OZZY

Fokus:

X







Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Depan > Gender & Kekerasan terhadap Perempuan 

Perempuan Pintu Gerbang Menuju Keluarga Sejahtera

Bila kaum perempuan diberi dukungan dan kesempatan dalam mengejar ketertinggalannya, baik di sektor publik (ekonomi, hukum, ekonomi dan sosial) maupun di sektor domestik (keluarga), niscaya Indonesia menjadi terdepan. Lingkungan Sukamaju di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan mencoba mengembangkan model transformasi ke arah itu.

Hidup di negeri berpenduduk kuranglebih 210 juta jiwa, dengan keindahan alam sekitar 17 ribu pulau, adalah sebuah kenikmatan. Seharusnya demikian. Namun tidak untuk sebagian besar perempuan Indonesia. Pasalnya, mereka masih hidup dalam kondisi memprihatinkan. Simak saja, saat ini sedikitnya 50 persen perempuan didera anemia, dan 18 persen kekurangan energi kalori. Kondisi buruk ini diperparah lagi oleh tingginya angka kematian ibu akibat hamil dan melahirkan. Kasusnya tertinggi di ASEAN. Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan Angka Kematian Ibu hamil dan melahirkan “menakjubkan”, mencapai 340 per 100.000 kelahiran hidup saat ini.

Di sektor pendidikan, perempuan juga terpinggirkan. Menurut data statistik BPS 1999-2000, 54 persen perempuan Indonesia hanya lulusan SD ke bawah, 19 persen lulusan SLTP dan 27 persen lulusan SLTA, dari penduduk usia 10-44 tahun dan 45 ke atas. Angka buta huruf perempuan lebih tinggi dari laki-laki, yakni 3.816.681 perempuan dan 2.138.781 laki-laki. Sementara, angka partisipasi di SLTP: perempuan 87,07 persen, laki-laki 89 persen, dan SLTA: perempuan 61 persen, sedangkan laki-laki 68 persen.

Pada 2001, jumlah perempuan yang mengantongi ijazah SLTA dilaporkan hanya 4,13 persen sementara laki-laki sekitar 16 persen. Jumlah ini semakin mengerucut untuk perempuan yang lulus diploma (DII dan DIII) dengan perbandingan perempuan 1,42 persen, laki-laki 1,53 persen; sarjana (S1-S3) dengan perbandingan perempuan 1,40 persen dan laki-laki 2,27 persen. Selebihnya adalah perempuan yang hanya mengantongi ijazah SD, SLTP atau sama sekali tak memiliki ijazah, alias putus sekolah di tingkat sekolah dasar atau sama sekali tak bersekolah.

Di bidang ekonomi, perempuan selalu menjadi korban dari setiap perubahan ekonomi. Keterpurukan ekonomi telah membawa perempuan dalam perjuangan untuk terus menghidupi keluarga. Saat ini, angka partisipasi angkatan kerja perempuan hanya 51 persen, jauh di bawah laki-laki yang mencapai 86 persen. Sebagian besar perempuan bekerja di sektor informal, sesuatu yang kebalikannya dengan pria. Dalam pengupahan, pria menerima upah 100 persen, sementara perempuan hanya 60 persen.

Hasil Survey Sosial dan Ekonomi (Badan Pusat Statistik), hampir 50 persen perempuan di pedesaan bekerja sebagai pekerja keluarga yang tak dibayar. Angka dan fakta tersebut menunjukkan, bahwa perempuan hanya dimanfaatkan sebagai sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan pasar demi kepentingan ekonomi negara, dan bukan untuk kepentingan perempuan.

Bukan Cuma itu. Dalam penanganan perdagangan perempuan, Indonesia justru mendapat stempel dunia internasional sebagai salah satu negara terburuk dalam menangani perdagangan perempuan. Betapa tidak, jumlah perempuan dan anak yang diperdagangkan diperkirakan mencapai 700 ribu hingga satu juta orang per tahun (Global Watch Against Child Labour, 2002).

Human Development Index--HDI Indonesia juga mencerminkan 'buruk muka' negeri ini. Betapa tidak, dari laporan United Nation Development Program (UNDP) tentang keberhasilan pembangunan manusia yang diukur dengan HDI (Index Pembangunan Manusia), Indonesia ternyata berada pada urutan terpuruk dari 175 negara yang disurvei, yakni ke 112 (pada 2002). Sementara angka yang menunjukkan ketidaksetaraan pembangunan, kesehatan dan ekonomi antara laki-laki dan perempuan, yakni Gender Related Development Index--GDI, memperingkat Indonesia pada urutan ke-112 dari hampir 200 negara pada 2001 dengan nilai 1.

Semua kondisi ini tentu saja mendudukan posisi perempuan Indonesia demikian memprihatinkan. Padahal di masa krisis, perempuan telah memberikan kontribusi besar melalui usaha kecil, menengah dan sektor informal. Walau kontribusinya besar, perhatian untuk mereka tetap saja terbatas. Alhasil, wajah perempuan Indonesia dewasa ini masih 'buram'.

Kiprah TP PKK Tapin:

Untunglah, upaya memperjuangkan agar perempuan mendapatkan lebih banyak ruang untuk bernafas terus dijalankan oleh berbagai pihak yang peduli. Itulah yang kini digiatkan Tim Penggerak PKK Kabupaten Tapin di Kalimantan Selatan. Terletak 113 km dari Kota Banjarmasin dengan ibu kotanya Rantau, kabupaten ini memiliki potensi sumber daya alam yang berlimpah. Satu di antaranya adalah pertanian tanaman pangan.

Jeruk, pisang, kacang tanah dan hortikultura adalah tanaman unggulan daerah ini. Ada pula perkebunan karet, rumbai, dan aren, atau peternakan sapi, kerbau, kambing, dan ayam. Potensi daerah ini diperkaya juga oleh sektor perikanan. Ke semua subsektor itu mendapat alokasi dana APBD kabupaten/provinsi dan APBN Dekon sebesar Rp12,4 miliar pada 2003, menunjukkan keseriusan pemda dalam meningkatkan kesejahteraan warganya.

Tapin memang kaya dengan potensi alamnya, termasuk industri kerajinan. Di banyak perkampungan, industri kerajinan banyak tersebar di sejumlah rumah penduduk. Sebagian besar adalah kerajinan dari rotan. Ada topi, tas, tikar dan sejenisnya. Kebanyakan, industri kerajinan dalam bentuk home industri itu dikerjakan ibu-ibu sebagai kegiatan paruh waktu. Biasanya dilakukan pada siang menjelang sore hari, setelah kegiatan rutin di rumah dan di kebun usai.

"Lumayanlah untuk menambah penghasilan keluarga," ujar Nya Ratna sembari menganyam tikar. Industri kerajinan memang produk unggulan Kabupaten Tapin. Tak heran kalau dalam ajang lomba di tingkat provinsi, daerah ini bebetapa kali menyabet penghargaan. Pada 2003, misalnya, Kabupaten Tapin menyabet Juara I Lomba Desain Topi dari tapin.

Pertanian dan kerajinan memang menjadi sandaran hidup dan kehidupan warga masyarakat di sana. Melihat strategisnya kedua subsektor tersebut, pemda setempat, dalam tahun anggaran 2003, telah mengalokasikan dana lebih dari Rp 1 miliar dalam bentuk program community development (pengembangan masyarakat). Di bawah kendali Dinas Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat, dan Badan Kependudukan, Catatan Sipil dan KB setempat, diharapkan derajad kesejahteraan masyarakat Tapin segera lebih terangkat.

Dihijaukan oleh kawasan hutan lindung seluas 12.955 ha dan kawasan budidaya seluas 204.540 ha, Tapin memang menyimpan banyak potensi. Apalagi lahan yang belum dimanfaatkan masih seluas 73.814 ha. Adapun luas Kabupaten Tapin 217.492 ha atau 2.174,92 km2, dengan 10 kecamatan dan 131 desa/kelurahan. Semua daerah itu mendapat sentuhan program pemberdayaan masyarakat dari pemda Kabupaten Tapin.

Mampu memanfaatkan bantuan:

Adalah Lingkungan Sukamaju, Kelurahan Binuang, Kecamatan Binuang, yang benar-benar merasakan dan mampu memanfaatkan bantuan dan fasilitas yang diberikan oleh pemda. Di bawah fasilitasi TP PKK Kabupaten Tapin, Lingkungan Sukamaju, di antaranya, berhasil dengan baik melaksanakan Program P2WKSS (Peningkatan Peranan Wanita menuju Keluarga Sehat Sejahtera). Bukan hanya di tingkat provinsi, penghargaan untuk kategori P2WKSS Tahun 2003 berhasil juga diraihnya di tingkat Nasional. "Ini sebuah prestasi, namun bukan untuk dijadikan kepuasan, karena masih banyak sector-sektor lain di wilayah kami yang perlu kami tingkatkan," ujar perangkat kelurahan setempat.

Keberhasilan Kabupaten Tapin dalam program P2WKSS sangat didukung oleh kader-kader PKK Kelurahan Binuang. Para sukarelawan di bidang sosial kemasyarakatan ini, yang adalah warga setempat, begitu aktif menyuluhan dan melatih para ibu di Sukamaju mengenai 10 Program Pokok PKK. Intinya, mereka mengajak agar ibu-ibu terlibat langsung dalam kegiatan pemberdayaan perempuan. Salah satunya melalui kegiatan ekonomi produktif, berupa kegiatan bercocok-tanam atau berkerajinan.

