OZZY

Fokus:

X







 

Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Keluarga Berencana 

Pria Harus Disasar Ber-KB Demi Kesetaraan dan Keadilan Gender

Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Dr Sumarjati Arjoso SKM minta petugas pelaksana keluarga berencana (KB) lebih meningkatkan penyasarannya kepada kaum pria, untuk mencapai kesetaraan dan keadilan gender yang lebih baik.

Kesetaraan pria dalam ber KB masih rendah, oleh karena itu perhatian harus lebih besar diarahkan pada pelayanan kaum pria untuk menuju kesetaraan dan keadilan gender yang lebih baik, katanya kepada wartawan di Denpasar, Rabu.

Seusai membuka Rakerda BKKBN Bali, ia menyebutkan, angka kesertaan pria dalam ber KB secara nasional sangat sedikit hanya 1,3 persen, sedangkan untuk Bali mencapai 1,74 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional. Tetapi belum dikatakan baik.

Banyak hal yang harus dilakukan dalam menekan jumlah penduduk, sekaligus membangun keluarga yang berkualitas. Khusus pembangunan sumber daya manusia yang dicerminkan dalam Indek pembangunan manusia (IPM), di Bali cukup baik.

Peringkat IPM di Bali mengalami peningkatan bila dibandingkan dengan propinsi lain di Indonesia, dari urutan kesepuluh tahun 1999 menjadi peringkat kesembilan tahun 2002, ini berarti ada kemajuan, kata Sumarjati bangga.

Kenaikan peringkat IPM sangat memungkinkan bagi Bali, karena semakin membaiknya komponen-komponennya, seperti angka harapan hidup yang mencapai 70 tahun, angka melek huruf sekitar 84 persen dan angka pengeluaran riil perkapita Rp596 ribu.

Menurut dia, walau ada peningkatan di Bali masih perlu digenjot mengingat IPM Indonesia sangat rendah, karena masih berada di urutan 111 dari 117 negara. Oleh sebab itu, setiap kabupaten perlu menyusun langkah-langkah perbaikannya.

Gubernur Bali Dewa Beratha dalam sambutan tertulisnya, menyambut baik prakarsa BKKBN Pusat untuk melakukan assesmen terhadap indikator dan instrumen pendataan keluarga yang disesuaikan dengan hasil BPS dan milik BKKBN.

Hal itu penting, untuk menjembatani kepentingan bersama antarsektor dan antardaerah terutama dalam menentukan keluarga miskin, sebab penanganan KB akan mengutamakan penggarapan keluarga miskin, ujar Beratha. (Ant/OL-1)


Sumber: Media Indonesia Online

 

kembali ke atas

kembali ke index keluarga berencana

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan