OZZY

Fokus:

X







 

Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Keluarga Berencana 

Pil Khusus Pencegah Kehamilan/PKPK 
(Emergency Contraceptive Pills/ECPs)

Arti Istilah

Sebagaimana halnya dengan istilah kontrasepsi darurat, sampai saat ini belum ada kesepakatan istilah dalam bahasa Indonesia untuk Emergency Contraceptive Pills.  Kebanyakan istilah yang dipakai adalah Pil Khusus Pencegah Kehamilan/PKPK.  Beberapa alternatif istilah adalah pil darurat, pil pasca senggama, pil 72 (karena diminum maksimal dalam waktu 72 jam setelah hubungan seksual tanpa perlindungan), dsb.  Dalam istilah kedokteran, dulu pil ini dikenal sebagai “morning after pills”.  Istilah “morning after pills” ini sekarang dirasakan tidak tepat karena tidak menunjukkan waktu pemakaian yang tepat dari metode ini yang dapat dipakai sampai maksimal 72 jam setelah hubungan seksual yang tidak terlindungi.  Selain itu istilah ini juga tidak mencakup pesan penting dari metode ini yaitu bahwa metode ini hanya dipakai untuk keadaan ‘darurat’ dan tidak dimaksudkan untuk pemakaian rutin/reguler.  Oleh karena itu istilah yang dipakai dalam bahasa Inggris sekarang adalah “Emergency Contraceptive Pills”.  Yang dimaksud dengan metode ini adalah berbagai metode hormonal yang dapat dipakai untuk mencegah kehamilan setelah terjadinya hubungan seksual tanpa perlindungan. 

Cara kerja 

Pil khusus pencegah kehamilan (PKPK) bekerja dengan cara mencegah atau menunda ovulasi, mencegah pembuahan, atau mencegah penempelan hasil pembuahan ke dalam dinding rahim.  Pil khusus pencegah kehamilan tidak akan efektif jika penempelan hasil pembuahan telah terjadi.  Pil tidak dapat menyebabkan aborsi jika kehamilan telah terjadi.

Jenis-jenis PKPK dan cara pemakaiannya

Ada 2 jenis PKPK yaitu:

1.      Pil KB biasa yang berisi kombinasi antara estrogen (ethynilestradiol) dan progestin (levonorgestrel atau dl-norgestrel).  Regimen ini dikenal sebagai “Metode Yuzpe” dan telah diteliti dan dipakai secara luas sejak pertengahan tahun 1970-an. 

  • Untuk pil dosis tinggi yang berisi ethynilestradiol 50 mg dan levonorgestrel 250 mg (atau dl-norgestrel 500 mg): dua buah pil harus diminum maksimal 72 jam setelah hubungan seksual tanpa perlindungan diikuti dengan dua buah pil 12 jam kemudian
  • Untuk pil yang berisi ethynilestradiol 30 mg dan levonorgestrel 150 mg (atau dl-norgestrel 300 mg): 4 buah pil harus diminum maksimal 72 jam setelah hubungan seksual tanpa perlindungan diikuti 4 pil 12 jam kemudian (secara lengkap tentang aturan minum berbagai merek pil KB dapat dilihat di tabel 1)

2.      Pil yang berisi progestin saja, termasuk di sini adalah pil yang khusus dibuat sebagai kontrasepsi darurat (dedicated product, Postinor-2 untuk Indonesia)

·        Untuk pil yang berisi levonorgestrel 750 mg (0,75mg): satu pil diminum maksimal 72 jam setelah hubungan seksual tanpa perlindungan, diikuti dengan 1 pil 12 jam kemudian

·        Untuk pil yang berisi levonorgestrel 30 mg: 25 pil harus diminum maksimal 72 jam setelah hubungan seksual tanpa perlindungan, diikuti dengan 25 pil 12 jam kemudian

·        Untuk pil yang berisi dl-norgestrel 75 mg: 20 pil harus diminum maksimal 72 jam setelah hubungan seksual tanpa perlindungan, diikuti dengan 20 pil 12 jam kemudian (secara lengkap lihat di tabel 1)

 

Tabel 1.  Dosis berbagai merek pil yang diperlukan sebagai kontrasepsi darurat

 

Isi

Jumlah yang harus diminum

 

Nama pil

 

EE: ethinylestradiol

LNG: levonorgestrel

NG: dl-norgestrel

Maksimal 72 jam setelah hubungan seksual tanpa perlindungan

12 jam kemudian

I.  Pil Kombinasi (metode Yuzpe)

 

 

Neogynon, Noral, Nordiol, Ovidon, Ovran, Tetragynon/PC4, Neo-Primovlar 4, E-Gen-C, Fertilan

Eugynon 50, Ovral

EE 50 mg + LNG 250 mg





EE 50 mg + NG 500 mg

2





2

2





2

Microgynon 30, Nordette, Rigevidon

LO/Femenal, Ovral L

EE 30 mg + LNG 150 mg


EE 30
mg + NG 300 mg

4

 
4

4


4

II. Pil hanya progestin

 

 

Postinor, Postinor-2*

 

LNG 750 mg

1

1

Microlut, Microval, Norgeston

 

Ovrette

LNG 30 mg

 

NG 75 mg

25

 

 20

25

 

 20

Catatan:

Nama pil dengan garis bawah dan dicetak tebal adalah pil-pil yang tersedia di Indonesia

* Masih dalam proses registrasi untuk dipasarkan di Indonesia

 

Kemanjuran (Efficacy)

Jika ada 100 perempuan dalam 1 bulan memakai PKPK secara benar setelah melakukan 1 kali hubungan seksual tanpa perlindungan, sekitar 2 perempuan akan menjadi hamil.  Jika tanpa pemakaian metode kontrasepsi apapun 8 perempuan akan menjadi hamil.  Jadi, pemakaian PKPK mengurangi kemungkinan kehamilan sampai 75%. 

Ada 2 faktor yang mempengaruhi kemanjuran PKPK: 1) jarak antara waktu minum dosis yang pertama dengan terjadinya hubungan seksual tanpa perlindungan; dan 2) hubungan seksual berlangsung pada periode mana dari siklus menstruasi perempuan.  Semakin awal PKPK diminum semakin tinggi kemanjurannya.  Beberapa percobaan klinis menunjukkan bahwa kemanjuran tertinggi PKPK adalah bila diminum dalam 24 jam pertama setelah hubungan seksual tanpa perlindungan, dan menurun secara terus menerus setiap 24 jam.  Semakin dekat waktu antara hubungan seksual tanpa perlindungan dengan saat terjadinya ovulasi, semakin kecil kemajuran dari PKPK.  Hal penting yang juga perlu diketahui adalah bahwa PKPK tidak semanjur penggunaan pil KB biasa secara benar dan konsisten, atau pemakaian AKDR, susuk KB atau suntik KB. 

Metode Yuzpe (pil kombinasi estrogen dan progestin) menurunkan risiko terjadinya kehamilan sebesar 75%.  Sementara pil yang berisi progestin saja menurunkan risiko terjadinya kehamilan sekitar 85%.  Jika diminum dalam 24 jam setelah hubungan seksual tanpa perlindungan kemanjuran lebih tinggi yaitu sekitar 95%.

Keamanan

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tidak ada kontraindikasi absolut untuk pemakaian PKPK selain adanya kehamilan.  Kehamilan menjadi kontraindikasi bukan karena adanya bahaya bagi orang hamil jika minum PKPK namun lebih karena PKPK tidak akan efektif jika kehamilan sudah terjadi.  Lembaga Food and Drug Administration Amerika Serikat jelas menyatakan bahwa PKPK tidak akan membahyakan kehamilan yang sudah terjadi, juga tidak ada bukti bahwa hormon yang ada dalam PKPK punya efek buruk terhadap pertumbuhan janin.

Efek samping dan cara penanganannya

  • Mual: terjadi pada sekitar 50% klien yang memakai pil kontrasepsi kombinasi, namun tidak akan berlangsung lebih dari 24 jam.  Pada klien yang memakai pil hanya-progestin mual hanya terjadi pada 20% klien. Cara penanganan: pil diminum bersama dengan makanan atau pada saat akan tidur dapat mengurangi mual.  Pemakaian obat anti muntah sebelumnya juga akan menurunkan mual.  Pemakaian anti mual setelah rasa mual mulai muncul tidak akan efektif.

  • Muntah:  efek samping muntah dapat terjadi pada sekitar 20% perempaun yang memakai pil kombinasi dan hanya 5% pada pemakai pil hanya-progestin. Cara penanganan: jika klien muntah dalam waktu 2 jam setelah minum pil ini, klien harus minum pil lagi.  Tetapi klien tidak boleh minum pil lebih dari dosis yang dianjurkan, karena kelebihan dosis ini tidak akan membuat metode ini lebih efektif malah bisa meningkatkan rasa mual.  Pada kasus muntah berat, pengulangan pemberian doses mungkin dapat diberikan lewat vagina.

  • Perdarahan per vaginam yang tidak teratur: beberapa perempuan mungkin mengalami bercak darah (spotting) setelah minum pil ini.  Kebanyakan perempuan akan mendapatkan menstrusi berikutnya tepat waktu atau sedikit lebih cepat.  Cara penanganan: jika menstrusi terlambat sampai satu minggu, perlu dilakukan tes kehamilan.

  • Efek samping lain dari PKPK termasuk: payudara terasa keras, sakit kepala, pusing dan lemah.  Umumnya efek samping ini tidak berlangsung sampai 24 jam.  Aspirin atau obat penghilang rasa sakit yang dapat diperoleh tanpa resep dapat dipakai untuk menghilangkan rasa tidak enak tersebut.  

 

Beberapa persepsi yang salah tentang PKPK

(1) pil ini dianggap sama dengan pil aborsi; (2) bahwa penyebarluasannya akan mendorong perilaku tidak bertanggung jawab dan aktivitas seksual pada remaja; (3) bahwa laki-laki akan menolak untuk menggunakan kondom dan (4) bahwa perempuan akan menggunakan pil ini sebagai metode reguler/rutin atau akan menggunakannya berlebihan.  Tidak ada bukti bahwa pemberian akses yang mudah terhadap kontrasepsi darurat akan menyebabkan pengambilan keputusan yang tidak bertanggung jawab sehubungan dengan perilaku seksual, ataupun remaja menjadi semakin terdorong untuk melakukan hubungan seksual karena adanya pil ini. 

Memulai pemakaian kontrasepsi reguler lain setelah memakai PKPK

Setelah pemakaian PKPK, perlu dianjurkan untuk segera memakai kontrasepsi reguler lain, dengan jarak waktu sebagai berikut:

·     Kondom

:

Dapat dipakai segera.

·     Pil KB biasa

:

Harus dimulai dalam 5 hari pertama periode menstruasi berikutnya (atau sesuai dengan petunjuk untuk tipe pil yang dipakai).

·     KB suntik

:

Harus diberikan dalam 7 hari pertama periode menstruasi berikutnya.

·     AKDR/IUD

:

Harus dipasang dalam periode menstruasi berikutnya (jika klien memang ingin memakai AKDR/IUD sebagai metode jangka panjang dan memenuhi criteria pemakaian IUD, sebaiknya metode kontrasepsi darurat yang dipakai adalah dengan pemasangan IUD-Copper T sebagai alternatif dari pemakaian pil sebagai kontrasepsi darurat).

·     KB Alami

:

Harus dimulai setelah adanya periode menstruasi jika tidak ada perdarahan yang tidak teratur.  Jika ini merupakan metode baru bagi klien tersebut, klien harus diberi penjelasan untuk memastikan bahwa dia bisa mempraktekkan hal tersebut secara benar.

·     Susuk KB

:

Harus diberikan dalam 7 hari pertama periode menstruasi berikutnya.

·     KB steril

:

Hanya boleh dilakukan jika metode ini memang sungguh-sungguh merupakan pilihan klien sendiri berdasarkan berbagai informasi tentang metode ini.  Direkomendasikan, agar klien tidak membuat keputusan pemakaian metode ini dengan kondisi terpaksa.

 

 

 

Disusun oleh Siti Nurul Qomariah

Sumber:

  1. -.  Emergency Contraception – A Guide for Service Delivery.  Family Planning and Population-Reproductive Health Technical Support-Family and Reproductive Health-World Health Organization, 1998. 
  2. Consortium for Emergency Contraception and USAID Fact Sheet on Emergency Contraception.  In Paolisso M., E. Pinto, M.L. Carrillo, et al.   Providing Emergency Contraception in Ecuador:  Assessing the Impacts of Training and Practice.  Washington D.C: 1998 International Center for Research on Women, August 1998.
  3. -.  “Emergency Contraception at a Glance.”  In NGO Networks for Health, February 2001 issue # 4.
  4. http://www.fda.gov/cder/foi/label/1998/20946lbl.pdf diakses pada tanggal 6 Maret 2002
  5. http://www.plannedparenthood.org/library/BIRTHCONTROL/EC.html

Artikel yg Berhubungan:

Saatnya Menyebarluaskan Informasi Kontrasepsi Darurat (Emergency Contraception, EC)
Setelah sekian tahun tidak terdengar, wacana tentang kontrasepsi darurat (EC) kembali dibicarakan dalam "Round Table Discussion Strategi untuk meningkatkan akses perempuan terhadap informasi dan pelayanan EC" pada tanggal 1 Maret 2002 yang diadakan oleh the Ford Foundation di Jakarta.  selengkapnya...

Kontrasepsi Darurat atau Emergency Contraception (EC)
Sampai saat ini sebetulnya belum ada kesepakatan tentang istilah untuk “Kontrasepsi Darurat” ini.  Ada yang mengusulkan istilah kontrasepsi pasca sanggama, selain istilah kontrasepsi darurat.  Namun, secara umum istilah ini merujuk kepada berbagai metode kontrasepsi yang bisa digunakan untuk mencegah kehamilan setelah terjadinya hubungan seksual tanpa kontrasepsi.  selengkapnya...

Pemasangan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim/AKDR (IUD) Sebagai Kontrasepsi Darurat
Selain dengan memakai pil (baik dedicated pills atau pil KB biasa), metode kontrasepsi darurat lain yang juga bisa dilakukan adalah dengan pemasangan AKDR jenis copper-T dalam waktu lima hari setelah terjadinya hubungan seksual tanpa perlindungan. 
selengkapnya...


Informasi tentang EC dapat dibuka di  berbagai situs berikut:

  1. www.opr.princeton.edu/ec/ atau www.not-2-late.com
  2. www.path.org/programs/p-wom/emergency_contraception.htm
  3. www.popcouncil.org/rhfp/ec.html
  4. http://www.fhi.org
  5. http://www.arhp.org/ec/
  6. www.path.org/cec/
  7. http://www.fda.gov/
  8. http://www.path.org/resources/ec_resources.htm
  9. http://www.ngonetworks.org
  10. http://www.plannedparenthood.org/library/BIRTHCONTROL/EC.html

 

kembali ke atas

kembali ke index keluarga berencana

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan