OZZY

Fokus:

X







 

Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Keluarga Berencana 

Pria di Sulut Tidak Aktif BerKB

Keikutsertaan pria menggunakan alat kontrasepsi Keluarga Berancana (KB) di Sulawesi Utara (Sulut), masih sangat rendah dibandingkan dengan pria di Pulau Jawa atau daerah lain di Indonesia.

"Pria Sulut sangat enggan menggunakan alat kontrasepsi seperti kondom dan vasektomi, kata Kepala Seksi Peningkatan Partisipasi Pria Dinas BKKBN Sulut, Yoppy Kalesaran, Jumat (8/11), di Manado.

Kalesaran mengatakan, tingkat partisipasi pria terhadap program KB hanya sekitar 0,18% pada alat kontrasepsi kondom dan 0,02% pada teknik operasi vasektomi dari sekitar 284.089 Pasangan Usia Subur (PUS) di Sulut.

Kondisi tersebut menggambarkan pria di daerah ini kurang memahami pentingnya menggunakan alat kontrasepsi, karena perilaku serta pemahaman tentang sejumlah alat-alat kontrasepsi dapat mengurangi kejantanan.

Padahal, rasa percaya diri pria akan memberikan hasil lebih baik dan maksimal saat menggunakan alat kontrasepsi, disamping untuk memberikan keluasan pasangannya untuk lebih sehat, kata Yoppy.

"Pria-pria di Sulut masih kurang bertanggungjawab ketika dihadapkan pada masalah-masalah kesehatan pasangannya, baik ketika memilih menjadi partisipan pemula maupun partisipan penerus ber-KB, "kata Yoppy.

Rendahnya keikutsertaan pria menggunakan kontrasepsi tersebut akan berpotensi memberikan kontribusi lebih besar terhadap laju pertumbuhan penduduk di daerah "Nyiur melambai" ini.

Bila saja partisipasi pria dalam penggunaan alat kontrasepsi itu naik sebesar 50%, akan mampu menekan laju pertumbuhan penduduk dari 1,35% menjadi lebih kecil lagi, kata Yoppy.

Faktor lain, jika pria juga akan membantu mencegah tingkat kematian ibu saat melahirkan, kata Yoppy sambil menambahkan, angka kematian ibu saat ini di Indonesia masih sangat tinggi mencapai 220 orang per 10 ribu penduduk.[Ant]

sumber: Astaga.com

 

kembali ke atas

kembali ke index keluarga berencana

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan