OZZY

Fokus:

X




 

Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Kesehatan Reproduksi Remaja > Informasi

Pelajaran Seks Bantu Anak Laki-Laki Bilang "No to Sex"

Suatu program sekolah yang bertujuan mengubah sikap anak-anak terhadap seks, berhasil membantu anak laki-laki menunda berhubungan seks untuk yang pertama kali. Begitu laporan Dr. Karin K. Coyle dari ETR Associates, lembaga riset pendidikan yang bermarkas di Scotts Valley, California, dalam American Journal of Public Health edisi Mei.

Program yang disebut Draw the Line/Respect the Line itu diujicoba di 10 sekolah menengah di kawasan urban California. Sembilan sekolah yang setara juga dikaji sebagai pembanding. Periset mengikuti lebih dari 2.800 siswa kelas enam selama tiga tahun untuk mengetahui apakah sikap dan perilaku mereka berubah atau tidak bila menyangkut persoalan seks.

Diketahui, ketika berada di kelas sembilan, 19 persen anak laki-laki itu telah berhubungan seks. Angka ini lebih kecil daripada murid sekolah yang tidak ikut program, yaitu 27 persen.

Program itu ternyata tidak mempan bagi anak perempuan. Di sekolah yang mengikuti program, anak perempuan yang sudah berhubungan seks ketika mereka berada di kelas sembilan berjumlah 20 persen. Selisih sedikit dibanding anak perempuan dari sekolah yang tidak ikut program, yaitu 22 persen.

Dr. Kanin K. Coyle berpendapat, "perbedaan kekuatan" yang terdapat dalam relasi antara anak perempuan dengan pacarnya, yaitu anak laki-laki yang lebih tua, mungkin memegang peranan mengapa program itu kurang memberi efek pada mereka.

Di kelas delapan pada saat penelitian dilakukan, 30 persen dari anak perempuan itu mengaku sudah berpacaran dengan anak lelaki yang setidaknya berusia dua tahun lebih tua. Dan mereka, "jauh lebih mungkin" untuk berhubungan seks dibanding teman sebayanya.

Menurut Coyle, program itu dirancang guna memberi informasi dasar tentang cara menghindari seks sekaligus risiko akibat hubungan seks yang tidak aman. Para siswa diberi pemahaman tentang "batasan" seksual yang mereka tetapkan sendiri, juga diajak menghargai batasan seksual yang ditetapkan oleh teman mereka. Mereka juga mempelajari HIV dan penyakit menular seksual lain, serta bagaimana menghindarinya.

Tujuan pokok program itu yakni mengampanyekan bahwa menunda hubungan seks adalah pilihan terbaik bagi siswa. Hasil yang diperoleh tidak mengecewakan. Dibanding anak sebaya, mereka yang ikut program memiliki pengetahuan tentang HIV dan penggunaan kondom yang lebih tinggi, lebih memiliki sikap positif untuk menunda hubungan seks, dan lebih berani menetapkan batasan yang lebih ketat bagi diri sendiri dalam hal perilaku seksual

sumber: Kompas Cyber Media

 

kembali ke atas

kembali ke index kesehatan reproduksi remaja

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan