website informasi kesehatan reproduksi

OZZY

Fokus:

X


Halaman Depan
Informasi Buku
Situs Lain yang Berhubungan

Kirim Kritik dan Saran Anda

 

Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Informasi

KOMPETENSI PETUGAS KESEHATAN:  
PELAYANAN KESEHATAN REPRODUKSI TERPADU DI MATARAM

(Hasil sementara dari Maret 2003 sampai April 2003)

Latar Belakang

Sampai saat ini pelayanan kesehatan reproduksi terpadu dengan keempat komponen esensialnya (KIA, ISR/PMS, KB, KRR) belum diterapkan secara luas di Indonesia.  Upaya untuk menyediakan pelayanan kesehatan reproduksi terpadu yang berkualitas sangat tergantung pada kompetensi petugas dalam memberikan pelayanan yang mencakup kemampuan komunikasi interpersonal, kemampuan teknis medis seperti penilaian resiko, pemeriksaan fisik, membuat diagnosis, memberikan terapi dan kontrol infeksi. 

Informasi dalam fact-sheet ini didapat dari proses observasi yang dilakukan seorang asisten peneliti terhadap interaksi antara petugas kesehatan dengan klien serta dari catatan medis yang dibuat oleh petugas kesehatan.  Petugas kesehatan yang terlibat dalam pelayanan klinik sebanyak 3 orang, terdiri dari 1 orang bidan, 1 orang dokter umum, dan 1 orang petugas laboratorium.

Metodologi

Studi ini merupakan action research melalui pendekatan penggerakan masyarakat dan pemberian pelayanan kesehatan reproduksi hasil kerjasama Pusat Penelitian Peranan Wanita Universitas Mataram dan Pusat Informasi Kesehatan dan Perlindungan Keluarga.  Fokus kegiatan penggerakan masyarakat adalah Komunikasi, Informasi dan Edukasi kepada perempuan pengrajin gerabah di desa Banyumulek, melalui kegiatan outreach dan penyuluhan.  Sasaran ini dipilih mengingat para pengrajin ini terbukti mampu memberikan kontribusi bagi ekonomi rumah tangga namun kesehatan dirinya terabaikan, terlihat dari kurangnya waktu istirahat, kebersihan, dan kondisi lingkungannya.  

Hasil ObservasI 

A.      Kemampuan Petugas dalam Aspek Non-Klinis

1.   Interaksi petugas-klien dalam 271 kunjungan klien masih belum memenuhi standard operating procedure (SOP), terlihat masih rendahnya petugas dalam menjelaskan diagnosis (20,3%), pilihan tindakan (0,4%), prosedur tindakan (1,8%), cara minum obat/pil KB (21%), fenomena pingpong (13,7%), serta cara dan pentingnya pemakaian kondom (11,1%).

2.   Namun demikian, ada 3 komponen yang menonjol terutama dalam membangun rapport/hubungan baik dengan klien (99,6%), berkomunikasi tanpa menyudutkan klien (88,9%), dan kemampuan menggali informasi tentang status aktif seksual klien (98,5%).

 

B. Kemampuan Petugas dalam Aspek Klinis

1. Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik

Gambar 1. Persentase perilaku petugas dalam melakukan pemeriksaan fisik terhadap pasien (N=271), Mataram Maret 2003-April 2003

 

§    Kemampuan petugas dalam melakukan anamnesis masih kurang. Walaupun pada lebih dari 60% interaksi petugas-klien, petugas mampu menggali semua informasi yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi klien, namun pertanyaan  untuk tanda-tanda kehamilan dan aborsi hanya dilakukan < 5% dari interaksi petugas-klien.

§    Penampilan yang cukup baik ditunjukkan oleh petugas dalam melakukan pemeriksaan fisik, lebih dari 73% interaksi petugas-klien petugas melakukan pemeriksaan inspekulo, palpasi inguinal dan pemeriksaan kulit, kecuali untuk pemeriksaan bimanual yang merupakan pemeriksaan yang paling jarang dilakukan (59%), padahal pemeriksaan bimanual cukup penting dalam deteksi ISR/PMS.

 

2.  Validitas Pemeriksaan Gram Stain Laboratorium Setempat Dibanding Pemeriksaan Laboratorium Rujukan

§    Validitas pemeriksaan laboratorium setempat ditunjukkan dengan sensitifitas (kemampuan menemukan kasus positif) dan spesifisitas (kemampuan menemukan kasus negatif) pemeriksaan laboratorium setempat dibandingkan dengan hasil laboratorium rujukan.

§    Pemeriksaan laboratorium setempat menunjukkan hasil yang kurang sensitif dalam mengidentifikasi kasus ISR/PMS (paling tinggi hanya 65% untuk identifikasi bakterial vaginosis).  Bahkan untuk kasus Diplococcus Gram Negatif Intraseluler laboratorium setempat tidak menemukan satupun dari 4 kasus positif yang ditemukan laboratorium rujukan (sensitifitas 0%).  Namun perlu diingat bahwa kecilnya sensitifitas untuk DGNI ini kemungkinan dipengaruhi oleh kecilnya jumlah kasus positif DGNI tersebut.

§    Dari segi spesifisitas kemampuan laboratorium setempat cukup bagus (spesifisitas >80%), artinya hanya sedikit kasus negatif (<20%) yang diidentifikasi sebagai kasus positif.

Gambar 2. Validitas pemeriksaan laboratorium setempat dengan pewarnaan Gram dibanding hasil laboratorium rujukan (N=66), Mataram Februari 2003-Juli 2003

 

3.         Kontrol Infeksi

Gambar 3. Persentase perilaku kontrol infeksi petugas kesehatan (N=271), Mataram, Maret 2003-April 2003

 

Secara umum kontrol infeksi yang dilakukan oleh petugas dalam melakukan pemeriksaan cukup baik, dalam 97% pemeriksaan, petugas selalu memakai instrumen steril, memakai sarung tangan steril serta mencuci tangan sesudah melakukan pemeriksaan.  Namun hanya 10% petugas yang  mencuci tangan sebelum melakukan pemeriksaan.

sumber: Factsheet Yayasan Mitra INTI, 2004

 

kembali ke atas

kembali ke index informasi

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan