website informasi kesehatan reproduksi

OZZY

Fokus:

X


Halaman Depan
Informasi BukuSitus Lain yang Berhubungan

Kirim Kritik dan Saran Anda

 

Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Informasi

Pertemuan Forum Kesehatan Reproduksi DKI Jakarta IV 

Forum Kesehatan Reproduksi DKI Jakarta kembali mengadakan forum diskusi bersama antar anggotanya. Forum yang terdiri dari beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang concern terhadap masalah kesehatan reproduksi di Indonesia, beberapa instansi pemerintah terkait, seperti Dinas Kesehatan dan Puskesmas-Puskesmas, serta beberapa sekolah lanjutan ini membahas beberapa topik, yaitu tentang Pemetaan kegiatan Life Skill Education di Indonesia; Kegiatan Kesehatan Reproduksi melalui Usaha Kesehatan Sekolah; Paparan Life Skill Education di SMPN 73 dan SMUN 26; serta forum diskusi bersama.

Materi pertama dibawakan oleh Prof. Dr. Charles Surjadi, MPH. Inti dari isi materi yang disampaikan adalah bahwa sangatlah penting untuk melakukan pemetaan kegiatan Life Skill Education (LSE) yang ada di Indonesia. Dengan demikian dapat diketahui wilayah mana yang belum tercapai program LSE ini, sehingga mudah direncanakan strategi apa yang harus dilakukan berikutnya. Selain itu perlu dipahami bersama bahwa LSE bukan hanya sekedar sebuah “keterampilan mencari uang”, namun lebih kepada bagaimana seorang anak dapat menjadi dirinya sendiri, percaya diri akan kemampuannya, serta  dapat mengatasi segala permasalahan yang dihadapinya  dengan baik dan bijak (selanjutnya dapat dibaca pada artikel Pemetaan LSE di Indonesia).

Materi kedua disampaikan oleh Kepala Subdin PSIK Dinkes DKI, yang diwakilkan oleh Dr. Taufik. Isi dari materi yang disampaikan antara lain adalah mengenai kegiatan yang dilakukan oleh Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), tujuan dilakukannya kegiatan UKS tersebut dan apa saja yang termasuk di dalam kegiatan tersebut.

UKS di sekolah sendiri dilaksanakan dalam 3 (tiga) program pokok, yaitu :

  1. Pendidikan Kesehatan (termasuk program intra dan ekstra kurikuler)
  2. Pelayanan Kesehatan (berupa upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif)
  3. Bina Lingkungan Kehidupan Sekolah Sehat (termasuk di dalamnya pembinaan fisik, mental dan sosial)

Sasaran dari program yang salah satu tujuannya untuk meningkatkan pengetahuan dan perubahan perilaku sehat ini adalah seluruh remaja usia 10 – 19 tahun, baik itu yang duduk di kelas 5 – 6 SD, SMP, SMU maupun yang ada di Pondok Pesantren.

Kegiatan kesehatan reproduksi yang telah dilakukan di sekolah-sekolah hingga saat ini adalah pendidikan kesehatan yang diintegrasikan ke dalam pelajaran Penjaskes dan Biologi. Ada pula kegiatan yang lain, namun hingga kini belum terlihat keefektifannya, misalnya penyuluhan kesehatan repoduksi remaja (KRR) dan konseling KRR. Adapun kegiatan seperti bimbingan dan konseling yang seharusnya ada di setiap sekolah lanjutan, nampaknya belum terarah pada KRR.

Di akhir sesi, pembicara menyampaikan beberapa masalah berkenaan dengan kegiatan UKS ini yang terkait dengan 3 (tiga) pokok masalah, yaitu belum adanya kebijakan pemerintah yang mengarah dan memperhatikan masalah kesehatan reproduksi, sumber daya manusia yang terbatas serta kegiatan yang walaupun ada namun masih belum berkembang.

Pada sesi ketiga, terjadi sedikit kerancuan, di mana seharusnya yang disampaikan adalah tentang kegiatan LSE di sekolah, namun yang akhirnya disampaikan adalah mengenai KRR dan permasalahannya di SMPN 73 Tebet. Sedangkan perwakilan dari SMUN 26 hanya menguatkan bahwa permasalahan yang ada di sekolahnya tidak jauh berbeda dengan SMPN 73, yang perwakilannya mendapat kesempatan berbicara terlebih dahulu.

Masalah-masalah seputar KRR yang terjadi di SMPN 73 antara lain sekitar menstruasi, seperti rasa tidak percaya diri saat haid hingga aktivitas yang ikut berkurang saat haid datang karena darah haid yang tembus, bau badan serta sakit saat haid (dysmenorrhoea). Selain itu ada juga masalah-masalah yang timbul akibat libido yang berlebihan pada remaja, misalnya mojok saat berpacaran hingga perilaku agresif terhadap lawan jenis (dilakukan oleh pelajar putri maupun putra). Masalah lain yang terkait dengan KRR adalah seputar kebingungan karena perubahan fisik dan emosi yang labil.

Sebagaimana dengan kegiatan UKS yang telah dipaparkan di atas, di  SMPN 73, KRR ditangani oleh guru IPA (cenderung menjelaskan tentang alat-alat reproduksi), guru Penjaskes (menjelaskan cara pemeliharaan namun tidak terinci) dan guru BK (Bimbingan dan Konseling; lebih kepada tumbuh kembang remaja). Hambatan-hambatan yang selama ini dihadapi para guru yang menangani KRR di SMPN 73 antara lain karena kurangnya wawasan/ilmu yang dimiliki, sehingga tidak jarang terjadi salah persepsi antara guru yang satu dengan yang lainnya. Bahkan disebutkan sebagai contoh oleh Bapak Mukhsan, salah seorang guru BK SMPN 73, bahwa dalam suatu kesempatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) BK, ada seorang guru perempuan yang tidak tahu dari mana darah haidnya keluar. Selain itu, banyak orang  yang menganggap bahwa KRR merupakan suatu masalah yang tidak penting, baik orang tua, guru dan pihak terkait lainnya, sehingga banyak yang tidak mendukung program tersebut. Ditambah lagi dengan tidak adanya pedoman dan panduan dari kurikulum yang jelas, maka sisipan KRR dalam mata pelajaran tersebut, tampaknya hanya sebagai tambalan biasa.

Acara yang juga dihadiri oleh perwakilan dari BKKBN DKI dan BKKBN Pusat ini dilanjutkan dengan diskusi bersama ini pada akhirnya lebih banyak membicarakan tentang KRR. Bagaimana pentingnya pemberian informasi kesehatan reproduksi pada remaja, pemetaan terhadap kegiatan KRR yang telah dilakukan, serta memasukkan kesehatan reproduksi ke dalam kurikulum.

Seorang guru konseling, perwakilan dari SMU Al-Izhar, mengatakan bahwa orang dewasa sebaiknya peka terhadap kebutuhan remaja, bahkan kalau perlu diadakan pelatihan agar bisa melakukan konseling sesuai dengan gaya yang dapat diterima anak, agar anak merasa nyaman dan bisa terbuka. Sedangkan Bapak Sudarto dari Direktorat Remaja BKKBN Pusat berpendapat bahwa program KRR yang perlu dijalankan adalah program advokasi, promosi dan konseling, serta penyebaran informasi.

Di akhir pertemuan ini, dapat dirangkum beberapa pernyataan baik berupa himbauan dan juga harapan agar dapat dibuat pelatihan atau penyuluhan yang intensif terutama untuk para guru, dengan demikian pemahaman tentang KRR dapat sama dan hasilnya pun menjadi efektif karena permasalahan KRR tidak hanya akan ditangani oleh guru BK, guru IPA atau guru Penjaskes saja, melainkan juga oleh semua guru tak terkecuali. Selain itu tentu saja bahwa pihak terkait (Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan Nasional) perlu memasukkan kesehatan reproduksi ke dalam kurikulum pendidikan.  

Laporan dari Pertemuan Forum Kesehatan Reproduksi DKI Jakarta IV,  21 September 2004, Gd. TIFA Lt. 5 Jakarta Selatan oleh Maria Zulfah

 

kembali ke atas

kembali ke index informasi

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan