Menjaga jarak
kehamilan tak hanya menyelamatkan ibu dan bayi dari sisi
kesehatan, namun juga memperbaiki kualitas hubungan
psikologis keluarga.
Wanita berbaju bunga-bunga itu tampak repot ketika masuk
kamar periksa sebuah klinik bersalin di kawasan Bekasi.
Langkahnya tergopoh-gopoh. Tangan kanannya memegangi
perut buncitnya, sementara tangan kiri menggandeng bocah
lelaki berusia setahun. Seorang suster membantu
perempuan berusia 37 tahun itu. "Suami saya masih
berlayar. Ini jadwal pemeriksaan bulan kedelapan.
Biasanya saya periksa dibantu seorang pembantu. Tapi
hari ini si bibi mesti di rumah menjaga anak sulung saya
berusia tiga tahun yang sakit panas," tuturnya
dengan suara kelelahan.
Mungkin Anda kerap melihat pemandangan ini di
lakon-lakon sinetron, namun kenyataannya begitulah yang
sering kita temui. Zaman boleh berlalu, teknologi boleh
silih berganti memperbarui diri, namun keinginan orang
beranak banyak tanpa memperhatikan jarak kelahiran tetap
saja mudah ditemukan. Maklum saja, rata-rata orang masa
kini menikah pada usia lebih dari 20 tahun. Terkejar
oleh faktor usia, dibuatlah pengaturan jarak kelahiran
anak secepat mungkin sebelum usia melahirkan si ibu di
titik rawan di atas usia 35 tahun.
Beberapa waktu lalu John Hopkins Bloomberg School of
Public Health mengeluarkan ringkasan laporan
kependudukan. Isinya mengenai tren jarak kelahiran anak
yang semakin panjang antara tiga sampai lima tahun.
Laporan itu menjelaskan jarak tahun kelahiran panjang
ini bermanfaat bagi kesehatan anak maupun ibunya,
termasuk menciptakan peluang memaksimalkan pertumbuhan
anak.
Laporan itu pun menyinggung beberapa negara seperti
Bhutan, Mesir, Kenya, Vietnam, Indonesia, dan Zimbabwe
memiliki kecenderungan orangtua segera ingin memiliki
anak berikutnya bila anaknya meninggal. Hal ini berbeda
bila anak pertamanya tumbuh sehat dan cerdas. Untuk
memperkuat laporan itu, berdasarkan data the Demographic
and Health Survey (DHS) dari tahun 1990 sampai 2001
membuktikan, wanita cenderung melahirkan kembali anak
berikutnya lebih cepat atau kurang dari tiga tahun, jika
anak terdahulu meninggal atau kurang sehat seperti yang
diharapkan. Data DHS di 46 negara menunjukkan bila anak
meninggal, rata-rata jarak kelahiran berikutnya menjadi
60 persen lebih pendek dibandingkan bila anak
terdahulunya hidup. Perempuan yang mengalami keguguran
biasanya juga ingin cepat kembali memiliki anak.
Penelitian DHS juga menemukan di 55 negara termasuk
Indonesia, wanita yang tinggal di pedesaan cenderung
memilih jarak kelahiran lebih pendek atau kurang dari
tiga tahun. Hal ini disebabkan karena faktor lingkungan
di desa yang mendorong segera punya anak kembali. Bila
si wanita itu tidak segera hamil kembali maka akan
mendapat cemoohan. Biasanya wanita berstatus sosial
lebih rendah dan tidak bekerja, memilih jarak melahirkan
lebih pendek.
Penelitian ini juga memerinci keberhasilan beberapa
negara yang wanitanya berpendidikan lebih tinggi
cenderung menggunakan kontrasepsi untuk mengatur jarak
kelahiran. Wanita berpendidikan ini umumnya menyadari
perlunya mengatur jarak kelahiran. Sebaliknya, di
Indonesia wanita yang berpendidikan tinggi umumnya
menikah di atas usia 30 tahun. "Banyak yang memilih
jarak pendek untuk melahirkan anak sebelum para wanita
berusia 35 tahunan ke atas," tutur Wongso Hakim,
dokter kebidanan rumah bersalin Asih, Jakarta.
Di mata dokter berusia 55 tahun ini tidak dipungkiri
dari aspek kesehatan jarak ideal kelahiran ini sangat
bagus untuk ibu dan anak. Ia sangat setuju pada hasil
penelitian DHS yang menyebutkan anak-anak yang lahir
dengan jarak tiga sampai lima tahun memiliki kemungkinan
hidup sehat yang lebih besar. "Dibandingkan
anak-anak yang lahir dengan jarak kelahiran kurang dari
dua tahun, maka anak-anak dengan jarak kelahiran ideal
ini memiliki kelangsungan hidup lebih baik dan tinggi.
Kondisi begini bisa berlangsung sampai si anak berusia
balita," katanya.
Mengutip temuan penelitian DHS itu, Wongso bersepakat
anak yang lahir dengan jarak ini tidak akan menderita
kekerdilan atau kekurangan berat badan. Bahkan si anak
memiliki nilai gizi yang bagus. Intinya jarak kelahiran
ini akan meningkatkan kesehatan ibu dan anak,"
tutur Wongso.
Sementara itu, menurut psikolog Diana Tamrin, dari
aspek kejiwaan rentang kelahiran ideal ini memberikan
kesempatan orangtua lebih intensif mencurahkan waktu
bagi anak pada awal usianya. Pun orangtua akan mendapat
waktu banyak buat beraktivitas, membesarkan anak, dan
meredakan tekanan finansial atau biaya kebutuhan. Ia
menilai jarak kelahiran anak di bawah tiga tahun justru
bisa menimbulkan kerepotan mengasuh anak, tekanan
ekonomis dan selang waktu pendek kelahiran jelas
berisiko buruk terhadap kesehatan balita dan ibunya.
Diana melihat pengalaman yang terjadi di masyarakat,
anak-anak yang dilahirkan dengan jarak terlalu rapat
biasanya mengalami perkembangan fisik dan mental yang
kurang memuaskan, bila dibanding anak-anak yang jarak
kelahirannya tiga sampai lima tahun. "Aspek
fisiknya bagi si ibu yang melahirkan berjarak terlalu
rapat cepat lelah, gampang sakit, dan mudah stres.
Apalagi bila si ibu memiliki dua atau tiga anak dengan
rentan usia kelahiran yang pendek bisa merepotkan
emosinya mengasuh, memelihara dan mendidik anak,"
katanya mencontohkan. Bila kondisi ekonominya bagus si
ibu bisa membayar beberapa pembantu atau pengasuh. Toh,
tetap saja aspek kejiwaan si ibu harus bersalto dalam
membagi peran untuk memahami perkembangan jiwa
anak-anaknya itu.
Pengasuh rubrik psikologi keluarga di media cetak ini
juga menyebutkan bagi si anak berusia di bawah dua tahun,
kelahiran atau kehadiran si adik justru menjadi salah
satu ancaman terbesar terhadap kesehatan dan
pertumbuhannya. Dengan kelahiran baru itu, penyusuan ibu
terhadap si abang atau kakak tadi terpaksa dihentikan.
Bahkan ada juga ibu yang kemudian tidak memiliki cukup
waktu untuk menyediakan makanan yang diperlukan bagi
anak-anaknya.
Selain itu, jarak kelahiran yang terlalu dekat bisa
menimbulkan rasa cemburu pada si kakak yang belum siap
berbagi kasih sayang orangtuanya. "Banyak
kakak-beradik dengan jarak kelahiran terlalu pendek
menimbulkan sikap iri atau cemburu. Si kakak tidak
gembira atas kehadiran si kecil. Justru si kakak sering
menganggapnya musuh karena merampas jatah kasih
sayangnya."
Selain kesehatan dan kejiwaan, aspek ekonomi juga tak
kalah penting. Diana menyebutkan, semakin banyak
keluarga yang merancang kelahiran anak dengan matang
karena faktor ekonomi untuk biaya persalinan, perawatan,
pemeliharaan, kesehatan, keperluan sekolah termasuk
menyiapkan masa depan anak. "Memiliki anak bagi
pasangan suami-istri saat ini seperti investasi mahal.
Kita harus punya cukup punya modal materi dan spiritual
untuk menyambut kehadirannya," katanya. Kalau tidak
direncanakan terutama soal penyiapan dananya bisa juga
berakibat fatal. "Ada gurauan, punya anak zaman
sekarang mahal, jadi harus pintar mengatur jarak
kelahirannya karena berarti harus putar otak juga untuk
persiapan finansialnya," ucap Diana mengingatkan. (hadriani
p)