OZZY

Fokus:

X







Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Gender & Kekerasan terhadap Perempuan 

Fakta Mengenai Aborsi

Dunia

·     WHO memperkirakan di seluruh dunia setiap tahun terjadi 20 juta kejadian aborsi yang tidak aman (unsafe abortion) (WHO, 1998).  Sekitar 13% dari jumlah total kematian ibu di seluruh dunia diakibatkan oleh komplikasi aborsi yang tidak aman.  95% (19 dari setiap 20 tindak aborsi tidak aman) di antaranya terjadi di negara-negara berkembang (Safe Motherhood 200; 28(1)).

 

Tabel 1.  Aborsi yang Tidak Aman: Perkiraan per Wilayah, per tahun

Wilayah

jumlah aborsi yang tidak aman

jumlah kematian akibat aborsi yang tidak aman

% kematian ibu akibat aborsi yang tidak aman

 

 

 

 

Dunia

20.000.000

78.000

13

 

 

 

 

Negara Berkembang

19.000.000

77.500

13

 

 

 

 

Asia*

9.900.000

38.500

12

 

 

 

 

Asia Tenggara

2.800.000

8.100

15

 

 

 

 

Negara maju

900.000

500

13

Catatan:
*  Tidak termasuk Jepang, Australia dan Selandia Baru
sumber: WHO, 1998.

Indonesia

·     Estimasi nasional menyatakan setiap tahun terjadi 2 juta kasus aborsi di Indonesia.  Ini artinya terdapat 43 kasus aborsi per 100 kelahiran hidup (menurut hasil sensus penduduk tahun 2000, terdapat 53.783.717 perempuan usia 15-49 tahun)  atau 37 kasus aborsi per tahun per 1.000 perempuan usia 15-49 tahun (berdasarkan Crude Birth Rate (CBR) sebesar 23 per 1.000 kelahiran hidup) (Utomo, 2001).

·     Sebuah studi yang dilakukan di beberapa fasilitas kesehatan di Indonesia mengestimasikan 25-60% kejadian aborsi adalah aborsi disengaja (induced abortion) (WHO, 1998).

·     Sebuah penelitian yang dilakukan di 10 kota besar dan 6 kabupaten di Indonesia ditemukan bahwa insiden aborsi lebih tinggi di perkotaan dibandingkan di pedesaan.  Setiap tahun lebih dari 2 juta kasus aborsi terjadi, lebih dari 1 juta kasus (53%) terjadi di perkotaan, di mana angka ini hanya mewakili 42% dari total keseluruhan.  Hal ini dimungkinkan adanya kasus-kasus yang tidak terlaporkan karena sebaran penduduk lebih luas dan kurangnya akses terhadap pelayanan aborsi.  Studi ini juga menemukan pola yang berbeda pada provider aborsi.  Di daerah perkotaan, 73% kasus-kasus aborsi dilakukan oleh ahli kebidanan, bidan, rumah bersalin dan klinik keluarga berencana (KB), sedangkan dukun hanya menangani 15% kasus aborsi.  Di daerah pedesaan, dukun mempunyai peran yang dominan dalam memberikan pelayanan aborsi, kasus yang ditangani mencapai 84%.  Klien terbanyak berada pada kisaran usia 20-29 tahun baik di perkotaan (45,4%) maupun di pedesaan (51,5%).  Dilihat dari biaya yang dikeluarkan untuk melakukan aborsi berbeda antara satu daerah dengan yang lain, ditemukan bahwa biaya tertinggi berkisar Rp350.000,- hingga 2 juta rupiah yang dilakukan di praktik dokter swasta.  Di rumah sakit biaya yang dikeluarkan berkisar antara Rp200.000 hingga 1 juta rupiah, sedangkan pada bidan berkisar antara Rp8.000 hingga Rp750.000 (Utomo, 2001).

·     Sebuah penelitian yang menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 1997  pada 1.563 perempuan usia subur dengan status menikah sebagai sampelnya, ditemukan bahwa kehamilan yang tidak diinginkan paling banyak terjadi pada kelompok usia 15-19 tahun (50,9%).  Sebanyak 11,9% di antaranya berupaya mengakhiri kehamilannya, baik dengan cara tradisional maupun medis.  Upaya pengguguran dengan melakukan sendiri/famili 119 orang (ketidakberhasilan 97,5%), dukun 20 orang (ketidakberhasilan 95%), bidan 25 orang (ketidakberhasilan 88%), dan bantuan dokter sebanyak 23 orang.  Cara pengguguran yang banyak digunakan adalah minum jamu atau ramuan (49,4%), pil (27,5%), pijat (8,9%), suntik (7,9%), sedot (3,5%) dan kuret (2,8%).  Temuan ini sama polanya dengan studi sebelumnya yang dilakukan di Klinik Raden Saleh Jakarta tahun 1988-1991, di mana 61% responden melakukan upaya dengan minum jamu sebelum datang meminta pertolongan induksi haid.  Proporsi kegagalan cara pengguguran berkisar antara 86-98%, kecuali upaya yang dilakukan dengan cara sedot dan kuret (tidak ada kegagalan) (Pradono, 2001).

·     Sebuah penelitian yang melihat karakteristik perempuan menikah yang mencari pelayanan aborsi di 3 klinik pada tahun 1996-1997 menunjukkan usia klien saat melakukan abortus terbesar adalah 31-35 tahun (29,7%), 21-25 tahun (19,4%) dan 17-20 tahun (6%).  Ditemukan pada salah satu klinik, abortus dilakukan pada usia kehamilan kurang dari 7 minggu (52%), 8-14 minggu sebanyak 46% dan 2% pada usia kehamilan 15-25 minggu.  Permintaan abortus pada usia kehamilan diatas 15 minggu sebagian besar dilakukan pada perempuan usia 21-25 tahun (34%).  Data mengenai jenis kontrasepsi yang dipakai sebelum dan sesudah abortus menunjukkan peningkatan jumlah pemakaian IUD dari 55% menjadi 68,5%, begitu juga dengan suntik dari 2,6% menjadi 8,0% (Herdayati, 1998 dalam Jender &  Kesehatan, Januari-Februari 2001).

·     Jajak pendapat yang dilakukan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia bekerja sama dengan Mitra Perempuan, Ford Foundation, Fenomena, Universitas Atmajaya dan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia menunjukkan 83,5% responden laki-laki dan perempuan setuju jika keputusan secara medis dan psikologis mengenai aborsi ditentukan oleh dokter melalui proses konseling dengan pasien (n=600).  Dari mereka yang setuju sebesar 85,11% adalah perempuan menikah (Jender & Kesehatan, 2001).  

 

Referensi:

Berita Berkala Jender & Kesehatan.  Aborsi: Sebuah Dilema di Indonesia.  Edisi khusus Januari-Februari 2001.  Jakarta: Pusat Komunikasi Kesehatan Berperspektif Jender, 2001.

Pradono, Julianty et al.  Pengguguran yang Tidak Aman di Indonesia, SDKI 1997.  Jurnal Epidemiologi Indonesia.  Volume 5 Edisi I-  2001. hal. 14-19.

Utomo, Budi et al.  Incidence and Social-Psychological Aspects of Abortion in Indonesia: A Community-Based Survey in 10 Major Cities and 6 Districts, Year 2000.  Jakarta: Center for Health Research University of Indonesia, 2001.

World Health Organization.  Unsafe Abortion: Global and Regional Estimates of Incidence of and Mortality due to Unsafe Abortion with a Listing of Available Country Data.  Third Edition.  Geneva: Division of Reproductive Health (Technical Support) WHO, 1998.

Safe Motherhood Newsletter.  Unsafe Abortion – A Worldwide Problem.  Issue 28, 2000 (1).

 

Artikel yang berhubungan:

Situs yang Berhubungan:

 

kembali ke atas

kembali ke index gender dan kekerasan terhadap perempuan

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan