|
Depan
> Gender & Kekerasan terhadap Perempuan
AKI
Sulit Turun kalau Persoalan di Lapangan Terlepas
SUATU
petang di bulan Puasa, seorang perempuan setengah baya
duduk di ruang tunggu praktik dr Evie di kawasan Klender.
Sambil memegangi perutnya, perempuan itu duduk menunggu,
tetapi ia tidak mendaftar ke perawat. Setelah semua
pasien selesai diperiksa, dokter muda yang baru setahun
lulus itu keluar dari ruang praktiknya dan mendapati
perempuan tua itu tidak bergeser dari bangkunya.
Wajahnya tampak pucat.
Evie
membawa perempuan itu ke ruang praktiknya dan
memeriksanya. "Waktu diperiksa ibu itu terus bicara.
Tidak jelas arahnya. Tetapi kalau kita punya kepekaan,
kita tahu ia hanya ingin bilang bahwa ia tidak punya
uang," lanjutnya.
Evie
mengatakan supaya perempuan itu tidak harus membayar. Ia
juga memberi obat gratis. Ia juga memberikan roti
bekalnya karena melihat perempuan itu tampak sangat
lemas.
"Malamnya
saya terbayang- bayang terus wajah perempuan itu.
Bagaimana ia bisa menjaga kesehatannya dengan kehidupan
yang sangat mencekik itu? Kalau ia sakit bagaimana ia
bisa minta pertolongan, karena meskipun hanya bayar Rp
5.000 di puskesmas, untuk banyak orang jumlah itu tinggi
sekali. Saya berpikir kita tidak bisa bekerja secara
parsial dan sendiri-sendiri menghadapi situasi ini.
Harus ada sistem untuk memberikan akses pelayanan
kesehatan dengan biaya yang serendah-rendahnya dan cukup
baik untuk kelompok seperti ibu itu. Jadi subsidi
pemerintah sangat dibutuhkan."
Entah
kapan harapan itu terpenuhi. Kenaikan 10 persen alokasi
anggaran kesehatan menjadi 7,4 persen di Rancangan
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tampaknya
tidak menjamin subsidi untuk pelayanan kesehatan
reproduksi perempuan bisa dipenuhi.
Dirjen
Bina Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan Prof Dr
Azrul Azwar mengatakan, dana itu akan lebih banyak
digunakan untuk pencegahan penyakit. Anggaran kesehatan
di Indonesia adalah yang terendah di ASEAN, yang
rata-rata mencapai 15-20 persen, menyebabkan Indeks
Pembangunan Manusia di Indonesia juga paling rendah di
ASEAN.
Sistem,
menurut Evie, juga mencakup hal yang lebih luas. Di
daerah-daerah terpencil misalnya, juga menyangkut alat
transportasi dan kualitas jalan. Juga mencakup akses
pada air bersih. Pengobatan yang didapat dari pusat
kesehatan masyarakat (puskesmas) tidak ada artinya kalau
di rumah tidak ada air bersih dan mereka tidak mempunyai
pengetahuan tentang makanan bergizi dan tidak mempunyai
uang untuk memberikan makanan bergizi untuk dirinya
sendiri dan keluarganya.
"Kalau
yang mendasar seperti ini saja tidak dipenuhi, jangan
bicara yang lainnya yang tinggi- tinggi, termasuk
mengurangi angka kematian ibu melahirkan (AKI),"
sambung dokter yang sekarang bekerja di Divisi
Pengembangan Sistem Pemulihan bagi Perempuan Korban
Kekerasan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap
Perempuan (Komnas Perempuan).
Peristiwa
seperti itu tidak hanya ia alami sekali. Salah satunya
di Kalimantan Tengah, ia menjumpai ibu hamil. Ketika
ditanya berapa kali ia bertemu dengan dokter selama
kehamilannya, perempuan itu mengatakan, "Boro-boro
dokter," Evie mengulang jawaban perempuan itu.
"Kan
bisa gratis, jawab saya. Ibu muda itu menjawab, ’Siapa
bilang gratis? Semua harus bayar. Jadi semua terserah
Tuhan saja. Kalau anak saya sehat ya syukur, kalau
enggak ya apa boleh buat’. Jadi ibu itu bukan tidak
mau ke dokter, tetapi karena tidak punya uang untuk ke
puskesmas," tegasnya.
AKI,
menurut Evie, lebih banyak disebabkan oleh ketidaktahuan
perempuan pada tubuhnya sendiri, khususnya pada waktu
hamil. "Kalau sudah tahu, ia tak punya biaya untuk
periksa ke puskesmas," sambung dr Kartono. Mereka
ditemui di sela seminar nasional "Tingginya Angka
Kematian Ibu di Indonesia: Suatu Tragedi Kemanusiaan"
yang diselenggarakan Yayasan Kesehatan perempuan (YKP)
dan the Ford Foundation, pekan lalu.
Kemiskinan
struktural, ditambah masalah sosiokultural yang
menyebabkan keputusan atas reproduksi perempuan berada
di tangan orang lain (suami, keluarga) dan interpretasi
yang keliru dari teks, seperti dijelaskan Dr Musdah
Mulia APU dari Departemen Agama, menyempurnakan situasi
perempuan sebagai korban.
Masalah
HAM dalam kaitannya dengan AKI seperti dijelaskan oleh
Dr Ruswiyati Suryasaputra MSc dari Komnas HAM menjadi
tidak "berbunyi" ketika dihadapkan pada
situasi di lapangan yang sangat rumit dan
ketidakseriusan pemerintah dalam upayanya menurunkan AKI
selama ini.
Sebagai
pembicara awal dalam seminar, dr Kartono sebenarnya
memaparkan situasi riel di lapangan dalam kaitan dengan
AKI. Sayangnya "Paradoks AKI" tersebut tidak
mendapat tanggapan dari pembicara lain.
Data
AKI sangat bervariasi, tergantung pada cara survei
dilakukan. Data Program Pembangunan Perserikatan
Bangsa-Bangsa (UNDP) bertahan sekitar 650 per 100.000
kelahiran hidup dari tahun 1980-an sampai tahun 1997,
dan data tahun 2002 yang 307 per 100.000 kelahiran hidup,
tetap merupakan AKI tertinggi di Asia dan sulit
menurunkannya.
"Persoalannya
bukan pada data, tetapi situasi lapangan dan gambaran
nasib manusia, dan bagaimana kita keluar dari situasi
itu," tegas dr Kartono. Dengan otonomi daerah siapa
yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan jiwa
perempuan dalam kaitan dengan kesehatan reproduksinya?
"Pemerintah
daerah tidak memberikan perhatian pada persoalan ini.
Mereka lebih ingin puskesmas menjadi sumber penghasilan.
Jadi orientasinya cuma uang," ujar dr Kartono.
Sementara, program yang ada hanya bersifat proyek.
"Kita
melihat program pemerintah seperti ’Suami Siaga’,
misalnya, berhasil sebagai proyek, karena penayangan
iklannya cukup bertubi-tubi. Tapi apakah tidak ada
evaluasinya. Misalnya, apakah benar para suami lantas
jadi siaga? Saya melihat intervensinya sungguh tidak
terarah," sambungnya.
Dr
Kartono menambahkan, dan angka anemia yang mencapai 70
persen dari tahun 1970 sampai tahun 2000 tidak menjadi
target. Kesehatan ibu yang buruk menghasilkan bayi
dengan berat badan rendah sebesar 20 persen. Bayi ini
akan menjadi sumber daya manusia yang juga rendah
mutunya bagi bangsa. Dampak ibu yang sakit terutama akan
mengenai anaknya.
"Kalau
kita sudah tahu semuanya, lalu bagaimana? Data Survei
Kesehatan Rumah Tangga bertahan sekitar 350-400 per
100.000 kelahiran hidup dari tahun 1980-an sampai
sekarang," tegasnya. Titi Sumbung dari Pusat
Pemberdayaan Perempuan dalam Politik juga mempertanyakan
hal senada kepada narasumber seminar, tetapi tidak
mendapat jawaban yang memuaskan.
Atashendartini
Habsyah dari YKP di sela seminar menjelaskan sistem yang
agak rumit di Departemen Kesehatan. "Puskesmas
berada di bawah Ditjen Kesehatan Keluarga, tetapi
rujukan yang lebih tinggi, yakni rumah sakit, berada di
bawah Ditjen Pelayanan Medik," ujar Atashendartini.
Dengan demikian, potensi untuk saling lempar tanggung
jawab menjadi lebih besar.
Selain
itu, Ditjen Kesehatan Keluarga hanya menggarisbawahi
keluarga dan kesehatan usia subur. "Perempuan di
luar keluarga dan tidak lagi berada pada usia subur
tidak ada yang mengurus. Padahal siklus kesehatan
reproduksi tidak bisa dipotong-potong begitu, karena ada
di sepanjang hidup," sambung Atashendartini.
Evie
menambahkan, rujukan memang ada. "Dari puskesmas
dirujuk ke rumah sakit daerah, kalau tidak bisa dirujuk
lagi ke rumah sakit pusat, kalau masih belum bisa ke
rumah sakit pusat nasional, RSCM, tetapi bagaimana
sistemnya? Kalau hanya disuruh ke rumah sakit, pasien
tahu, tetapi bagaimana? Kalau berkaitan dengan uang,
siapa yang tidak takut?" tanya Evie.
MENURUT
Evie, ada gap yang besar antara sosialisasi penurunan
Aki dan kenyataan di lapangan. Cara-cara mobilisasi yang
dilakukan oleh beberapa lembaga tidak memberikan hasil
yang konkret bagi penurunan AKI, karena dalam keseharian
banyak orang tak mampu mengakses pelayanan kesehatan
reproduksi, khususnya pada masa kehamilannya.
Sepanjang
masa kehamilan, ibu hamil harus terus berhubungan dengan
dokter atau bidan. Semakin tua kehamilannya, semakin
sering ia harus memeriksakan kandungannya. Pada usia
kehamilan delapan bulan misalnya, ibu hamil harus
memeriksakan kandungannya dua kali sebulan. Menjelang
sembilan bulan, empat kali sebulan. "Semua ini
tidak gratis, dan buat orang miskin, beban biaya
pemeriksaan itu berat sekali."
Tarif
periksa bidan di puskesmas sebenarnya tidak mahal (untuk
ukuran Jakarta), yakni Rp 1.000. Persoalannya adalah
ongkos transportasi yang sangat mahal, bisa mencapai Rp
20.000 pulang pergi dari desa ke puskesmas. Tak heran
kalau ibu hamil enggan memeriksakan kandungannya ke
bidan di puskesmas.
Menurut
Indra Supradewi dari Ikatan Bidan Indonesia (IBI), biaya
partus oleh bidan saat ini berkisar antara Rp 400.000
sampai Rp 600.000. "Ini jumlah yang sangat besar
dan tidak semua orang bisa membayarnya," sambung
Evie.
Oleh
karena itu, ketika seorang pembicara menyatakan
ketidaksukaannya kepada dukun bayi secara eksplisit,
beberapa peserta bergumam. Seorang peserta mengatakan,
peran dukun tidak bisa diabaikan begitu saja. "Ada
banyak kelebihan dari para dukun bayi yang tidak
dimiliki oleh bidan," katanya.
"Yang
jelas biayanya jauh lebih murah. Bisa sampai sepertiga
dari biaya melahirkan dengan bidan. Bisa dicicil lagi,"
tambahnya. Hal lainnya adalah kepedulian yang lebih,
dari partus sampai pascamelahirkan.
"Mereka
menyucikan kain yang kena darah, mengubur ari- ari,
memberi jamu, masih memijat lagi. Itu sentuhan
kemanusiaan yang hilang dalam sistem pengobatan modern.
Manusia dilihat sebagai manusia dan diperlakukan seperti
manusia, bukan sekadar obyek yang dirawat. Yang
diperlukan oleh para paraji ini adalah pengetahuan
tambahan dan pelatihan, antara lain supaya mereka
mensterilkan alat-alat yang digunakan dalam partus,"
sambung peserta yang lain.
Penyebab
utama AKI adalah pendarahan, eklamsia, dan infeksi yang
sebenarnya dapat ditangani cepat. AKI bisa diturunkan
kalau jumlah bidan di pedesaan tercukupi dan ada kerja
sama yang baik antara bidan dan paraji. Data dari Survei
Ekonomi dan Sosial Nasional (Susenas) tahun 2001
memperlihatkan bahwa hanya 45,83 persen kelahiran yang
ditolong bidan di pedesaan.
Sampai
beberapa tahun lalu, pemerintah gencar memberikan
pelatihan pada dukun bayi atau paraji, karena jumlah
bidan tidak dapat memenuhi kebutuhan di seluruh Tanah
Air. Kalau- pun di satu desa ada satu bidan, jarak
dukuh-dukuh di desa berjauhan satu sama lain sehingga
seringkali satu bidan tak bisa melayani semua warga
masyarakat desa. Apalagi kalau jalan penghubungnya rusak
dan transportasi sulit.
Jumlah
bidan di seluruh Indonesia, dilihat dari anggota IBI
saat ini sekitar 80.000. Namun, jumlah bidan di desa
terus menyusut sejak diadakan program Bidan di Desa
tahun 1989; dari 62.812 bidan di desa tahun 2000 menjadi
39.906 tahun 2003. Profil kesehatan Indonesia tahun 2000
mencatat 80 persen penduduk Indonesia bermukim di
sekitar 69.061 desa. Saat ini ada sekitar 22.906 desa
yang tidak lagi memiliki bidan.
Faktor
kedekatan dengan para ibu melahirkan juga harus
dipertimbangkan. "Biasanya dukun berasal dari
anggota komunitas itu. Jadi mereka sudah saling mengenal,"
ujarnya.
Kalaupun
misalnya ada bantuan sampai melahirkan, perawatan
pascamelahirkan juga tidak mudah. Bagaimana seorang ibu
memelihara kesehatannya agar ASI-nya lancar kalau tidak
ada kemampuan mengonsumsi makanan bergizi?
Seperti
dikemukakan Evie, "Persoalan melahirkan tidak hanya
menyangkut soal teknis kedokteran. Kalau jalan keluar
untuk berbagai persoalan yang melingkupinya tidak dicari
jalan keluarnya secara serius, AKI di Indonesia akan
tetap tinggi." (nmp/mh)
sumber: Harian
Kompas, Senin, 23 Agustus 2004
kembali
ke atas
kembali
ke index gender dan kekerasan terhadap perempuan
|