|
Depan
> Gender & Kekerasan terhadap Perempuan
Laki-laki dan Kesehatan Reproduksi
Tahun-tahun belakangan ini, banyak program-program keluarga berencana dan kesehatan reproduksi tertarik kepada topik
laki-laki dan kesehatan reproduksi. Program-program tersebut melihat bahwa laki-laki mempunyai pengaruh yang penting
dalam kesehatan perempuan dan anak-anak maupun kebutuhan kesehatan
reproduksinya sendiri. Dalam beberapa situasi lain, laki-laki juga dapat berperan sebagai pengantar ibu ke pelayanan kesehatan
reproduksi.2
Program-program tersebut juga harus menemukan cara bagaimana mengatasi beberapa tantangan yang spesifik atau
penghalang yang berkaitan dengan laki-laki, termasuk:
1. Kurangnya informasi tentang perspektif laki-laki yang dapat digunakan untuk membantu merancang
program-program yang sesuai.
2. Ketidaknyamanan laki-laki; karena selama ini mereka tidak termasuk ke dalam
pelayanan, banyak diantara
mereka merasa bahwa pelayanan tersebut bukan tempatnya atau merasa tidak diperhatikan dalam klinik-klinik
kesehatan reproduksi.
3. Keterbatasan metode kontrasepsi yang ada untuk laki-laki.
4. Sikap negatif dari para pembuat kebijakan dan provider pelayanan terhadap
laki-laki.
5. Kebijakan-kebijakan yang tidak mendukung, seperti larangan terhadap iklan
kondom.
6. Sumber daya yang terbatas, seperti kurangnya staf laki-laki
terlatih, klinik untuk laki-laki, jam-jam yang sesuai
atau pelayanan yang berbeda untuk laki-laki.
Selain tantangan-tantangan yang telah disebutkan di atas, program juga harus menyertakan cara-cara yang bisa ber-kontribusi
secara positif terhadap kesehatan reproduksi laki-laki dan perempuan, serta perubahan normatif terhadap isu-isu
jender.
Peran Laki-laki terhadap Kesehatan Perempuan dan Anak-anak
Terdapat beberapa cara dimana laki-laki sebagai suami, pacar, ayah, saudara laki-laki dan teman dapat berpengaruh positif terhadap kesehatan
perempuan, diantaranya:
1. Menggunakan atau mendukung pemakaian alat kontrasepsi yang dapat mengkontrol jumlah dan waktu
kehamilan;
2. Mendorong perempuan untuk menda-patkan gizi yang seimbang selama kehamilan serta menyediakan
kebutuhan-kebutuhan fisik, keuangan dan dukungan emosional;
3. Mendukung perempuan selama masa kehamilan, persalinan dan periode setelah
persalinan;
4. Mendukung kebutuhan fisik dan emosional perempuan pasca aborsi;
5. Mencegah penyebaran penyakit menular seksual (PMS) kepada pasangan
seksualnya;
6. Mencegah segala bentuk kekerasan terhadap perempuan;
7. Berperan dalam menghentikan praktek-praktek kekerasan tradisional, seperti sunat
perempuan;
8. Berbagi hasil financial dengan perempuan, termasuk mendukung hak untuk menggunakan
barang-barang;
9. Mendukung partisipasi perempuan dalam organisasi kemasyarakatan, terma-suk akses terhadap kehidupan
sosial, politik dan kesempatan mendapatkan pendidikan serta dampaknya baik langsung maupun tidak langsung
terhadap kesehatan perempuan;
10. Mendukung hak anak perempuan dalam pelayanan kesehatan, pendidikan dan menghormati persamaan hak
dengan anak laki-laki.
Laki-laki yang terlibat banyak dalam masalah kesehatan keluarganya akan merasa lebih menikmati hidup sehat dan
mempunyai hubungan yang lebih akrab terhadap seluruh anggota keluarga (Greene,
1999)3
Pengaruh Laki-laki terhadap Kesehatan Perempuan
Keterlibatan laki-laki dalam kesehatan reproduksi diketahui memberikan dampak yang positif terhadap kesehatan perempuan dan
anak-anak, termasuk dalam
mendapatkan pelayanan kesehatan ibu, pencegahan dan membatasi penularan infeksi saluran
reproduksi/AIDS, dan efektifitas penggunaan alat kontrasepsi yang
berkelanjutan. Sebuah penelitian di Mesir menunjukkan bahwa suami yang mendapatkan konseling pada saat istrinya melakukan
aborsi, akan lebih mendukung istrinya pada masa pemulihan (Abdel Tawab et al., 1997). Penelitian lain di India tentang pemberian pendidikan antenatal kepada calon ayah menunjukkan peningkatan yang signifikan terhadap frekuensi kunjungan ke klinik antenatal dan penurunan kematian perinatal terhadap perempuan yang suaminya mendapatkan pendidikan antenatal
(Bhalerao et al., 1984).
Beberapa studi menemukan bahwa keterlibatan laki-laki dapat meningkatkan kepuasan
klien, pemakaian kontrasepsi yang efektif, dan pemakaian kontrasepsi yang
berkelanjutan. Hasil penelitian secara random menemukan bahwa penggunaan kontrasepsi meningkat secara signifikan pada perempuan yang suaminya ikut dalam konseling kontrasepsi dibandingkan dengan perempuan yang suaminya tidak ikut terlibat dalam konseling
(Fisek et al., 1978; Terefe et al.,
1993).4
Masalah kesehatan reproduksi laki-laki
Sebagaimana perempuan, laki-laki mempunyai masalah kesehatan reproduksi yang dapat berubah menurut siklus
kehidupan. Walaupun program-program kesehatan telah mulai menjangkau laki-laki sebagai mitra dalam menjamin kesehatan reproduksi yang
baik, program kesehatan perlu memahami perkembangan dari kebutuhan ini sebagai faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku seksual
laki-laki, tujuan dan persepsi
mereka.3
Anak laki-laki di pengaruhi oleh budaya dan praktek-praktek medis yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi segera setelah mereka
lahir. Contohnya, di beberapa daerah, sunat pada bayi laki-laki merupakan suatu kebiasaan
(di beberapa daerah sunat dilakukan ketika anak laki-laki mencapai usia remaja atau tidak dilakukan sama
sekali); penelitian yang dilakukan pada negara berkembang menunjukkan bahwa laki-laki yang di sunat menurunkan risiko terkena infeksi HIV sampai 50% (Best,
1998).3
Ketika anak laki-laki mencapai masa pubertas, mereka mulai merasakan perubahan
fisik, termasuk perubahan suara,
munculnya alat kelamin sekunder, serta meningkatnya perkembangan jaringan
otot. Perubahan-perubahan fisik ini seringkali diikuti dengan perubahan emosional dan
perilaku, termasuk perkembangan perasaan seksual, belajar tentang hal-hal
seksual, dan pertanyaan-pertanyaan seputar isu seks, seperti ukuran penis, orientasi seksual dan
masturbasi. Pengalaman dan respon dari anak laki-laki terhadap perubahan ini membentuk tingkat yang lebih tinggi terhadap peran-peran jender dan antisipasi terhadap
budayanya. Anak laki-laki juga rentan terhadap penganiayaan
seksual.3
Pada saat remaja, laki-laki yang menjadi seksual aktif, mereka memberikan perhatian yang hampir sama dengan remaja
perempuan, yaitu masalah-masalah seputar seksualitas, hubungan intim, norma-norma
sebaya, dan pencegahan kehamilan tidak diinginkan serta infeksi saluran
reproduksi. Isu-isu ini dapat mempengaruhi laki-laki dan perempuan pada saat dan tingkat yang berbeda dalam kehidupan
reproduksinya. Pencegahan dan menyikapi infeksi saluran reproduksi, termasuk HIV/AIDS, harus menjadi salah satu kunci dari masalah kesehatan pada laki-laki yang telah aktif
seksual.3 (disusun dan diterjemahkan oleh Mercy
Lucianawaty)
Daftar Pustaka:
1. The Commonwealth Medical Association. Comparison of Selected Women’s Health Issues in the ICPD Programme of Action and Beijing Platform for Action. British Medical Association: 5
2. http://www.rho.org/html/menrh.htm, 4 September 2000
3.http://www.rho.org/html/menrh_ overview.htm, 4 September 2000
4.http://www.rho.org/html/menrh_ keyissues.htm, 4 September 2000
kembali ke atas
kembali ke index
gender dan kekerasan terhadap perempuan
|