|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Depkes Tetapkan Klinik VCT di 25 RS
Departemen Kesehatan (Depkes)
telah menetapkan 25 rumah sakit (RS) di seluruh Indonesia sebagai
pelaksana proyek percontohan Klinik VCT (Voluntary Counselling Test)
atau konseling dan tes sukarela HIV/AIDS (Human Immunodefiecency Virus
dan Acquired Immune Deficiency Syndrome). Empat VCT berada di
Papua.
Pelaksanaan VCT tersebut untuk mengoptimalkan
program penanggulangan HIV/AIDS secara nasional. Demikian dikatakan Ketua
Pokja (Kelompok Kerja) AIDS RSUD Dok II Jayapura dr Samuel M Baso, ketika
ditemui Media di ruang kerjanya, Rabu (11/8).
Empat VCT di Provinsi Papua, yakni di Rumah Sakit
Umum Daerah (RSUD) Dok II Jayapura, RSUD Merauke, RS Mitra Masyarakat
Timika, dan RS Sele Be Solu Sorong. Namun, khususnya di Papua, Klinik VCT
itu baru beroperasi di RSUD Dok II Jayapura dan RSUD Merauke.
Samuel menjelaskan, Klinik VCT adalah suatu cara
atau metode memberikan konseling kepada setiap orang atau klien agar
mengerti masalah yang dihadapinya, mengidentifikasi masalah dan mencari
jalan keluar. Sehingga klien dengan sukarela (tanpa paksaan) dan rahasia (hanya
ia dan konselornya yang mengetahui).
Dengan begitu, lanjut Samuel, klien mau memeriksakan
darahnya, agar dapat menolong dirinya dari suatu masalah, terutama masalah
yang berhubungan dengan kemungkinan terkena HIV/AIDS.
''Jadi VCT merupakan entry point
(pintu masuk)
semua program penanggulangan HIV/AIDS,'' tuturnya.
Lebih lanjut, Samuel
mengatakan, melalui Klinik VCT,
setiap klien walaupun belum ada keluhan atau gejala, tetapi pernah atau
sering melakukan tindakan berisiko terhadap HIV/AIDS dapat mengetahui
dengan pasti apakah telah tertular atau belum. Dan bagi yang telah
tertular penyakit berbahaya ini dapat ditolong untuk menjalani pengobatan
tanpa bayaran.
Klinik VCT di RUD Dok II
Jayapura, katanya, memiliki
ruang khusus cukup aman dan nyaman bagi setiap pengunjung. Dua pintu yang
disediakan untuk masuk dan satunya untuk pintu keluar yang dapat menjamin
kerahasiaan pasien dari publik.
Klinik VCT di RSUD Dok II Jayapura juga dilengkapi
ruang registrasi/administrasi, dua ruangan konseling, dan satu
laboratorium untuk mengambil darah. Namun pemeriksaan darahnya, masih
menggunakan bantuan laboratorium Departemen Kesehatan RSUD Dok II Jayapura.
Ke depan, kata Samuel
lagi, kalau klinik yang
dibinanya itu sudah memiliki dipstick (alat berupa tongkat
pengetesan darah) sendiri, maka tidak akan meminta bantuan lagi dari
laboratorium Depkes.
Menurutnya, tiga dipstick dapat digunakan
untuk mengetes 100 orang klein, dan harganya Rp5 juta per buah. Alat
pengetesan darah ini sebagai alternatif atau pengganti PCR (Polymerizet
Chlaine Reaction) yang digunakan di negara maju, dan harganya lebih
mahal.
Gubernur Papua JP Solossa dan pihak RSUD Dok II
Jayapura berharap, dengan diresmikannya VCT, diharapkan warga Papua dan
sekitarnya mau datang berkonsultasi di VCT percontohan tersebut, tanpa
dikenai bayaran, serta dijamin kerahasiaannya. (MY/V-1)
sumber:
Media Indonesia, Jum'at, 13 Agustus 2004
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |