OZZY

Fokus:

X







Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Gender & Kekerasan terhadap Perempuan 

Jender dan HIV/AIDS

Apakah Perbedaan Antara Jender dan Seks?

Jender:
Semua atribut sosial mengenai laki-laki dan perempuan, misalnya laki-laki digambarkan memiliki sifat maskulin seperti keras, kuat, rasional, gagah; sementara perempuan digambarkan memiliki sifat feminin seperti halus, lemah, perasa, sopan, penakut. Perbedaan tersebut dipelajari dari keluarga, teman, tokoh masyarakat, lembaga keagamaan dan kebudayaan, sekolah, tempat kerja, periklanan dan media.

Seks:
Perbedaan fisiologis yang mencirikan seseorang laki-laki atau perempuan, misalnya perempuan memiliki vagina dan rahim sementara laki-laki memiliki penis dan testis.
Jender dan Risiko Terkena HIV/AIDS


Menurut UNAIDS (1999), hubungan antara jender dan risiko individu untuk terkena HIV/AIDS adalah dalam hal:

  • Sikap dan perilaku jender dapat meningkatkan risiko individu. Misalnya, perempuan disosialisasikan untuk menyenangkan laki-laki dan berada di bawah kuasa laki-laki
  • Perempuan selama ini dianggap pasif, sehingga tidak mempunyai kuasa dalam hubungan seksual dengan laki-laki untuk menuntut seks aman ataupun menolak seks, serta tidak adanya kemampuan untuk melindungi diri mereka dari HIV, misalnya dengan negosiasi pemakaian kondom atau memilih pasangan seks yang dianggap aman.
  • Kebanyakan upaya untuk memahami risiko individu HIV dari perspektif jender telah difokuskan kepada perempuan. Hanya sedikit data yang menunjukkan mengenai bagaimana peran jender dan tekanan sosial menempatkan laki-laki menjadi berisiko. Contohnya, laki-laki umumnya lebih sering berganti-ganti pasangan daripada perempuan.
  • Laki-laki harus lebih mengetahui masalah seksualitas daripada perempuan, sehingga perempuan tidak terinformasikan dengan baik mengenai seksualitas dan kespro.


Selain itu, beberapa faktor sosial ekonomi juga mempermudah seseorang melakukan perilaku berisiko, di antaranya:

  • Migrasi laki-laki untuk mendapatkan pekerjaan telah memperlemah tali kekeluargaan dan mengarah ke perilaku seksual berisiko.
  • Peningkatan perempuan memasuki sektor industri tanpa perlindungan dari keluarga mereka. Perempuan sering menjadi aktif seksual pada usia yang lebih muda dan biasanya tidak sadar akan risiko HIV dan penyakit menular seksual.
  • Kebutuhan ekonomi biasanya berhubungan dengan migrasi untuk perdagangan seks di Asia Tenggara.
  • Karena ketidaksetaraan ekonomi, banyak perempuan memilih tetap berada dalam hubungan berisiko tinggi daripada menghadapi risiko ekonomi yang lebih besar karena meninggalkan pasangan tempatnya bergantung secara ekonomi.
  • Perempuan lebih rentan terkena dampak oleh HIV/AIDS bila kepala rumah tangganya sakit. Beban merawat anak yatim sebagai hasil pandemik AIDS akan ditanggung oleh perempuan. Kehilangan pendapatan dari laki-laki sebagai pencari pendapatan utama memaksa perempuan dan anak-anak untuk mencari sumber lainnya yang menempatkan mereka berisiko terjerumus ke eksploitasi seksual.
  • Diskriminasi karena jender biasanya didukung oleh hukum dan kebijakan yang melarang perempuan memiliki tanah, properti dan sumber produktif lainnya. Hal itu meningkatkan kerentanan perempuan untuk terkena infeksi HIV, membatasi kemampuan mereka untuk mencari dan menerima perawatan dan dukungan.

Data di dunia menunjukkan bahwa (www.eldis.org):
· Dari 36 juta Odha di dunia, 47%-nya adalah perempuan, dan proporsi ini terus meningkat
· Dari 16.000 infeksi baru yang terjadi setiap hari, 60% terjadi pada perempuan
· Dari 17,5 juta Odha yang meninggal, 52%-nya adalah perempuan
· Sejak awal epidemi, lebih dari 9 juta perempuan telah meninggal akibat penyakit yang berkaitan dengan HIV/AIDS

Faktor yang Mempengaruhi Risiko Individu Terkena HIV/AIDS Secara lebih terperinci, sebenarnya ada tiga faktor yang mempengaruhi risiko individu (UNAIDS, 1999):

  1. Faktor pengetahuan (kognitif) adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan bagaimana dan apa yang diketahui oleh individu mengenai seks dan seksualitas, serta kemampuannya untuk mengidentifikasi risiko dan memahami informasi penting mengenai pengurangan risiko.
  2. Faktor sikap mencakup perasaan seseorang mengenai situasi, orang lain dan diri mereka sendiri.
  3. Faktor perilaku merupakan segala sesuatu yang timbul dari faktor pengetahuan dan sikap, yaitu bagaimana orang dapat bertindak sesuai dengan pengetahuan dan perasaannya.


Pengetahuan.

Di masyarakat, jender menentukan bagaimana dan apa yang harus diketahui oleh laki-laki dan perempuan mengenai masalah seksualitas, termasuk perilaku seksual, kehamilan dan penyakit menular seksual (PMS). Konstruksi sosial mengenai atribut dan peran feminin ideal menekankan bahwa ketidaktahuan seksual, keperawanan, dan ketidaktahuan perempuan mengenai masalah seksual merupakan tanda kesucian.

Data juga menunjukkan bahwa perbedaan definisi budaya diaplikasikan kepada laki-laki yang diharapkan lebih berpengetahuan dan berpengalaman sehingga mengambil posisi sebagai pengambil keputusan dalam masalah seksual. Penelitian juga membuktikan bahwa pandangan jender ini merupakan bagian dari proses sosialisasi sejak kanak-kanak dan bagaimana harapan mengenai pengetahuan ini tertanam di antara laki-laki dan perempuan. Misalnya kemampuan remaja perempuan untuk mencari informasi atau membicarakan mengenai seks dibatasi oleh norma budaya yang kuat mengenai keperawanan. Remaja perempuan takut mencari informasi mengenai seks atau kondom menjadikan mereka dianggap aktif seksual tanpa memandang aktivitas seksual yang sebenarnya. Juga, jika keluarga mereka mengetahui bahwa mereka mencari pelayanan seksual, maka keperawananannya akan dipertanyakan.

Akibatnya, perempuan tidak mendapat informasi yang cukup mengenai reproduksi dan seks. Contohnya, remaja perempuan banyak yang tidak mengetahui tubuh mereka sendiri, kehamilan, kontrasepsi dan PMS. Perempuan miskin dari sebuah negara berkembang menyatakan bahwa mereka tidak mendapatkan informasi apapun tentang seks sebelum pengalaman pertama mereka. Kurangnya informasi ini membatasi kemampuan perempuan untuk melindungi diri mereka sendiri dari HIV, serta malah menimbulkan ketakutan di antara perempuan mengenai penggunaan kondom. Hal itu terjadi karena dalam sebuah studi ditemukan bahwa perempuan takut memakai kondom karena takut tertinggal di dalam vagina, lalu pindah ke kerongkongan. Ketakutan lainnya dalam memakai kondom adalah apabila kondom ditarik keluar maka organ reproduksinya akan turut terlepas. Studi lain menunjukkan bahwa kurangnya informasi mengenai tubuh mereka membatasi kemampuan perempuan untuk mengenali gejala gangguan pada organ reproduksinya akibat PMS.

Walaupun tidak ada data pasti mengenai bagaimana perbedaan jender mempengaruhi pengetahuan mengenai pelayanan HIV/AIDS, fakta di lapangan menunjukkan adanya perbedaan jender dalam sikap mengenai konsep sakit-sehat secara umum. Misalnya, sebuah studi di India menemukan bahwa seorang perempuan cenderung menerima gatal, panas, dan keputihan yang merupakan gejala PMS sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan reproduksi mereka.
Sikap dan Perilaku

Perilaku tidak akan berubah tanpa upaya mengubah sikap perempuan dan laki-laki terhadap peran jender karena hal itu berkaitan dengan seksualitas dan risiko seksual terkena HIV. Norma dan harapan jender yang diakibatkan oleh pengetahuan perempuan dan laki-laki mengenai risiko seksual dan pencegahan HIV sangat berkait dengan sikap dan perilaku yang menambah risiko individu mereka terhadap HIV dan diperburuk dengan kemampuan mereka untuk mengurangi dampak penyakit. Contohnya pada budaya di mana keperawanan sangat dihargai, penelitian menemukan bahwa remaja perempuan melakukan perilaku seksual alternatif untuk melindungi keperawanan, walaupun malah menempatkannya berisiko terkena HIV. Misalnya, dengan melakukan anal seks, selain untuk menjaga keperawanan juga untuk mencegah kehamilan pada pasangan belum menikah.
Temuan lainnya juga menyatakan bahwa remaja perempuan yang masih perawan menjadi berisiko tinggi karena laki-laki menganggap keperawanan perempuan yang menandakan kepolosan dan kepasifan mereka sebagai sesuatu yang erotis. Dalam kaitannya dengan penularan HIV/AIDS, keperawanan juga merupakan simbol kebersihan dan kesucian, sehingga bebas dari penyakit. Di daerah di mana prevalensi HIV/AIDS tinggi, laki-laki yang lebih tua mencari gadis yang jauh lebih muda, karena dipercaya, bahwa sebagai perawan, mereka bebas dari HIV, dan dapat dibayar dengan uang atau hadiah.

Pada budaya di mana perempuan disosialisasikan untuk menyenangkan laki-laki dan berada di bawah kuasa laki-laki, terutama dalam hubungan seksual, perempuan kadang berada dalam hubungan seksual berisiko tinggi yang mereka anggap dapat memuaskan laki-laki. Misalnya, dengan memasukkan benda asing ke dalam vagina untuk memperkuat liang vaginanya agar menambah kenikmatan laki-laki selama hubungan seksual. Benda itu misalnya ramuan, akar, bedak gosok yang dapat menyebabkan radang, luka dan lecet sehingga meningkatkan risiko tertular HIV. Pemakaian benda tersebut juga untuk mengeringkan liang vagina mereka karena jika terlalu basah maka dianggap merupakan gejala adanya PMS yang dapat menunjukkan ketidaksetiaan mereka.

Manifestasi lain dari kuasa laki-laki adalah hubungan seksual tanpa ikatan resmi, yang diakui merupakan hambatan untuk memperkecil risiko mereka dari infeksi HIV. Paksaan dalam berhubungan seksual pada remaja perempuan berkaitan dengan kehamilan remaja. Sedangkan pada perempuan dewasa, hal itu berkaitan dengan masalah nyeri panggul kronis dan masalah kebidanan-kandungan lainnya dan psikologis. Pada sebuah studi di Afrika Selatan, ditemukan bahwa 30% anak perempuan yang sudah berhubungan seksual, 30% hubungan seksual pertama mereka terjadi di bawah paksaan, 71% di luar kehendak mereka, dan 11% diperkosa.

Data-data tersebut menunjukkan bagaimana pengetahuan, sikap dan perilaku seksual laki-laki dan perempuan sangat dipengaruhi oleh norma jender dan harapan-harapan, serta bagaimana peran jender berkontribusi terhadap risiko individu untuk terkena infeksi HIV.
Dengan demikian, tantangan yang dihadapi untuk mengurangi kerentanan masyarakat terkena HIV/AIDS karena masalah jender adalah:

  • Meningkatkan pemahaman kita mengenai pengaruh jender terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku laki-laki, untuk mengisi kesenjangan dalam merancang program pencegahan yang lebih efektif dengan memasukkan faktor yang berhubungan dengan jender yang mempengaruhi kerentanan individu dan sosial.
  • Mengembangkan program HIV/AIDS untuk advokasi dan memberikan sumber daya untuk pelayanan dan dukungan yang lebih sensitif jender.
  • Mengembangkan indikator yang sangat spesifik untuk memudahkan intervensi dalam mengukur pengurangan ketimpangan jender karena berhubungan dengan kerentanan terhadap HIV/AIDS.

-------------------------------------
Sumber: Joint United Nations on HIV/AIDS UNAIDS). Gender and HIV/AIDS: Taking Stock of Research and Programmes. Geneve-Switzerland: UNAIDS,March 1999
http://www.eldis.org/gender/dossiers/prevalencewomen.htm,retrieved on 3/7/03

 

kembali ke atas

kembali ke index gender dan kekerasan terhadap perempuan

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan