Laporan Situasi Kependudukan Dana Perserikatan Bangsa-Bangsa
untuk Kependudukan (UNFPA) tahun 2005 menyerukan kepada para
pemimpin untuk memenuhi janji kesetaraan dan kesederajatan di
berbagai sektor kehidupan bagi perempuan dan anak perempuan di dalam
semua ras, agama, kelompok, dan golongan. Kalau tidak, kemiskinan
tidak akan menjadi sejarah dan cita-cita besar apa pun tentang
kemajuan tidak akan pernah tercapai.
Diskriminasi merupakan faktor penting penyebab kemiskinan dan
pengucilan sosial, begitu pesan Direktur Eksekutif UNFPA Dr Thoraya
Ahmed Obaid, melalui siaran pers peluncuran Laporan UNFPA 2005 pada
12 Oktober 2005.
Laporan berjudul The Promise of Equality: Gender Equity,
Reproductive Health and The Millenium Development Goals (MDGs) itu
menegaskan bahwa kesetaraan berbasis gender, hak reproduksi, dan
pemenuhan semua sasaran MDGs mutlak untuk mewujudkan situasi yang
manusiawi seluruh warga dunia. Pemenuhan hak-hak sipil, politik,
ekonomi, sosial, budaya untuk perempuan, anak perempuan, remaja dan
dewasa muda adalah hal yang sangat mendesak.
Sasaran ketiga MDGs, yakni mempromosikan kesetaraan gender dan
pemberdayaan perempuan bukan hanya merupakan tujuan, tetapi harus
terintegrasi di dalam tujuh tujuan lainnya. Tanpa itu, tujuan MDGs
tak akan tercapai, tegas Deputi Pemberdayaan Lembaga Masyarakat
Kantor Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Yusuf Supiandi.
Laporan UNFPA menggedor kemacetan berpikir yang menganggap dampak
kemiskinan dan berbagai turunannya sama pada semua segmen manusia.
Ini mengingatkan pada Laporan Pembangunan Manusia (HDR) Program
Pembangunan PBB, UNDP tahun 1995, yang mengetuk kesadaran manusia
tentang kesetaraan relasi kuasa antara perempuan dan laki-laki.
Menurut Laporan UNFPA, kekerasan berbasis gender adalah sumber
dari segala sumber yang merusak dan menghancurkan manusia beserta
kemajuan apa pun yang telah dicapai. Ia membunuh dan membahayakan
perempuan dan anak perempuan sejak lahir, bahkan sejak berada di
dalam kandungan. Di Asia, setidaknya 60 juta anak perempuan hilang
oleh praktik-praktik pemilihan jenis kelamin, pembunuhan bayi,
penelantaran, dan berbagai tindak kekejian lainnya.
Kekerasan mengikuti sepanjang kehidupan perempuan. Setiap tahun
sekitar 800.000 orang diperdagangkan untuk dieksploitasi, 80
persennya perempuan dan anak perempuan yang diperdagangkan dengan
cara memerangkap dan menculiknya untuk bisnis seks. Kekerasan lain
terbisukan di dalam bilik kukuh bernama keluarga.
Satu dari lima perempuan pernah diperkosa dan mengalami upaya
pemerkosaan. Satu dari tiga pernah mengalami kekerasan fisik,
psikologis, dan seksual. Sulit memperkirakan besarnya kerugian
karena yang sudah dihancurkan sulit diperbaiki. Hitungan ekonomis
mencakup hilangnya masa pendidikan dan produktivitas di AS saja
mencapai 12,9 miliar dolar AS per tahun.
Kesehatan reproduksi
Kesehatan reproduksi adalah tolok ukur kesetaraan. Kekerasan
berbasis gender membuat berbagai masalah terkait kesehatan
reproduksi tak bisa diselesaikan. Inilah penyebab utama kematian dan
berbagai penyakit perempuan berusia 14-44 tahun di dunia. Bayi yang
dilahirkan oleh ibu yang meninggal saat melahirkan kemungkinan
meninggal prematur antara tiga sampai 10 kali. Sekitar 99 persen
kejadian itu berlangsung di negara berkembang.
Di Indonesia, data resmi angka kematian ibu melahirkan (AKI)
adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup, tertinggi di Asia. Untuk
lebih mudah memahaminya, sekitar 20.000 perempuan meninggal per
tahun atau 5,55 per hari akibat kehamilan dan sebab-sebab yang
terkait dengan kehamilan.
Kepala Perwakilan UNFPA di Jakarta Bernard Coqeilin dalam acara
peluncuran laporan tersebut di Jakarta, Rabu (12/10), mengingatkan,
angka itu adalah angka rata-rata, tidak bisa diperlakukan sebagai
angka sebenarnya karena disparitas yang tinggi antarwilayah. Laporan
Pembangunan Manusia Indonesia Tahun 2004 menyebut AKI di Papua lebih
dari 1.000 per 100.000 kelahiran hidup.
Dr Kartono Muhamad dari Yayasan Kesehatan Perempuan mengingatkan,
AKI tidak bisa dipisahkan dengan kesehatan reproduksi yang mencakup
setiap tahapan dari perkembangan fisik sejak balita sampai usia
lanjut. Angka cacingan di kalangan anak-anak masih sangat tinggi,
ujarnya. Cacingan menyebabkan anemia saat remaja dan dewasa, ancaman
terbesar ibu hamil.
Pada Konferensi Internasional tentang Pembangunan dan
Kependudukan (ICPD) di Kairo tahun 1994, pemerintah dari lebih 120
negara berjanji menyediakan pelayanan kesehatan reproduksi bagi
semua orang tanpa diskriminasi, secepat mungkin, paling lambat tahun
2015.
Dari konferensi itu lahir konsensus global bahwa hak reproduksi
adalah hal paling utama dalam pemenuhan hak asasi manusia,
pembangunan berkelanjutan, kesetaraan gender, dan pemberdayaan
perempuan.
AKI memperlihatkan dampak tragis dari kemiskinan dan
ketidaksetaraan relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan terhadap
kehidupan perempuan dan anak perempuan. Semakin miskin dan semakin
tidak setara hubungan kekuasaan itu, semakin tinggi AKI di suatu
negara. Di Sub Sahara Afrika, misalnya, satu dari 16 perempuan
menghadapi risiko kematian dari komplikasi akibat kehamilan. Di
negara-negara dengan situasi yang lebih baik, risikonya satu dari
2.800.
Laporan tersebut menyatakan, setiap tahun 76 juta kehamilan tak
diinginkan terjadi di negara berkembang, 19 juta di antaranya
berakhir dengan aborsi tidak aman, penyebab utama kematian ibu.
Kemiskinan, diskriminasi, dan kekerasan membuat perempuan dan
anak perempuan rentan terinfeksi HIV. Saat ini separuh dari 40 juta
orang yang hidup dengan HIV adalah perempuan. Padahal, ketika
HIV/AIDS muncul tahun 1980-an sebagai masalah kesehatan masyarakat,
sebagian besar yang terinfeksi adalah laki-laki. Kenaikan terbesar
terjadi di kalangan usia muda antara 15-24 tahun. Karena itu,
pencegahan HIV di antara perempuan hamil sangat krusial.
Laporan itu menekankan kemitraan dengan laki-laki. Dalam
ketiadaan obat dan penyembuhan, perubahan tingkah laku laki-laki
sangat penting untuk mencegah penyebaran virus HIV. Perawatan dan
dukungan laki-laki yang memiliki informasi akan memperbaiki kualitas
kehamilan perempuan dan kelahiran anak. Laki-laki dan anak laki-laki
harus diberi pemahaman bahwa apa pun yang mereka lakukan terhadap
orang lain akan selalu terkait dengan kemanusiaan mereka sendiri.
Di Indonesia, komitmen memenuhi keputusan ICPD menurun. Para
tokoh belum memahami kesepakatan yang ditandatangani di ICPD,
khususnya dalam upaya mengurangi aborsi ilegal tidak aman.
Pendekatan pencegahan, seperti penggunaan kondom, juga masih banyak
ditolak, tegas dr Kartono.
Komitmen politik untuk mencapai sasaran MDGs juga rendah, kata
Kartono. Semuanya masih sebatas retorika. Pandangan konservatif
menguat di kalangan tokoh agama dan politik, partisipasi masyarakat
rendah, dan situasi ekonomi kian runyam. Dengan gambaran seperti
itu, perempuan dan kelompok muda, lebih-lebih dari kelompok
terpinggirkan, akan berada dalam situasi kemanusiaan yang kian
kritis.