|
Diskusi
dan Peluncuran Buku Membincang Kembali Keberpihakan Jurnalis “AIDS, Gender dan Kesehatan Reproduksi Pintu Menghargai Manusia
Bagi Media”
Tema
obyektifitas dalam jurnalisme kembali mengemuka pada acara diskusi
buku yang digelar LP3Y tanggal 2 Mei lalu. Baik pembahas maupun
peserta diskusi meninjau ulang masalah keberpihakan wartawan dalam
kinerjanya, terutama ketika belakangan muncul ‘genre-genre’
baru dalam tradisi jurnalisme.
Jurnalisme (dengan) empati misalnya, yang berkembang seiring
dengan semangat humanisme, sekali lagi ‘dikoreksi’ dan
dipertanyakan keabsahannya karena disinyalir menanggalkan prinsip
obyektivitas. Apa benar
demikian?
Diskusi sekaligus peluncuran buku
karya Ashadi Siregar yang diselenggarakan di Hotel Radisson
Yogyakarta itu menghadirkan dua pembicara: dr. Kartono Mohamad dan
Nurul Agustina (Wartawan Republika).
Sedangkan para undangan datang dari kalangan jurnalis media
cetak maupun radio, juga sejumlah aktivitis LSM di Yogya.
Dr. Kartono Mohamad yang
berkesempatan menjadi pembahas pertama sejak awal melontarkan umpan
diskusi dengan mempertanyakan apakah konsep jurnalisme empati (yang
ditawarkan penulis) tidak identik dengan keberpihakan?
Alasannya, dengan empati berarti kita telah melibatkan
perasaan, padahal di sisi lain ada tuntutan agar wartawan senantiasa
bersikap obyektif.
Dr. Kartono juga mensinyalir adanya
masalah kultural dalam tradisi jurnalisme kita, mengingat tidak
terpisahkannya kultur jurnalisme dengan kultur masyarakat tempat
jurnalisme berkembang. Kalau di negeri asalnya jurnalisme berkembang
dalam kultur rasionalisme formal (rasionalisme ‘murni’, tidak
mengikutkan pertimbangan moral/rasa), jurnalisme di Indonesia
menghadapi masalah ambivalensi.
Menurut Kartono ambivalensi itu terjadi karena di satu sisi
ada keinginan untuk bersikap rasional – sebab jurnalisme bersifat
rasional -, sementara di sisi lain ada keinginan bertaut pada budaya.
Rasionalisme ala Indonesia ini biasa disebut
rasionalisme substantif.
Benturan antara empati dengan
obyektivitas rasionalisme substantif dengan rasionalisme formal amat
kentara pada kasus wartawan meliput masalah AIDS, gender, dan
kesehatan reproduksi, banyak bercerita tentang pengalamannya selaku
wartawan. Sedikit
banyak ia menanggapi ‘tuntutan-tuntutan’ yang selama ini
ditujukan kepada wartawan, termasuk tuntutan bersikap empatik
sekaligus obyektif. Diakuinya,
posisi wartawan menjadi serba sulit.
Pada kasus AIDS misalnya ia menyebutkan, “Kerap kali
wartawan disudutkan karena pemberitaan”.
Padahal menurutnya itu semua tidak terlepas dari fenomena
bahwa AIDS masih menjadi sensasi, isunya sangat medical minded,
dan terkait erat dengan perilaku (sehingga orang masih sering
menghubung-hubungkan ODHA dengan pekerja seks, komunitas gay, dan
pengguna narkoba).
Nurul lebih melihat kecenderungan
pemberitaan yang sensasional sebagai cermin kondisi penyebaran
epidemi/pandemi HIV/AIDS yang menunjukkan kurva yang terus menaik,
akibatnya sikap masyarakat pun cenderung reaktif.
Ia mencontohkan di sejumlah negara di Eropa, reaksi
masyarakat menjadi lebih matang ketika kurva angka penyebaran
HIV/AIDS tidak lagi naik.
Namun di sisi lain Nurul melihat
bahwa dalam masalah kesehatan (terutama AIDS) wartawan seharusnya
bekerja dengan cara yang berbeda. Kalau biasanya sebelum melakukan
wawancara wartawan sudah punya frame sehingga ‘memaksa’
narasumber berbicara sesuai dengan yang kita inginkan, dalam kasus
wartawan meliput AIDS justru sebaliknya. “Wartawan perlu belajar
menggigit lidah untuk tidak terlalu memberondong orang dengan
pertanyaan, melainkan menyediakan telinga selebar-lebarnya,”,
tegas Nurul. Dari
situlah empati akan tumbuh.
Metode empati yang ditawarkan Nurul
sama sekali tidak membawa konsekuensi pada masalah obyektivitas.
Menurut Nurul wartawan hanya ditantang untuk menyajikan angle-angle
lain yang lebih kreatif agar isu AIDS, gender, dan kesehatan
reproduksi terus menerus ‘bunyi’.
Dr. Kartono juga menggarisbawahi
bahwa ekspos terhadap ketimpangan-ketimpangan dalam masalah AIDS,
gender dan kesehatan reproduksi baru terlihat dengan jurnalisme
empati. “Tetapi tidak berarti kita kehilangan obyektivitas sebab
jika kita kehilangan obyektivitas maka nilai-nilai yang semula tidak
muncul dalam benak kita akan kita munculkan, seperti memperkuat
stigma yang justru counter productive”, lanjutnya.
Inti jurnalisme empati sendiri,
menurut Ashadi Siregar dalam penutup diskusi, adalah keberpihakan
pada subyek yang lemah (powerless) dalam suatu situasi sosial.
“Kita ingin mengajak orang untuk memberi perhatian pada setting
social yang tidak setara atau tidak adil kemudian menetapkan
pihak yang lemah (powerless) sebagai subyek.
Lewat dunia subyektif pihak yang lemah inilah kita mengajak
wartawan untuk bercerita”, papar Ashadi.
Menurut Ashadi prinsip jurnalisme
empati dapat diterapkan untuk segala hal, tidak hanya terhadap isu
AIDS, gender, dan kesehatan reproduksi. Sebab tiga isu tersebut
hanya dipakai momentumnya sebagai dasar exercise terus
menerus untuk melihat situasi ketidakadilan/ketidaksetaraan.
Sumber:
Laily – Newsletter LP3Y edisi 49 Mei 2002
kembali
ke atas
kembali
ke index informasi |