Wah susah banget ya jadi cewek! Begitu banyak pesan: awas
pemerkosaanlah, pelecehan seksual-lah, atau tindak kriminal lain. Belum
lagi kalau "salah" pakai baju. Bahkan, karena sering dianggap
lemah dan mesti dilindungi, sering kali cewek hanya "pantas"
dijadikan "korban". Kalau begitu, betapa tidak enaknya menjadi
cewek.
Pengalaman ini melekat dan diajarkan secara turun-temurun oleh orangtua
kita, masyarakat, serta lembaga pendidikan yang ada dengan sengaja atau
tanpa sengaja. Demikian sistematis dan lamanya pola pengajaran perilaku
(peran) ini sehingga membuat kita berpikir bahwa memang demikianlah adanya
peran-peran yang harus kita jalankan. Bahkan, kita menganggapnya sebagai
kodrat. "Kan memang kodrat gue sebagai cewek untuk lemah gemulai, mau
menerima apa adanya, dan enggak boleh membantah. Sementara saudara gue
yang cowok harus berani, tegas, dan bisa ngatur!" Begini kita sering
memahami peran jenis kelamin kita, bukan?
Dari kecil kita telah diajarkan, cowok akan diberikan mainan yang
memperlihatkan kedinamisan, tantangan, dan kekuatan, seperti mobil-mobilan
dan pedang-pedangan. Sedangkan cewek diberikan mainan boneka, setrikaan,
alat memasak, dan lainnya.
Lalu, ketika mulai sekolah dasar, dalam buku bacaan pelajaran juga
digambarkan peran-peran jenis kelamin, contohnya, "Bapak membaca
koran, sementara Ibu memasak di dapur". Peran-peran hasil bentukan
sosial-budaya inilah yang disebut dengan peran jender. Peran yang
menghubungkan pekerjaan dengan jenis kelamin. Apa yang "pantas"
dan "tidak pantas" dilakukan sebagai seorang cowok atau cewek.
Kondisi ini enggak ada salahnya kok. Nah, akan menjadi bermasalah
ketika peran-peran yang telah diajarkan kemudian menempatkan salah satu
jenis kelamin (baik cowok maupun cewek) pada posisi yang tidak
menguntungkan. Karena enggak semua cowok mampu bersikap tegas dan bisa
ngatur, maka cowok yang lembut akan dicap banci. Sedangkan jika cewek
lebih berani dan tegas akan dicap tomboi. Tentu saja hal ini enggak enak
dan memberikan tekanan.
Memperjuangkan kesetaraan
Memperjuangkan kesetaraan bukanlah berarti mempertentangkan dua jenis
kelamin, laki-laki dan perempuan. Tetapi, ini lebih kepada membangun
hubungan (relasi) yang setara. Kesempatan harus terbuka sama luasnya bagi
cowok atau cewek, sama pentingnya, untuk mendapatkan pendidikan, makanan
yang bergizi, kesehatan, kesempatan kerja, termasuk terlibat aktif dalam
organisasi sosial-politik dan proses-proses pengambilan keputusan.
Hal ini mungkin bisa terjadi jika mitos-mitos seputar citra (image)
menjadi "cowok" dan "cewek" dapat diperbaiki. Memang
enggak ada cara lain. Sebagai cowok ataupun cewek, kita harus menyadari
bahwa kita adalah pemain dalam kondisi (hubungan) ini. Jadi, untuk bisa
mengubah kondisi-kondisi yang tidak menguntungkan ini, maka baik sebagai
cowok ataupun cewek kita harus terlibat.
Meskipun banyak korban dari sistem yang ada sekarang adalah cewek,
bukan berarti usaha-usaha untuk mengubahnya adalah tanggung jawab cewek
semata. Karena ini menyangkut sistem sosial-budaya, tentu saja kesepakatan
harus dibangun di antara kita dong, baik sebagai cewek ataupun cowok. Lalu
bagaimana kita memulainya?
1 Bangun kesadaran diri
Hal pertama yang mesti kita lakukan adalah membangun kesadaran diri.
Ini bisa dilakukan melalui pendidikan. Karena peran-peran yang menimbulkan
relasi tak setara terjadi akibat pengajaran dan sosialisasi, cara
mengubahnya juga melalui pengajaran dan sosialisasi baru. Kita bisa
melakukan latihan atau diskusi secara kritis. Minta profesional, aktivis
kesetaraan jender, atau siapa pun yang kita pandang mampu membantu untuk
memandu pelatihan dan diskusi yang kita adakan bersama.
2 Bukan urusan cewek semata
Kita harus membangun pemahaman dan pendekatan baru bahwa ini juga
menyangkut cowok. Tidak mungkin akan terjadi perubahan jika cowok tidak
terlibat dalam usaha ini. Cewek bisa dilatih untuk lebih aktif, berani,
dan mampu mengambil keputusan, sedangkan cowok pun perlu dilatih untuk
menghormati dan menghargai kemampuan cewek dan mau bermitra untuk maju.
3 Bicarakan
Salah satu cara untuk memulai perubahan adalah dengan mengungkapkan
hal-hal yang menimbulkan tekanan atau diskriminasi. Cara terbaik adalah
bersuara dan membicarakannya secara terbuka dan bersahabat. Harus ada
media untuk membangun dialog untuk menyepakati cara-cara terbaik membangun
relasi yang setara dan adil antarjenis kelamin. Bukankah ini jauh lebih
membahagiakan?
4 Kampanyekan
Karena ini menyangkut sistem sosial-budaya yang besar, hasil dialog
atau kesepakatan untuk perubahan yang lebih baik harus kita kampanyekan
sehingga masyarakat dapat memahami idenya dan dapat memberikan dukungan
yang dibutuhkan. Termasuk di dalamnya mengubah cara pikir dan cara pandang
masyarakat melihat "cowok" dan "cewek" dalam ukuran
"kepantasan" yang mereka pahami. Masyarakat harus memahami bahwa
beberapa sistem sosial-budaya yang merupakan produk cara berpikir sering
kali enggak berpihak, menekan, dan menghambat peluang cewek untuk memiliki
kesempatan yang sama dengan cowok. Jadi ini memang soal mengubah cara
pikir.
5 Terapkan dalam kehidupan sehari-hari
Tidak ada cara terbaik untuk merealisasikan kondisi yang lebih baik
selain menerapkan pola relasi yang setara dalam kehidupan kita
masing-masing. Tentu saja semua harus dimulai dari diri kita sendiri, lalu
kemudian kita dorong orang terdekat kita untuk menerapkannya.
Mudah-mudahan dampaknya akan lebih meluas.
Harry Kurniawan Cemara PKBI Sumatera Barat