Rempe, salah satu produk unggulan warga Sukamaju, adalah jenis makanan dari pisang yang telah diolah menjadi selai. Rasanya nikmat, dan telah dijual di toko-toko di wilayah Tapin. Ada pula produk unggulan lainnya, sepert jeruk, yang ditanam di areal yang cukup luas. Hebatnya, ibu-ibu Sukamaju dapat mengembangkan modal usaha dari produk unggulannya itu melalui kelompok UPPKS (Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera) dari Rp 13 juta menjadi Rp 20 juta, hanya dalam kurun satu tahun. Setidaknya untuk sebuah perkampungan 2 RK dan 5 RT dengan 300 jiwa ini, pengembangan modal usaha secepat itu bolehlah dibanggakan.

Banyak jalan alternatif memasuki Lingkungan Sukamaju. Membelah indahnya pematang sawah adalah salah satunya. Mungkin orang tak percaya, bahwa di perkampungan rada terpencil ini tak satu pun terdapat keluarga pra-sejahtera. Tak satu pun anak usia sekolah tak bersekolah, atau pun drop-out. Betapa tidak, dalam sektor pendidikan, misalnya, telah ada 10 SD, dan satu SMP yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Sukamaju. Bagi mereka yang telah 'berusia' belajar tetap berlanjut melalui program Kejar Paket A atau Paket B. Indahnya pematang sawah seolah ikut menggairahkan kegiatan ibu-ibu di sana dalam program pemberdayaan perempuan.

Memajukan warga masyarakat melalui program pendidikan memang menjadi prioritas pemda Kabupaten Tapin. Betapa tidak, dalam tahun anggaran 2003 alokasi dana bidang pendidikan mencapai Rp 51,4 miliar. Jumlah ini cukup fantastis karena merupakan 28,72 persen dari jumlah APBD Kabupaten Tapin 2003.

Beragam kegiatan pemberdayaan perempuan warga Sukamaju memang berada di bawah 'payung' TP PKK setempat, melalui wadah P2WKSS. Di dalam wadah ini termasuk pula di dalamnya program Bina Keluarga Balita (BKB), Bina Keluarga Remaja (BKR) dan Bina Keluarga Lansia (BKL), yang keseluruhan programnya bertujuan untuk menciptakan ketahanan keluarga menuju pada pembentukan keluarga berkualitas dan sejahtera.

Siapa di belakang keberhasilan Sukamaju? Dia tak lain adalah Ketua TP PKK Kabupaten Tapin Ny Hj Elin Herlina Idis N Haidi. Namanya memang sepanjang kegiatannya dalam meningkatkan harkat dan martabat perempuan melalui program pemberdayaan perempuan. "Harapan saya adalah perempuan di Sukamaju khususnya dan Kabupaten Tapin umumnya maju dalam cara berpikir," ujar Elin Herlina, yang ikut membawa Kabupaten Tapin sebagai Juara I BKB Tingkat Provinsi Kalsel 2003, dan Juara I Lomba Disain Topi dari Tapin Tingkat Provinsi Kalsel 2003.

Perempuan adalah 'pintu masuk' menuju perbaikan kesejahteraan keluarga, diakui Elin Herlina sebagai kebenaran. Bukankah ada banyak bukti kalau perempuan di pedesaan memberikan kontribusi sangat nyata terhadap pendapatan total keluarga. Bukankah ada banyak bukti kalau perempuan di berbagai lokasi sebagai pekerja informal yang potensial, jujur, keras dalam bekerja, dan taat dalam pengembalian kredit. Bukankah ada banyak bukti pula bahwa perempuan menjadi pencari nafkah utama keluarga. Dan masih banyak bukankah lainnya.

Maka, tak dapat dipungkiri lagi bahwa memberdayakan perempuan di sector publik maupun domestik, menurut Elin Herlina, amat penting dan merupakan kebutuhan. Apabila perempuan berdaya, niscaya semua persoalan akan menemui jalan keluar karena dipecahkan secara bersama: antara laki-laki dan perempuan. Sehingga kebutuhan dan keinginan masing-masing terakomodasi. Karena itu, perempuan adalah “pintu masuk” menuju keluarga berkualitas dan sejahtera. Agar lebih fokus dan terkendali, kegiatan mereka sudah seharusnya diwadahi oleh sebuah lembaga resmi. (**Pikas--Heru Subroto)

sumber: Media Indonesia Online, 17 April 2004

 

kembali ke atas

kembali ke index gender dan kekerasan terhadap perempuan

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan