|
Depan
> Gender & Kekerasan terhadap Perempuan
Berita
tentang Seminar Kesehatan Reproduksi: Mengorbankan
Esensi Informasi
dan Edukasi
Sebuah
peristiwa dapat diberitakan berbeda oleh media satu dan
media lainnya. Peristiwa itu juga dapat diberitakan sama,
karena sumber dan peristiwa tersebut hanya satu. Tidak
ada persoalan ketika peristiwa itu diberitakan serupa,
dalam arti persamaan dalam pengambilan sudut pandang
misalnya. Yang menjadi persoalan, ketika satu peristiwa
diberitakan sama persis, dan sepertinya hanya ada
sedikit bagian yang diganti dan dihilangkan.
Baru-baru
ini berita bertema kesehatan reproduksi muncul di dua
suratkabar. Berita yang diambil dari seminar
‘Pornografi, Biologi Reproduksi dan Perilaku Seks
Remaja’ di gedung Korpri Purbalingga (Minggu, 7/7) itu,
mendapat perhatian karena diberitakan hampir sama persis,
baik pada angle, sumber berita, dan pilihan kata. Hanya
sedikit perbedaan karena ada satu bagian yang tidak
disertakan.
Seperti
dapat dilihat pada judul berita berikut ini; Senin 8/7, Bernas
menurunkan berita tentang acara tersebut dengan judul
“Kalau Cuma Digesek-gesek, Apa Bisa Hamil?”.
Sedangkan hari berikutnya 9/7, Kedaulatan Rakyat
memuat berita dengan judul yang sama, “Cuma
Digesek-gesek, Apa Bisa Hamil, Dok?”. Suatu kesamaan
dalam hal pembuatan judul yang sering ditemui dalam
media cetak.
Dalam
analisis info kali ini, penulis tidak terlalu dalam
membahas kesamaan berita itu, tetapi mencoba mencermati
isi berita tersebut.
Berawal dari Perspektif
Bias Gender
Sebuah
berita dapat dianalisis dengan cara melihat bagaimana
perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh
jurnalis ketika menyeleksi isu dan menulis berita.
Dengan adanya perspektif yang digunakan penulis, ada
beberapa hal menjadi catatan;
Pertama,
berita informasi kesehatan reproduksi ini tidak
menyentuh kedalaman substansi persoalan, namun hanya
merupakan berita sampiran yang menonjolkan unsur sensasi.
Padahal jika ditilik, tujuan diadakannya seminar ini
adalah untuk memberikan informasi kesehatan yang
menyangkut alat reproduksi remaja, dan lebih jauh agar
perilaku seks remaja menjadi perilaku yang bertanggung
jawab. Namun yang terjadi, berita tersebut malah lebih
terkesan tidak serius alias guyonan. Padahal
mungkin masih banyak informasi yang lebih penting dan
layak diberitakan, daripada sekadar bagaimana penulis
menggambarkan perempuan yang bertanya, tersipu-sipu
ketika berjalan menuju tempat duduknya semula, karena
ada komentar dari peserta lain bahwa itu pengalaman
pribadi. Walaupun tidak salah jika jurnalis
menggambarkan situasi yang ramai karena pertanyaan yang
diajukan. Namun prioritas yang hendak diberikan kepada
khalayak setidaknya lebih bernilai atau bermanfaat.
Kedua,
pembuatan kategorisasi dengan mengatakan “gadis
imut-imut” mengandung unsur subyektivitas penulis.
Walaupun bisa saja jurnalis menyebut perempuan yang
bertanya itu dengan, ‘salah satu peserta perempuan,
atau ‘salah satu siswi’. Dengan pertanyaan yang
mungkin dinilai jurnalis ‘terlalu berani’ karena
berasal dari seorang perempuan, maka tanpa disadari
opini penulis masuk. Padalah ini bisa saja menimbulkan
persepsi macam-macam kepada pembaca, karena dia
imut-imut, maka wajar ia punya pengalaman seks, sehingga
berani bertanya demikian, dsb. Penambahan kata ‘gadis
imut-imut’ berkonotasi negatif, kendati mungkin si
jurnalis tidak bermaksud demikian. Sebaliknya, berangkat
dari peristiwa itu, jika peserta yang bertanya itu
laki-laki, apakah jurnalis juga akan membuat judul yang
sama dengan mengatakan ‘perjaka yang ganteng dan macho
itu’…?
