|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
PENYAKIT
MENULAR SEKSUAL: Klamidia
·
Gonore ·
Kutil Kelamin ·
HPV ·
Hepatitis B ·
Herpes ·
HIV - Sifilis
·
Trikomoniasis ·
Penyakit lain dan Kondisi yang Berhubungan
Penyakit menular seksual, atau
PMS adalah berbagai infeksi yang dapat menular dari satu orang
ke orang yang lain melalui kontak seksual.
Menurut the Centers for Disease Control (CDC) terdapat
lebih dari 15 juta kasus PMS dilaporkan per tahun.
Kelompok remaja dan dewasa muda (15-24 tahun) adalah
kelompok umur yang memiliki risiko paling tinggi untuk
tertular PMS, 3 juta kasus baru tiap tahun adalah dari
kelompok ini.
Hampir seluruh PMS dapat
diobati. Namun,
bahkan PMS yang mudah diobati seperti gonore telah menjadi
resisten terhadap berbagai antibiotik generasi lama.
PMS lain, seperti herpes, AIDS, dan kutil kelamin,
seluruhnya adalah PMS yang disebabkan oleh virus, tidak dapat
disembuhkan. Beberapa
dari infeksi tersebut sangat tidak mengenakkan, sementara yang
lainnya bahkan dapat mematikan.
Sifilis, AIDS, kutil kelamin, herpes, hepatitis, dan
bahkan gonore seluruhnya sudah pernah dikenal sebagai penyebab
kematian. Beberapa
PMS dapat berlanjut pada berbagai kondisi seperti Penyakit
Radang Panggul (PRP), kanker serviks dan berbagai komplikasi
kehamilan. Sehingga,
pendidikan mengenai penyakit ini dan upaya-upaya pencegahan
penting untuk dilakukan.
Penting untuk diperhatikan
bahwa kontak seksual tidak hanya hubungan seksual melalui alat
kelamin. Kontak
seksual juga meliputi ciuman, kontak oral-genital, dan
pemakaian “mainan seksual”, seperti vibrator.
Sebetulnya, tidak ada kontak seksual yang dapat
benar-benar disebut sebagai “seks aman” .
Satu-satunya yang betul-betul “seks aman” adalah
abstinensia. Hubungan
seks dalam konteks hubungan monogamy di mana kedua individu
bebas dari IMS juga dianggap “aman”.
Kebanyakan orang menganggap berciuman sebagai aktifitas
yang aman. Sayangnya,
sifilis, herpes dan penyakit-penyakit lain dapat menular lewat
aktifitas yang nampaknya tidak berbahaya ini.
Semua bentuk lain kontak seksual juga berisiko. Kondom
umumnya dianggap merupakan perlindungan terhadap IMS.
Kondom sangat berguna dalam mencegah beberapa penyakit
seperti HIV dan gonore. Namun
kondom kurang efektif dalam mencegah herpes, trikomoniasis dan
klamidia. Kondom
memberi proteksi kecil terhadap penularan HPV, yang merupakan
penyebab kutil kelamin.
|
Beberapa
penyakit menular seksual:
- Klamidia
– klamidia adalah PMS yang sangat berbahaya dan
biasanya tidak menunjukkan gejala; 75% dari
perempuan dan 25% dari pria yang terinfeksi tidak
menunjukkan gejala sama sekali.
- Gonore
– gonore adalah salah satu PMS yang sering
dialporkan. 40%
penderita akan mengalami Penyakit Radang Panggul (PRP)
jika tidak diobati, dan hal tersebut dapat
menyebabkan kemandulan.
- Hepatitis
B
– vaksin pencegahan penyakit ini sudah ada, tapi
sekali terkena penyakit ini tidak dapat disembuhkan;
dapat menyebabkan kanker hati.
- Herpes
– terasa nyeri dan dapat hilang timbul; dapat
diobati untuk mengurangi gejala tetapi tidak dapat
disembuhkan.
- HIV/AIDS
– dikenal pertama kali pada tahun 1984, AIDS
adalah penyebab kematian ke enam pada laki-laki dan
perempuan muda.
Virus ini fatal dan menimbulkan rasa sakit
yang cukup lama sebelum kemudian meninggal.
- Human
Papilloma Virus (HPV) & Kutil kelamin – PMS yang paling sering, 33% dari perempuan memiliki virus ini,
yang dapat menyebabkan kanker serviks dan penis dan
nyeri pada kelamin.
- Sifilis
– jika tidak diobati dapat menyebabkan kerusakan
otak dan hati yang serius.
- Trikomoniasis
– dapat menyebabkan keputihan yang berbusa atau
tidak ada gejala sama sekali.
Pada perempuan hamil dapat menyebabkan
kelahiran premature.
|
Tipe:
Bakterial
Cara
Penularan: Hubungan
seks vaginal dan anal.
Gejala:
Sampai 75% kasus pada perempuan dan 25% kasus pada laki-laki
tidak menunjukkan gejala. Gejala yang ada meliputi keputihan yang abnormal, dan rasa
nyeri saat kencing baik pada laki-laki maupun perempuan. Perempuan juga dapat mengalami rasa nyeri pada perut bagian
bawah atau nyeri saat hubungan seksual, pada laki-laki mungkin
akan mengalami pembengkakan atau nyeri pada testis.
Pengobatan:
Infeksi dapat diobati dengan antibiotik.
Namun pengobatan tersebut tidak dapat menghilangkan
kerusakan yang timbul sebelum pengobatan dilakukan.
Konsekuensi
yang mungkin terjadi pada orang yang terinfeksi:
Pada
perempuan, jika tidak diobati, sampai 30% akan mengalami
Penyakit Radang Panggul (PRP) yang pada gilirannya dapat
menyebabkan kehamilan ektopik, kemandulan dan nyeri panggul
kronis. Pada
laki-laki, jika tidak diobati, klamidia akan menyebabkan
epididymitis, yaitu sebuah peradangan pada testis (tempat di
mana sperma disimpan), yang mungkin dapat menyebabkan
kemandulan. Individu
yang terinfeksi akan berisiko lebih tinggi untuk terinfeksi
HIV jika terpapar virus tersebut.
Konsekuensi
yang mungkin terjadi pada janin dan bayi baru lahir:
lahir premature, pneumonia pada bayi dan infeksi mata pada
bayi baru lahir yang dapat terjadi karena penularan penyakit
ini saat proses persalinan.
Pencegahan:
Tidak melakukan hubungan seksual secara vaginal maupun anal
dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara
pencegahan yang 100% efektif.
Kondom dapat mengurangi tetapi tidak dapat
menghilangkan sama sekali risiko tertular penyakit ini.
Tipe:
Bakterial
Cara
penularan: Hubungan
seks vaginal, anal dan oral.
Gejala:
Walaupun beberapa kasus tidak menunjukkan gejala, jika gejala
muncul, sering hanya ringan dan muncul dalam 2-10 hari setelah
terpapar. Gejala-gejala
meliputi discharge dari penis, vagina, atau rektum dan
rasa panas atau gatal saat buang air kecil.
Pengobatan:
Infeksi dapat disembuhkan dengan antibiotik.
Namun tidak dapat menghilangkan kerusakan yang timbul
sebelum pengobatan dilakukan.
Konsekuensi
yang mungkin timbul pada orang yang terinfeksi:
Pada perempuan jika tidak diobati, penyakit ini merupakan
penyebab utama Penyakit Radang Panggul, yang kemudian dapat
menyebabkan kehamilan ektopik, kemandulan dan nyeri panggul
kronis. Dapat
menyebabkan kemandulan pada pria.
Gonore yang tidak diobati dapat menginfeksi sendi,
katup jantung dan/atau otak.
Konsekuensi
yang mungkin timbul pada janin dan bayi baru lahir:
Gonore dapat menyebabkan kebutaan dan penyakit sistemik
seperti meningitis dan arthritis sepsis pada bayi yang
terinfkesi pada proses persalinan.
Untuk mencegah kebutaan, semua bayi yang lahir di rumah
sakit biasanya diberi tetesan mata untuk pengobatan gonore.
Pencegahan:
Tidak melakukan hubungan seksual baik vaginal, anal dan oral
dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara yang
100% efektif untuk pencegahan.
Kondom dapat mengurangi tetapi tidak dapat
menghilangkan sama sekali risiko penularan penyakit ini.
Tipe:
Viral
Cara
Penularan: Hubungan
seks vaginal, oral dan khususnya anal; memakai jarum suntik
bergantian; perlukaan kulit karena alat-alat medis dan
kedokteran gigi; melalui transfusi darah.
Gejala:
Sekitar sepertiga penderita HBV tidak menunjukkan gejala.
Gejala yang muncul meliputi demam, sakit kepala, nyeri
otot, lemah, kehilangan nafsu makan, muntah dan diare.
Gejala-gejala yang ditimbulkan karena gangguan di hati
meliputi air kencing berwarna gelap, nyeri perut, kulit
menguning dan mata pucat.
Pengobatan:
Belum ada pengobatan. Kebanyakan
infeksi bersih dengan sendirinya dalam 4-8 minggu.
Beberapa orang menjadi terinfeksi secara kronis.
Konsekuensi
yang mungkin timbul pada orang yang terinfeksi:
Untuk orang-orang yang terinfeksi secara kronis, penyakit ini
dapat berkembang menjadi cirrhosis, kanker hati dan kerusakan
sistem kekebalan.
Konsekuensi
yang mungkin timbul pada janin dan bayi baru lahir:
Perempuan hamil dapat menularkan penyakit ini pada janin yang
dikandungnya. 90%
bayi yang terinfeksi pada saat lahir menjadi karier kronik dan
berisiko untuk tejadinya penyakit hati dan kanker hati.
Mereka juga dapat menularkan virus tersebut.
Bayi dari seorang ibu yang terinfeksi dapat diberi
immunoglobulin dan divaksinasi pada saat lahir, ini berpotensi
untuk menghilangkan risiko infeksi kronis.
Pencegahan:
Tidak melakukan hubungan seks dengan orang yang terinfeksi
khususnya seks anal, di mana cairan tubuh, darah, air mani dan
secret vagina paling mungkin dipertukarkan adalah satu-satunya
cara pencegahan yang 100% efektif mencegah penularan virus
hepatitis B melalui hubungan seks.
Kondom dapat menurunkan risiko tetapi tidak dapat sama
sekali menghilangkan risiko untuk tertular penyakit ini
melalui hubungan seks. Hindari
pemakaian narkoba suntik dan memakai jarum suntik bergantian.
Bicarakan dengan petugas kesehatan kewaspadaan yang
harus diambil untuk mencegah penularan Hepatitis B, khususnya
ketika akan menerima tranfusi produk darah atau darah.
Vaksin sudah tersedia dan disarankan untuk orang-orang
yang berisiko terkena infeksi Hepatitis B.
Sebagai tambahan, vaksinasi Hepatitis B sudah dilakukan
secara rutin pada imunisasi anak-anak sebagaimana
direkomendasikan oleh the American Academy of Pediatrics.
Tipe:
Viral
Cara
Penularan: Herpes
menyebar melalui kontak seksual antar kulit dengan
bagian-bagian tubuh yang terinfeksi saat melakukan hubungan
seks vaginal, anal atau oral.
Virus sejenis dengan strain lain yaitu Herpes Simplex
Tipe 1 (HSV-1) umumnya menular lewat kontak non-seksual dan
umumnya menyebabkan luka di bibir.
Namun, HSV-1 dapat juga menular lewat hubungan seks
oral dan dapat menyebabkan infeksi alat kelamin.
Gejala-gejala:
Gejala-gejala biasanya sangat ringan dan mungkin meliputi rasa
gatal atau terbakar; rasa nyeri di kaki, pantat atau daerah
kelamin; atau keputihan.
Bintil-bintil berair atau luka terbuka yang terasa
nyeri juga mungkin terjadi, biasanya di daerah kelamin, pantat,
anus dan paha, walaupun dapat juga terjadi di bagian tubuh
yang lain. Luka-luka
tersebut akan sembuh dalam beberapa minggu tetapi dapat muncul
kembali.
Pengobatan:
Belum ada pengobatan untuk penyakit ini.
Obat anti virus biasanya efektif dalam mengurangi
frekuensi dan durasi (lamanya) timbul gejala karena infeksi
HSV-2.
Konsekuensi
yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi:
Orang yang terinfeksi dan memiliki luka akan meningkat
risikonya untuk terinfeksi HIV jika terpapar sebab luka
tersebut menjadi jalan masuk virus HIV.
Konsekuensi
yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi:
Perempuan yang mengalami episode pertama dari herpes genital
pada saat hamil akan memiliki risiko yang lebih tinggi untuk
terjadinya kelahiran prematur.
Kejadian akut pada masa persalinan merupakan indikasi
untuk dilakukannya persalinan dengan operasi cesar sebab
infeksi yang mengenai bayi yang baru lahir akan dapat
menyebabkan kematian atau kerusakan otak yang serius.
Pencegahan:
Tidak melakukan hubungan seks secara vaginal, anal dan oral
dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara
pencegahan yang 100% efektif mencegah penularan virus herpes
genital melalui hubungan seks.
Kondom dapat mengurangi risiko tetapi tidak dapat
samasekali menghilangkan risiko tertular penyakit ini melalui
hubungan seks. Walaupun
memakai kondom saat melakukan hubungan seks, masih ada
kemungkinan untuk tertular penyakit ini yaitu melalui adanya
luka di daerah kelamin.
Tipe:
Viral
Cara
Penularan: Hubungan
seks vaginal, oral dan khususnya anal; darah atau produk darah
yang terinfeksi; memakai jarum suntik bergantian pada pengguna
narkoba; dan dari ibu yang terinfeksi kepada janin dalam
kandungannya, saat persalinan, atau saat menyusui.
Gejala-gejala:
Beberapa orang tidak mengalami gejala saat terinfeksi pertama
kali. Sementara
yang lainnya mengalami gejala-gejala seperti flu, termasuk
demam, kehilangan nafsu makan, berat badan turun, lemah dan
pembengkakan saluran getah bening.
Gejala-gejala tersebut biasanya menghilang dalam
seminggu sampai sebulan, dan virus tetap ada dalam kondisi
tidak aktif (dormant) selama beberapa tahun. Namun, virus tersebut secara terus menerus melemahkan sistem
kekebalan, menyebabkan orang yang terinfeksi semakin tidak
dapat bertahan terhadap infeksi-infeksi oportunistik.
Pengobatan:
Belum ada pengobatan untuk infeksi ini.
Obat-obat anti retroviral digunakan untuk memperpanjang
hidup dan kesehatan orang yang terinfeksi.
Obat-obat lain digunakan untuk melawan infeksi
oportunistik yang juga diderita.
Konsekuensi
yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi:
Hampir semua orang yang terinfeksi HIV akhirnya akan menjadi
AIDS dan meninggal karena komplikasi-komplikasi yang
berhubungan dengan AIDS.
Konsekuensi
yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi:
20-30% dari bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi HIV akan
terinfeksi HIV juga dan gejala-gejala dari AIDS akan muncul
dalam satu tahun pertama kelahiran.
20% dari bayi-bayi yang terinfeksi tersebut akan
meninggal pada saat berusia 18 bulan.
Obat antiretroviral yang diberikan pada saat hamil
dapat menurunkan risiko janin untuk terinfeksi HIV dalam
proporsi yang cukup besar.
Lihat Prenatal
Risk Assessment: AIDS untuk infomasi lebih lanjut tentang
AIDS dan kehamilan.
Pencegahan:
Tidak melakukan hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi,
khususnya hubungan seks anal, di mana cairan tubuh, darah, air
mani atau secret vagina paling mungkin dipertukarkan, adalah
satu-satunya cara yang 100% efektif untuk mencegah penularan
HIV melalui hubungan seks.
Kondom dapat menurunkan risiko penularan tetapi tidak
menghilangkan sama sekali kemungkinan penularan.
Hindari pemakaian narkoba suntik dan saling berbagi
jarum suntik. Diskusikan
dengan petugas kesehatan tindakan kewaspadaan yang harus
dilakukan untuk mencegah penularan HIV, terutama saat harus
menerima transfusi darah maupun produk darah.
Sebuah ciuman, apakah sekedar
sebuah ciuman?
Bahkan
ciuman dapat merupakan sumber infeksi.
Menurut Centers for Disease Control Amerika
Serikat, "Ciuman dengan mulut terbuka dianggap
sebagai aktifitas seksual yang sangat kecil risikonya
untuk terjadinya penularan HIV.
Namun, ciuman dengan mulut terbuka dalam waktu
yang lama dapat merusak mulut atau bibir sehingga
memungkinkan HIV berpindah dari orang yang terinfeksi ke
pasangannya dan memasuki tubuh pasangan tersebut melalui
luka yang ada di mulut.
Karena adanya kemungkinan risiko penularan ini,
CDC merekomendasikan pelarangan untuk berciuman dengan
mulut terbuka dengan pasangan yang terinfeksi. Sebuah kasus mengindikasikan adanya seorang perempuan yang
terinfeksi HIV dari pasangannya karena terpapar darah
yang terkontaminasi saat melakukan ciuman dengan mulut
terbuka. Morbidity
and Mortality Weekly Report tanggal 11 Juli 11, 1997, berisi artikel tentang hal ini".
Sumber:
Centers for Disease Control (info
lebih lanjut.)
|
Tipe:
Viral
Cara
Penularan: Hubungan
seksual vaginal, anal atau oral.
Gejala-gejala:
Tonjolan yang tidak sakit, kutil yang menyerupai bunga kol
tumbuh di dalam atau pada kelamin, anus dan tenggorokan.
Pengobatan:
Tidak ada pengobatan untuk penyakit ini.
Kutil dapat dihilangkan dengan cara-cara kimia,
pembekuan, terapi laser atau bedah.
Konsekuensi
yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi:
HPV adalah virus yang menyebabkan kutil kelamin.
Beberapa strains dari virus ini berhubungan kuat dengan
kanker serviks sebagaimana halnya juga dengan kanker vulva,
vagina, penis dan anus. Pada
kenyataannya 90% penyebab kanker serviks adalah virus HPV.
Kanker serviks ini menyebabkan kematian 5.000 perempuan
Amerika setiap tahunnya.
Konsekuensi
yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi:
Pada bayi-bayi yang terinfeksi virus ini pada proses
persalinan dapat tumbuh kutil pada tenggorokannya yang dapat
menyumbat jalan nafas sehingga kutil tersebut harus
dikeluarkan.
Pencegahan:
Tidak melakukan hubungan seks secara vaginal, anal dan oral
dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara
pencegahan yang 100% efektif mencegah penularan. Kondom hampir tidak berfungsi sama sekali dalam mencegah
penularan virus ini melalui hubungan seks.
Tipe:
Bakterial
Cara
Penularan: Cara
penularan yang paling umum adalah hubungan seks vaginal, anal
atau oral. Namun,
penyakit ini juga dapat ditularkan melalui hubungan non-seksual
jika ulkus atau lapisan mukosa yang disebabkan oleh sifilis
kontak dengan lapisan kulit yang tidak utuh dengan orang yang
tidak terinfeksi.
Gejala-gejala:
Pada fase awal, penyakit ini menimbulkan luka yang tidak
terasa sakit atau "chancres" yang biasanya muncul di
daerah kelamin tetapi dapat juga muncul di bagian tubuh yang
lain, jika tidak diobati penyakit akan berkembang ke fase
berikutnya yang dapat meliputi adanya gejala ruam kulit, demam,
luka pada tenggorokan, rambut rontok dan pembengkakan kelenjar
di seluruh tubuh.
Pengobatan:
Penyakit ini dapat diobati dengan penisilin; namun, kerusakan
pada organ tubuh yang telah terjadi tidak dapat diperbaiki.
Konsekuensi
yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi:
Jika tidak diobati, sifilis dapat menyebabkan kerusakan serius
pada hati, otak, mata, sistem saraf, tulang dan sendi dan
dapat menyebabkan kematian.
Seorang yang sedang menderita sifilis aktif risikonya
untuk terinfeksi HIV jika terpapar virus tersebut akan
meningkat karena luka (chancres) merupakan pintu masuk bagi
virus HIV.
Konsekuensi
yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi:
Jika tidak diobati, seorang ibu hamil yang terinfeksi sifilis
akan menularkan penyakit tersebut pada janin yang dikandungnya.
Janin meninggal di dalam dan meninggal pada periode
neonatus terjadi pada sekitar 25% dari kasus-kasus ini.
40-70% melahirkan bayi dengan sifilis aktif.
Jika tidak terdeteksi, kerusakan dapat terjadi pada
jantung, otak dan mata bayi.
Pencegahan:
Tidak melakukan hubungan seks secara vaginal, anal dan oral
dengan orang yang terinfeksi adalah satu-satunya cara
pencegahan yang 100% efektif mencegah penularan sifilis
melalui hubungan seksual.
Kondom dapat mengurangi tetapi tidak menghilangkan
risiko tertular penyakit ini melalui hubungan seks.
Masih ada kemungkinan tertular sifilis walaupun memakai
kondom yaitu melalui luka yang ada di daerah kelamin.
Usaha untuk mencegah kontak non-seksual dengan luka,
ruam atau lapisan bermukosa karena adanya sifilis juga perlu
dilakukan.
Tipe:
Disebabkan oleh protozoa Trichomonas vaginalis.
Prevalensi:
Trikomoniasis adalah PMS yang dapat diobati yang paling banyak
terjadi pada perempuan muda dan aktif seksual.
Diperkirakan, 5 juta kasus baru terjadi pada perempuan
dan laki-laki.
Cara
Penularan:
Trikomoniasis menular melalui kontak seksual. Trichomonas
vaginalis dapat bertahan hidup pada benda-benda seperti
baju-baju yang dicuci, dan dapat menular dengan pinjam
meminjam pakaian tersebut.
Gejala-gejala:
Pada perempuan biasa terjadi keputihan yang banyak, berbusa,
dan berwarna kuning-hijau.
Kesulitan atau rasa sakit pada saat buang air kecil dan
atau saat berhubungan seksual juga sering terjadi.
Mungkin terdapat juga nyeri vagina dan gatal atau
mungkin tidak ada gejala sama sekali.
Pada laki-laki mungkin akan terjadi radang pada saluran
kencing, kelenjar, atau kulup dan/atau luka pada penis, namun
pada laki-laki umumnya tidak ada gejala.
Pengobatan:
Penyakit ini dapat disembuhkan.
Pasangan seks juga harus diobati.
Konsekuensi
yang Mungkin Terjadi pada Orang yang Terinfeksi:
Radang pada alat kelamin pada perempuan yang terinfeksi
trikomoniasis mungkin juga akan meningkatkan risiko untuk
terinfeksi HIV jika terpapar dengan virus tersebut.
Adanya trikomoniasis pada perempuan yang juga
terinfeksi HIV akan meningkatkan risiko penularan HIV pada
pasangan seksualnya.
Konsekuensi
yang Mungkin Terjadi pada Janin dan Bayi:
Trikomoniasis pada perempuan hamil dapat menyebabkan ketuban
pecah dini dan kelahiran prematur.
Pencegahan:
Tidak melakukan hubungan seks secara vaginal dengan orang yang
terinfeksi adalah satu-satu cara pencegahan yang 100% efektif
mencegah penularan trikomoniasis melalui hubungan seksual.
Kondon dan berbagai metode penghalang sejenis yang lain
dapat mengurangi tetapi tidak menghilangkan risiko untuk
tertular penyakit ini melalui hubungan seks.
Hindari untuk saling pinjam meminjam handuk atau
pakaian dengan orang lain untuk mencegah penularan non-seksual
dari penyakit ini.
|
Infeksi
Saluran Reproduksi lain yang tidak dipaparkan di sini di
antaranya:
- Bakterial
Vaginosis
– Menyebabkan nyeri saat buang air kecil, jika
tidak diobati dapat menyebabkan kegagalan ginjal.
- Kandidiasis
- Kandidiasis, atau infeksi jamur, sesungguhnya
bukan PMS namun dapat juga ditularkan melalui
hubungan seksual, menyebabkan rasa seperti terbakar,
gatal dan tidak nyaman.
Dapat diobati dengan obat yang dijual tanpa
resep, namun biasanya dapat kambuh. info lebih lanjut.
- Chancroid
– Luka atau bintil yang besar dan nyeri, dapat
pecah.
- Granuloma
Inguinale
– Menyebabkan luka-luka yang tidak terasa sakit
yang dapat membesar dan mudah berdarah.
- Lymphogranuloma
Venereum
– Menyebabkan lesi-lesi, luka dan abses pada lipat
paha.
- Molluscum
Contagiosum
– Virus ini menyebabkan lesi-lesi yang halus dan
mengkilap yang harus dihilangkan satu per satu oleh
dokter.
- Mucopurulent
Cervicitis (MPC)
– Menyebabkan keluarnya keputihan dari serviks,
dapat menyebabkan Penyakit Radang Panggul atau
keguguran pada ibu hamil.
- Nongonococcal
Urethritis (NGU)
– Mengenai laki-laki dan dapat menyebabkan masalah
pada saat buang air kecil, dapat disebabkan oleh
klamidia.
- Penyakit
Radang Panggul/Pelvic Inflammatory Disease (PID)
– Dapat disebabkan oleh berbagai bakteri, menular
melalui hubungan seksual atau cara-cara lain. Dapat menyebabkan rasa nyeri, kemandulan dan bahkan
kematian.
|
Terjemahan
oleh: Siti Nurul Qomariyah
Sumber:
Sources: U.S. Department of Health and Human Services - Public
Health Service, Rockville, MD 20857; The Upjohn Company;
Contraceptive Technology by R. Hatcher et al, Chapter 4, 16th
Revised Ed., 1994; Medical Institute for Sexual Health, P. O.
Box 4919, Austin, TX, 78765; MedicineNet.com; Centers for
Disease Control (CDC). Updated:
Sept 2, 2002
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |