|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Laporan
dari Kongres AIDS International ke XV Bangkok
Kongres AIDS Internasional ke lima belas ditutup tanggal 16
Juli yang lalu. Sekitar 20.000 peserta kembali ke negara
masing-masing. Surat kabat Bangkok Post di Thailand dalam
sebuah karikaturnya mengambarkan sikap para peserta yang
biasanya terjadi pada setiap penutupan kongres. Beres-beres,
memasukkan semua bahan-bahan kongres ke dalam keranjang dan
melupakannya. Mudah-mudahan keadaan ini tak terjadi pada
peserta Indonesia. Bukankah sebelumnya yaitu pada hari Kamis 8
Juli 2004 masyarakat telah menitipkan sejumlah harapan pada
mereka yang diungkapkan pada sarasehan di Pokdisus AIDS FKUI
Jakarta. Peserta Indonesia pada kongres ini cukup banyak (114
orang), mereka mewakili: Odha (Orang dengan HIV/AIDS), pejabat
pemerintah, aktivis AIDS serta akademisi. Mampukah Indonesia
menindak lanjuti berbagai keberhasilan yang mereka lihat pada
negara lain? Mampukah kita memperkuat komitmen untuk
memperhatikan dengan sungguh-sungguh upaya penanggulangan AIDS
di negeri kita?
Pertumbuhan kasus HIV yang cepat di masyarakat
Jumlah kasus baru HIV/AIDS tak terekam dengan baik melalui
sistem survailens kita. Kita semua menyadari bahwa angka yang
tercatat di Depkes tidaklah mewakili keadaan di lapangan.
Sebagai contoh jumlah kasus HIV/AIDS di propinsi Jakarta yang
tercata sejak tahun 1986 sampai Maret 2004 (selama 18 tahun)
secara kumulatif adalah 1212 orang. Namun jumlah
kasus yang belum terlaporkan di Jakarta pada tahun 2003 dan
awal tahujn 2994 menurut para teman-teman telah mencapai
sekitar 2000 orang. Pada tanggal 8 Juli yang lalu Pokdisus
menyerahkan 542 kasus kepada P2MPLP dan pencatatan masih
terus
dilakukan. Menurut Prof. Zubairi Djoerban penyerahan pertama
yang diterima oleh dr. Sigit P. (P2MPLP) ini masih berupa
cicilan karena dalam waktu dekat akan disusul dengan
penyerahan formulir laporan yang jauh lebih banyak.
Keadaan di Jakarta kemungkinan besar juga terjadi di daerah
lain seperti Jawa Barat, Jogya, Bali, Papua, dan Batam.
Masih banyak kasus yang belum dilaporkan. Jika pejabat di
P2MPLP dan teman-teman dilapangan dapat bekerjasama
mengerjakan kasus yang belum dilaporkan ini saya memperkirakan
sekitar 3000 kasus baru akan terdaftar. Apalagi jika kita
melakukan Testing dan Konseling sukarela di kantong-kantong
pengguna narkoba suntikan. Program ini belum digarap secara
baik. Angka baru ini dapat merubah sikap masyarakat,
pejabat pemerintah, dan tokoh masyarakat yang masih
beranggapan masalah AIDS di negeri kita belumlah menjadi
ancaman karena jumlahnya masih sedikit. Penambahan angka baru
ini juga akan.menunjukkan kantong-kantong kasus baru
terutama yang berasal dari kasus baru akibat penggunaan
narkoba suntikan. Kita sudah sejak tahun 1986 menyelenggarakan
pencatatan kasus HIV/AIDS dinegeri kita ini. Rasanya sudah
waktunya angka yang tercatat mendekati kejadian yang
sebenarnya ada di masyarakat. Bukankah angka tersebut akan
digunakan untuk pengambilan keputusan?
Meningkatkan Upaya Pencegahan
Keberhasilan Thailand, Uganda serta beberapa negara lain dalam
menekan angka penularan dapat kita tiru. Intinya adalah
informasi, hubungan seks yang aman serta mengurangi
kemudharatan penggunaan jarum suntik di kalangan penggunaan
narkoba. Kita sudah tak punya waktu lagi untuk terus berdebat.
Umpama rumah kita sedang terbakar maka kita tak dapat
menghabiskan waktu untuk membahas bagaimana memadamkan api,
namun semua harus berusaha. Orang tua, kalangan agama, guru,
tokoh masyarakat amat berperan dalam meningkatkan daya tahan
keluarga terutama remaja dalam mencegah penularan HIV/AIDS.
Dua jalur penting penularan yang sekarang ini terjadi adalah
penggunaan narkoba dan hubungan seks yang tak aman. Kalangan
kesehatan perlu diberi kesempatan untuk melakukan upaya dengan
sungguh-sungguh untuk melakukan upaya pencegahan yang telah
terbukti bermanfaat.
Pada sebuah sidang pleno kongres ini juga digambarkan oleh
seorang pakar epidemiologi bagaimana akibat keterlambatan
respons suatu negara terhadap terhadap peningkatan kasus
infeksi HIV-nya dibandingkan dengan negara lain yang lebih
cepat. Kurangnya pesan kedaruratan akibat epidemi AIDS di
suatu negera mengakibatkan respons yang dilakukan kurang
adekuat. Selain itu pada kongres ini juga disebutkan juga tiga
negara yang risiko penambahan kasusnya amat cepat yaitu: Cina,
Vietnam dan Indonesia.
Upaya pencegahan AIDS telah dilakukan di Indonesia sejak tahun
1986. Setelah pelaksanakan upaya tersebut selama 18 tahun kita
hendaknya tak boleh lelah tapi justru melaksanakan upaya
pencegahan dengan lebih efisien karena pengalaman yang begitu
lama.
Layanan Terapi yang merata
Program 3 by5 (3juta orang mendapat ARV pada tahun 2005) badan
kesehatan sedunia WHO serta dukungan pemerintah dalam program
terapi telah diketahui masyarakat. Sejumlah langkah penting
telah dilakukan Indonesia. Obat ARV telah masuk daftar obat
esensial nasional pada akhir 2002. Seharusnya dengan
memasukkan obat ARV ke daftar obat esensial nasional obat ARV
tersedia di rumah sakit yang telah ditetapkan. Produksi obat
ARV generik telah dapat dilakukan di negeri sendiri sejak
akhir tahun 2003. Pada saat kongres ini berlangsung Thailand
telah menanda tangani kerjasama dengan 6 negara untuk
meningkatkan produski obat generik di dunia. Sedangkan
Indonesia telah lama menandatangani kerjasama dengan Thailand
sehingga diharapkan akan menjadi penyedia utama obat generik
di negara berkembang.
Meski berbagai isyu negatif tentang mutu obat generik
dihembuskan namun upaya untuk pengadaan obat ARV generik di
dunia harus terus ditingkatkan karena hanya obat inilah yang
sementara ini menjadi harapan masyarakat yang tak mampu.
Kualitas obat ARV generik seperti obat lainnya harus tetap
dipantau dan ditingkatkan. WHO telah mengalokasikan dana untuk
bantuan tehnis meningkatkan produksi obat ARV generik di dunia.
Indonesia juga dapat memanfaatkan bantuan ini. Thailand sedang
memperluas kapasitas produksinya dengan mendirikan pabrik baru
sehingga akan mampu memproduksi 100.000 paket setiap bulan.
Bahkan dalam jangka panjang Thailand akan berusaha memproduksi
bahan baku obat ARV.
Dalam upaya pengadaan dan distribusi obat ARV ini kita perlu
saling membantu. Marilah kita hindari perbedaan pendapat yang
tak produktif serta membingungkan masyarakat. Keberanian
pemerintah untuk berpihak kepada kepentingan masyarakat perlu
didukung sehingga kebijakan tersebut dapat segera dinikmati
masyarakat.
Keterlibatan Akademisi
Sebenarnya keterlibatan akademisi dalam upaya penanggulangan
AIDS sudah berlangsung lama namun gaungnya kurang terdengar.
Kelompok Studi Khusus (Pokdisus) AIDS Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia berdiri tahun 1986. Ini menunjukkan
kepedulian para akademisi terhadap masalah AIDS sudah sejak
dini. Meski dengan sumber daya terbatas kelompok ini dibantu
oleh teman-teman Lembaga swadaya Masyarakat telah melakukan
upaya penyuluhan, pencegahan serta dukungan dan terapi.
Infrastruktur untuk diagnosis dan terapi telah lama
dikembangkan. Pemeriksaan CD4 telah dapat dilakukan pada tahun
1986, viral load tahun 1988. Pengalaman menggunakan ARV telah
ada sejak tahun 1987 meski pengalaman yang lebih intensif
lebih dirasakan lagi sejak obat ARV generik tersedia. Semua
dilakukan dengan tidak menunggu bantuan pemerintah atau
lembaga donor. Teman akdemisi di Bali dan kota lain juga
berusaha sesuai dengan kemampuan yang ada. Bayangkan
jika kita baru sekarang memulai upaya upaya ini, membangun
oinfrastruktur dan menuai pengalaman, mungkin baru 2 sampai 3
tahun kedepan kita akan mampu menatalaksana kasus AIDS dengan
terapi ARV. Sikap untuk memulai dengan kemampuan sendiri
ini perlu terus dikembangkan.
Keterlibatan teman-teman profesi kesehatan masyarakat juga
nyata. Mereka telah mewarnai berbagai kebijakan dalam upaya
penyuluhan dan pencegahan AIDS di negeri kita. Sudah
tentu kita berharap peran ini akan terus ditingkatkan.
Pengalaman lapangan yang telah ada selama ini perlu dinilai
dan jika baik disebar luaskan. Pengalaman testing dan
konseling sukarela di Jakarta dan Bali perlu diketahui
teman-teman daerah lain. Pengalaman lapangan tersebut akan
lebih berharga daripada konsep yang datang dari luar, karena
sesuatu yang berhasil di negara orang mungkin perlu
disesuaikan agar juga berhasil di negeri kita.
Salah satu upaya yang dapat dikembangkan oleh teman -teman
profesi kesehatan masyarakat adalah penilaian cost
effectiveness program upaya penanggulangan AIDS di negeri kita.
Kita beruntung memperoleh cukup bantuan dana untuk mendukung
upaya penanggulangan AIDS di negeri kita. Namun alangkah
baiknya jika kita dapat pengungkapkan prioritas kita kepada
lembaga donor yang membantu supaya program yang dijalankan
sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat. Selain itu perlu
dilakukan evaluasi seberapa jauh dana tersebut bermanfaat
untuk masyarakat kita. Apakah program yang kita lakukan telah
cukup cost effective, terlepas asal dana yang digunakan. Kita
perlu mempertanggung jawabkannya kepada masyarakat. Penilaian
tersebut mungkin dapat menyempurnakan penggunaan dana yang
terbatas itu sehingga bermanfaat bagi masyarakat secara
keseluruhan.
Pulang dari kongres AIDS ini banyak sekali PR (pekerjaan rumah)
yang perlu kita lakukan, baik oleh peserta hadir maupun
teman-teman lain yang tak menghadiri kongres ini. Kita perlu
memperkuat hubungan teman-teman dilapangan dengan pengambil
keputusan, kita perlu lebih mempedulikan peningkatan kasus HIV
di negeri kita. Suara teman-teman di daerah yang telah lama
menunggu obat ARV harus segera ditanggapi dengan langkah nyata.
Kita harus selalu menyempurnakan jaringan layanan HIV/AIDS
yang tersebar di tanah air. Agar menjadi layanan kesehatan
yang lebih bersahabat. Kita perlu mendekatkan layanan
kesehatan kepada masyarakat agar mudah dijangkau. Kita perlu
mempersiapkan diri untuk memikul tanggung jawab penanggulangan
AIDS di negeri kita, karena tanggung jawab tersebut merupakan
tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat Indonesia.
Jika sikap ini dapat kita kembangkan pada bidang lain, upaya
penanggulangan AIDS di negeri kita tidak hanya bermanfaat
untuk menanggulangi AIDS tapi juga dapat merangsang
kemandirian kita sebagai bangsa.
(Samsuridjal Djauzi dan
Kurniawan Rachmadi, Bangkok)
sumber:
aids-ina
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |