|
Depan
> Gender & Kekerasan terhadap Perempuan
Ketidakadilan
Jender menimbulkan Halangan yang Besar terhadap
Pembangunan
Meskipun
langkah kearah keadilan jender sudah dimulai sejak
pertengahan tahun 1980-an, banyak perempuan masih hidup
dalam kemiskinan dibanding dengan laki-laki, dan
kesenjangan antara keduanya semakin lebar selama
beberapa tahun terakhir ini. Hal ini disebutkan dalam
laporan The State of World Population 2002 yang
dikeluarkan pada hari ini.
Dikatakan
dalam laporan tersebut bahwa perbedaan antara laki-laki
dan perempuan terus meningkat seiring dengan
ketidakadilan jender dalam setiap langkah kehidupan;
masyarakat, kemiskinan dan kemungkinan-kemungkinan:
Menjadikan pembangunan berdampak bagi yang miskin.
Termasuk di dalamnya akses ke institusi-institusi sosial
dan hukum, sumber daya, pekerjaan dan penghasilan,
begitu juga dalam partisipasi sosial dan politik.
Laporan ini mengingatkan bahwa ketidakadilan
meningkatkan kemiskinan bagi perempuan, dan mungkin
dapat menjadi konsekuensi serius bukan hanya untuk
perempuan sendiri tetapi juga untuk keluarga dan
lingkungan sosial mereka.
Menurut
laporan yang dikeluarkan oleh UNFPA, sebuah badan PBB
yang mengurusi masalah kependudukan, dikatakan bahwa
menurunkan kesenjangan jender dalam bidang kesehatan dan
pendidikan dapat menurunkan secara signifikan kemiskinan
rumah tangga dan individu, dan membangkitkan pertumbuhan
ekonomi nasional.
Dampaknya
dapat lebih terasa di negara-negara miskin, dimana
pelaksanaan ekonomi lemah sangat berkaitan erat dengan
ketidakadilan jender. Dibandingkan dengan Asia Timur dan
Asia Selatan diantara tahun 1960 dan 1992, laporan
menunjukkan bahwa di Asia Selatan berlangsung
kesenjangan jender yang semakin besar dalam bidang
kesehatan dan pendidikan dan membatasi mereka secara
perlahan-lahan. Jika kesenjangan jender dihentikan pada
tingkat rata-rata di 2 wilayah, Asia Selatan akan
meningkatkan angka pertumbuhan per kapita di GNP dari
0,7 ke 1,0 persen.
Perempuan
di beberapa negara bekerja dengan jam kerja yang lebih
lama daripada laki-laki dan kemungkinan ½ dari jumlah
waktu kerja perempuan yang dipergunakan merupakan
pekerjaan yang tidak dibayar. Penghasilan perempuan
merupakan faktor penting dalam menentukan kualitas
kehidupan dan secara langsung berdampak pada kesehatan,
perkembangan dan kesejahteraan menyeluruh di dalam
keluarga mereka. Namun suara perempuan jarang didengar
dalam pembicaraan mengenai keuangan dan perkembangan.
Pekerjaan yang tidak dibayar secara tidak disadari tidak
termasuk dalam penghitungan nasional dan mengarah ke
status sosial perempuan yang lebih rendah dibandingkan
dengan laki-laki. Ketidaksamaan ini menyebabkan
terjadinya kesenjangan jender dalam mengakses
sumber-sumber daya kehidupan.
Dikatakan
juga dalam laporan, masalah reproduksi kesehatan berada
terutama di antara ketidakamanan yang berhubungan dengan
kemiskinan. Perempuan miskin lebih banyak memiliki anak
yang tidak diinginkan karena mereka kurang mendapatkan
akses terhadap pelayanan dan informasi kesehatan
reproduksi. Kemungkinan terkena infeksi menular seksual,
termasuk HIV/AIDS, menambah risiko yang akan dihadapi
oleh perempuan. Dan ketidakadilan jender sering
menghilangkan kemampuan perempuan untuk menolak
praktek-praktek berisiko yang mengantarkan mereka kepada
kekerasan seksual dan perilaku seksual; membuat
perempuan tidak mendapat informasi mengenai pencegahan,
dan menempatkan mereka di urutan terakhir dalam
pelayanan dan tindakan untuk menyelamatkan kehidupan.
Perempuan mewakili ½ dari jumlah HIV-positif seluruh
usia dewasa pada tahun 2001, naik dari 41 persen di
tahun 1997.
Negara
maju yang sukses telah menginvestasi pelayanan kesehatan
universal, termasuk kesehatan reproduksi dan pendidikan.
Mereka mengambil tindakan untuk menurunkan ketidakadilan
jender dan menghapus rintangan-rintangan dalam
partisipasi perempuan di lingkungan kemasyarakatan yang
lebih luas. Hal lain yang juga dijelaskan dalam laporan
ini adalah negara-negara lain harus melakukan investasi
semacam ini jika mereka ingin mencapai pertumbuhan
ekonomi yang diinginkan. Rencana kesehatan reproduksi
yang efektif untuk masyarakat miskim harus berdasar pada
suara-suara atau pendapat mereka dan mengikutsertakan
mereka dalam merancang dan menyampaikan program-program
dengan target sasaran diri mereka sendiri. Hal ini
sangat penting bagi perempuan yang mempunyai keinginan
untuk meningkatkan pelayanan kesehatan reproduksi dan
kemasyarakatan.
Peningkatan
pendidikan perempuan telah terbukti mempunyai kontribusi
yang sangat besar untuk menurunkan angka anak kurang
gizi, lebih penting lagi dari perubahan dalam
ketersediaan makanan. Pendidikan ibu memberikan
peningkatan gizi. Menghilangkan kesenjangan jender dalam
pendidikan juga membantu perempuan untuk menurunkan
tingkat kesuburan dan meningkatkan ketahanan anak. Di
negara dimana jumlah anak perempuan yang pergi ke
sekolah hanya ½ dari jumlah anak laki-laki ternyata
rata-rata mempunyai jumlah kematian bayi per 1000
kelahiran hidup 21.1 kali lebih tinggi dari negara yang
tidak mempunyai kesenjangan jender.
Dikatakan
lebih lanjut bahwa hal yang sangat penting dilakukan
sekarang adalah perlindungan dan peningkatan kesehatan
perempuan, termasuk kesehatan reproduksi dan penyediaan
informasi dan pelayanan bagi mereka. Sangat penting juga
untuk mempersempit kesenjangan jender dalam pendidikan,
peningkatan akses perempuan terhadap sumber daya ekonomi,
peningkatan partisipasi politik, melindungi mereka dari
kekerasan dan memungkinkan mereka mencapai hak seksual
dan kesehatan reproduksi dan pengambilan keputusan
sendiri. (Dette)
Sumber:
UNFPA, 3 Desember 2002.
kembali
ke atas
kembali
ke index gender dan kekerasan terhadap perempuan
|