OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Depkes Tetapkan Klinik VCT di 25 RS

Departemen Kesehatan (Depkes) telah menetapkan 25 rumah sakit (RS) di seluruh Indonesia sebagai pelaksana proyek percontohan Klinik VCT (Voluntary Counselling Test) atau konseling dan tes sukarela HIV/AIDS (Human Immunodefiecency Virus dan Acquired Immune Deficiency Syndrome). Empat VCT berada di Papua.

Pelaksanaan VCT tersebut untuk mengoptimalkan program penanggulangan HIV/AIDS secara nasional. Demikian dikatakan Ketua Pokja (Kelompok Kerja) AIDS RSUD Dok II Jayapura dr Samuel M Baso, ketika ditemui Media di ruang kerjanya, Rabu (11/8).

Empat VCT di Provinsi Papua, yakni di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dok II Jayapura, RSUD Merauke, RS Mitra Masyarakat Timika, dan RS Sele Be Solu Sorong. Namun, khususnya di Papua, Klinik VCT itu baru beroperasi di RSUD Dok II Jayapura dan RSUD Merauke.

Samuel menjelaskan, Klinik VCT adalah suatu cara atau metode memberikan konseling kepada setiap orang atau klien agar mengerti masalah yang dihadapinya, mengidentifikasi masalah dan mencari jalan keluar. Sehingga klien dengan sukarela (tanpa paksaan) dan rahasia (hanya ia dan konselornya yang mengetahui).

Dengan begitu, lanjut Samuel, klien mau memeriksakan darahnya, agar dapat menolong dirinya dari suatu masalah, terutama masalah yang berhubungan dengan kemungkinan terkena HIV/AIDS.

''Jadi VCT merupakan entry point (pintu masuk) semua program penanggulangan HIV/AIDS,'' tuturnya.

Lebih lanjut, Samuel mengatakan, melalui Klinik VCT, setiap klien walaupun belum ada keluhan atau gejala, tetapi pernah atau sering melakukan tindakan berisiko terhadap HIV/AIDS dapat mengetahui dengan pasti apakah telah tertular atau belum. Dan bagi yang telah tertular penyakit berbahaya ini dapat ditolong untuk menjalani pengobatan tanpa bayaran.

Klinik VCT di RUD Dok II Jayapura, katanya, memiliki ruang khusus cukup aman dan nyaman bagi setiap pengunjung. Dua pintu yang disediakan untuk masuk dan satunya untuk pintu keluar yang dapat menjamin kerahasiaan pasien dari publik.

Klinik VCT di RSUD Dok II Jayapura juga dilengkapi ruang registrasi/administrasi, dua ruangan konseling, dan satu laboratorium untuk mengambil darah. Namun pemeriksaan darahnya, masih menggunakan bantuan laboratorium Departemen Kesehatan RSUD Dok II Jayapura.

Ke depan, kata Samuel lagi, kalau klinik yang dibinanya itu sudah memiliki dipstick (alat berupa tongkat pengetesan darah) sendiri, maka tidak akan meminta bantuan lagi dari laboratorium Depkes.

Menurutnya, tiga dipstick dapat digunakan untuk mengetes 100 orang klein, dan harganya Rp5 juta per buah. Alat pengetesan darah ini sebagai alternatif atau pengganti PCR (Polymerizet Chlaine Reaction) yang digunakan di negara maju, dan harganya lebih mahal.

Gubernur Papua JP Solossa dan pihak RSUD Dok II Jayapura berharap, dengan diresmikannya VCT, diharapkan warga Papua dan sekitarnya mau datang berkonsultasi di VCT percontohan tersebut, tanpa dikenai bayaran, serta dijamin kerahasiaannya. (MY/V-1)

sumber: Media Indonesia, Jum'at, 13 Agustus 2004

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan