Benarkah persoalan yang dihadapi perempuan yang
hendak melakukan aborsi begitu sederhana seperti yang
tercermin dalam berbagai argumentasi kelompok pro-life
dan pro-choice?
Kiranya dengan menonton film If These Walls Could
Talk 1 (1996), kita akan sadar, perempuan yang hendak
melakukan aborsi atau perempuan dokter yang membantu
melakukan aborsi tidak bisa begitu saja memilih salah
satu norma moral tersebut.
Dalam film yang terdiri dari tiga film pendek (total
durasi 97 menit) karya feminis kontemporer Amerika:
Pamela Wallace, Nancy Savoca, Susan Manus, dan Marlane
King, dituturkan argumentasi tiga perempuan Amerika dari
tiga zaman yang berbeda untuk meneruskan atau mengaborsi
kehamilan yang tak mereka rencanakan.
Syahdan, di Amerika tahun 1952 ketika aborsi masih
terlarang secara hukum, janda muda Claire Donelly (Demi
Moore) bekerja sebagai perawat, hidup pas-pasan. Dia
sangat disayang keluarga almarhum suaminya. Dalam
situasi yang sulit dijelaskan, Claire melakukan hubungan
seksual dengan adik almarhum suaminya dan hamil. Tak
mungkin dia menjelaskan kehamilan itu kepada mertuanya.
Tak juga kepada koleganya, kecuali kepada pria dokter
separuh baya yang—karena patuh pada hukum—tak
bersedia mengaborsi kandungan Claire.
Menggugurkan kandungan
Dua kali Claire ingin menggugurkan kandungannya,
yaitu dengan meminum obat antimigren yang terlarang bagi
perempuan hamil dan menusukkan alat sulam ke rahimnya
lewat vagina. Gagal. Akhirnya, Claire mendapatkan orang
yang mau mengaborsi dengan bayaran tak murah, tetapi itu
aborsi tak aman. Tak ada aborsi aman di negara yang
melarang aborsi. Claire mengalami perdarahan parah.
Film kedua—Amerika tahun 1974—berkisah
tentang Barbara Barrows (Sissy Spacek): perempuan
setengah baya, beranak empat dan bersuamikan polisi.
Suatu hari Barbara yang setelah anak-anaknya besar dapat
melanjutkan kuliahnya lagi mendapati dirinya hamil.
Dia sadar, bila kehamilan ini dilanjutkan, dia akan
menghadapi pilihan sulit, yaitu suaminya tak mungkin
mengajukan pensiun dini dan Linda (anak pertamanya)
hanya akan bisa sekolah di college negeri atau dia
sendiri harus berhenti kuliah. Padahal, bisa kuliah lagi
merupakan déj vu mimpinya.
Kepada suaminya dan Linda, Barbara hanya bisa bilang,
”Aku tak tahu apakah mengaborsi atau melanjutkan
kehamilan anak kelima ini merupakan keputusan yang
benar.” Barbara, memang, batal melakukan aborsi,
tetapi bisa dipastikan dia juga berhenti kuliah demi
Linda dan suaminya.
Film ketiga Amerika tahun 1996 berkisah tentang
Christine (Anne Heche) yang hamil karena selingkuh
dengan dosennya yang sudah beranak-istri. Sebagai orang
Irlandia totok dan Katolik saleh, Christine berpandangan
pro-life: anti-aborsi. Namun, Christine tak mungkin
menjelaskan kehamilannya kepada orangtuanya karena hanya
akan membuat orangtuanya patah hati; tak mungkin juga
menuntut sang dosen menikahinya. Sang dosen lebih suka
memberinya uang ketimbang mendengarkan berbagai
persoalan yang dihadapi Christine. Singkat cerita,
Christine tergerak melakukan aborsi.
Dokter Beth Thompson (Cher) yang mengaborsi
kandungannya bilang, Aku mau membantu melakukan aborsi
karena tahu bagaimana aborsi dilakukan ketika secara
hukum masih dilarang. Juga karena perempuan yang baru
kubantu aborsi selalu bilang tak tahu apa yang akan
terjadi bila tidak melakukan aborsi.
Saya kira Barbara, Christine, dan dokter Thompson
adalah para perempuan yang menganggap aborsi harus
dilakukan bukan karena mereka setuju dengan argumentasi
pro-choice. Barbara bahkan tak peduli apakah mengaborsi
atau meneruskan kehamilan anak kelima itu tindakan yang
secara moral benar. Christine yang awalnya berpandangan
pro-life terpaksa menunda keyakinan moralnya dan
melakukan aborsi.
Dokter Thompson yang berangkat dari situasi nyata
pasien juga menunda argumentasi pro-life dan pro-choice
serta menunjukkan persoalan utama adalah sulitnya pasien
menjelaskan kehamilan mereka dalam masyarakat patriarki.
Membela/memberdayakan korban patriarki dan
meruntuhkan patriarki tak bisa dilakukan dalam satu
paket. Pembelaan/pemberdayaan adalah tindakan pragmatis,
harus segera dilakukan. Sementara meruntuhkan patriarki
adalah perjuangan ideal.
Pascamoralitas
Film ini dibuka dengan pernyataan seorang perempuan,
Ketahuilah sayang, kalau pria bisa hamil, aborsi akan
dijadikan sakramen. Dengan kata lain, patriarki yang
sudah berjaya ribuan tahun akan menggunakan berbagai
cara untuk melestarikan kekuasaannya.
Situasi nyata (kejam dan bebalnya patriarki) membuat
ketiga perempuan itu memilih posisi pascamoralitas.
Mereka tidak mengabaikan moralitas, tetapi membuat
keputusan dengan cara menunda norma moral pro-life dan
pro-choice.
Richard Rorty seorang postmodern, tetapi lebih suka
menyebut diri seorang pragmatis melukiskan tindakan
pascamoralitas sebagai tindakan liberal-ironis (lihat
Contingency, Irony and Solidarity, Cambridge Univ Press,
1989).
Disebut liberal karena yakin bahwa setiap individu
harus memiliki the right to privacy agar dapat menjadi
dirinya sendiri dan tidak memaksakan keyakinan
pribadinya kepada orang lain. Namun, juga disebut
ironis, karena juga yakin setiap argumentasi moral
(termasuk the right to privacy) adalah hasil konstruksi
sosial melalui bahasa manusia dan karenanya bersifat
contingent (kebetulan, tidak mutlak).
Kasus nyata
Dalam kasus nyata penderitaan, liberal-ironis adalah
seorang yang yakin dirinya tak dapat lagi berpegang
teguh pada norma moral apa pun ketika harus membuat
keputusan mengakhiri penderitaan itu. Hal ini hanya akan
menghasilkan manusia fundamentalis dan ideologis yang
lupa norma moral adalah buatan manusia dalam bahasa
manusia yang contingent.
Orang-orang seperti ini hanya membela norma moral
yang dianutnya, bukan membela orang yang sedang
menderita. Alih-alih menghentikan kekerasan, mereka
malah meradikalkannya. Begitu juga dalam hal aborsi,
seseorang harus bertindak seperti Barbara, Christine,
dan dokter Thompson yang berangkat dari kasus konkret,
bukan dari norma moral pro-life atau pro-choice yang
diyakini.
Debat antara pro-life atau pro-choice memang sangat
mencerdaskan dan penting bagi kelanjutan diskursus moral
dan filsafat umumnya, tetapi sulit diterapkan dalam
kebanyakan kasus konkret karena keduanya tak
memperhitungkan situasi konkret individu perempuan dalam
masyarakat patriarki.
Donny Danardono Program Magister Lingkungan dan
Perkotaan Unika Soegijapranata, Semarang