Ketiga,
berita kesehatan reproduksi itu lebih dominan
menyudutkan perempuan. Sebuah berita memang berasal dari
sejumlah fakta. Walupun jurnalis hanya merekonstruksi
fakta menjadi sebuah berita, namun berita yang disajikan
tidak bebas nilai. Dalam benak jurnalis terdapat
ideologi yang secara langsung/tidak akan mempengaruhi
perspektif dia dalam menuangkan gagasannya. Pernyataan
Dr. Boyke selaku narasumber yang dipilih penulis sebagai
bahan berita, dominan menyudutkan perempuan. Salah satu
contohnya tentang perempuan yang harus menjaga
keperawanannya, di alinea 10 (Bernas), “…Jadi
bagi laki-laki juga harus curiga, kalau pasangannya
nanti kok dengan mudah dilewati seperti jalan tol”,
atau pada alinea terakhir Bernas dan Kedaulatan
Rakyat tentang “Ingat, sekali wanita kehilangan
kegadisannya, seumur hidup ia akan menderita…”.
Penyataan seperti ini dianggap dapat menyudutkan
perempuan.
Pernyataan Dr. Boyke pada akhir alinea dapat berfungsi
sebagai penutup dan sekaligus menjadi kesimpulan atas
gagasan wartawan. Penekanan yang ingin disampaikan oleh
wartawan yang secara tidak sadar menempatkan perempuan
sebagai pihak yang selalu disalahkan. Dalam konteks ini,
seolah-olah hanya perempuan yang harus menjaga
kegadisannya. Jika perempuan dan laki-laki melakukan
hubungan seks (HUS) suka sama suka, maka laki-laki tidak
akan menderita apa-apa, sedangkan perempuan akan
menderita seumur hidupnya, apakah ini adil?
Berita Kesehatan
Reproduksi Tidak “Seksi”
Jarang
berita tentang kesehatan reproduksi menjadi headline,
kecuali berita itu sangat signifikan dan mempengaruhi
khalayak pembaca. Oleh karenanya, berita tentang
kesehatan reproduksi seringkali berada di halaman dalam.
Bisa saja berita kesehatan reproduksi menempati halaman
depan, kasus artis yang baru saja mengalami keguguran
atau melahirkan misalnya. Tetapi media memberitakan itu
bukan karena esensi yang menyangkut kesehatan reproduksi
perempuan, tetapi lebih pada unsur prominance/ketenaran.
Apalagi
hanya sebuah acara seminar. Hal ini merupakan salah satu
faktor bagaimana jurnalis membuat berita tersebut agar
mampu berkompetisi dengan berita lain. Sehingga
dibuatlah berita yang menonjolkan unsur sensasi, agar
nampak “seksi” dan menarik. Tidak hanya itu,
jurnalis juga berusaha membangun asosiasi seksual
pembaca melalui pilihan katanya.
Berita
mengenai kesehatan reproduksi tersebut hanya menyinggung
sedikit tentang bagaimana hubungan yang sehat antara
laki-laki dan perempuan. Unsur kesehatan reproduksi
memang tidak sebatas kesehatan jasmani dan rohani tetapi
juga sosial. Namun media ternyata tidak mengarah secara
mendalam terhadap persoalan itu.
Ada
harapan agar media tidak sekadar memberitakan sebuah
peristiwa. Kalau bisa, media juga memberi peluang bagi
tersosialisasikannya isu kesehatan reproduksi dengan
cara membuat tulisan mendalam tentang persoalan
kesehatan reproduksi, walaupun isu ini masih terbilang
baru dan belum banyak diminati. Mungkin agak klasik
kedengarannya. Namun mengingat fungsi media sebagai
sarana civil education, mulailah ditumbuhkan
kesadaran untuk persoalan yang selama ini belum
tersentuh. Dan selanjutnya diharapkan kesadaran itu
disosialisasikan kepada masyarakat dengan informasi yang
tepat dan tidak bias gender, semoga. (May).
sumber:
Newsletter PMP
AIDS Edisi 51 Juli 2002, hal. 7
kembali
ke atas
kembali
ke index gender dan kekerasan terhadap perempuan
|