Oleh: Wiwik Sushartami
Budaya media (media culture), seperti dituturkan
Douglas Kellner dalam bukunya Media Culture: Cultural
Studies, Identity and Politics between the Modern and
the Postmodern (1996), menunjuk pada suatu keadaan di
mana tampilan audio dan visual atau tontonan-tontonan
telah membantu merangkai kehidupan sehari-hari,
mendominasi proyek-proyek hiburan, membentuk opini
politik dan perilaku sosial, bahkan memberikan suplai
materi untuk membentuk identitas seseorang.
Media cetak, radio, televisi, film, Internet, dan
bentuk-bentuk akhir teknologi media lainnya telah
menyediakan definisi-definisi untuk menjadi laki-laki
atau perempuan, membedakan status-status seseorang
berdasarkan kelas, ras, maupun seks. Secara tegas
Kellner juga menyebutkan bahwa budaya media adalah
adalah "area kontestasi di mana kelompok-kelompok
sosial yang kuat dan ideologi politik yang saling
bersaing berjuang untuk menjadi yang dominan, sedangkan
masyarakat bisa ikut merasakan perjuangan identitas ini
melalui imaji-imaji, wacana, mitologi, dan tontonan yang
diketengahkan oleh media".
Tetapi, Kellner juga menambahkan bahwa teori analisis
media yang hanya mengedepankan kekuatan media untuk
mempengaruhi atau membentuk opini publik secara total
sudah ketinggalan. Teori media seperti ini menisbikan
kekuatan masyarakat untuk membuat interpretasi sendiri
mengenai tampilan yang dilihatnya. Dalam interaksinya
dengan media masyarakat tentu mempunyai kemampuan untuk
memaknai apa yang dilihat dan didengarnya sesuai dengan
pemahaman dan pengalamannya sendiri. Dengan kata lain,
pemaknaan terhadap media dalam budaya media ini akan
selalu menjadi proses interaksi dan interpretasi yang
panjang dan tiada akhirnya. Analisis media yang kritis,
masih menurut Kellner, tidak akan meninggalkan analisis
budaya masyarakat yang bersangkutan.
Dalam interaksinya yang dinamis dengan masyarakat,
budaya media tidak bisa dilihat melulu sebagai suatu
alat perpanjangan tangan ideologi yang dominan, tetapi
juga tidak boleh secara naif diartikan sebagai hiburan
semata. Hubungan masyarakat dan media dalam suatu budaya
media adalah suatu "artefak kompleks yang
mengandung diskursus sosial dan politis" di mana
analisis dan interpretasinya membutuhkan pemahaman dan
kritik atas "ekonomi politik, relasi sosial, dan
suasana politik di mana teks-teks tersebut diproduksi,
disebarkan, dan diterima".
Teori Kellner sangat menarik jika diterapkan dalam
situasi dan kondisi budaya media di Indonesia pada masa
setelah Orde Baru. Walaupun bukunya memfokuskan
media-media di Amerika, tidak berarti teorinya tidak
bisa diterapkan untuk melihat budaya media di Indonesia.
Satu analogi mudah adalah dengan melihat banyaknya
produk-produk budaya media dalam media kita seperti
film, musik, kuis, maupun liputan berita, baik yang
diimpor langsung maupun diadaptasi dari media yang
berasal dari Amerika.
Di samping itu, kebebasan pers dan ledakan
produk-produk media di Indonesia dewasa ini adalah juga
salah satu ciri yang menandai kemiripan budaya media di
antara kedua negara.
Selain ditandai dengan bermunculannya berbagai macam
media dan tuntutan akan pers yang bebas, jatuhnya
pemerintahan Orde Baru pada tahun 1998 juga telah
menimbulkan ambivalensi mengenai identitas jender di
Indonesia. Jika pada masa kekuasaannya rezim ini telah
mengkonstruksi sistem yang dominan mengenai identitas
dan perilaku jender, kejatuhannya membuka jalan pada
proses yang dinamis untuk membuat pemaknaan dan
negosiasi ulang mengenai identitas jender. Dalam wacana
publik yang relatif kosong ditambah dengan nuansa
kebebasan, berbagai ideologi jender mulai dikemukakan
melalui berbagai wadah organisasi maupun individu dengan
menggunakan media yang bervariasi. Yang perlu menjadi
catatan di sini adalah baik perjuangan perempuan maupun
perkembangan media adalah bagian yang tidak bisa
dilepaskan dari dinamisasi perjuangan identitas
masyarakat Indonesia pada masa pascapemerintahan yang
otoriter.
Situs dinamis
Kombinasi antara dimensi-dimensi sosial, politik,
ekonomi, dan religius telah menjadi faktor penting dalam
"membayangkan" kembali sosok perempuan
Indonesia pasca-Orde Baru. Kita dapat melihat proses ini
dalam representasi dan penggunaan media. Kita sekarang
serasa berada dalam era media simulasi di mana identitas
jender ditampilkan dalam berbagai sosok dan peran
perempuan yang sangat bervariasi dan terus berubah,
kadang bertentangan satu sama lain, kadang komplementer.
Misalnya, dalam sehari kita melihat gambar Inul
dengan baju ketatnya dari bahan lycra, tapi juga gambar
teman-teman aktivis Muslim dengan kerudungnya sedang
memprotes pornografi. Gambar-gambar ini tentu saja tidak
tanpa makna, tetapi pemaknaannya membutuhkan media.
Televisi, koran, majalah, dan situs Internet membantu
memberinya makna dan merangkainya menjadi satu peristiwa
yang bisa ikut dialami oleh semua yang membaca atau
melihatnya.
Dilihat dalam konteks ini, media tidak hanya dilihat
sebagai alat untuk menyebarkan informasi, tetapi lebih
penting lagi sebagai satu situs di mana imajinasi sosial
dikonstruksi dan direkonstruksi, diproduksi dan
direproduksi. Lebih lagi, dengan memahami representasi
dan penggunaan media, kita juga bisa mengemukakan
partisipasi perempuan yang aktif dalam kehidupan
kultural dan politik di Indonesia.
Lebih jauh lagi media juga bisa dilihat sebagai
"situs dinamis untuk perjuangan representasi dan
ruang kompleks di mana subyektivitas dikonstruksi dan
identitas dikontestasi", seperti dikatakan oleh
Debra Spitulnik dalam artikelnya "Anthropology and
Mass Media" (1993).
Bervariasinya peran sosial dan budaya perempuan
seperti digambarkan di koran-koran, majalah, tabloid,
program televisi, dan Internet menciptakan pandangan
publik yang lebih luas lagi dan oleh karena itu, menjadi
prakondisi atas tantangan, perlawanan dan negosiasi
terhadap wacana jender monolitis yang selama
pemerintahan Orde Baru disponsori oleh negara. Hal ini
juga menuntut pemaknaan ulang mengenai jender sebagai
suatu variabel cair, yang berubah dan bergeser dalam
konteks yang berbeda dan pada waktu yang berbeda, dan
tidak sebagai atribut mati dalam setiap orang.
Dengan kata lain, jender adalah performans, suatu
olah sikap yang bisa berubah sesuai waktu dan konteks,
seperti dikatakan Judith Butler, seorang filsuf feminist
dari Perancis, dalam bukunya Gender Trouble (1990).
Namun, Butler juga memberikan catatan bahwa produksi
orang yang berjender tidak bisa dipisahkan dari
interaksi antara modalitas-modalitas "ras, kelas,
suku, seksual, dan regional" dalam masyarakat yang
bersangkutan.
Area politisasi simbol
Interaksi antara perempuan dan media merupakan
hubungan dinamis, "memanfaatkan dan dimanfaatkan",
tanpa harus jelas mana yang memanfaatkan dan
dimanfaatkan. Dalam suatu tatanan sosial dan politik
yang sedang berubah penilaian terhadap budaya media
memerlukan konteks khusus. Nilai penting dari masa
reformasi ini adalah bahwa budaya media saat ini sedikit
banyak dipengaruhi oleh keinginan kolektif yang sifatnya
idealis, yaitu untuk menciptakan suatu tatanan
masyarakat yang lebih demokratis, walaupun pada tataran
aplikatif masih dijumpai berbagai penyimpangan.
Di sinilah titik paling penting untuk perempuan
dengan memanfaatkan media yang berperspektif keadilan
ini untuk menempatkan posisinya dari yang semula
kelompok terpinggirkan menuju ke kelompok yang memiliki
suara. Sesuai dengan keberadaan media dengan berbagai
macam latar belakang, idealisme, dan struktur
organisasinya masing-masing, bisa diharapkan bahwa
identitas jender yang mungkin bisa diakomodir oleh
media-media ini pun juga menjadi beragam dan kaya sekali.
Kembali ke Kellner, budaya media bisa menjadi
penghambat demokrasi karena menampilkan rasisme,
seksisme, maupun konflik antarkelas, tetapi juga bisa
menjadi kawan bagi usaha-usaha pembebasan dan
demokratisasi yang menyediakan wadah perjuangan bagi
kaum yang tertindas atau yang berkonflik. Kemampuan
media untuk menyediakan area dalam proses politisasi
simbol sebagai wujud baru aksi protes perempuan
memberikan sumbangan penting bagi pergerakan perempuan
dalam era pasca-Orde Baru. Jika media bisa dianggap
sebagai simbol ruang publik yang termediasikan dalam
bahasa, maka ruang publik yang ada di Indonesia setelah
bermunculannya berbagai macam media menjadi terbuka dan
plural. Dalam ruang publik yang semakin terbuka dan
plural inilah identitas jender juga bisa dianggap
semakin beragam dan cair.
Jika dibandingkan dengan arah perjuangan perempuan di
bawah Orde Baru yang terlihat relatif searah, setelah
kejatuhannya arah ini pun bergeser ke arah pergerakan
alternatif yang plural dan tersebar. Dari berbagai
kemungkinan untuk gerakan alternatif, aksi simbolik
menjadi salah satu yang penting dan sering digunakan.
Pertunjukan atau penggunaan bahasa-bahasa yang
bermuatan protes adalah simbol-simbol perjuangan baru
dalam gerakan perempuan di Indonesia, yang secara
praktis juga merombak kebiasaan perlawanan politik
perempuan. Aksi-aksi protes seperti yang digambarkan
dengan pertunjukan Vagina Monolog dan Perempuan di Titik
Nol, koreografi tari untuk mereinterpretasi sosok
Kartini seperti yang digelar di Keraton Surakarta untuk
memperingati Hari Kartini 2002, atau film baru mengenai
Marsinah.
Walaupun tampaknya tidak memiliki arah perjuangan
yang kohesif dan sangat tersebar, justru menunjukkan
potensi untuk mendobrak arah pergerakan perempuan yang
selama masa pemerintahan Orde Baru sangat terkonsentrasi
pada satu arah perlawanan terhadap negara. Peran media
di sini juga sangat penting karena turut serta
menyebarkan wacana baru perjuangan identitas perempuan
yang plural.
Semakin mengemukanya permainan politik dengan
menggunakan kata-kata, simbol, atau bahkan pertunjukan
ini didukung peran media dalam sistem masyarakat
kapitalis; di mana representasi memainkan peran penting.
Tetapi jika representasi hanya berhenti pada wilayah
representasi saja, maka ia hanya menjadi tempelan dari
usaha-usaha untuk transformasi kehidupan sehari-hari,
seperti misalnya maraknya berita tentang isu korupsi,
kebangkitan masyarakat sipil, gerakan perempuan, dan
sebagainya.
Ini bisa dilihat dalam budaya politik Orde Baru yang
mengontrol media melalui "kepemilikan, pembredelan,
dan sensor" sehingga berita-berita yang berjudul
politik bisa jadi tidak serius sama sekali. Tetapi,
tentu saja media tidak semuanya sama dan tidak hanya
bertujuan untuk menjinakkan masyarakat. Terkadang media
bahkan akhirnya memproduksi imaji-imaji yang muncul di
luar kontrol penguasa, baik pemilik modal maupun negara.
Judith Butler, dalam suatu wawancara di Radical
Philosophy 67 yang ringkasannya bisa dilihat di
www.theory.org.uk/butint1.htm, mengatakan bahwa "efek
yang tidak terprediksi" dari proliferasi imaji di
media bisa muncul bahkan dari media yang paling
konservatif sekalipun dengan tanpa disadari terjadinya.
Oleh karena politik representasi mempunyai peran
penting dalam aksi kelompok, maka salah satu taktik
penting adalah dengan menguasi media yang dominan, atau
menjadikan media pinggiran menjadi media mainstream.
Untuk berjuang dengan efektif dalam arena politik
representasi membutuhkan berbagai situs dan media, yang
mana tidak selalu harus saling bersetujuan. Justru dalam
berbagai kontroversi dan perbedaan itulah maka semakin
banyak suara dapat terakomodasi.
Ruang aliansi, kontestasi identitas
Dengan memperhatikan catatan di atas, kita bisa
melihat sisi positif dari budaya media. Media tidak
selalu menjadikan perempuan terpinggirkan, tapi mungkin
malah menyediakan ruang aliansi antarperempuan dari
berbagai latar belakang kelas, suku, maupun agama,
bahkan melintasi batas geografis dan ideologi antar
negara.
Justru dengan melihat perkembangan media terakhir ini,
yang bergerak dengan cepat dan mudah menembus
batas-batas tersebut, kita bisa memahami dengan lebih
baik mengapa isu-isu seperti serangan Amerika terhadap
Afganistan juga memberi inspirasi bagi kelompok
perempuan di Indonesia untuk turun ke jalan dan
berdemonstrasi; mengapa pertunjukan Vagina Monolog yang
mengikuti sukses pertunjukan serupa di Madison Square
mendapatkan tanggapan yang luas. Media sekarang ini
adalah media global yang memungkinkan perempuan untuk
membuat aliansi dengan sesama perempuan dari belahan
dunia mana pun.
Semakin kendornya kontrol pemerintah terhadap media
juga berpengaruh pada semakin berkurangnya fokus atensi
media hanya pada wacana pusat. Dalam wacana
desentralisasi, semakin banyak berita mengenai perempuan
lokal, atau yang dulunya terpinggirkan, yang bisa
ditemui di media massa (cetak dan eletronik). Misalnya,
berita-berita mengenai perempuan di Bali, Aceh, Papua,
atau etnis Cina.
Tidak hanya itu. Aksi-aksi perempuan Indonesia juga
mulai nampak mengedepankan "perhatian lokal dan
juga ide-ide internasional mulai dari revivalisme agama
sampai reform terhadap feminisme dan hak asasi manusia"
melalui bentuk-bentuk ekspresi yang lebih bervariasi
seperti ditulis oleh Susan Blackburn dalam artikelnya
Women and the Nation (2001).
Pertanyaan mengenai "pembagian kekuasaan"
(power sharing) menjadi relevan karena kekuasaan, dalam
karakternya yang bersifat terpecah, terbagi-bagi,
diperebutkan, dan dipertahankan bisa juga terjadi dalam
atau melalui produksi dan sirkulasi media yang sangat
kompleks.
Jika proyek "Indonesia Baru", dengan
menunjuk demokrasi sebagai poin penting dalam
aspirasinya, ingin diwujudkan, hal ini membutuhkan lebih
dulu suatu keadaan di mana kekuasaan menjadi satu lahan
kosong, seperti ditulis oleh Jodi Dean dalam bukunya
Solidarity of Strangers: Feminism after Identity
Politics (1996).
Budaya media lahan kosong inilah yang kemudian diisi
dengan berbagai aktivitas oleh berbagai subyek.
Kontestasi identitas antara subyek-subyek berjender
perempuan dalam budaya media kontemporer ini menunjukkan
pada kita sebuah "panggung di mana konflik
dipertontonkan ke semua orang supaya dilihat", di
mana perbedaan saling dimengerti dan dilegitimasi
sebagai basis sebuah konstitusi politik.
Bentuk-bentuk representasi media dan penggunaan media
yang sangat bervariasi oleh perempuan di Indonesia di
masa reformasi ini dengan demikian telah menjadi
panggung pertunjukan konflik yang paling glamor, di mana
identitas jender yang beragam ditunjukkan dan dirayakan
sebagai simbol kehidupan yang lebih demokratis. Semoga!
Wiwik Sushartami Pemerhati Masalah Perempuan dan
Jender, Sedang Belajar di Belanda