|
Laporan Kunjungan Penguatan
Daerah oleh Yayasan Spiritia
Ringkasan Eksekutif 11 September 2003
Mengikuti permintaan dari orang yang hidup dengan HIV/AIDS (odha) di
Indonesia pada Pertemuan Nasional Odha (PNO) kedua pada September
2001,
Spiritia memulai program kunjungan daerah ke seluruh pelosok
Indonesia.
Tujuan utama adalah: mendapatkan gambaran jelas tentang keadaan yang
sedang dihadapi oleh odha di sekitar Indonesia; memfasilitasikan
tersedianya dukungan untuk odha; menghubungi para pembuat keputusan
dan
penyedia layanan di daerah-daerah; serta merangsang terbentuknya
kelompok dukungan sebaya di daerah. Selama hampir dua tahun sejak
kunjungan pertama pada November 2001, tim Spiritia, selalu terdiri
dari
odha dan orang yang tidak terinfeksi tetapi terpengaruh oleh
HIV/AIDS
yang sudah siap mengungkapkan status HIV-nya, telah mengunjungi 36
kota
di 20 provinsi. Ford Foundation bersama dengan IHPCP dan program ASA
mendanai kunjungan ini.
Di setiap tempat, selain pertemuan dengan odha di daerah, jika
memungkinkan tim juga berusaha untuk bertemu dengan Komisi
Penanggulangan AIDS di provinsi dan/atau daerah/kota, serta
perwakilan
pemerintah daerah, anggota DPRD, rumah sakit, dokter dan LSM terkait.
Tim juga bertemu dengan kelompok orang yang berisiko, termasuk
pekerja
seks, pengguna narkoba dan waria. Laporan dibuat dan disebarkan
sesudah
setiap kunjungan berakhir.
Gambaran umum yang dapat dilihat dari program kunjungan selama dua
tahun ini adalah peningkatan epidemi AIDS dengan cepat di sebagian
daerah dan di antara beberapa kelompok, dengan tanggapan yang
terlambat, dan di banyak tempat justru sangat terlambat. Di beberapa
provinsi dan daerah, tindakan darurat sangat diperlukan jika epidemi
seperti yang terjadi di Afrika ingin dihindari.
Mustahil merangkum dan mengambil kesimpulan umum dari ratusan
pertemuan
di 36 kota. Bagaimana pun, beberapa benang merah terlihat, dan hal
ini
telah digambarkan di dalam 14 judul di laporan serta hampir 50
rekomendasi. Memang ini angka yang sangat besar dan mungkin tidak
masuk
akal untuk mengharapkan semuanya akan mendapatkan perhatian yang
sama.
Sementara sulit untuk mengidentifikasi hal yang paling mendesak dari
rekomendasi yang ada, beberapa hal berikut mungkin patut diberikan
prioritas utama:
1. KPAD harus diberdayakan untuk berperan jauh lebih aktif,
dengan
keanggotaan berdasarkan nama dan sekretariat
penuh waktu.
2. Strategi harus dikembangkan untuk meyakinkan para anggota
DPRD
bahwa ancaman memang nyata dan mendorong mereka
untuk mengambil
peranan dalam penanggulangannya.
3. LSM harus didorong untuk berperan lebih aktif, terutama di
luar ibu
kota provinsi.
4. Pelatihan para petugas kesehatan, terutama tentang terapi
antiretroviral, harus diberikan prioritas utama,
bersamaan dengan
tindakan untuk mencegah penyebaran infeksi
melalui intervensi medis
termasuk transfusi darah yang tidak aman.
5. Ketersediaan konseling dan tes secara sukarela (VCT) di
semua
daerah, terutama meliputi fasilitas tes fisik dan
tempat tes yang
ramah, harus dijadikan prioritas utama.
6. Surveilans unlinked-anonymous harus diperluas lebih banyak
sentinel
di lebih banyak daerah, termasuk pengguna narkoba,
wanita hamil dan
waria, dengan VCT kemudian ditawarkan ke semua
kelompok.
7. Informasi harus tersedia lebih luas, meliputi topik yang
penting ke
kelompok tertentu dengan rincian yang lebih jelas.
Ini termasuk
penataran pengetahuan untuk para profesional
layanan kesehatan dan
anggota KPAD.
8. Asas keterlibatan odha dan ohidha yang lebih besar (GIPA)
harus
dipromosikan lebih baik lagi. Organisasi layanan
AIDS harus
didorong agar tidak menimbulkan ketergantungan
antara odha yang
mereka dukung.
9. Pemetaan liputan lembaga donor harus diselesaikan, agar
kekosongan
dapat diidentifikasi dan lembaga donor yang lain
dapat mengisi
kekosongan itu. Pemerintah harus didorong untuk
menyediakan jauh
lebih banyak dana.
10. Kerja sama yang lebih besar dan komunikasi yang lebih luas
diperlukan antara pemerintah daerah/KPAD yang
berdekatan untuk
menanggulangi populasi rentan dengan mobilitas
tinggi.
Program kunjungan ini telah menghabiskan biaya yang cukup besar baik
untuk sumber daya manusia maupun untuk dana, tetapi telah berhasil
dalam meningkatkan mutu hidup odha di Indonesia. Bagaimana pun,
dianggap bahwa kunjungan ini mempunyai nilai yang lebih besar dalam
mengidentifikasi dan menjelaskan epidemi AIDS serta
penanggulangannya
di sekitar Indonesia. Spiritia berusaha mengumpulkan bantuan dalam
memperluas peliputan ke daerah dan tempat yang belum dikunjungi dan
dalam menindaklanjuti kunjungan ke tempat yang sudah dikunjungi.
Tambahan pula, jelas bahwa tindakan yang diusulkan membutuhkan
kepemimpinan yang aktif dari berbagai pihak, terutama dari KPA.
Diharapkan laporan ini akan merangsang kepemimpinan tersebut serta
tindakan yang penting dilakukan untuk menghadapi tantangan yang
paling
mendesak.
sumber:
aids-ina@yahoogroups.com
kembali
ke atas
kembali
ke index informasi |