website informasi kesehatan reproduksi

OZZY

Fokus:

X


Halaman Depan
Informasi Buku
Situs Lain yang Berhubungan

Kirim Kritik dan Saran Anda

 

Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Informasi

Diskusi dan Peluncuran Buku Membincang Kembali Keberpihakan Jurnalis “AIDS, Gender dan Kesehatan Reproduksi Pintu Menghargai Manusia Bagi Media”

Tema obyektifitas dalam jurnalisme kembali mengemuka pada acara diskusi buku yang digelar LP3Y tanggal 2 Mei lalu. Baik pembahas maupun peserta diskusi meninjau ulang masalah keberpihakan wartawan dalam kinerjanya, terutama ketika belakangan muncul ‘genre-genre’ baru dalam tradisi jurnalisme.  Jurnalisme (dengan) empati misalnya, yang berkembang seiring dengan semangat humanisme, sekali lagi ‘dikoreksi’ dan dipertanyakan keabsahannya karena disinyalir menanggalkan prinsip obyektivitas.  Apa benar demikian?

Diskusi sekaligus peluncuran buku karya Ashadi Siregar yang diselenggarakan di Hotel Radisson Yogyakarta itu menghadirkan dua pembicara: dr. Kartono Mohamad dan Nurul Agustina (Wartawan Republika).  Sedangkan para undangan datang dari kalangan jurnalis media cetak maupun radio, juga sejumlah aktivitis LSM di Yogya.

Dr. Kartono Mohamad yang berkesempatan menjadi pembahas pertama sejak awal melontarkan umpan diskusi dengan mempertanyakan apakah konsep jurnalisme empati (yang ditawarkan penulis) tidak identik dengan keberpihakan?  Alasannya, dengan empati berarti kita telah melibatkan perasaan, padahal di sisi lain ada tuntutan agar wartawan senantiasa bersikap obyektif.

Dr. Kartono juga mensinyalir adanya masalah kultural dalam tradisi jurnalisme kita, mengingat tidak terpisahkannya kultur jurnalisme dengan kultur masyarakat tempat jurnalisme berkembang. Kalau di negeri asalnya jurnalisme berkembang dalam kultur rasionalisme formal (rasionalisme ‘murni’, tidak mengikutkan pertimbangan moral/rasa), jurnalisme di Indonesia menghadapi masalah ambivalensi.  Menurut Kartono ambivalensi itu terjadi karena di satu sisi ada keinginan untuk bersikap rasional – sebab jurnalisme bersifat rasional -, sementara di sisi lain ada keinginan bertaut pada budaya.  Rasionalisme ala Indonesia ini biasa disebut rasionalisme substantif.

Benturan antara empati dengan obyektivitas rasionalisme substantif dengan rasionalisme formal amat kentara pada kasus wartawan meliput masalah AIDS, gender, dan kesehatan reproduksi, banyak bercerita tentang pengalamannya selaku wartawan.  Sedikit banyak ia menanggapi ‘tuntutan-tuntutan’ yang selama ini ditujukan kepada wartawan, termasuk tuntutan bersikap empatik sekaligus obyektif.  Diakuinya, posisi wartawan menjadi serba sulit.  Pada kasus AIDS misalnya ia menyebutkan, “Kerap kali wartawan disudutkan karena pemberitaan”.  Padahal menurutnya itu semua tidak terlepas dari fenomena bahwa AIDS masih menjadi sensasi, isunya sangat medical minded, dan terkait erat dengan perilaku (sehingga orang masih sering menghubung-hubungkan ODHA dengan pekerja seks, komunitas gay, dan pengguna narkoba).

Nurul lebih melihat kecenderungan pemberitaan yang sensasional sebagai cermin kondisi penyebaran epidemi/pandemi HIV/AIDS yang menunjukkan kurva yang terus menaik, akibatnya sikap masyarakat pun cenderung reaktif.  Ia mencontohkan di sejumlah negara di Eropa, reaksi masyarakat menjadi lebih matang ketika kurva angka penyebaran HIV/AIDS tidak lagi naik.

Namun di sisi lain Nurul melihat bahwa dalam masalah kesehatan (terutama AIDS) wartawan seharusnya bekerja dengan cara yang berbeda. Kalau biasanya sebelum melakukan wawancara wartawan sudah punya frame sehingga ‘memaksa’ narasumber berbicara sesuai dengan yang kita inginkan, dalam kasus wartawan meliput AIDS justru sebaliknya. “Wartawan perlu belajar menggigit lidah untuk tidak terlalu memberondong orang dengan pertanyaan, melainkan menyediakan telinga selebar-lebarnya,”, tegas Nurul.  Dari situlah empati akan tumbuh.

Metode empati yang ditawarkan Nurul sama sekali tidak membawa konsekuensi pada masalah obyektivitas.  Menurut Nurul wartawan hanya ditantang untuk menyajikan angle-angle lain yang lebih kreatif agar isu AIDS, gender, dan kesehatan reproduksi terus menerus ‘bunyi’.

Dr. Kartono juga menggarisbawahi bahwa ekspos terhadap ketimpangan-ketimpangan dalam masalah AIDS, gender dan kesehatan reproduksi baru terlihat dengan jurnalisme empati. “Tetapi tidak berarti kita kehilangan obyektivitas sebab jika kita kehilangan obyektivitas maka nilai-nilai yang semula tidak muncul dalam benak kita akan kita munculkan, seperti memperkuat stigma yang justru counter productive”, lanjutnya.

Inti jurnalisme empati sendiri, menurut Ashadi Siregar dalam penutup diskusi, adalah keberpihakan pada subyek yang lemah (powerless) dalam suatu situasi sosial. “Kita ingin mengajak orang untuk memberi perhatian pada setting social yang tidak setara atau tidak adil kemudian menetapkan pihak yang lemah (powerless) sebagai subyek.  Lewat dunia subyektif pihak yang lemah inilah kita mengajak wartawan untuk bercerita”, papar Ashadi.

Menurut Ashadi prinsip jurnalisme empati dapat diterapkan untuk segala hal, tidak hanya terhadap isu AIDS, gender, dan kesehatan reproduksi. Sebab tiga isu tersebut hanya dipakai momentumnya sebagai dasar exercise terus menerus untuk melihat situasi ketidakadilan/ketidaksetaraan.

Sumber: Laily – Newsletter LP3Y edisi 49 Mei 2002

 

kembali ke atas

kembali ke index informasi

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan