|
Peningkatan Risiko
Penularan HIV/AIDS pada Perempuan
Dalam rangka memperingati Hari AIDS
Sedunia di Indonesia Kelompok Studi Khusus AIDS FKUI (Pokdisus)
menyelenggarakan 'Simposium Peningkatan Risiko Penularan HIV/AIDS
pada Perempuan'. Selain mengedepankan data-data UNAIDS tentang
peningkatan risiko penularan pada perempuan di dunia, simposium ini
juga menyajikan data-data lapangan dari berbagai kegiatan LSM dan
Lembaga Pendidikan seperti FKUI. Data-data yang dikemukakan menjadi
menarik meski cakupannya terbatas namun sarat dengan berbagai
keunikan yang mengundang pemikiran ulang agar dalam melakukan
intervensi diperhatikan kekhususan yang ada.
Dr. Evy Yunihastuti, koordinator layanan poliklinik Pokdisus
melaporkan dari awal tahun 2004 sampai minggu ketiga November
terdapat 635 orang yang berobat ke Poli Pokdisus, 82 orang
diantaranya (12,9%) perempuan. Sekitar 85% kasus tersebut
berasal dari kelompok pengguna narkoba suntikan. Namun pada 82 orang
perempuan yang terinfeksi, faktor risiko terbanyak adalah penularan
hubungan seksual (81,7%). Sementara 73,1% di antaranya hanya
berhubungan seksual dengan suaminya selama pernikahan. Memang belum
diketahui berapa persen penularan HIV dari suami yang positif kepada
istrinya secara keseluruhan. Namun jika ditinjau status HIV suami,
maka 80% positif, 16% negatif dan 4% tidak diketahui. Di Pokdisus
meski jumlah perempuan yang terinfeksi jumlahnya terbatas namun
sudah didapati kasus kekerasan seksual. Meski risiko penularan
akibat kekerasan seksual relatif rendah (<1%) namun risiko ini
jauh lebih tinggi dibandingkan hubungan seksual tanpa kekerasan.
Pengalaman Evy menunjukkan bahwa masalah sosial pada perempuan jauh
lebih rumit dibandingkan dengan masalah medis. Pemahaman perempuan
terhadap risiko penularan masih rendah, ketergantungan ekonomi
terhadap suami tinggi serta budaya isteri harus mengutamakan anak
dan suami menyebabkan perempuan terabaikan dalam layanan kesehatan.
Sementara 64,6% ODHA perempuan tersebut tidak bekerja atau
tergantung secara ekonomi kepada suaminya.
Iin Kartina Widasari, konselor dan pengolah data di Pokdisus
melaporkan hasil Layanan VCT cuma-cuma yang dilakukan oleh Pokdi
yang dilaksanakan bersama dengan LSM lain di Jakarta. Kegiatan ini
dilakukan di 9 tempat (satu tempat layanan MSF France kemudian tutup)
berhasil melakukan layanan testing pada 1024 orang. Partisipasi
testing HIV setelah amat tinggi (>95%). Peserta testing sebagian
besar orang dewasa laki-laki (61%), perempuan 38%
sedangkan anak hanya 1,58 %. Peserta testing sebagian besar
berumur antara 20-24 tahun (36,9%) dan 25-29 tahun (25,7%). Hasil
tes HIV pada layanan VCT ini amat mencengangkan. Kita sering
mendapat informasi biasanya untuk mendapat 1 hasil positif maka
diperlukan sekitar peserta 50 VCT, tapi pada layanan ini hasil
positif mencapai 39,3%. Ini dapat dijelaskan karena sebagian peserta
adalah kelompok dampingan LSM sehingga peserta sudah tersaring dari
segi risiko penularan agak berbeda dengan populasi umum. Namun
pendekatan ini sekaligus memperlihatkan penemuan kasus yang tinggi
sehingga layanan ini cost effective. Secara umum 81% hasil positif
adalah pengguna narkoba suntikan tapi pada perempuan HIV positif
seperti juga data Evy, Iin mendapatkan sekitar 78% terinfeksi
melalui hubungan seksual. Menarik juga menyimak laporan layanan ini,
ternyata dapat memetik manfaat berupa peningkatan kerjasama antar
LSM, rumah sakit dan Lembaga Pendidikan (FKUI). Berdasarkan
pengalaman ini Pokdisus telah merencanakan layanan VCT keliling yang
akan dapat membantu secara berkala rumah sakit atau layanan
kesehatan di Jakarta yang belum mempunyai konselor.
Laporan kegiatan di kampung Bali yang disajikan oleh dr. Risma
menunjukkan bahwa upaya penjangkauan belum dapat ditinjak lanjuti
dengan baik melalui VCT, pemeriksaan CD4 dan terapi ARV. Jumlah
remaja yang dapat dijangkau oleh program penggulangan narkoba
berbasis masyarakat YPI mencapai 1546 sedangkan yang berhasil
mengakses layanan Puskesmas mencapai 1274. Kontak dengan Puskesmas
memungkinkan remaja untuk mengikuti konseling perubahan perilaku.
Perubahan perilaku ini dapat diukur dari menurunnya penggunaan jarum
suntik bersama serta frekuensi penggunaan jarum suntik baru.
Sedangkan yang berhenti pakai narkoba jumlahnya masih terbatas.
Kejadian relaps juga amat tinggi. Bagaimana dukungan yang diberikan
pada remaja yang dapat mengakses layanan Puskesmas ini? Dari 1274
orang ini telah meninggal 36 orang! Mereka yang mengikuti VCT
berjumlah 211 orang dan hasil positif 93,2%. Berapa yang beruntung
mendapat layanan CD4 cuma-cuma? 46 orang. Sebagian besar hasil test
CD4 mereka berada dibawah 200 sehingga sudah memerlukan ARV. Sepuluh
orang telah menggunakan obat ARV sedangkan 27 orang lain sedang
dipersiapkan untuk mendapat obat ARV. Sebenarnya obat ARV telah
diperoleh dari BNN untuk 120 orang namun proses persiapan untuk
mulai menggunakan ARV dilakukan dengan konseling berkali-kali untuk
menjaga agar adherence dapat terjamin.
Hal yang menarik juga adalah laporan kegiatan untuk mengembalikan
remaja ke dalam kehidupan sehari-hari. YPI Kampung Bali telah
mengadakan pelatihan pembuatan sablon, magang dipercetakan dan
terakhir menyelenggarakan bengkel cuci motor. Langkah-langkah kecil
ini diharapkan dapat merupakan langkah permulaan untuk menjalani
kehidupan remaja di masa depan.
Pencegahan transmisi perinatal sudah menjadi isu penting. Meski
Mayanti program manajer PMTCT YPI melaporkan dari sekitar 700
pemeriksaan ibu hamil baru dua yang positif, namun ibu hamil positif
yang mendapat dukungan layanan ini telah lebih dari 20 orang.
Ternyata program ini mendapat rujukan dari berbagai layanan
kesehatan, karena program dukungan untuk ibu hamil masih langka.
Bahkan Mayanti juga menerima rujukan ibu hamil dari Bandung. Ini
berarti program PMTCT dan dukungan untuk ibu hamil sudah saatnya
untuk dimulai di beberapa daerah yang angka kekerapan HIV-nya tinggi.
Departemen Kebidanan FKUI pada umumnya menerima ibu hamil positif
pada hamil tua, sehingga waktu untuk pemberian obat profilaksis amat
pendek. Padahal jumlah viral laod yang dapat dilakukan pada beberapa
ibu hamil menunjukkan hasil viral load yang amat tinggi.
Departemen ini telah melakukan penatalaksanaan pada 50 orang ibu
hamil dan semuanya dengan sectio caesaria.
Selain RS Cipto layanan partus ibu hamil dapat dilayani di empat
rumah sakit lain di Jakarta. Jelas sekali jumlah layanan tersebut
belumlah mencukupi. Penggunaan skema obat ARV masih merupakan
persoalan karena sebagian besar ibu hamil datang sudah dalam masa
hampir partus. Karena itu sedang disusun konsensus untuk menggunakan
skema obat pencegahan pada ibu hamil yang mampu laksana di
Indonesia. Begitu pula pemberian obat pencegahan ARV pada bayi dan
obat pencegahan PCP tidak mudah dilakukan karena setelah partus
biasanya ibu sudah tidak datang lagi kelayanan kesehatan untuk
kontrol. Kesulitan untuk menetapkan apakah bayi terinfeksi atau
tidak seharusnya dilakukann dengan viral load. Namun harga
pemeriksaan ini masih amat tinggi. Berkat kerjasama dengan PT. Roche
Diagnostics, maka biaya pemeriksaan viral load diturunkan dari Rp.
1.250.000,- menjadi Rp. 850.000,-. Memang masih mahal tetapi dengan
penurunan Rp. 400.000,- diharapkan dapat meningkatkan akses
pemeriksaan. Sekaligus kerjasama ini menunjukkan bahwa kalangan
bisnis mempunyai kepedulian terhadap masalah yang dihadapi
masyarakat.
Simposium Pokdi yang berlangsung tanggal 25 Nopember ini meski tidak
dilakukan dihotel bintang lima tetapi hanya di ruang kuliah Penyakit
Dalam FKUI ternyata dihadiri oleh sekitar 250 peserta, sebagian
besar odha dan perempuan. Akibatnya cukup banyak peserta yang harus
duduk di balkon karena tempat di lantai dasar penuh. Diskusi yang
berlangsung juga cukup hangat dan pada umumnya hadirin merasakan
bahwa apa yang telah kita lakukan bersama belumlah mencukupi.
Apalagi bila kita melihat keadaan di Indonesia pada umumnya, dimana
upaya peningkatan penggunaan kondom belum menunjukkan hasil, harm
reduction masih berjalan lambat, dan ketersediaan obat ARV belum
dapat dimanfaatkan optimal karena rumah sakit pelaksana belum
seluruhya siap. Namun nada pesimis terpupus melihat kegiatan
teman-teman di lapangan yang dengan tekad yang kuat meski dengan
sumber daya terbatas dapat melakukan berbagai kegiatan. Kita perlu
menghargai teman-teman yang telah bekerja dengan tekun tanpa lelah
dan tanpa pamrih melakukannya secara berkesinambungan. Wacana sudah
sudah banyak kita dengar, yang sekarang kita tunggu adalah kegiatan
nyata yang hasilnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Sumber:
AIDS-INA 1 Desember 2004
kembali
ke atas
kembali
ke index informasi |