubahan hormon dalam tubuhnya, yaitu secara berangsur hormon estrogen akan berkurang produksinya. Sebagaimana diketahui, estrogen (bersama progesterone) adalah hormon yang dikeluarkan oleh kandung telur untuk mempersiapkan sel telur yang siap dibuahi. Selain itu estrogen juga berfungsi membuat kulit perempuan jadi halus, mulus, lembut, dan juga berfungsi untuk menjaga simpanan zat kapur dalam tulang. Oleh karena itu menurunnya kadar estrogen akan disertai pula perubahan pada organ-organ tubuh di atas. Kulit mulai tidak selembut dan sehalus semula, demikian pula tulang-tulang mulai akan kekurangan zat kapur. Keluhan-keluhan seperti haid tidak teratur, rasa panas di muka, tiba-tiba berkeringat, sakit kepala, jantung berdebar, perasaan gelisah, kulit berkeriput, rambut rontok atau nyeri sendi, kadang-kadang merupakan gejala awal datangnya menopause.

Datangnya masa menopause tidak perlu membuat diri kita menjadi cemas. Karena selain dapat diatasi dengan terapi hormon pengganti, kehadiran menopause ternyata dapat diperlambat dengan mengatur dan memulai kehidupan yang lebih sehat. Adapun persiapan-persiapan yang dapat kita lakukan antara lain:

 

1.   Berolah raga secara teratur.

Olah raga selain membantu mengurangi datangnya gejala awal menopause, dapat pula meningkatkan kekuatan tulang. Mulailah dengan olah raga seperti jalan kaki, jogging, meditasi, dan yoga.

2.   Mengkonsumsi makanan yang kaya akan kalsium.

Mengkonsumsi makanan seperti susu, keju, dan kacang-kacangan dapat mengurangi kekeroposan tulang. Telah terbukti bahwa pemberian kalsium jangka panjang (12 tahun) dengan dosis 1,2-2,5 gr/hari dapat menurunkan patah tulang sampai 50%. Pemberian kalsium jangka pendek dengan dosis rendah tidak ada gunanya.

3.   Mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin seperti buah-buahan dan sayuran.

Vitamin yang terkandung dalam buah-buahan dan sayuran dapat meningkatkan kesehatan tubuh.

4.   Mengurangi konsumsi kopi, teh, minuman soda, dan alkohol.

Minuman ini banyak mengandung kafein yang dapat memperlambat penyerapan kalsium.

5.   Menghindari merokok.

Merokok dapat menyebabkan terjadinya menopause lebih awal dan memudahkan kita terkena osteoporosis.

 

Dengan cara ini, menopause yang kehadirannya tidak dapat dihindari dapat dihadapi dengan lebih tenang dan aktivitas pun dapat terisi dengan lebih baik. Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan.

 

Berkurangnya produksi hormon estrogen pada masa menopause saat ini sudah dapat diantisipasi dengan memberikan hormon estrogen dari luar atau yang lebih dikenal dengan sebutan hormon replacement therapy. Penambahan hormon estrogen dapat diberikan dalam bentuk krim, tablet, ataupun koyo yang dikombinasikan dengan pemberian hormon progesterone. Penambahan dimulai pada saat timbulnya gejala saja atau diberikan pada perempuan yang selama satu tahun tidak mengalami haid. Berdasarkan penelitian, dengan memberikan hormon ini selain mengurangi gejala awal datangnya menopause ternyata juga cukup efektif bagi perempuan yang menderita penyakit jantung koroner dan keroposan tulang (osteoporosis). Tapi perlu diperhatikan bahwa terapi ini tidak boleh dilakukan jika terdapat kontra-indikasi seperti kanker payudara, kanker rahim, penyakit hati dan ginjal. Jadi sebelum melakukan terapi ini, dokter akan melakukan pemeriksaan laboratorium, pap-smear dan pemeriksaan payudara.

Daftar Pustaka

The Boston Women’s Health Book Collective; The New Our Bodies, Ourselves: Updated and Expanded for the 1990’s; A Touchtone Book: Published By Simon & Schuter Inc. – New York, 1992.

Rosetta Reitz, Menopause Suatu Pendekatan Positif. Jakarta: PT Bumi Aksara, 1993.

Sulistiyani, staf pengajar Biokimia FMIPA-IPB dan peneliti pada Pusat Studi Satwa Primata (PSSP) – LP IPB, dalam Kompas, 14 Januari 1996, hal 11.

Sadja Greenwood, MD., Menopause Secara Alami. Jakarta: Gunung Mulia, 1986.

Susan Perry dan Katherine A. O’Hanlan, MD., Natural Menopause. Addison-Wesley Publishing Company, 1993.

Kompas, Jum’at, 29 Desember 1995, hal 3.

 


[1]        Estrogen adalah salah satu kelompok hormon steroid yang penting bagi fungsi seksual dan merupakan karakteristik sekunder perempuan. Di masa reproduktif (pra-menopause), 95% estrogen dalam tubuh perempuan dihasilkan oleh kandung telur (ovarium). Secara fisiologis, estrogen yang paling aktif adalah 17B-estradiol.

[2]       Seperti dikutip oleh Sulistiyani dalam Kompas, 14 Januari 1996, hal 11.

[3]        Umumnya sediaan estrogen yang diberikan adalah: estrogen alami seperti 17B-estradiol, estron dan derivatnya; estrogen sintetik 17x-etinil estradiol; dan estrogen terkonjugasi dari kuda (conjugated equine estrogens, nama dagang Premarin). Premarin banyak digunakan di Amerika Serikat karena khasiatnya sebanding dengan estrogen alami yang relatif lebih mahal.

[4]        Dari kacang kedelai dapat diisolasi beberapa jenis fitoestrogen yang secara kimiawi merupakan kelompok isoflavon, yaitu: genistein, daidzein, bochanin A, dan equol. Dari kacang kedelai dapat diisolasi beberapa jenis fitoestrogen yang secara kimiawi merupakan kelompok isoflavon, yaitu: genistein, daidzein, bochanin A, dan equol.

[5]        Rosetta Reitz, Menopause Suatu Pendekatan Positif, PT Bumi Aksara, Jakarta, Maret 1993, hlm. 29-30

6]       lihat majalah DEWI, Oktober 1995, hlm. 24

 

sumber: Seri Perempuan Mengenal Dirinya: Informasi Kesehatan Reproduksi Perempuan.  Jakarta: Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Forum Kesehatan Perempuan dan Ford Foundation, 2002.  ISBN 979-8018-07-9

 

kembali ke atas

kembali ke index aging

 

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan