|
Depan
> Kesehatan Ibu & Anak
Indonesia Canangkan Agustus, Bulan ASI Nasional
Dalam rangka menyambut penyelenggaraan Pekan Air Susu Ibu (ASI) se-Dunia yang
dirayakan lebih dari 120 negara, Indonesia mengadakan Bulan ASI Nasional selama
Agustus.
Siaran pers Dana Anak-Anak PBB (UNICEF) yang diterima di Jakarta, Rabu,
menyatakan bahwa pencanangan Pekan ASI sedunia tersebut akan dilaksanakan
Kementerian Pemberdayaan Perempuan (Meneg PP) dengan dukungan UNICEF pada 3
Agustus melalui penandatanganan kesepakatan bersama antara Menneg PP, Menteri
Kesehatan, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Ketua
TP PKK Pusat.
UNICEF menyelenggarakan Pekan ASI se-Dunia pada minggu pertama bulan Agustus,
sementara Indonesia akan menyelenggarakan Bulan ASI Nasional selama bulan
Agustus.
Kegiatan selama pekan ASI yang didukung oleh Badan PBB untuk masalah anak-anak
itu sebagian besar direncanakan pada awal bulan dengan berbagai kampanye
berkaitan dengan tema Pekan ASI se-Dunia yang berjudul "Pengawasan Kode
Etik Internasional: 25 Tahun Melindungi ASI".
Siaran pers itu menyebutkan bahwa kampanye tersebut bertujuan meningkatkan
keprihatinan dan kesadaran mengenai kode etik sebagai alat kunci dalam
melindungi pemberian ASI serta untuk menyampaikan tindakan penting yang
diperlukan untuk menegakkan kode etik dan meningkatkan pemberian ASI.
Salah satu kegiatan dalam kampanye tersebut antara lain "Usulan Aksi"
penerapan kode etik pemasaran pengganti ASI dan pemberian penghargaan pada tokoh
masyarakat dan selebriti yang mendukung ASI.
Kegiatan seputar tema tersebut diadakan oleh Kementerian PP, UNICEF dan donatur
lainnya bersama 1.000 jajaran lintas sektor termasuk Kementerian Kesehatan,
Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan PKK.
Dalam Bulan ASI Nasional di Indonesia tersebut diadakan juga berbagai lokakarya
mengenai gizi dan penegakan kode etik pemasaran dan produk pengganti ASI yang
melibatkan pakar gizi dan petugas kesehatan.
Indonesia meratifikasi kode etik pemasaran produk pengganti ASI sejak tahun 1997
dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Menteri Kesehatan no 237/Menkes/SK/IV/1997
mengenai pemasaran produk pengganti ASI.
Dengan demikian, Indonesia menyatakan komitmennya untuk mendukung, meningkatkan
dan melindungi pemberian ASI.
Menurut UNICEF, Indonesia saat ini kurang menaati SK tersebut, bahkan pemasaran
susu bayi semakin gencar.
Data UNICEF menunjukkan sekitar 30 ribu kematian anak balita di Indonesia setiap
tahunnya, dan 10 juta kematian balita di seluruh dunia setiap tahunnya, yang
sebenarnya dapat dicegah melalui pemberian ASI eksklusif selama enam bulan sejak
kelahiran bayi.
Data tersebut mencatat hanya 14 persen bayi di Indonesia yang disusui secara
eksklusif oleh ibunya hingga usia 4 bulan.
UNICEF mengutip data jurnal ilmiah internasional The Lancet edisi Juli 2003 yang
melakukan telaah di 42 negara, mengungkapkan bahwa meskipun manfaat menyusui
bayi bagi pertumbuhan dan perkembangan mereka telah diketahui secara luas, namun
keampuhannya dalam mencegah kematian belum banyak diketahui masyarakat
Indonesia.
Pemasaran yang agresif dari produsen susu pengganti ASI, sebagaimana terlihat
dalam iklan-iklan di media, penyediaan susu bayi di rumah sakit dan klinik
diduga merupakan faktor penghambat bagi rendahnya pemberian ASI di Indonesia.
Sementara itu, bukti ilmiah baru yang dikeluarkan oleh jurnal Paediatrics pada
tahun 2006 seperti dikutip UNICEF, mengungkapkan bahwa bayi yang diberi susu
formula (susu bayi) memiliki kemungkinan untuk meninggal dunia pada bulan
pertama kehidupannya 25 kali lebih tinggi dibandingkan bayi yang disusui ibunya
secara eksklusif, yakni tanpa diberi minuman maupun makanan tambahan. [TMA,
Ant]
sumber:
Gatra.com, 9 Agustus 2006
kembali
ke atas
kembali
ke index kesehatan ibu & anak
|