OZZY

Fokus:

X







Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Gender & Kekerasan terhadap Perempuan 

Berita tentang Seminar Kesehatan Reproduksi: Mengorbankan Esensi Informasi dan Edukasi

Sebuah peristiwa dapat diberitakan berbeda oleh media satu dan media lainnya. Peristiwa itu juga dapat diberitakan sama, karena sumber dan peristiwa tersebut hanya satu. Tidak ada persoalan ketika peristiwa itu diberitakan serupa, dalam arti persamaan dalam pengambilan sudut pandang misalnya. Yang menjadi persoalan, ketika satu peristiwa diberitakan sama persis, dan sepertinya hanya ada sedikit bagian yang diganti dan dihilangkan.

Baru-baru ini berita bertema kesehatan reproduksi muncul di dua suratkabar. Berita yang diambil dari seminar ‘Pornografi, Biologi Reproduksi dan Perilaku Seks Remaja’ di gedung Korpri Purbalingga (Minggu, 7/7) itu, mendapat perhatian karena diberitakan hampir sama persis, baik pada angle, sumber berita, dan pilihan kata. Hanya sedikit perbedaan karena ada satu bagian yang tidak disertakan.

Seperti dapat dilihat pada judul berita berikut ini; Senin 8/7, Bernas menurunkan berita tentang acara tersebut dengan judul “Kalau Cuma Digesek-gesek, Apa Bisa Hamil?”. Sedangkan hari berikutnya 9/7, Kedaulatan Rakyat memuat berita dengan judul yang sama, “Cuma Digesek-gesek, Apa Bisa Hamil, Dok?”. Suatu kesamaan dalam hal pembuatan judul yang sering ditemui dalam media cetak.

Dalam analisis info kali ini, penulis tidak terlalu dalam membahas kesamaan berita itu, tetapi mencoba mencermati isi berita tersebut.

Berawal dari Perspektif Bias Gender

Sebuah berita dapat dianalisis dengan cara melihat bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh jurnalis ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Dengan adanya perspektif yang digunakan penulis, ada beberapa hal menjadi catatan;

Pertama, berita informasi kesehatan reproduksi ini tidak menyentuh kedalaman substansi persoalan, namun hanya merupakan berita sampiran yang menonjolkan unsur sensasi. Padahal jika ditilik, tujuan diadakannya seminar ini adalah untuk memberikan informasi kesehatan yang menyangkut alat reproduksi remaja, dan lebih jauh agar perilaku seks remaja menjadi perilaku yang bertanggung jawab. Namun yang terjadi, berita tersebut malah lebih terkesan tidak serius alias guyonan. Padahal mungkin masih banyak informasi yang lebih penting dan layak diberitakan, daripada sekadar bagaimana penulis menggambarkan perempuan yang bertanya, tersipu-sipu ketika berjalan menuju tempat duduknya semula, karena ada komentar dari peserta lain bahwa itu pengalaman pribadi. Walaupun tidak salah jika jurnalis menggambarkan situasi yang ramai karena pertanyaan yang diajukan. Namun prioritas yang hendak diberikan kepada khalayak setidaknya lebih bernilai atau bermanfaat.

Kedua, pembuatan kategorisasi dengan mengatakan “gadis imut-imut” mengandung unsur subyektivitas penulis. Walaupun bisa saja jurnalis menyebut perempuan yang bertanya itu dengan, ‘salah satu peserta perempuan, atau ‘salah satu siswi’. Dengan pertanyaan yang mungkin dinilai jurnalis ‘terlalu berani’ karena berasal dari seorang perempuan, maka tanpa disadari opini penulis masuk. Padalah ini bisa saja menimbulkan persepsi macam-macam kepada pembaca, karena dia imut-imut, maka wajar ia punya pengalaman seks, sehingga berani bertanya demikian, dsb. Penambahan kata ‘gadis imut-imut’ berkonotasi negatif, kendati mungkin si jurnalis tidak bermaksud demikian. Sebaliknya, berangkat dari peristiwa itu, jika peserta yang bertanya itu laki-laki, apakah jurnalis juga akan membuat judul yang sama dengan mengatakan ‘perjaka yang ganteng dan macho itu’…?

Ketiga, berita kesehatan reproduksi itu lebih dominan menyudutkan perempuan. Sebuah berita memang berasal dari sejumlah fakta. Walupun jurnalis hanya merekonstruksi fakta menjadi sebuah berita, namun berita yang disajikan tidak bebas nilai. Dalam benak jurnalis terdapat ideologi yang secara langsung/tidak akan mempengaruhi perspektif dia dalam menuangkan gagasannya. Pernyataan Dr. Boyke selaku narasumber yang dipilih penulis sebagai bahan berita, dominan menyudutkan perempuan. Salah satu contohnya tentang perempuan yang harus menjaga keperawanannya, di alinea 10 (Bernas), “…Jadi bagi laki-laki juga harus curiga, kalau pasangannya nanti kok dengan mudah dilewati seperti jalan tol”, atau pada alinea terakhir Bernas dan Kedaulatan Rakyat tentang “Ingat, sekali wanita kehilangan kegadisannya, seumur hidup ia akan menderita…”. Penyataan seperti ini dianggap dapat menyudutkan perempuan. 

Pernyataan Dr. Boyke pada akhir alinea dapat berfungsi sebagai penutup dan sekaligus menjadi kesimpulan atas gagasan wartawan. Penekanan yang ingin disampaikan oleh wartawan yang secara tidak sadar menempatkan perempuan sebagai pihak yang selalu disalahkan. Dalam konteks ini, seolah-olah hanya perempuan yang harus menjaga kegadisannya. Jika perempuan dan laki-laki melakukan hubungan seks (HUS) suka sama suka, maka laki-laki tidak akan menderita apa-apa, sedangkan perempuan akan menderita seumur hidupnya, apakah ini adil?

Berita Kesehatan Reproduksi Tidak “Seksi”

Jarang berita tentang kesehatan reproduksi menjadi headline, kecuali berita itu sangat signifikan dan mempengaruhi khalayak pembaca. Oleh karenanya, berita tentang kesehatan reproduksi seringkali berada di halaman dalam. Bisa saja berita kesehatan reproduksi menempati halaman depan, kasus artis yang baru saja mengalami keguguran atau melahirkan misalnya. Tetapi media memberitakan itu bukan karena esensi yang menyangkut kesehatan reproduksi perempuan, tetapi lebih pada unsur prominance/ketenaran.

Apalagi hanya sebuah acara seminar. Hal ini merupakan salah satu faktor bagaimana jurnalis membuat berita tersebut agar mampu berkompetisi dengan berita lain. Sehingga dibuatlah berita yang menonjolkan unsur sensasi, agar nampak “seksi” dan menarik. Tidak hanya itu, jurnalis juga berusaha membangun asosiasi seksual pembaca melalui pilihan katanya.

Berita mengenai kesehatan reproduksi tersebut hanya menyinggung sedikit tentang bagaimana hubungan yang sehat antara laki-laki dan perempuan. Unsur kesehatan reproduksi memang tidak sebatas kesehatan jasmani dan rohani tetapi juga sosial. Namun media ternyata tidak mengarah secara mendalam terhadap persoalan itu.

Ada harapan agar media tidak sekadar memberitakan sebuah peristiwa. Kalau bisa, media juga memberi peluang bagi tersosialisasikannya isu kesehatan reproduksi dengan cara membuat tulisan mendalam tentang persoalan kesehatan reproduksi, walaupun isu ini masih terbilang baru dan belum banyak diminati. Mungkin agak klasik kedengarannya. Namun mengingat fungsi media sebagai sarana civil education, mulailah ditumbuhkan kesadaran untuk persoalan yang selama ini belum tersentuh. Dan selanjutnya diharapkan kesadaran itu disosialisasikan kepada masyarakat dengan informasi yang tepat dan tidak bias gender, semoga. (May).

sumber: Newsletter PMP AIDS Edisi 51 Juli 2002, hal. 7

 

kembali ke atas

kembali ke index gender dan kekerasan terhadap perempuan

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan