OZZY

Fokus:

X







Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Gender & Kekerasan terhadap Perempuan 

Laki-laki dan Kesehatan Reproduksi

Tahun-tahun belakangan ini, banyak program-program keluarga berencana dan kesehatan reproduksi tertarik kepada topik laki-laki dan kesehatan reproduksi. Program-program tersebut melihat bahwa laki-laki mempunyai pengaruh yang penting dalam kesehatan perempuan dan anak-anak maupun kebutuhan kesehatan reproduksinya sendiri. Dalam beberapa situasi lain, laki-laki juga dapat berperan sebagai pengantar ibu ke pelayanan kesehatan reproduksi.2

Program-program tersebut juga harus menemukan cara bagaimana mengatasi beberapa tantangan yang spesifik atau penghalang yang berkaitan dengan laki-laki, termasuk:

1. Kurangnya informasi tentang perspektif laki-laki yang dapat digunakan untuk membantu merancang program-program yang sesuai.

2. Ketidaknyamanan laki-laki; karena selama ini mereka tidak termasuk ke dalam pelayanan, banyak diantara mereka merasa bahwa pelayanan tersebut bukan tempatnya atau merasa tidak diperhatikan dalam klinik-klinik kesehatan reproduksi.

3. Keterbatasan metode kontrasepsi yang ada untuk laki-laki.

4. Sikap negatif dari para pembuat kebijakan dan provider pelayanan terhadap laki-laki.

5. Kebijakan-kebijakan yang tidak mendukung, seperti larangan terhadap iklan kondom.

6. Sumber daya yang terbatas, seperti kurangnya staf laki-laki terlatih, klinik untuk laki-laki, jam-jam yang sesuai atau pelayanan yang berbeda untuk laki-laki.

Selain tantangan-tantangan yang telah disebutkan di atas, program juga harus menyertakan cara-cara yang bisa ber-kontribusi secara positif terhadap kesehatan reproduksi laki-laki dan perempuan, serta perubahan normatif terhadap isu-isu jender.

Peran Laki-laki terhadap Kesehatan Perempuan dan Anak-anak

Terdapat beberapa cara dimana laki-laki sebagai suami, pacar, ayah, saudara laki-laki dan teman dapat berpengaruh positif terhadap kesehatan perempuan, diantaranya:

1. Menggunakan atau mendukung pemakaian alat kontrasepsi yang dapat mengkontrol jumlah dan waktu kehamilan;

2. Mendorong perempuan untuk menda-patkan gizi yang seimbang selama kehamilan serta menyediakan kebutuhan-kebutuhan fisik, keuangan dan dukungan emosional;

3. Mendukung perempuan selama masa kehamilan, persalinan dan periode setelah persalinan;

4. Mendukung kebutuhan fisik dan emosional perempuan pasca aborsi;

5. Mencegah penyebaran penyakit menular seksual (PMS) kepada pasangan seksualnya;

6. Mencegah segala bentuk kekerasan terhadap perempuan;

7. Berperan dalam menghentikan praktek-praktek kekerasan tradisional, seperti sunat perempuan;

8. Berbagi hasil financial dengan perempuan, termasuk mendukung hak untuk menggunakan barang-barang;

9. Mendukung partisipasi perempuan dalam organisasi kemasyarakatan, terma-suk akses terhadap kehidupan sosial, politik dan kesempatan mendapatkan pendidikan serta dampaknya baik langsung maupun tidak langsung terhadap kesehatan perempuan;

10. Mendukung hak anak perempuan dalam pelayanan kesehatan, pendidikan dan menghormati persamaan hak dengan anak laki-laki.

Laki-laki yang terlibat banyak dalam masalah kesehatan keluarganya akan merasa lebih menikmati hidup sehat dan mempunyai hubungan yang lebih akrab terhadap seluruh anggota keluarga (Greene, 1999)3 


Pengaruh Laki-laki terhadap Kesehatan Perempuan

Keterlibatan laki-laki dalam kesehatan reproduksi diketahui memberikan dampak yang positif terhadap kesehatan perempuan dan anak-anak, termasuk dalam mendapatkan pelayanan kesehatan ibu, pencegahan dan membatasi penularan infeksi saluran reproduksi/AIDS, dan efektifitas penggunaan alat kontrasepsi yang berkelanjutan. Sebuah penelitian di Mesir menunjukkan bahwa suami yang mendapatkan konseling pada saat istrinya melakukan aborsi, akan lebih mendukung istrinya pada masa pemulihan (Abdel Tawab et al., 1997). Penelitian lain di India tentang pemberian pendidikan antenatal kepada calon ayah menunjukkan peningkatan yang signifikan terhadap frekuensi kunjungan ke klinik antenatal dan penurunan kematian perinatal terhadap perempuan yang suaminya mendapatkan pendidikan antenatal (Bhalerao et al., 1984). 

Beberapa studi menemukan bahwa keterlibatan laki-laki dapat meningkatkan kepuasan klien, pemakaian kontrasepsi yang efektif, dan pemakaian kontrasepsi yang berkelanjutan. Hasil penelitian secara random menemukan bahwa penggunaan kontrasepsi meningkat secara signifikan pada perempuan yang suaminya ikut dalam konseling kontrasepsi dibandingkan dengan perempuan yang suaminya tidak ikut terlibat dalam konseling (Fisek et al., 1978; Terefe et al., 1993).4


Masalah kesehatan reproduksi laki-laki

Sebagaimana perempuan, laki-laki mempunyai masalah kesehatan reproduksi yang dapat berubah menurut siklus kehidupan. Walaupun program-program kesehatan telah mulai menjangkau laki-laki sebagai mitra dalam menjamin kesehatan reproduksi yang baik, program kesehatan perlu memahami perkembangan dari kebutuhan ini sebagai faktor-faktor lain yang mempengaruhi perilaku seksual laki-laki, tujuan dan persepsi mereka.3

Anak laki-laki di pengaruhi oleh budaya dan praktek-praktek medis yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi segera setelah mereka lahir. Contohnya, di beberapa daerah, sunat pada bayi laki-laki merupakan suatu kebiasaan (di beberapa daerah sunat dilakukan ketika anak laki-laki mencapai usia remaja atau tidak dilakukan sama sekali); penelitian yang dilakukan pada negara berkembang menunjukkan bahwa laki-laki yang di sunat menurunkan risiko terkena infeksi HIV sampai 50% (Best, 1998).3

Ketika anak laki-laki mencapai masa pubertas, mereka mulai merasakan perubahan fisik, termasuk perubahan suara,
munculnya alat kelamin sekunder, serta meningkatnya perkembangan jaringan otot. Perubahan-perubahan fisik ini seringkali diikuti dengan perubahan emosional dan perilaku, termasuk perkembangan perasaan seksual, belajar tentang hal-hal seksual, dan pertanyaan-pertanyaan seputar isu seks, seperti ukuran penis, orientasi seksual dan masturbasi. Pengalaman dan respon dari anak laki-laki terhadap perubahan ini membentuk tingkat yang lebih tinggi terhadap peran-peran jender dan antisipasi terhadap budayanya. Anak laki-laki juga rentan terhadap penganiayaan seksual.3

Pada saat remaja, laki-laki yang menjadi seksual aktif, mereka memberikan perhatian yang hampir sama dengan remaja perempuan, yaitu masalah-masalah seputar seksualitas, hubungan intim, norma-norma sebaya, dan pencegahan kehamilan tidak diinginkan serta infeksi saluran reproduksi. Isu-isu ini dapat mempengaruhi laki-laki dan perempuan pada saat dan tingkat yang berbeda dalam kehidupan reproduksinya. Pencegahan dan menyikapi infeksi saluran reproduksi, termasuk HIV/AIDS, harus menjadi salah satu kunci dari masalah kesehatan pada laki-laki yang telah aktif seksual.3 (disusun dan diterjemahkan oleh Mercy Lucianawaty)


Daftar Pustaka:

1. The Commonwealth Medical Association. Comparison of Selected Women’s Health Issues in the ICPD Programme of Action and Beijing Platform for Action. British Medical Association: 5

2. http://www.rho.org/html/menrh.htm, 4 September 2000

3.http://www.rho.org/html/menrh_ overview.htm, 4 September 2000

4.http://www.rho.org/html/menrh_ keyissues.htm, 4 September 2000

 

kembali ke atas

kembali ke index gender dan kekerasan terhadap perempuan

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan