website informasi kesehatan reproduksi

OZZY

Fokus:

X


Halaman Depan
Informasi Buku
Situs Lain yang Berhubungan

Kirim Kritik dan Saran Anda

 

Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Informasi

Berjuang demi Kesetaraan Gender

Banyak orang beranggapan kesetaraan gender tidak perlu lagi diperjuangkan. Kebebasan perempuan, menurut sejumlah kalangan, sudah sedemikian kasat mata. Apalagi jika yang dirujuk adalah kehidupan kaum perempuan Ibukota. Tapi, asumsi ini tidak berlaku bagi Aditiana Dewi Eridani, Wakil Direktur Rahima, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang berfokus pada pemberdayaan perempuan dalam perspektif Islam.

Aditiana Dewi Eridani [Pembaruan/Elly Burhaini Faizal] Menurutnya, masih banyak kasus membuktikan betapa eksistensi perempuan belum sepenuhnya bisa dihargai. Meminjam istilah Simone de Beauvoir, tokoh feminis dan filsuf asal Prancis, perempuan adalah warga negara kelas dua.

"Banyak perempuan hingga hari ini pun ternyata berkedudukan tidak sama dengan laki-laki," ungkap Eridani kepada Pembaruan, usai peluncuran buku dan DVD Bergerak Menuju Keadilan: Pembelaan Nabi terhadap Perempuan karya Faqihuddin Abdul Kodir, Selasa (30/5).

Eridani mengatakan, diskriminasi perempuan sangat gampang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Kepemimpinan perempuan di dalam politik, contohnya, masih kerap terkungkung pola-pola patriarki. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari di tengah keluarga pun, hak-hak perempuan ikut terdiskriminasi.

"Nafkah perempuan, misalnya, seringkali dianggap nafkah tambahan. Padahal, sering kita lihat entah berapa banyak wanita yang menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga. Sekalipun begitu, tetap saja yang ambil segala sesuatu keputusan dalam rumah tangga adalah suami. Tak peduli istri sudah pontang-panting, kalau mau ngapa-ngapain harus tetap izin pada suami, nggak peduli suaminya adalah penganggur," ungkap aktivis perempuan kelahiran Purwokerto, 12 April 1968, tersebut dengan nada getir.

Eridani berpendapat, penindasan hak-hak perempuan sangat bertentangan dengan ajaran agama mana pun. Di Islam, contohnya, Allah SWT tidak membedakan laki-laki maupun perempuan, melainkan semata-mata hanya didasari pada ketakwaan mereka.

Amal perbuatan apa pun tidak akan dilihat dari jenis kelamin mereka. Yang dihargai Allah hanyalah ketakwaan mereka. Jadi tidak ada beda antara laki-laki dengan perempuan," ungkap ibu dari Dinda Aviliani (8), buah pernikahannya dengan M Nurdin. Ia sangat yakin agama-agama selain Islam juga berprinsip yang sama. Kenyataannya, masih banyak perempuan yang berkedudukan tidak sama dengan laki-laki.

"Ada yang bilang perempuan itu warga negara kelas dua. Tetapi sekarang, entahlah, perempuan sudah jadi warga negara kelas berapa," ungkap alumnus Fakultas Hukum (FH) Universitas Diponegoro tahun 1986 tersebut.

Maraknya kekerasan dalam rumah tangga, penindasan hingga kejahatan seksual terhadap perempuan adalah bukti betapa kesetaraan gender belum sepenuhnya terwujud. Tak urung ia merasa heran apabila masih ada orang yang berpendapat perjuangan kesetaraan gender sudah tidak relevan lagi dilakukan.

Perjuangan menciptakan kesetaraan gender tentu bukanlah hal yang gampang. Tidak jarang, pemahaman dan empati perempuan di zaman serba modern ini ternyata justru masih terkungkung pola pikir patriarki. Bahkan, sebagian mereka menuding perjuangan kesetaraan gender adalah upaya untuk menundukkan dan menindas laki-laki.

"Kesetaraan gender bukan dilandasi keinginan untuk menundukkan laki-laki," kata mantan aktivis Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) periode 1996-2000 itu menandaskan. Kesetaraan gender, di mata Eridani, bukanlah upaya menciptakan keadilan yang semata-mata ditujukan hanya untuk pihak perempuan saja, tetapi juga pihak mana pun yang ditindas.

"Hanya saja, kebetulan sekarang ini yang banyak menerima perlakuan tidak adil adalah perempuan," ujar Eri lebih jauh.

Buat Eridani, buku Bergerak Menuju Keadilan karya Faqihuddin adalah bagian dari mimpi Rahima untuk memperjuangkan kesetaraan gender. Sebelumnya, pada bulan Desember 2005 silam, Rahima juga sudah menerbitkan buku dari penulis yang sama, berjudul Memilih Monogami.

Apapun medianya, para aktivis Rahima terus berusaha agar mimpi terciptanya kesetaraan gender dapat terwujud. Selain buku-buku dan film dokumenter, tiap tiga bulan sekali juga di- terbitkan Majalah Swara Rahima.

Ada juga dialog publik dan pelatihan yang intinya memperjuangkan hak-hak atau keadilan bagi perempuan. Semua upaya itu sejalan dengan motif didirikannya Rahima, yakni untuk merespons kebutuhan informasi mengenai gender dalam Islam.

Awalnya, aktivitas Rahima terfokus pada pelatihan dan penyebaran informasi tentang hak-hak perempuan di lingkungan pesantren. Sejalan bertambahnya tuntutan kebutuhan masyarakat, jangkauan Rahima diperluas hingga mencakup berbagai kelompok di luar pesantren, contohnya LSM, organisasi perempuan muslim, organisasi mahasiswa, dan banyak lagi.

Dalam jangka panjang, sosialisasi kesetaraan gender ditekankan Rahima dalam bentuk pelatihan-pelatihan ke pesantren, bahwa kesetaraan gender tidak bertentangan dengan Islam.

"Kebetulan, kebanyakan aktivis yang bergabung di sini punya latar belakang pemahaman bahwa pesantren cenderung tidak terbuka atau kurang egaliter," kata Eri yang mendirikan Rahima tahun 2000 bersama sejumlah aktivis, antara lain Saparinah Sadli, Mansour Fakih, KH Husein Muhammad, Kamala Chandrakirana, Azyumardi Azra, Farha Abdul Assegaf, Masdar F Mas'udi, dan Syafiq Hasyim. Sudah waktunya, orang harus menengok lagi bagaimana Islam memperlakukan perempuan.

"Kalau kita kembali pada Al Quran dan hadis, saya percaya laki-laki dan perempuan sudah digariskan Allah punya posisi yang setara," kata Eri. Tapi, tafsir atas dua acuan utama ajaran Islam tersebut seringkali dipengaruhi hal-hal yang ada di sekelilingnya, termasuk budaya. "Kitab-kitab klasik atau kitab kuning yang masih dipakai para santri di pesantren-pesantren saat ini, banyak dibelit nilai-nilai budaya patriarki," imbuh Eridani.

Oleh sebab itu, dialog secara terus-menerus dilakukan Rahima dengan kalangan pesantren, untuk semakin mempertegas apa yang sudah digariskan Al Quran dan hadis, bahwa kesetaraan gender bukan hal asing di dalam Islam.

Diakuinya, beberapa pesantren memang bisa menerima gagasan kesetaraan gender yang disosialisasikan Rahima, antara lain pesantren di Bondowoso, Cirebon, Jember, Magelang dan Banten. Tetapi, ada juga pesantren yang tidak mau menerima ide-ide Rahima.

"Yah, inilah risiko perjuangan. Ada yang mau terima, tapi juga tidak sedikit yang menolak," kata Eri sembari tersenyum. Bagi Eri, kebanyakan para aktivis perempuan merasa tidak ada kata menyerah untuk tercapainya kesetaraan gender. Masyarakat demokratis, yang ditandai dengan terpenuhinya hak-hak perempuan, harus tetap terwujud! [Elly Burhaini Faizal]

sumber: Suara Pembaruan, 4 Juni 2006

 

kembali ke atas

kembali ke index informasi

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan