website informasi kesehatan reproduksi

OZZY

Fokus:

X


Halaman Depan
Informasi BukuSitus Lain yang Berhubungan

Kirim Kritik dan Saran Anda

 

Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Informasi

Fudamentalisme Gaya Baru?

GANTI pemerintahan ganti kebijakan. Itulah yang terjadi di Amerika Serikat. Setelah era Clinton dari Partai Demokrat berlalu digantikan administrasi Presiden George W Bush dari Partai Republik, kebijakan soal seks-khususnya abstinensia bagi kaum remaja yang belum menikah- kini jadi urusan negara.

MAJALAH Newsweek edisi 9 Desember 2002 menurunkan laporan khusus bahwa Bush menginginkan dukungan dunia bagi globalisasi nilai-nilai keluarga Amerika, atau paling tidak nilai-nilai keluarga Bush. Ketika menjadi calon presiden ia mengkampanyekan pandangannya yang antiaborsi. Kini sebagai presiden, ia ingin mengesankan bahwa ia adalah seorang pemimpin moral, bukan hanya bagi bangsa Amerika tetapi juga untuk dunia. Tahun depan Bush berniat mendorong kampanye abstinensia secara nasional dengan anggaran sebesar 135 juta dollar-meningkat dari hanya 60 juta dollar untuk tahun 1998.

Tak heran jika acara Konferensi Kependudukan AsiaPasifik (APPC) V di Bangkok tanggal 10-17 Desember lalu berlangsung dengan alot karena delegasi AS ingin memaksakan agar sikap pemerintahnya yang antiaborsi dan tak setuju seks premarital di kalangan remaja didukung negara-negara peserta lain. Ternyata delegasi AS kecele. Sikap mereka meminta revisi istilah "hak-hak reproduksi" dan "aborsi tak aman" yang telah dibakukan di Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) di Cairo tahun 1994 ditolak oleh
semua delegasi. Nota tekanan yang dikirim Kedutaan Besar AS ke departemen luar negeri berbagai negara termasuk Indonesia juga tidak mempan.

Untunglah delegasi Indonesia masih menyelamatkan muka delegasi AS yang dipimpin oleh Wakil Menteri Luar Negeri-nya Arthur E Dewey. Berkat mediasi yang dilakukan Dr Siswanto Agoes Wilopo, Deputi Kepala BKKBN bidang KB dan Kesehatan Reproduksi yang terpilih
menjadi Rapporteur General, akhirnya delegasi AS sepakat menempatkan catatan kaki reservasinya untuk tidak mereafirmasi Rencana Aksi APPC V hanya pada lampiran dokumen.

Sikap delegasi AS melunak setelah mereka tahu dalam voting yang diikuti 35 negara, hanya AS yang menyatakan tidak setuju terhadap rumusan paragraf F (hak-hak reproduksi dan kesehatan reproduksi) dan paragraf G (kesehatan reproduksi remaja), 32 negara lain setuju, sedang dua negara abstain yaitu Sri Lanka dan Nepal. Kabarnya dua negara kecil ini amat
membutuhkan dukungan AS menghadapi ancaman negara tetangga mereka yang jauh lebih besar, India.

Menurut Siswanto, sebenarnya Ketua delegasi AS, Arthur E Dewey lebih moderat dibanding anak buahnya sendiri, Louise Oliver yang mengurus masalah kebijakan kependudukan internasional. "Dewey masih mau memahami bahwa upaya membantu menekan korban aborsi tak aman itu adalah upaya kesehatan masyarakat, sementara Oliver melihat itu sebagai masalah hukum," katanya.

Sikap pemerintah AS yang Pro-Life bakal mempersulit posisi lembaga multilateral seperti UNFPA (Dana PBB Untuk Kependudukan) yang bakal tak memperoleh kucuran dana lagi dari AS. AS merasa dana yang disumbangkannya ke UNFPA tak bisa dikontrolnya secara langsung jika oleh UNFPA diberikan kepada suatu negara yang pro-aborsi tak sukarela.

AS juga menyetop bantuannya untuk LSM internasional bidang KB seperti IPPF (Federasi Keluarga Berencana Internasional) yang dinilai Pro-Choice. Tak heran jika Dijen IPPF Dr Steven W Sinding amat pedas mengecam Pemerintah AS di APPC V, yang ditudingnya telah membalikkan komitmen global yang didukungnya di ICPD. "Di konferensi ini satu delegasi secara terus-menerus menyatakan bahwa Program Aksi ICPD mempromosikan
aborsi. Padahal, ini sama sekali tidak benar. Puluhan negara di mana aborsi ilegal mendukung Program Aksi ICPD karena mereka memahami bahwa istilah   pelayanan
kesehatan reproduksi  dan   hak-hak reproduksi termasuk aborsi hanya berlaku untuk di negara-negara yang menganggap aborsi legal," kata Sinding. Pendapat senada dikemukakan oleh Direktur Eksekutif UNFPA Thoraya Ahmed Obaid asal Arab Saudi, bahwa setiap negara memiliki hak dan kebebasan untuk membuat undang-undang berkaitan dengan semua aspek kesehatan reproduksi, termasuk aborsi.

Dari segi bahasa hukum, pandangan delegasi AS memang tak bisa sama sekali disalahkan. Dewey dalam sanggahannya pada pertemuan tingkat menteri APPC V hari Senin (16/12) mengutip pendapat Presiden Bush bahwa AS mendukung kesakralan kehidupan dari konsepsi hingga kematian.

Masyarakat AS dikatakan Bush memiliki kewajiban untuk mempertahankan mereka yang paling rentan dan lemah, yang tak sempurna, dan bahkan yang tak dikehendaki. Bayi-bayi yang digugurkan harus diberi kesempatan untuk hidup dan dilindungi oleh hukum. Tentang under-age sex, sikap Pemerintah AS yang mengkampanyekan hanya program abstinensia juga dikecam oleh Sinding.

"Kebijakan itu sama sekali keliru. ICPD mendukung program yang akrab dengan kaum remaja untuk memahami konsekuensi seks tak aman dan mendorong perilaku bertanggung jawab, termasuk abstinensia. Tetapi kita semua tahu bahwa banyak kaum muda tetap akan melakukan hubungan seks, kendati kita orang dewasa suka atau tidak," ujarnya.

Sinding sendiri sebagai warga AS menyatakan kecewa dengan pemerintahnya sekarang yang dinilainya amat puritan dan konservatif. Ia akan berjuang mengubah lagi agenda AS untuk kependudukan dan soal seks jika pemerintahan berganti lagi ke kubu Partai Demokrat. (Irwan Julianto)

sumber: Aids-ina    

kembali ke atas

kembali ke index informasi

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan