Depan
> Gender & Kekerasan terhadap Perempuan
Jender
dan HIV/AIDS
Oleh:
Laily Hanifah
Apakah
Perbedaan Antara Jender dan Seks?
Jender:
Semua atribut
sosial mengenai laki-laki dan perempuan, misalnya
laki-laki digambarkan memiliki sifat maskulin seperti
keras, kuat, rasional, gagah; sementara perempuan
digambarkan memiliki sifat feminin seperti halus, lemah,
perasa, sopan, penakut. Perbedaan tersebut dipelajari
dari keluarga, teman, tokoh masyarakat, lembaga
keagamaan dan kebudayaan, sekolah, tempat kerja,
periklanan dan media.
Seks:
Perbedaan fisiologis yang mencirikan seseorang laki-laki
atau perempuan, misalnya perempuan memiliki vagina dan
rahim sementara laki-laki memiliki penis dan testis.
Jender
dan Risiko Terkena HIV/AIDS
Menurut
UNAIDS (1999), hubungan antara jender dan risiko
individu untuk terkena HIV/AIDS adalah dalam hal:
·
Sikap dan perilaku jender
dapat meningkatkan risiko individu. Misalnya, perempuan
disosialisasikan untuk menyenangkan laki-laki dan
berada di bawah kuasa laki-laki
·
Perempuan
selama ini dianggap pasif, sehingga tidak mempunyai
kuasa dalam hubungan seksual dengan laki-laki untuk
menuntut seks aman ataupun menolak seks, serta tidak
adanya kemampuan untuk melindungi diri mereka dari HIV,
misalnya dengan negosiasi pemakaian kondom atau memilih
pasangan seks yang dianggap aman.
·
Kebanyakan
upaya untuk memahami risiko individu HIV dari perspektif
jender telah difokuskan kepada perempuan. Hanya sedikit
data yang menunjukkan mengenai bagaimana peran jender
dan tekanan sosial menempatkan laki-laki menjadi
berisiko. Contohnya, laki-laki umumnya lebih
sering berganti-ganti pasangan daripada perempuan.
·
Laki-laki
harus lebih mengetahui
masalah seksualitas daripada perempuan, sehingga
perempuan tidak terinformasikan dengan baik mengenai
seksualitas dan kespro.
Selain
itu, beberapa faktor sosial ekonomi juga mempermudah
seseorang melakukan perilaku berisiko, di antaranya:
·
Migrasi
laki-laki
untuk mendapatkan pekerjaan telah memperlemah tali
kekeluargaan dan mengarah ke perilaku seksual berisiko.
·
Peningkatan
perempuan memasuki sektor industri
tanpa perlindungan dari keluarga mereka.
Perempuan sering menjadi aktif seksual pada usia yang
lebih muda dan biasanya tidak sadar akan risiko HIV dan
penyakit menular seksual.
·
Kebutuhan
ekonomi biasanya berhubungan dengan migrasi untuk
perdagangan seks di Asia Tenggara.
·
Karena
ketidaksetaraan ekonomi, banyak perempuan memilih
tetap berada dalam hubungan berisiko tinggi daripada
menghadapi risiko ekonomi yang lebih besar karena
meninggalkan pasangan tempatnya bergantung secara
ekonomi.
·
Perempuan
lebih rentan terkena dampak oleh HIV/AIDS bila kepala
rumah tangganya sakit. Beban merawat anak yatim
sebagai hasil pandemik AIDS akan ditanggung oleh
perempuan. Kehilangan pendapatan dari laki-laki sebagai
pencari pendapatan utama memaksa perempuan dan anak-anak
untuk mencari sumber lainnya yang menempatkan mereka
berisiko terjerumus ke eksploitasi seksual.
·
Diskriminasi
karena jender
biasanya didukung oleh hukum dan kebijakan yang melarang
perempuan memiliki tanah, properti dan sumber
produktif lainnya. Hal itu meningkatkan kerentanan
perempuan untuk terkena infeksi HIV, membatasi kemampuan
mereka untuk mencari dan menerima perawatan dan dukungan.
Data
di dunia menunjukkan bahwa (www.eldis.org):
·
Dari
36 juta Odha di dunia, 47%-nya adalah perempuan, dan
proporsi ini terus meningkat
·
Dari
16.000 infeksi baru yang terjadi setiap hari, 60%
terjadi pada perempuan
·
Dari
17,5 juta Odha yang meninggal, 52%-nya adalah perempuan
·
Sejak
awal epidemi, lebih dari 9 juta perempuan telah
meninggal akibat penyakit yang berkaitan dengan HIV/AIDS
Faktor
yang Mempengaruhi Risiko Individu Terkena HIV/AIDS
Sumber:
Joint United Nations on HIV/AIDS (UNAIDS). Gender and
HIV/AIDS: Taking Stock of Research and Programmes.
Geneve-Switzerland: UNAIDS, March 1999
www.eldis.org/gender/dossiers/prevalencewomen.htm,
retrieved on 3/7/03
kembali
ke atas
kembali
ke index gender dan kekerasan terhadap perempuan
|