website informasi kesehatan reproduksi

OZZY

Fokus:

X


Halaman Depan
Informasi BukuSitus Lain yang Berhubungan

Kirim Kritik dan Saran Anda

 

Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Informasi

Peningkatan Risiko Penularan HIV/AIDS pada Perempuan

Dalam rangka memperingati Hari AIDS Sedunia di Indonesia  Kelompok Studi Khusus AIDS FKUI (Pokdisus) menyelenggarakan 'Simposium Peningkatan Risiko Penularan HIV/AIDS pada Perempuan'. Selain mengedepankan data-data UNAIDS tentang peningkatan risiko penularan pada perempuan di dunia, simposium ini juga menyajikan data-data lapangan dari berbagai kegiatan LSM dan Lembaga Pendidikan seperti FKUI. Data-data yang dikemukakan menjadi menarik meski cakupannya terbatas namun sarat dengan berbagai keunikan yang mengundang pemikiran ulang agar dalam melakukan intervensi diperhatikan kekhususan yang ada.

Dr. Evy Yunihastuti, koordinator layanan poliklinik Pokdisus melaporkan dari awal tahun 2004 sampai minggu ketiga November terdapat 635 orang yang berobat ke Poli Pokdisus, 82 orang diantaranya (12,9%) perempuan.  Sekitar 85% kasus tersebut berasal dari kelompok pengguna narkoba suntikan. Namun pada 82 orang perempuan yang terinfeksi, faktor risiko terbanyak adalah penularan  hubungan seksual (81,7%). Sementara 73,1% di antaranya hanya berhubungan seksual dengan suaminya selama pernikahan. Memang belum diketahui berapa persen penularan HIV dari suami yang positif kepada istrinya secara keseluruhan. Namun jika ditinjau status HIV suami, maka 80% positif, 16% negatif dan 4% tidak diketahui. Di Pokdisus meski jumlah perempuan yang terinfeksi jumlahnya terbatas namun sudah didapati kasus kekerasan seksual. Meski risiko penularan akibat kekerasan seksual relatif rendah (<1%) namun risiko ini jauh lebih tinggi dibandingkan hubungan seksual tanpa kekerasan. Pengalaman Evy menunjukkan bahwa masalah sosial pada perempuan jauh lebih rumit dibandingkan dengan masalah medis. Pemahaman perempuan terhadap risiko penularan masih rendah, ketergantungan ekonomi terhadap suami tinggi serta budaya isteri harus mengutamakan anak dan suami menyebabkan perempuan terabaikan dalam layanan kesehatan. Sementara 64,6% ODHA perempuan tersebut tidak bekerja atau tergantung secara ekonomi kepada suaminya.

Iin Kartina Widasari, konselor dan pengolah data di Pokdisus melaporkan hasil Layanan VCT cuma-cuma yang dilakukan oleh Pokdi yang dilaksanakan bersama dengan LSM lain di Jakarta. Kegiatan ini dilakukan di 9 tempat (satu tempat layanan MSF France kemudian tutup) berhasil melakukan layanan testing pada 1024 orang. Partisipasi testing HIV setelah amat tinggi (>95%). Peserta testing sebagian besar orang dewasa  laki-laki (61%), perempuan  38%   sedangkan anak hanya 1,58 %.  Peserta testing sebagian besar berumur antara 20-24 tahun (36,9%) dan 25-29 tahun (25,7%). Hasil tes HIV pada layanan VCT ini amat mencengangkan. Kita sering mendapat informasi biasanya untuk mendapat 1 hasil positif maka diperlukan sekitar peserta 50 VCT, tapi pada layanan ini hasil positif mencapai 39,3%. Ini dapat dijelaskan karena sebagian peserta adalah kelompok dampingan LSM sehingga peserta sudah tersaring dari segi risiko penularan agak berbeda dengan populasi umum. Namun pendekatan ini sekaligus memperlihatkan penemuan kasus yang tinggi sehingga layanan ini cost effective. Secara umum 81% hasil positif adalah pengguna narkoba suntikan tapi pada perempuan HIV positif seperti juga data Evy, Iin mendapatkan sekitar 78% terinfeksi melalui hubungan seksual. Menarik juga menyimak laporan layanan ini, ternyata dapat memetik manfaat berupa peningkatan kerjasama antar LSM, rumah sakit dan Lembaga Pendidikan (FKUI). Berdasarkan pengalaman ini Pokdisus telah merencanakan layanan VCT keliling yang akan dapat membantu secara berkala rumah sakit atau layanan kesehatan di Jakarta yang belum mempunyai konselor.

Laporan kegiatan di kampung Bali yang disajikan oleh dr. Risma menunjukkan bahwa upaya penjangkauan belum dapat ditinjak lanjuti dengan baik melalui VCT, pemeriksaan CD4 dan terapi ARV. Jumlah remaja yang dapat dijangkau oleh program penggulangan narkoba berbasis masyarakat YPI mencapai 1546 sedangkan yang berhasil mengakses layanan Puskesmas mencapai 1274. Kontak dengan Puskesmas memungkinkan remaja untuk mengikuti konseling perubahan perilaku. Perubahan perilaku ini dapat diukur dari menurunnya penggunaan jarum suntik bersama serta frekuensi penggunaan jarum suntik baru. Sedangkan yang berhenti pakai narkoba jumlahnya masih terbatas. Kejadian relaps juga amat tinggi. Bagaimana dukungan yang diberikan pada remaja yang dapat mengakses layanan Puskesmas ini? Dari 1274 orang ini telah meninggal 36 orang! Mereka yang mengikuti VCT berjumlah 211 orang dan hasil positif 93,2%. Berapa yang beruntung mendapat layanan CD4 cuma-cuma? 46 orang. Sebagian besar hasil test CD4 mereka berada dibawah 200 sehingga sudah memerlukan ARV. Sepuluh orang telah menggunakan obat ARV sedangkan 27 orang lain sedang dipersiapkan untuk mendapat obat ARV. Sebenarnya obat ARV telah diperoleh dari BNN untuk 120 orang namun proses persiapan untuk mulai menggunakan ARV dilakukan dengan konseling berkali-kali untuk menjaga agar adherence dapat terjamin.

Hal yang menarik juga adalah laporan kegiatan untuk mengembalikan remaja ke dalam kehidupan sehari-hari. YPI Kampung Bali telah mengadakan pelatihan pembuatan sablon, magang dipercetakan dan terakhir menyelenggarakan bengkel cuci motor. Langkah-langkah kecil ini diharapkan dapat merupakan langkah permulaan untuk menjalani kehidupan remaja di masa depan.

Pencegahan transmisi perinatal sudah menjadi isu penting. Meski Mayanti program manajer PMTCT YPI melaporkan dari sekitar 700 pemeriksaan ibu hamil baru dua yang positif, namun ibu hamil positif yang mendapat dukungan layanan ini telah lebih dari 20 orang. Ternyata program ini mendapat rujukan dari berbagai layanan kesehatan, karena program dukungan untuk ibu hamil masih langka. Bahkan Mayanti juga menerima rujukan ibu hamil dari Bandung. Ini berarti program PMTCT dan dukungan untuk ibu hamil sudah saatnya untuk dimulai di beberapa daerah yang angka kekerapan HIV-nya tinggi. Departemen Kebidanan FKUI pada umumnya menerima ibu hamil positif pada hamil tua, sehingga waktu untuk pemberian obat profilaksis amat pendek. Padahal jumlah viral laod yang dapat dilakukan pada beberapa ibu hamil menunjukkan hasil viral load yang amat tinggi.  Departemen ini telah melakukan penatalaksanaan pada 50 orang ibu hamil dan semuanya dengan sectio caesaria.

Selain RS Cipto layanan partus ibu hamil dapat dilayani di empat rumah sakit lain di Jakarta. Jelas sekali jumlah layanan tersebut belumlah mencukupi. Penggunaan skema obat ARV masih merupakan persoalan karena sebagian besar ibu hamil datang sudah dalam masa hampir partus. Karena itu sedang disusun konsensus untuk menggunakan skema obat pencegahan pada ibu hamil yang mampu laksana di Indonesia. Begitu pula pemberian obat pencegahan ARV pada bayi dan obat pencegahan PCP tidak mudah dilakukan karena setelah partus biasanya ibu sudah tidak datang lagi kelayanan kesehatan untuk kontrol. Kesulitan untuk menetapkan apakah bayi terinfeksi atau tidak seharusnya dilakukann dengan viral load. Namun harga pemeriksaan ini masih amat tinggi. Berkat kerjasama dengan PT. Roche Diagnostics, maka biaya pemeriksaan viral load diturunkan dari Rp. 1.250.000,- menjadi Rp. 850.000,-. Memang masih mahal tetapi dengan penurunan Rp. 400.000,- diharapkan dapat meningkatkan akses pemeriksaan. Sekaligus kerjasama ini menunjukkan bahwa kalangan bisnis mempunyai kepedulian terhadap masalah yang dihadapi masyarakat.

Simposium Pokdi yang berlangsung tanggal 25 Nopember ini meski tidak dilakukan dihotel bintang lima tetapi hanya di ruang kuliah Penyakit Dalam FKUI ternyata dihadiri oleh sekitar 250 peserta, sebagian besar odha dan perempuan. Akibatnya cukup banyak peserta yang harus duduk di balkon karena tempat di lantai dasar penuh. Diskusi yang berlangsung juga cukup hangat dan pada umumnya hadirin merasakan bahwa apa yang telah kita lakukan bersama belumlah mencukupi. Apalagi bila kita melihat keadaan di Indonesia pada umumnya, dimana upaya peningkatan penggunaan kondom belum menunjukkan hasil, harm reduction masih berjalan lambat, dan ketersediaan obat ARV belum dapat dimanfaatkan optimal karena  rumah sakit pelaksana belum seluruhya siap. Namun nada pesimis terpupus melihat kegiatan teman-teman di lapangan yang dengan tekad yang kuat meski dengan sumber daya terbatas dapat melakukan berbagai kegiatan. Kita perlu menghargai teman-teman yang telah bekerja dengan tekun tanpa lelah dan tanpa pamrih melakukannya secara berkesinambungan. Wacana sudah sudah banyak kita dengar, yang sekarang kita tunggu adalah kegiatan nyata yang hasilnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Sumber: AIDS-INA 1 Desember 2004

kembali ke atas

kembali ke index informasi

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan