|
Depan
> Usia
Lanjut (Aging)
Menopause
Oleh:
Titi Irawati
Menopause
dan ketuaan bukanlah mitos. Keduanya merupakan kenyataan.
Pengalaman peremupan dengan kedua kenyataan tersebut,
apakah penuh penderitaan atau tidak, tergantung dari
bagaimana perasaan perempuan mengenai dirinya sendiri.
Menopause
juga bukanlah peristiwa yang terjadi secara mendadak. Ia
merupakan proses yang berlangsung lama, bahkan pada
beberapa orang ia dapat berlangsung selama sepuluh tahun.
Artinya, meskipun seorang perempuan mengalami haid yang
berhenti sama sekali pada usia 50 tahun, misalnya, ia
mungkin sudah merasa bahwa siklus haidnya mulai berubah
sejak ia berusia 40 tahun. Menstruasi itu benar-benar
tidak datang lagi rata-rata seorang perempuan mencapai
umur 50 tahun (dengan rentang antara 48 dan 52 tahun).
Secara medis seorang perempuan akan dinyatakan sebagai
“telah mengalami menopause” jika selama setahun
tidak pernah sama sekali haid lagi.
Proses
menuju menopause terjadi ketika fungsi kandung telur
mulai mengalami penurunan dalam memproduksi hormon. Pada
saat mulai terjadi penurunan fungsi ini gejala-gejala
menopause mungkin mulai terasa meskipun menstruasi tetap
datang. Saat itu mulai nampak ada perubahan pada haid.
Misalnya menjadi lebih singkat atau lebih memanjang,
atau banyaknya darah haid yang keluar tidak konsisten
lagi dari bulan ke bulan. Pada saat ini ia sebenarnya
tidak diperlukan terapi, kecuali menambah
vitamin-vitamin dan zat kapur (kalsium) sebagai suplemen
(tambahan) dan penyangga karena penurunan produksi
hormon estrogen akan diikuti dengan meningkatnya kalsium
yang terbuang dari tubuh seorang perempuan.
Tubuh
seorang perempuan memang dipersiapkan bagi kemungkinan
melahirkan anak selama jangka waktu sekitar 35 tahun.
Selama itu, sekitar 400 butir telur dilepaskan melalui
siklus haid. Proses ini kemudian berhenti tanpa bisa
kita hindari. Adalah mustahil dan bahkan merugikan diri
sendiri untuk bertingkah seakan tak terjadi apa-apa pada
saat siklus haid kita berhenti. Apabila seorang
perempuan tidak mengakui terjadinya perubahan itu bukan
tidak mungkin bahwa ia menyangkal perasaannya sendiri.
Karena, sesungguhnya terjadi banyak perubahan pada tubuh
dan pikiran seorang perempuan pada saat ia mengalami
menopause.
Kata
menopause berasal dari dua bahasa Yunani yang berarti
“bulan” dan “penghentian sementara”. Berdasarkan
definisinya, kata menopause itu berarti masa istirahat.
Sebenarnya, secara linguitik, istilah yang lebih tepat
adalah menocease yang berarti berhentinya masa
menstruasi.
Memang,
dengan datangnya menopause, seorang perempuan dapat
diartikan telah berusia lanjut. Namun, ini bukan berarti
ia kemudian menjadi lapuk. Orang bijak mengatakan bahwa
proses menjadi tua sebenarnya sudah dimulai sejak
manusia lahir. Hanya saja, antara tahap kelahiran dan
kedewasaan disebut sebagai proses pematangan. Sedangkan
setelah mencapai kedewasaan, proses tersebut lebih
dikenal sebagai “perjalanan menjadi tua”. Menopause
hanyalah salah satu tonggak pada lintasan antara dua
tahapan kehidupan, dan tentu bukan suatu akhir.
Sebagai
salah satu tonggak dalam lintasan perjalanan hidup yang
akan pasti dialami oleh semua perempuan, masa perubahan
ini akan dapat dilalui dengan baik, tanpa gangguan
berarti, jika kita mampu menyesuaikan diri dengan
kondisi baru yang dimunculkannya. Tahun-tahun itu bahkan
akan tetap menyenangkan asal saja kita mau membuatnya
demikian. Faktor penentu apakah perempuan siap dengan
datangnya masa menopause ini adalah di tangan perempuan
sendiri.
Penyebab Menopause
Sering
kita mendengar atau membaca penjelasan tentang menopause
seperti: “indung telur rusak”, “estrogen tidak ada
lagi”, atau “kekurangan hormon”. Kenyataan
sebenarnya tidak begitu. Indung telur perempuan tidak
rusak pada saat menopause, ia hanya mengikuti proses
degenerasi atau penuaan secara alamaih. Begitu pula,
hormon estrogen
tak berhenti diproduksi dalam tubuh, tetapi produksinya
memang sudah mulai berkurang secara berangsur-angsur
bahkan sejak perempuan memasuki usia 20-an.
Untuk
memahami mengapa terjadi menopause, mengapa dan
bagaimana menopause itu mempengaruhi perempuan, pertama-tama
kita harus memiliki pemahaman dasar tentang system
endokrin perempuan. Sistem endokrin adalah system yang
mengatur semua zat penting di dalam tubuh perempuan yang
dikenal sebagai hormon. Dua hormon penting yang
dihasilkan perempuan adalah estrogen dan progesterone.
Salah satu bagian tubuh perempuan yang menghasilkan
hormon estrogen adalah indung telur.
Keduanya
berfungsi dan diperlukan untuk pelepasan jaringan
dinding rahim. Meskipun saling berhubungan dan berkaitan
satu sama lain, hormon-hormon ini berbeda.
Pada
masa menopause, hormon diproduksi secara tidak teratur
karena sedang terjadi penyesuaian keseimbangan pada
kelenjar endokrin. Dalam keadaan seimbang, hormon-hormon
tersebut akan bekerja sama secara teratur untuk membantu
fungsi tubuh. Dalam keadaan berkurangnya salah satu
hormon, hormon lain pada kelenjar ini akan ikut
terpengaruh. Ketidak tetapan produksi hormon bisa
terjadi bukan saja pada indung telur, tapi juga pada
payudara, pituitary, thyroid, dan hypothalamus. Hormon
estrogen kemudian mengatur persediaan dirinya hingga
mencapai suatu tingkatan yang tetap. Beberapa ahli
mengatakan bahwa proses ini bisa berlangsung sampai usia
70-an.
Persediaan
hormon progesterone akan menciut pada saat hormon ini
tidak lagi melakukan fungsinya. Fungsi tersebut adalah
untuk menyediakan tempat di dalam rahim bagi telur yang
telah dibuahi, atau untuk menghancurkan dinding uterus
sehingga menimbulkan perdarahan pada waktu menstruasi.
Jadi, jika kita tidak menstruasi, tubuh kita tidak perlu
lagi memproduksi hormon progesterone untuk menghancurkan
jaringan di dalam rahim. Pengurangan ini merupakan
proses yang terjadi secara perlahan-lahan dan diimbangi
dengan kadar estrogen yang terus diproduksi meskipun
dalam jumlah yang sedikit. Mengingat bahwa hormon
progesterone baru muncul pada pertengahan siklus
menstruasi, sebenarnya hormon ini tidaklah sepenting
hormon estrogen.
Salah
satu hal yang istimewa mengenai tubuh perempuan ialah
jika salah satu organ melemah maka organ yang lain akan
membantu. Itu pula yang terjadi dengan persediaan
estrogen perempuan. Ketika indung telur, yang merupakan
bagian tubuh yang berhubungan erat dengan produksi
estrogen, kehilangan sel-selnya (sama halnya dengan
bagian-bagian lain dari tubuh kita sejalan dengan
bertambahnya usia) maka kelenjar-kelenjar adrenalin akan
mengambil alih sebagaian produksi.
Oleh
karenanya seorang perempuan yang mengalami menopause
bukan berarti otomatis/langsung menurun gairah
seksualnya.
Gejala-gejala Menopause
Haid
adalah peristiwa yang terjadi secara khas pada individu,
baik dalam awal pertama kali terjadi, dalam siklus,
jumlah darah yang keluar, maupun dalam gejala-gejala
yang menyertainya. Demikian pula ketika terjadi
menopause akan menimbulkan gejala-gejala yang berbeda
pada tiap orang. Meskipun demikian, dapatlah dikatakan
bahwa gejala-gejala menopause dapat berupa insomnia,
rasa panas (hot flash), banyak berkeringat,
depresi, berkurangnya daya ingat, sulit menahan dorongan
untuk kencing (inkontinensia), dsb. Karena sifat
gejala yang berbeda-beda pada tiap orang itu maka ada
baiknya jika Anda mencatat tanggal-tanggal haid Anda
serta gejala-gejala “yang tidak biasa” yang mungkin
terjadi, setelah Anda mencapai atau melampaui usia 40
tahun.
Sebenarnya
“menopause” juga terjadi pada laki-laki. Studi
endokrinologi menunjukkan bahwa sejak usia 35 tahun,
produksi hormon seksual pada pria mulai menurun. Proses
penurunan ini kian meningkat dengan bertambahnya usia.
Tetapi, pengaruhnya pada perubahan mental dan kesehatan
fisik kaum laki-laki belum banyak diketahui. Belum lama
ini, sebuah penelitian mengenai topik ini dilakukan oleh
seorang ahli fisiologi, Prof. Anette Degenhardt dari
Universitas Frankfrut. Penelitian tersebut melibatkan
400 laki-laki berprofesi di Jerman. Mereka ditanyai
tentang gejala-gejala yang dialami berkaitan dengan
menopause. Diketahui gejala yang paling sering adalah
kelelahan (69%), sakit punggung (66%), berkurangnya daya
ingat (64%), dan berkurangnya konsentrasi (63%).
Penelitian ini menyimpulkan adanya hubungan antara
persepsi subyektif gejala menopause dengan keperkasaan
fisik pada laki-laki usia 45 hingga 54 tahun.
Rasa
Panas (Hot Flash)
Hal
pertama yang harus diketahui mengenai hot flash
atau rasa panas yang datang secara ialah bahwa hal ini
tidaklah berbahaya. Ia akan lekas hilang dan tidak perlu
ditakuti. Sesungguhnya, ada beberapa jenis pengalaman
dengan rasa panas yang berbeda ukuran, bentuk, maupun
intensitasnya. Biasanya, hot flash berlangsung
hanya selama 15 detik sampai 1 menit. Sama sulitnya
seperti kita menggambarkan menopause, demikian pula
halnya dengan upaya menjelaskan pengalaman dengan upaya
arus panas.
Rasa
panas biasanya timbul pada saat darah haid mulai
berkurang dan mulai berlangsung sampai saat haid
benar-benar berhenti. Sebagian besar perempuan yang
mengalaminya menyatkan tidak terlalu terganggu karena
arus panas terasa ringan saja. Hanya sebagian kecil yang
merasa terganggu karena ada rasa tergelitik pada
jari-jari, kaki dan tangan, atau kepala, atau mulai dari
jari kaki dan merayap ke kepala. Arus panas kadang
timbul pada bagian tertentu saja dan kadang dialami
secara lebih menyeluruh. Frekuensi timbulnya hot flash
sebenarnya tidak dapat diduga sebelumnya, mungkin hanya
sekali dalam beberapa jam, atau bahkan selama 15 menit
selama berjam-jam.
Ada
perempuan yang mengalami arus panas hanya sebagai
keringat yang melebihi biasanya. Ini termasuk gejala
yang sangat ringan dan sama sekali tidak tampak oleh
orang lain. Ada juga yang mengalaminya sebagai
peningkatan suhu badan secara tiba-tiba yang menyebabkan
wajah menjadi kemerahan dan keringat mengucur di seluruh
tubuh. Berkeringat pada wakut malam disebut keringat
malam dan mungkin saja diikuti atau tidak diikuti rasa
panas. Rasa panas ini tidak membahayakan dan akan cepat
berlalu. Sisi buruknya hanyalah rasa tidak nyaman, tanpa
disertai rasa sakit.
Cara
Mengatasi “Hot Flash”
Rosetta,
seroang pemerhati masalah menopause, menyarankan bahwa
salah satu cara yang terbaik untuk mengatasi hot
flash adalah dengan membicarakannya. Tak perlu
merasa malu untuk bercerita tentang keadaan ini. Semakin
sering kita membicarakannya, semakin mudah pula kita
mengatasinya. Ceritakan pengalaman kita pada orang di
sekitar kita: keluarga, teman, atau rekan sekerja. Satu
hal yang perlu diperhatikan, terimalah menopause dan
rasa panas tersebut sebagai kenyataan biasa. Semua itu
merupakan bagian dari hidup kita.
Hal
yang Sebaiknya Dicegah
Apa
yang harus kita cegah jika mengalami hot flash?
Kepanikan!. Arus yang menyebabkan rasa panas itu
merupakan fenomena normal bagi perempuan setengah baya.
Duduk, diam, dan tenangkan diri Anda. Itulah nasihat
yang paling bermanfaat. Tarik napas dalam-dalam dan
hembuskan secara perlahan-lahan. Jika mungkin, lepaskan
sepatu dan bukalah pakaian dan aksesori yang menyesakkan.
Selalu diingat bahwa rasa panas ini akan berlalu dengan
cepat.
Hindari
penggunaan baju yang tidak dapat menyerap keringat.
Sebagai upaya untuk berjaga-jaga, selalulah membawa baju
ganti karena kadang-kadang keringat mengucur dengan
deras sehingga Anda membutuhkan baju untuk ganti. Selalu
tersedia handuk kecil, saputangan atau tissu. Hindari
penggunaan make up atau bahan kimia yang justru menutup
pori-pori kulit.
Perempuan
yang memperhatikan gizi makanannya dan olah raga secara
teratur, lebih mudah mengatasi rasa panas ini. Sangat
mungkin masih ada hubungan yang nyata antara badan yang
sehat dan pengalaman dengan menopause yang lebih ringan.
Gejala
Lainnya
Gejala
lain yang menjadi tanda menopause adalah gangguan
sembelit, gangguan punggung, dan tulang belulang,
bengkak, linu, serta nyeri.
Sembelit
Jika
kita mengalami sembelit sebelum atau selama masa haid,
ada kemungkinan gangguan buang air besar itu juga akan
muncul sekitar menopause. Tapi, jika sembelit merupakan
persoalan yang tidak ada hubungannya dengan siklus haid,
hal itu mungkin terjadi karena tubuh sedang menyesuaikan
diri dengan aspek psikologisnya. Memang, seluruh proses
metabolisme tidak menurun pada waktu kita bertambah umur.
Ketika tubuh kita sedang mencari ambang estrogen yang
baru, muncullah sembelit.
Ada
perempuan yang mengalami sembelit jika menambah kalsium
pada makanannya. Jika itu perlu dilakukan untuk
kepentingan tulang maka kita harus mengimbanginya dengan
kiat tertentu agar usus besar tidak harus menanggung
akibatnya. Sembelit juga bisa terjadi karena kurangnya
koordinasi pada fungsi saraf, otot usus besar, dan isi
perut lainnya. Kekenduran pada gerak usus berarti otot
dinding perut tidak mampu mendorong bahan yang tidak
terpakai dari tubuh.
Manusia
itu individual. Jadi, apa yang bagi seseorang merupakan
penyebab sembelit belum tentu berlaku bagi orang lain.
Ada perempuan yang buang air besar 3 kali sehari dan
yang lain 3 hari sekali, meskipun yang paling umum
adalah buang air besar setiap hari. Kenyamanan dan
pengetahuan akan tubuh sendiri menentukan apa yang
normal bagi kita masing-masing.
Penggunaan
pencahar untuk mengatasi sembelit sebaiknya menjadi
pilihan penyelesaian terakhir. Sebab, cara ini ikut
menghilangkan bakteri yang berguna bagi usus dan dapat
menyebabkan sembelit menjadi kronis. Lebih baik
mengunakan cara yang alamiah, seperti bahan makanan yang
mudah diserap tubuh (yang berserat). Jika merasakan
mujarabnya jenis makanan berserat, tapi kemudian
mengalami rasa kembung, jangan putus asa karena
kekembungan tersebut hanya bersifat sementara. Ini
merupakan masa peralihan sampai akhirnya kita menjadi
terbiasa.
Gangguan
Tulang
Berhentinya
produksi estrogen oleh kandung telur akan mempengaruhi
keseimbangan metabolisme zat kapur (kalsium) dalam
tulang. Setelah menopause, akan makin banyak kalsium
yang dibuang daripada yang disimpan. Hal ini secara
berangsur akan menyebabkan tulang menjadi semakin
keropos. Proses pengeroposan tulang ini disebut
osteoporosis. Tulang-tulang menjadi rapuh dan mudah
retak. Osteoporosis merupakan penyakit tulang kerangka
yang paling umum dan terutama menjadi persoalan bagi
mereka yang berumur dan bagi perempuan yang telah
memasuki masa menopause.
Keretakan
tulang menjadi suatu yang ditakutkan oleh banyak orang
karena hampir sepermpat dari perempuan kulit putih yang
berusia di atas 60 tahun mengalami keretakan tulang
punggung. Pada perempuan usia 90 tahun, kemungkinan
mengalami keretakan pinggul sekurang-kurangnya 20%.
Hampir 20% perempuan meninggal karena keretakan pinggul
setelah tiga bulan terluka. Ketakutan ini tidak begitu
banyak dialami oleh perempuan berkulit gelap karena
mereka ternyata tidak banyak kehilangan sel-sel
tulangnya.
Literatur
kedokteran menyatakan bahwa hilangnya kalsium dalam
tulang berlangsung lebih cepat pada perempuan dibanding
laki-laki. Perempuan dan laki-laki mencapai puncak
pertumbuhan tulangnya sekitar usia 35 tahun. Setelah itu,
terjadi peningkatan yang tetap atau terjadi penurunan.
Osteoporosis tulang belakang empat kali lebih sering
dialami oleh perempuan daripada laki-laki, sedangkan
keretakan pinggul dua kali lebih banyak dialami
perempuan.
Rasa
mudah pegal yang dialami oleh perempuan yang mengalami
masa menopause tidak selalu berkaitan dengan
osteoporosis ini. Rasa pegal-pegal tersebut lebih
disebabkan oleh otot-otot yang tidak lentur lagi serta
adanya penggantian beberapa jaringan ikat dengan lemak
akibat dari proses metabolisme kalsium yang makin tidak
seimbang.
Sakit
Kepala
Sakit
kepala sebenarnya bukanlah keunikan khas dari menopause.
Sakit kepala terjadi karena pembuluh darah yang menuju
ke otak dan kepala mengembang atau mengkerut. Begitu pun
yang gerjadi pada syaraf.
Ada
ahli yang menduga bahwa sakit kepala timbul karena
terjadinya penimbunan air di dalam tubuh seperti ketika
haid. Akibatnya, ada cairan yang tertahan di otak dan
menjadi penyebab sakit kepala. Saluran darah yang sedang
membengkak menyebabkan darah yang mengalir melalui
pembuluh darah terhambat sehingga menimbulkan denyutan
yang mengakibatkan rasa sakit pada kepala.
Satu
hal yang pasti bahwa sebagian besar sakit kepala
diakibatkan oleh adanya ketegangan pada otak. Jika otot
kepala dan leher terus menegang maka akan menyulitkan
kelancaran aliran darah menuju ke otak. Jadi, jika kita
didera sakit kepala, bersantailah dan istirahat.
Bengkak
Pembengkakan
merupakan salah satu cirri menopause. Perempuan umumnya
terbiasa dengan gejala ini karena memang sering dialami
pada saat menstruasi. Sama halnya dengan arus panas,
pembengkakan tidak terjadi pada semua orang. Jika
pembengkakan menjadi bagian dari pengalaman menstruasi,
dan jika perempuan berkulit gelap serta memiliki buah
dada yang besar, kemungkinan untuk mengalaminya waktu
menopause sangat besar.
Para
ahli memperingatkan agar perempuan tidak terlalu banyak
mengkonsumsi garam jika perempuan mempunyai
kecenderungan mengalami pembengkakan selama menopause.
Dengan mengurangi pemakaian garam, dapat menghindari
atau mengurangi penumpukan air. Langkah lain yang bisa
dilakukan adalah dengan banyak berjalan kaki sehingga
merangsang gerakan di seluruh tubuh dan mengurangi
pembengkakan. Jika tidak, cobalah cara berikut:
berbaring dan bernapaslah dalam-dalam selama beberapa
menit, kemudian regangkan tubuh dengan bangun-berdiri
dan menyentuh ujung jari kaki.
Ada
juga beberapa usulan menarik. Gunakan diuretic alamiah
seperti seledri, semangka, jeruk, nanas, dan ketimun.
Jauhilah karbohidrat dan gula, kecuali yang terdapat
pada buah-buahan. Ada pula yang menganjurkan penambahan
vitamin C.
Linu
dan Rasa Nyeri
Semua
orang tentu pernah mengalami linu dan nyeri. Namun,
tidak setiap kali muncul rasa tidak nyaman itu kita
pergi ke dokter. Dengan mengenali tubuh kita dengan baik,
kita akan lebih mampu menghargai dan mengasihinya.
Walaupun tidak ke dokter, setiap perasaan sakit perlu
mendapat perhatian. Karena, kesakitan merupakan cara
tubuh memberitahukan sesuatu. Perhatikanlah karena tubuh
sedang memberi peringatan. Salah satu cara untuk
mengatasinya adalah dengan memberi cukup istirahat pada
tubuh, menyesuaikan derap kehidupan kita pada tuntutan
tubuh dengan penuh kesadaran bahwa badan dan pikiran
adalah dua hal yang tidak terpisahkan.
Bagaimana
Kehidupan Seksual Kita?
Adakah
menopause mempengaruhi kehidupan seksual perempuan?
Simak pengalaman dan pendapat beberapa perempuan di
bawah ini.
Kehidupan
seksual sesudah menopause ternyata tidak mengalami
perubahan pada 60% perempuan. Dua puluh persen di
antaranya mengalami peningkatan keinginan seksual dan
20% lagi mengalami pengurangan. Karena tidak ada lagi
risiko kehamilan, banyak perempuan mempunyai keinginan
seksual yang lebih besar dan bahkan kadang memperbaiki
hubungan antara pasangan. Memang, dalam kenyataannya,
nafsu seksual tidak ada hubungannya dengan produksi
hormon pada saat atau sesudah menopause.
Penelitian
di Amerika menunjukkan bahwa perempuan masih tetap
mempunyai nafsu seksual sampai pada usia yang lebih tua
dibanding kaum laki-laki. Setiap tujuh di antara 10
pasangan di Amerika masih tetap melakukan senggama
sesudah usia 60 tahun. Alasan utama berhentinya kegiatan
seksual mereka biasanya disebabkan oleh adanya gangguan
kesehatan, yang biasanya terjadi pada pihak laki-laki.
Kendati demikian, sementara sebagian perempuan tidak
mengalami perubahan pada keinginannya untuk berhubungan
seks, sebagian lainnya tidak peduli jika ia tidak
berhubungan dengan pasangannya selama berbulan-bulan.
Terapi
Estrogen Pengganti (Replacement Hormon Therapy)
Pada
saat ini ada obat lain yang ditujukan untuk melindungi
perempuan dari kemungkinan terkena osteoporosis dan
penyakit jantung koroner tetapi tidak meningkatkan
risiko kanker payudara. Obat ini disebut sebagai Selective
Estrogen Receptor Modulators (SERMS) dengan nama
generic: Raloxifene. Hanya saja obat ini tidak
dapat menekan gejala-gejala menopause yang lainnya.
Selain
Terapi Estrogen Pengganti
Tidak
semua perempuan yang mengalami menopause memerlukan
terapi estrogen pengganti, sebagian lagi hanya
memerlukannya selama beberapa bulan, karena tidaks emua
perempuan mengalami gejala menopause yang demikian
mengganggu sehingga memerlukan estrogen pengganti.
Diduga factor sosio-kultural ikut berperan terhadap
munculnya gejala-gejala menopause, selain juga factor
ras. Di masyarakat Asia pada umumnya, gejala menopause
tidak banyak dikeluhkan karena secara cultural
orang-orang yang menjadi lanjut usia justru mendapatkan
kedudukan social yang terhormat. Perempuan yang masih
tetap aktif ketika memasuki masa menopause juga tidak
mengalami gejala menopause yang berarti.
Selain
itu kegiatan-kegiatan berikut ini juga dapat menekan
pemunculan gejala-gejala menopause:
Olah
Raga (exercising)
Tetap
berusaha agar hidup aktif akan menekan gejala insomnia,
memperlambat osteoporosis dan penyakit jantung, dan juga
mencegah “hot flashes”.
Berhenti
Merokok
Merokok
sebenarnya ikut mempercepat munculnya menopause.
Berhenti merokok juga akan meringankan gejala-gejala
menopause.
Mengkonsumsi
Kalsium
Perempuan,
terutama menjelang usia-usia menopause, sebaiknya
mengkonsumsi kalsium sebanyak 1000-1500 gram seharinya.
Sebagian besar dapat diperoleh dari makanan, seperti
susu, yoghurt, beberapa jenis sayuran (antara lain
brokoli). Kalau jumlah kalsium dari makanan kurang
mencukupi, dapat juga memakan tablet kalsium.
Vitamin
Tambahan
Sebagian
besar vitamin yang diperlukan tubuh sudah diperoleh
melalui makanan kita sehari-hari. Tetapi adakalanya,
terutama mereka yang aktif, memerlukan juga tambahan
vitamin. Vitamin yang diperlukan antara lain B1, B6,
B12, asam folat, dan terutama bagi mereka yang menginjak
usia menopause memerlukan vitamin-vitamin antioksidan
seperti vitamin A dan vitamin E (400-600 unit/hari).
Kedelai
Seperti
telah diungkapkan di atas, kedelai mengandung
fitoestrogen, atau estrogen yang berasal dari
tumbuh-tumbuhan. Kedelai dapat kita konsumsi dari kecap,
tempe, tahu, tauco, atau susu kedelai.
Ketika
estrogen pertama kali bisa diisolasi pada tahun 1920-an,
hormon ini digunakan untuk menyembuhkan perempuan yang
kehilangan kedua indung telurnya dan bagi mereka yang
mengalami masalah parah sesudah memasuki masa menopause-nya.
Meskipun begitu, penggunaan estrogen baru meluas mulai
tahun 1960-an, melalui sebuah buku berjudul Feminine
Forever karya Robert Wilson yang mempopulerkan
pemakaian estrogen bagi perempuan yang ingin menghambat
proses penuaan dan mempertahankan daya tarik
keperempuanannya. Penggunaan estrogen pengganti atau Estrogen
Replacement Therapy, kemudian menyebar luas di
antara perempuan kalangan menengah dan atas. Mereka
menginginkan terapi ini dalam rangka memperlambat
penuaan, membuat diri kelihatan lebih menarik, dan
menghindari rasa tidak nyaman pada waktu menopause.
Banyak
juga dokter yang mempromosikan terapi estrogen pengganti
untuk mengatasi masalah-masalah seperti rasa panas,
insomnia (tidak bisa tidur), rasa pegal pada vagina,
krisis usia setengah baya, dan tekanan jiwa.
Estrogen
adalah salah satu kelompok hormon steroid yang penting
bagi fungsi seksual dan merupakan karakteristik sekunder
perempuan. Di masa reproduktif (pra-menopause), 95%
estrogen dalam tubuh perempuan dihasilkan oleh kandung
telur (ovarium).
Seorang
ahli bernama Grundy
melaporkan bahwa kadar kolesterol pada perempuan di atas
usia 45-50 tahun lebih tinggi dibandingkan dengan
laki-laki sehat yang seusia. Peningkatan kolesterol
terjadi terutama pada kolesterol yang terkandung dalam
partikel lipoprotein berdensitas rendah (LDL, Low
Density Lipoprotein). Kolesterol LDL sering disebut
“kolesterol jahat” karena naiknya kadar kolesterol
LDL akan meningkatkan risiko mengidap penyakit jantung
koroner, yang disebut aterosklerosis.
Sedangkan
kadar kolesterol HDL atau “kolesterol yang baik” di
dalam darah cenderung tetap atau menurun setelah
menopause. Hal ini cepat atau lambat akan menimbulkan
gangguan kesehatan, termasuk meningkatnya risiko
mengidap penyakit jantung koroner (PJK). Sudah
sewajarnyalah para perempuan yang telah mengalami
menopause lebih memperhatikan susunan diet sehari-hari
sehingga kadar lipid darah tidak melebihi batas normal.
Walaupun
pada mulanya suplementasi estrogen dilakukan terutama
untuk menanggulangi osteoporosis, akibat hasil survei
epidemiologi terhadap perempuan di Amerika Serikat dan
Eropa. Terapi tersebut kini juga digunakan untuk
mencegah PJK di masa menopause.
Seuplementasi
estrogen memperbaiki lemak darah karena menurunkan kadar
trigliserida, kolesterol LDL, dan meningkatkan
kolesterol HDL darah. Namun, yang terpenting ialah angka
kejadian PJK pada perempuan menopause ternyata dapat
ditekan hampir separuhnya melalui suplementasi estrogen.
Hal ini begitu besar artinya sehingga saat ini
suplementasi estrogen dianggap cukup ampuh untuk
menangkal insiden PJK pada perempuan menopause.
Meskipun
mulai popular, cara pengobatan hormon ini tidak terlepas
dari efek samping yang tidak ringan, yaitu kanker
payudara dan rahim, terutama bagi perempuan yang
berisiko tinggi terhadap penyakit tersebut. Akibatnya,
tidak setiap penderita dapat memanfaatkan cara
pengobatan ini. Alternatif yang menarik adalah
pemanfaatan estrogen nabati atau lebih dikenal dengan
sebuatan fitoestrogen, yaitu estrogen yang berasal dari
tanaman.
Tanaman
yang banyak mengandung fitoestrogen antara lain kacang
kedelai.
Selain memiliki struktur molekul yang mirip sekali
dengan estrogen, senyawa tersebut juga terbukti memiliki
aktivitas estrogen. Yang istimewa ialah bahwa
fitoestrogen tidak menimbulkan risiko kanker. Bahkan,
dilaporkan justru dapat mencegah beberapa penyakit
kanker, seperti kanker payudara dan rahim.
Karena
sifat kimiawi yang berbeda dengan estrogen, fitoestrogen
berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai alternatif
bagi terapi estrogen pengganti. Apalagi telah dilaporkan
bahwa perempuan Jepang yang banyak mengkonsumsi pangan
asal kedelai jarang menderita gejala menopause. Karena
kacang kedelai juga merupakan bahan baku pangan
tradisional Indonesia, seperti untuk tahu dan tempe,
besar kemungkinan perempuan Indonesia pun telah
mendapatkan manfaat fitoestrogen tersebut.
Catat
Perasaan yang Anda Alami
Pengalaman
Rosetta Reitz pantas disimak. Selama 32 bulan ia
mencatat segala gejala yang sering dialaminya selama
menopause. “Dengan menuliskannya, perasaan takut saya
menghadapi menopause jadi berkurang,” tulis Reitz.
Saya
mulai membuat catatan haid ketika saya berusia 50 tahun
4 bulan. Daur haid saya sekitar 30 hari selama 5 hari.
Tapi, saya tak mengalaminya lagi. Saya berusia 50 tahun
6 bulan ketika pertama kali haid saya berhenti. Darah
yang ke luar mulai berkurang selama 5 tahun terakhir dan
sejak 10 tahun sebelumnya saya telah merasakan
gejala-gejala timbulnya menopause.
“Sebaiknya
anda mencatat masa haid anda, “ tulis Reitz dalam buku
Menopause Suatu Pendekatan Positif. Hal itu merupakan
salah satu cara untuk memelihara diri sendiri. Yang saya
maksudkan bukan hanya tanggal, tapi juga bntuk darah,
lamanya serta gejala yang dirasakan. Begitu juga dengan
perasaan yang mengikutiny. Mungkin akan menemukan gejala
sakit kepala yang menyertainya beberapa kali periode
haid, sedangkan gejala yang lain telah Anda lupakan.
Kesadaran bahwa sebenarnya anda pernah mengalami gejala
itu sebelumnya akan menjadikan anda terhibur.
Manfaat
pokok dari mencatat tanggal haid ialah menghilangkan
dugaan. Anda tak perlu kaget karena anda tahun dengan
pasti. Jika anda tahu bahwa anda mulai merasa lemah
ketika menginjak masa pra-menstruasi, maka anda telah
memiliki catatannya, sehingga anda dapat mengendalikan
perilaku anda. Niscaya anda akan merasa santai.
Beristirahatlah yang cukup. Manjakanlah diri anda.
Hargailan bahwa tubuh anda tengah menjalani fungsi
keperwanannya. Jangan membenci tubuh anda. Semua hal itu
merupakan langakh untuk mencintai diri dan tubuh anda.
Menerima perubahan-perubahan yang sedang terjadi dalam
tubuh anda berarti anda menerima diri sendiri.
Cara
terbaik untuk mengenal dan menerima diri sendiri seperti
apa adanya ialah dengan menulis buku harian. Tak perlu
mencatat sesuatu dengan kaku. Anda cukup mencatat
perasaan yang anda alami. Ketika tengah kacau, anda akan
mudah mengatasinya. Mengenali diri sendiri secara
pribadi dan dengan cara yang menyenangkan akan
mengurangi perasaan takut akan hal-hal yang negatif yang
terjadi dalam diri anda. Kita semua akan mengalaminya.
Dengan menuliskannya, perasaan takut itu akan hilang.
Memperlambat
Datangnya Menopause
Datangnya
menopause memang tidak dapat dihindari. Tapi ada
persiapan-persiapan yang bisa kita lakukan untuk
memperlambat kedatangannya.
Menurut
penelitian, usia menopause di Indonesia adalah sekitar
50 tahun, relatif sama dengan perempuan di negara Barat.
Menjelang masa ini perempuan akan mengalami perubahan
hormon dalam tubuhnya, yaitu secara berangsur hormon
estrogen akan berkurang produksinya. Sebagaimana
diketahui, estrogen (bersama progesterone) adalah hormon
yang dikeluarkan oleh kandung telur untuk mempersiapkan
sel telur yang siap dibuahi. Selain itu estrogen juga
berfungsi membuat kulit perempuan jadi halus, mulus,
lembut, dan juga berfungsi untuk menjaga simpanan zat
kapur dalam tulang. Oleh karena itu menurunnya kadar
estrogen akan disertai pula perubahan pada organ-organ
tubuh di atas. Kulit mulai tidak selembut dan sehalus
semula, demikian pula tulang-tulang mulai akan
kekurangan zat kapur. Keluhan-keluhan seperti haid tidak
teratur, rasa panas di muka, tiba-tiba berkeringat,
sakit kepala, jantung berdebar, perasaan gelisah, kulit
berkeriput, rambut rontok atau nyeri sendi,
kadang-kadang merupakan gejala awal datangnya menopause.
Datangnya
masa menopause tidak perlu membuat diri kita menjadi
cemas. Karena selain dapat diatasi dengan terapi hormon
pengganti, kehadiran menopause ternyata dapat
diperlambat dengan mengatur dan memulai kehidupan yang
lebih sehat. Adapun persiapan-persiapan yang dapat kita
lakukan antara lain:
1.
Berolah raga secara teratur.
Olah
raga selain membantu mengurangi datangnya gejala awal
menopause, dapat pula meningkatkan kekuatan tulang.
Mulailah dengan olah raga seperti jalan kaki, jogging,
meditasi, dan yoga.
2.
Mengkonsumsi makanan yang kaya akan kalsium.
Mengkonsumsi
makanan seperti susu, keju, dan kacang-kacangan dapat
mengurangi kekeroposan tulang. Telah terbukti bahwa
pemberian kalsium jangka panjang (12 tahun) dengan dosis
1,2-2,5 gr/hari dapat menurunkan patah tulang sampai
50%. Pemberian kalsium jangka pendek dengan dosis rendah
tidak ada gunanya.
3.
Mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin
seperti buah-buahan dan sayuran.
Vitamin
yang terkandung dalam buah-buahan dan sayuran dapat
meningkatkan kesehatan tubuh.
4.
Mengurangi konsumsi kopi, teh, minuman soda, dan
alkohol.
Minuman
ini banyak mengandung kafein yang dapat memperlambat
penyerapan kalsium.
5.
Menghindari merokok.
Merokok
dapat menyebabkan terjadinya menopause lebih awal dan
memudahkan kita terkena osteoporosis.
Dengan
cara ini, menopause yang kehadirannya tidak dapat
dihindari dapat dihadapi dengan lebih tenang dan
aktivitas pun dapat terisi dengan lebih baik. Pencegahan
selalu lebih baik daripada pengobatan.
Berkurangnya
produksi hormon estrogen pada masa menopause saat ini
sudah dapat diantisipasi dengan memberikan hormon
estrogen dari luar atau yang lebih dikenal dengan
sebutan hormon replacement therapy. Penambahan
hormon estrogen dapat diberikan dalam bentuk krim,
tablet, ataupun koyo yang dikombinasikan dengan
pemberian hormon progesterone. Penambahan dimulai pada
saat timbulnya gejala saja atau diberikan pada perempuan
yang selama satu tahun tidak mengalami haid. Berdasarkan
penelitian, dengan memberikan hormon ini selain
mengurangi gejala awal datangnya menopause ternyata juga
cukup efektif bagi perempuan yang menderita penyakit
jantung koroner dan keroposan tulang (osteoporosis).
Tapi perlu diperhatikan bahwa terapi ini tidak boleh
dilakukan jika terdapat kontra-indikasi seperti kanker
payudara, kanker rahim, penyakit hati dan ginjal. Jadi
sebelum melakukan terapi ini, dokter akan melakukan
pemeriksaan laboratorium, pap-smear dan pemeriksaan
payudara.
Daftar
Pustaka
The
Boston Women’s Health Book Collective; The New Our
Bodies, Ourselves: Updated and Expanded for the
1990’s; A Touchtone Book: Published By Simon &
Schuter Inc. – New York, 1992.
Rosetta
Reitz, Menopause Suatu Pendekatan Positif. Jakarta:
PT Bumi Aksara, 1993.
Sulistiyani,
staf pengajar Biokimia FMIPA-IPB dan peneliti pada Pusat
Studi Satwa Primata (PSSP) – LP IPB, dalam Kompas, 14
Januari 1996, hal 11.
Sadja
Greenwood, MD., Menopause Secara Alami. Jakarta:
Gunung Mulia, 1986.
Susan
Perry dan Katherine A. O’Hanlan, MD., Natural
Menopause. Addison-Wesley Publishing Company, 1993.
Kompas,
Jum’at,
29 Desember 1995, hal 3.
Estrogen adalah salah satu kelompok hormon steroid yang
penting bagi fungsi seksual dan merupakan karakteristik
sekunder perempuan. Di masa reproduktif (pra-menopause),
95% estrogen dalam tubuh perempuan dihasilkan oleh
kandung telur (ovarium). Secara fisiologis, estrogen
yang paling aktif adalah 17B-estradiol.
Seperti dikutip oleh Sulistiyani dalam Kompas, 14
Januari 1996, hal 11.
Umumnya sediaan estrogen yang diberikan adalah:
estrogen alami seperti 17B-estradiol, estron dan
derivatnya; estrogen sintetik 17x-etinil estradiol; dan
estrogen terkonjugasi dari kuda (conjugated equine
estrogens, nama dagang Premarin). Premarin banyak
digunakan di Amerika Serikat karena khasiatnya sebanding
dengan estrogen alami yang relatif lebih mahal.
Dari kacang kedelai dapat diisolasi beberapa
jenis fitoestrogen yang secara kimiawi merupakan
kelompok isoflavon, yaitu: genistein, daidzein, bochanin
A, dan equol. Dari kacang kedelai dapat diisolasi
beberapa jenis fitoestrogen yang secara kimiawi
merupakan kelompok isoflavon, yaitu: genistein, daidzein,
bochanin A, dan equol.
Rosetta Reitz, Menopause Suatu Pendekatan Positif,
PT Bumi Aksara, Jakarta, Maret 1993, hlm. 29-30
lihat majalah DEWI, Oktober 1995, hlm. 24
sumber: Seri
Perempuan Mengenal Dirinya: Informasi Kesehatan
Reproduksi Perempuan. Jakarta: Yayasan Lembaga
Konsumen Indonesia, Forum Kesehatan Perempuan dan Ford
Foundation, 2002. ISBN 979-8018-07-9
kembali
ke atas
kembali
ke index aging
|