OZZY

Fokus:

X







Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Gender & Kekerasan terhadap Perempuan 

AIDS yang Semakin Berwajah Perempuan

Sekitar 40 perempuan berusia 20 hingga 50-an tahun duduk melingkar di sebuah balai pertemuan sederhana di kompleks perumahan tentara di Jakarta Selatan. Mereka tengah mengikuti pertemuan mengenai pencegahan HIV/AIDS pada perempuan, dari remaja putri hingga perempuan yang menikah.

Saya mau tanya, kalau ada anggota keluarga kita yang kena HIV, apakah dia harus dikucilkan, maksud saya dikarantina begitu. Apakah kita tidak boleh mendiskusikan penyakitnya itu dengan dia? Saya juga ingin tahu apa sudah ada obat untuk penyakit ini? tanya Ny Emi, salah satu peserta pertemuan itu.

Seorang ibu lain segera mengangkat tangan, mengajukan pertanyaan. "Kalau di rumah sakit bidan menolong kelahiran, kan banyak darah. Dia pakai sarung tangan, tetapi dipakai lagi. Juga alat-alat lain dipakai lagi, biarpun sudah disteril pakai alkohol, bagaimana, ya?"

Satu ibu lain juga mengangkat tangannya dan bertanya. "Bagaimana ya kita jamin suami kita tidak ’jajan’ ke PSK dan tidak menularkan HIV ke kita? Apa tanda-tandanya dia sudah kena penyakit?"

Sejak epidemi AIDS menimbulkan kekhawatiran akibat skalanya yang masif di seluruh dunia, sekitar 20 tahun lalu, penyebaran penyakit tersebut masih belum bisa dihentikan. Bahkan, para pemimpin dunia, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan mereka yang peduli pada penyebaran penyakit ini semakin dicemaskan oleh meningkatnya jumlah pengidap dan korban HIV/AIDS, karena penyebarannya tidak lagi hanya pada kelompok yang semula dianggap sebagai kelompok rentan.

Bila pada awalnya mereka dengan perilaku seksual tertentu, yaitu yang menggunakan cara melalui dubur dan hanya pada kelompok homo saja, yang dianggap sebagai kelompok rentan, lalu kelompok heteroseksual yang berganti-ganti pasangan, dan kemudian mereka yang menggunakan jarum suntik tidak steril, antara lain para pengguna narkoba, kini HIV/ AIDS juga mengenai perempuan istri, ibu rumah tangga yang setia pada suaminya.

Tidak berlebihan bila PBB menetapkan fokus peringatan hari AIDS sedunia pada tanggal 1 Desember lalu adalah pada perempuan dan remaja putri. Relasi jender yang tidak setara dan tidak adil menyebabkan perempuan istri yang setia pada satu suami rentan tertular HIV/ AIDS. Kekerasan dalam rumah tangga menjadi salah satu pintu masuk penularan HIV/AIDS.

Di Jakarta Kaulan Perempuan yang mengadvokasi gerakan menolak kekerasan terhadap perempuan memasukkan gerakan pencegahan HIV/AIDS ke dalam Kampanye 16 Hari Atikekerasan terhadap Perempuan dari tanggal 25 November- 10 Desember. Berbagai penelitian dan UNAIDS, organisasi di bawah PBB yang menangani pencegahan penularan HIV/ AIDS, menegaskan adanya hubungan yang jelas antara kekerasan terhadap perempuan dan cepatnya penularan HIV/ AIDS di antara perempuan.

Ketidakmampuan perempuan menolak hubungan seksual dengan kekerasan yang dipaksakan suami, misalnya, menjadi salah satu penyebab rentannya perempuan tertular HIV/AIDS.

Pada saat bersamaan ketidakmampuan perempuan mengakses informasi yang benar mengenai HIV/AIDS menjadi penyebab penularan yang sebetulnya bisa dicegah itu.

Kaulan Perempuan yang terdiri atas lebih dari 25 organisasi perempuan nonpemerintah sengaja mengundang ibu-ibu dari Sekolah Perempuan Komunitas Ciliwung di Gang Pelangi, Kalibata, Jakarta Selatan, dengan pertimbangan rendahnya akses mereka terhadap informasi penularan HIV/AIDS. Sekolah Perempuan merupakan mitra Lingkaran Pendidikan Alternatif untuk Perempuan (Kapal Perempuan), salah satu organisasi di dalam Kaulan Perempuan.

Pertanyaan yang diajukan para ibu Sekolah Perempuan Komunitas Ciliwung kepada Baby Jim Aditya dari Partisan yang bergerak dalam advokasi HIV/AIDS, Rini dari Kapal Perempuan, dan Astuti Liestyaningrum, pengacara di Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan, memperlihatkan rendahnya akses perempuan terhadap informasi HIV/ AIDS.

"Saya merasa informasi ini berguna sekali karena datang dari orang yang pas. Sebelumnya kan kita-kita ini denger dari temen-temen sendiri. Ada yang bilang AIDS bisa nular lewat keringat," kata satu ibu anggota Sekolah Perempuan seusai acara diskusi. Baby Jim Aditya dalam diskusi menjelaskan bahwa virus HIV/AIDS terdapat di darah, sperma dan cairan vagina, serta air susu ibu.

Pengucilan terhadap orang dengan HIV/AIDS pun masih terjadi di masyarakat, sehingga tidak mengherankan bila Ny Emi mengajukan pertanyaan tersebut. "Penderita jangan dikucilkan, apalagi diberi stigma bahwa karena perbuatannya tidak bermoral, maka dia terinfeksi HIV. Kita jangan menjadi tuhan-tuhan kecil, memberi cap moral pada seseorang. Buktinya yang terkena sekarang banyak ibu-ibu, istri-istri yang setia pada suaminya," tandas Baby.

Rini dari Kapal Perempuan menyajikan data. Di Thailand penularan HIV/AIDS dari suami kepada istri menjadi isu penting di sana, terutama setelah sebuah survei memperlihatkan bahwa 95 persen laki-laki yang disurvei mengaku pernah mengunjungi tempat prostitusi.

Pekerja seks menjadi salah satu mata rantai penularan HIV/AIDS karena dia berhubungan dengan banyak orang. Risiko itu semakin meningkat karena para pekerja seks itu tidak selalu mampu meminta kepada laki-laki yang membeli jasanya itu untuk menggunakan kondom. Penggunaan kondom merupakan salah satu cara mengurangi risiko tertular HIV/ AIDS.

"Suami saya enggak mau pakai kondom, alasannya dia enggak bisa enak. Ya, saya enggak bisa maksa," kata salah satu ibu anggota Sekolah Perempuan Komunitas Ciliwung. Ibu satu anak yang sebetulnya mandiri secara ekonomi ini sebelumnya sering mendapat kekerasan fisik dari suaminya, dan kemudian suaminya menikah lagi. Meskipun kini suaminya sudah tidak memukul lagi-"Sekarang dia tinggal suka melotot-melotot aja,"-tetapi dia masih mengalami kekerasan psikis. Meskipun teman-temannya, termasuk Ny Kusniyah (41) sebagai ketua komunitas Sekolah Perempuan, menganjurkan anggotanya itu untuk meminta sang suami mengenakan kondom, tetapi dia hanya terdiam, tampak ragu-ragu.

"Apa ya tandanya kalau orang itu kena AIDS?" katanya balas bertanya.

Kasus pengidap AIDS di seluruh dunia meningkat cepat. Catatan UNAIDS memperlihatkan kenaikan jumlah orang dengan HIV/AIDS dari 36,6 juta orang pada tahun 2002 menjadi hampir 40 juta orang pada tahun 2004. Dari jumlah tersebut, jumlah perempuan yang tertular meningkat dengan cepat, dan pengidapnya pun semakin banyak yang berusia muda.

Di Indonesia, diperkirakan jumlah perempuan yang terinfeksi HIV jumlahnya 21 persen dari total 5.701 kasus AIDS yang dilaporkan (Kompas, 24/11). Dalam sambutan peringatan Hari AIDS Internasional tanggal 1 Desember lalu Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Kofi Annan menyebutkan, hampir separuh dari jumlah orang dengan HIV/ AIDS di seluruh dunia adalah perempuan.

Penyebab meningkatnya jumlah perempuan yang terinfeksi HIV/AIDS sudah diakui UNAIDS, yaitu karena terjadinya ketidaksetaraan dan ketidakadilan jender yang menyebabkan perempuan tidak bisa memilih dengan siapa dia menikah; kapan, dengan siapa dan bagaimana dia melakukan hubungan seksual; dan tidak mampu meminta pasangannya menggunakan kondom.

Di antara penyebab relasi yang tidak seimbang itu adalah kemiskinan perempuan yang menyebabkan ketergantungan ekonomi kepada laki-laki sehingga melemahkan daya tawar perempuan.

Buta huruf, tidak adanya akses informasi, rendahnya pendidikan, sistem hukum yang tidak mendukung kemandirian ekonomi perempuan, menurut UNAIDS, menjadi penyebab rentannya perempuan tertular HIV/AIDS.

Annan juga menyebutkan soal ketidakadilan terhadap perempuan sebagai penyebab AIDS kini semakin berwajah perempuan. "Bahkan perkawinan tidak selalu menawarkan perlindungan bagi perempuan. Di sejumlah kawasan yang tinggi jumlah kasus AIDS-nya, angka kasus infeksi HIV pada perempuan yang menikah justru lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan yang tidak menikah yang aktif secara seksual," kata Annan.

Penyebabnya adalah relasi yang tidak seimbang antara suami dan istri menyebabkan perempuan tidak bisa menolak atau tidak bisa meminta suaminya menggunakan kondom ketika memaksakan hubungan seksual yang tidak aman. Pun dia tidak bisa menolak hubungan seksual meskipun dia mengetahui suaminya memiliki hubungan dengan sejumlah perempuan lain di luar perkawinannya.

Semua penyebab tersebut jelas menunjukkan bahwa untuk menghentikan penularan HIV/ AIDS tidak cukup hanya dengan menganjurkan orang tidak melakukan hubungan seks sama sekali, tidak berganti- ganti pasangan, atau tidak menggunakan jarum suntik bekas agar tidak terkena darah dari pengguna jarum suntik itu sebelumnya yang mungkin saja mengandung HIV. Hal paling mendasar yang harus dilakukan adalah mengubah relasi yang tidak imbang antara laki-laki dan perempuan.

Kemiskinan dan rendahnya pendidikan diakui menyebabkan perempuan rentan terinfeksi HIV/AIDS sehingga memberi kesempatan anak perempuan menyelesaikan sekolah seperti kesempatan yang diberikan kepada anak laki-laki tidak bisa menjadi sekadar slogan. Ketika sebuah keluarga miskin membutuhkan uang untuk menghidupi anggota keluarganya sehingga ibu juga harus keluar rumah mencari nafkah, maka anak perempuanlah yang pertama-tama akan diminta keluar dari sekolah karena dia harus menggantikan ibunya mengerjakan pekerjaan domestik.

Sejumlah peraturan perundangan di Indonesia tidak memberi kesempatan yang sama kepada perempuan di lingkup ekonomi. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam, misalnya, menetapkan bahwa kepala keluarga adalah suami/laki-laki dan istri/perempuan adalah ibu rumah tangga. Sebagai kepala rumah tangga, suami bertugas memberi nafkah, sementara istri bertugas mengurus rumah tangga.

Peraturan itu berdampak pada kesejahteraan perempuan, seperti yang dipaparkan dalam lokakarya yang diselenggarakan LBH Apik hari Kamis (2/12) di Jakarta mengenai "Advokasi Nafkah Bagi Istri dan Anak". Kasus-kasus yang dipaparkan LBH Apik menggambarkan, peraturan perundangan tersebut mengondisikan perempuan untuk tergantung secara ekonomi kepada suami.

"Siapa yang nanti memasangkan, istri atau suami?"

"Kalau begitu, lampu harus menyala dong, kan nanti enggak kelihatan?"

"Kenapa tidak boleh ada udara, udaranya mesti dikeluarkan?"

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terlontar spontan dari para ibu ketika dalam penutupan diskusi dengan Sekolah Perempuan Komunitas Ciliwung tersebut. Baby Jim menjelaskan kepada para perempuan istri itu tentang manfaat dan cara menggunakan kondom. Para ibu anggota komunitas tersebut diminta untuk meneruskan informasi yang telah mereka dapat kepada teman-teman, suami, anak, saudara, tetangga, dan orang di sekitar mereka untuk menghentikan penularan epidemi yang mematikan ini.

Meminta para suami menggunakan kondom demi menghargai hak istri untuk sehat, berikut membicarakan secara terbuka alat reproduksi dan kesehatan reproduksi perempuan oleh perempuan sendiri yang selama ini dianggap tabu dibicarakan merupakan langkah maju.

Memiliki informasi yang benar adalah alat untuk melindungi diri. Mendorong perempuan bisa dan berani menggunakan informasi itu untuk mendapatkan hak menjadi tugas bersama pemerintah dan masyarakat. (Ninuk MP)

sumber: Harian Kompas 6 Desember 2004

 

kembali ke atas

kembali ke index gender dan kekerasan terhadap perempuan

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan