|
Depan
> Keluarga Berencana
Lemah,
Implementasi Kebijakan Program KB
Komitmen pemerintah untuk
mengendalikan pertumbuhan penduduk cukup bagus. Fakta
itu dapat dilihat dari upaya pemerintah melakukan
revitalisasi program keluarga berencana (KB) dan pos
pelayanan terpadu (posyandu).
"Namun sayangnya,
perintah Presiden tidak segera direspons jajarannya. Hal
itu terhambat oleh berbagai ketidakpastian dari
implementasi kebijakan tersebut," kata mantan
Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan
Perempuan Rachmat Sentika kepada Antara di
Jakarta, Minggu (19/11).
Sebagai konseptor
posyandu, Rachmat menilai pemerintah telah melakukan
revitalisasi. Revitalisasi posyandu telah dicanangkan
pada Hari Kesehatan Nasional (HKN) 12 November 2005 dan
HKN 2006 dengan dicanangkannya 12 ribu desa siaga.
Namun fakta di lapangan,
menurut Rachmat, program yang dicanangkan pemerintah
tidak diimplementasikan secara optimal. Bahkan sebagian
besar kabupaten dan kota belum melakukan program
revitalisasi posyandu. Penyebabnya, pemerintah daerah
kabupaten dan kota tidak memiliki infrastruktur dan
sistem manajemen.
Rachmat sependapat dengan
mantan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN) Haryono Suyono. Haryono menekankan
perlunya perbaikan komitmen program KB yang semakin
mengendur.
Haryono mengatakan
program revitalisasi posyandu harus didukung persiapan
infrastruktur dan sistem manajerial, seperti
ketersediaan kartu menuju sehat (KMS) yang diperlukan
untuk menjalankan posyandu dan menimbang balita.
Sebagian besar
kabupaten/kota tidak menyediakan KMS ini. Ada yang
berpendapat, KMS akan diganti dengan buku kesehatan ibu
dan anak (KIA). Tetapi pedoman dan petunjuk pelaksananya
belum sampai.
"Bagaimana posyandu
bisa dijalankan dan bagaimana gizi buruk bisa ditangani,
KMS sebagai syarat mutlak sebuah posyandu tidak
tersedia. Sementara anggaran 2007 yang telah disusun
juga menghadapi hal yang sama dengan 2006,"
katanya.
Syarat lain adalah
kecukupan jumlah bidan. Dari data yang tersaji dan
penelusuran ke hampir sebagian besar kabupaten/kota,
hanya 37 desa yang memiliki bidan. Sedangkan di sisi
lain, terdapat 25 ribu bidan yang belum ditempatkan.
sumber:
Media Indonesia Online, Senin, 20 november 2006
kembali
ke atas
kembali
ke index keluarga berencana
|