Angka kematian ibu melahirkan di Indonesia termasuk
tertinggi di kawasan Asia, yakni 307/100.000 kelahiran. Reformasi selama
hampir enam tahun berjalan tidak memperbaiki persoalan perempuan
Indonesia. Kasus kekerasan, perdagangan, tekanan budaya dan adat istiadat,
rendahnya pendidikan, serta dominasi kaum pria dalam rumah tangga masih
terjadi.
Staf Khusus Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan Pingky Saptandari
dalam seminar tentang "Peran Kultural Perempuan dalam
Pembangunan", di Kupang, Jumat (17/11), mengatakan, angka kematian
ibu melahirkan di Indonesia mencapai 307/100.000 kelahiran, termasuk
tertinggi di kawasan Asia.
Provinsi penyumbang kasus kematian ibu melahirkan terbesar ialah Papua
730/100.000 kelahiran, Nusa Tenggara Barat 370/100.000 kelahiran, Maluku
340/100.000 kelahiran, dan Nusa Tenggara Timur 330/100.000 kelahiran.
Jumlah tersebut tidak jauh berbeda dari masa Orde Baru. Reformasi yang
terjadi hampir enam tahun tidak mampu memperbaiki sejumlah kasus yang
menimpa kaum perempuan, terutama ibu melahirkan.
Kasus kekerasan dalam keluarga, perdagangan, tekanan budaya dan adat
istiadat, pendidikan rendah, dan dominasi pria dalam rumah tangga masih
menimpa sebagian besar perempuan.
"Meski reformasi ini ada sejumlah provinsi membentuk Biro atau
Badan Pemberdayaan Perempuan, tetapi lembaga itu tidak didukung dengan
dana dan kebijakan yang berpihak kepada perempuan sehingga hanya tampak
kemasan saja, isinya kosong. Pemerintah daerah tidak memiliki kesungguhan
mengangkat harkat dan kebijakan perempuan secara keseluruhan terutama
menekan angka kematian ibu melahirkan," kata Pingky.
Faktor sosial budaya juga menjadi salah satu penyebab buruknya kondisi
kesehatan dan gizi kaum perempuan. Di NTB, misalnya, masyarakat bisa
membiayai naik haji dan membeli tanah tetapi tidak mampu memberi makan
yang bergizi kepada ibu yang sedang hamil. Kondisi kesehatan ibu dan anak
bayi sangat buruk, tetapi tidak diperhatikan karena dinilai bukan
kebutuhan mendesak.
Gerakan Sayang Ibu dengan Program Siap Antar Jaga (Siaga) sejak tahun
2000 pun belum mampu memperbaiki nasib kaum perempuan. Suami masih sulit
diajak berdialog dengan istri, atau kurang peduli terhadap kondisi
kesehatan sang istri. (KOR)