Oleh: Heri Susanto PKBI DKI Jakarta
Suka atau enggak, begitu banyak persoalan yang kita hadapi sebagai
remaja. Mulai dari masalah yang paling umum, sederhana, tapi juga
sekaligus ”rumit”, yaitu seputar kisah asmara, sampai masalah-masalah
yang bergesekan dengan hukum dan tatanan sosial yang berlaku di sekitar
kita.
Secara sadar, tentu kita enggak pernah menginginkannya. Namun
kenyataannya sh*t happens. Ada aja kejadian yang menggiring kita ke arah
sana. Alasannya macam-macam. Misalnya, dengan tujuan untuk menunjukkan
solidaritas antarteman, mendapatkan pengakuan dari kelompok, atau untuk
menunjukkan identitas diri. Bisa juga untuk menunjukkan kemandirian,
meminta pembuktian cinta, dan lain sebagainya. The problem is, banyak yang
mengambil pilihan solusi yang salah.
Ujung-ujungnya malah jadi dianggap melakukan ”kenakalan-kenakalan”.
Kayak tawuran, nge-drugs, malak, bolos sekolah, kekerasan dalam pacaran,
pemerkosaan terhadap teman atau bahkan pacar, bersikap konfrontatif
terhadap orangtua, dan lain-lain.
Memang banyak ahli psikologi yang menyatakan bahwa masa remaja
merupakan masa yang penuh masalah, penuh gejolak, penuh risiko (secara
psikologis), over energi, dan lain sebagainya, yang disebabkan oleh
aktifnya hormon-hormon tertentu.
Masalahnya, apa yang dibilang para ahli itu justru menggiring sebagian
kita pada pemahaman bahwa keadaan atau perilaku tersebut adalah sebuah
kewajaran baru. Yang akan tetap lestari dari generasi ke generasi. Waduh!
Ngeri dong?
”Peer pressure”
Minat untuk berkelompok menjadi bagian dari proses tumbuh kembang yang
kita alami. Yang dimaksud di sini bukan sekadar kelompok biasa, melainkan
sebuah kelompok yang memiliki kekhasan orientasi, nilai-nilai, norma, dan
kesepakatan yang secara khusus hanya berlaku dalam kelompok tersebut. Atau
yang biasa disebut geng. Biasanya kelompok semacam ini memiliki usia
sebaya atau bisa juga disebut peer group.
Demi geng ini kita sering kali dengan rela hati mau melakukan dan
mengorbankan apa pun hanya karena sebuah kata-kata ”sakti”, yaitu
solidaritas. Luar biasa memang jika geng ini memiliki arah kemudi yang
tepat sehingga bisa menjadi wadah positif bagi kita. Tapi yang menjadi
persoalan adalah terkadang solidaritas di antara kita itu bersifat semu,
buta, dan destruktif, yang malah mencederai makna solidaritas itu sendiri.
Demi alasan solidaritas, sebuah geng sering kali memberikan tantangan
atau tekanan-tekanan kepada anggota kelompoknya (peer pressure) yang
terkadang berlawanan dengan hukum atau tatanan sosial yang ada. Tekanan
itu bisa saja berupa paksaan untuk menggunakan narkoba, mencium pacar,
melakukan hubungan seks, melakukan penodongan, bolos sekolah, tawuran,
merokok, corat-coret tembok, dan masih banyak lagi.
Secara individual, awalnya kita mungkin merasa enggak nyaman melakukan
”tantangan” itu. Tapi karena ada peer pressure, plus rasa
ketidakberdayaan untuk meninggalkan kelompok, serta ketidakmampuan untuk
mengatakan ”tidak”, akhirnya apa pun yang dikehendaki kelompok secara
terpaksa dilakukan. Lama-kelamaan menjadi kebiasaan dan akhirnya melekat
menjadi sebuah karakter yang diwujudkan dalam berbagai macam perilaku
negatif.
Peer pressure tidak hanya bisa diperoleh dari kelompok, tapi bisa juga
dari individu, walaupun biasanya tekanan dari individu tidak lebih berat
dari tekanan kelompok. Dari individu maupun kelompok, peer pressure dapat
berpengaruh buruk dalam kehidupan kita, bisa dalam bentuk perubahan
perilaku negatif atau pengaruh psikologis seperti rasa takut, sedih,
minder, dan cemas, yang tentunya akan memengaruhi pencitraan orang lain
terhadap kita.
”Peer motivation”
Hidup adalah sebuah pilihan. Jika kita mau melihat ke berbagai sisi
dalam menjalani berbagai pernak-pernik kehidupan kita, kita akan selalu
menemukan alternatif untuk segala hal, termasuk mau diarahkan ke mana pola
pergaulan kita.
Kelompok atau teman sebaya memiliki kekuatan yang luar biasa untuk
menentukan arah hidup kita. Jika kita berada dalam lingkungan pergaulan
yang penuh dengan ”energi negatif” seperti yang terurai di atas,
segala bentuk sikap, perilaku, dan tujuan hidup kita menjadi negatif.
Sebaliknya, jika kita berada dalam lingkungan pergaulan yang selalu
menyebarkan ”energi positif”, yaitu sebuah kelompok yang selalu
memberikan motivasi, dukungan, dan peluang untuk mengaktualisasikan diri
secara positif kepada semua anggotanya, kita juga akan memiliki sikap yang
positif. Prinsipnya, perilaku kelompok itu bersifat menular.
Motivasi dalam kelompok (peer motivation) adalah salah satu contoh
energi yang memiliki kekuatan luar biasa, yang cenderung melatarbelakangi
apa pun yang kita lakukan. Dalam konteks motivasi yang positif, seandainya
ini menjadi sebuah budaya dalam geng, barangkali tidak akan ada lagi
kata-kata ”kenakalan remaja” yang dialamatkan kepada kita. Lembaga
pemasyarakatan juga tidak akan lagi dipenuhi oleh penghuni berusia
produktif, dan di negeri tercinta ini akan semakin banyak orang sukses
berusia muda. Kita juga tidak perlu lagi merasakan peer pressure, yang
bisa bikin kita stres.
Budaya dalam geng tentunya tidak dapat diubah dengan sim salabim abra
kadabra. Perlu komitmen yang besar dari masing-masing individu yang
terlibat dalam kelompok tersebut. Semua berawal dari niat yang baik untuk
selalu menjadi lebih baik. Ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk
memulai.
Pertama, berpikir positif. Segala bentuk sikap dan perilaku kita adalah
perwujudan dari apa yang kita pikirkan. Jadi, dengan kata lain, perlakuan
kita terhadap orang lain bergantung pada penilaian kita terhadap orang
tersebut. Jika kita memiliki penilaian yang positif terhadap seseorang di
antara sekian anggota geng yang lain, kita akan cenderung bersikap baik
terhadap orang tersebut dan cenderung menolerir setiap kesalahan yang
diperbuatnya. Begitu pula sebaliknya kita akan banyak melihat banyak
kesalahan pada orang yang tidak kita sukai.
Nah, kalau kondisinya sudah seperti ini, biasanya akan ada ”tumbal”
yang selalu jadi korban dalam sebuah geng, yaitu orang yang paling
dipandang negatif. Di samping itu, cara pandang yang positif terhadap
masing-masing anggota kelompok juga penting. Prinsipnya dianggap orang
baik adalah kebutuhan semua orang. Jika kebutuhan itu terpenuhi, maka akan
dapat meningkatkan citra diri yang positif masing-masing individu, dan itu
akan berdampak pada perilaku yang positif pula.
Kedua, tentukan tujuan. Untuk apa geng itu dibentuk harus benar-benar
memiliki tujuan jelas sehingga energi kita tersalurkan pada hal-hal yang
terarah dan tidak terbuang sia-sia. Masing-masing anggota akan tahu apa
yang harus dilakukan dan tentunya akan lebih produktif. Sebagai analogi,
sebuah coretan tembok yang memiliki tujuan dan konsep yang jelas justru
akan dapat memperindah suasana kota. Bahkan terkadang memiliki pesan-pesan
yang bermakna. Sebaliknya, coretan-coretan yang asal-asalan justru akan
menimbulkan kesan kumuh dan tentunya tidak indah. Pekerjaan yang sama akan
memberikan hasil yang berbeda hanya karena tujuannya berbeda. Begitu pula
dengan kelompok. So..., apa tujuan kita nge-geng?
Ketiga, dukungan kelompok. Masing-masing anggota kelompok harus bisa
memberikan dukungan yang positif terhadap anggotanya, bukan malah saling
memojokkan. Berikan semangat bagi yang melakukan kegagalan agar bisa
memperbaiki, karena kegagalan adalah separuh perjalanan menuju sukses, dan
berikan apresiasi yang tulus kepada yang berhasil memperbaiki dan
melakukan kebaikan, sekecil apa pun prestasinya.
Seandainya selama ini kita selalu memberikan dukungan kepada teman kita
kepada hal-hal yang lebih negatif dan kita selalu menganggapnya hebat jika
teman kita mampu menyelesaikan hal ”konyol” dan ”bodoh”, kita
harus berubah. Dukungan positif tidak hanya bermanfaat untuk orang lain,
tapi juga mampu memberikan semangat kepada diri kita karena kita juga akan
merasa terpacu. Di samping itu, dukungan positif juga penting untuk
menjaga agar geng tetap terus bergerak secara energik dalam mencapai
tujuan.