OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Laporan dari Kongres AIDS International ke XV Bangkok

Kongres AIDS Internasional ke lima belas ditutup tanggal 16 Juli yang lalu. Sekitar 20.000 peserta kembali ke negara masing-masing. Surat kabat Bangkok Post di Thailand dalam sebuah karikaturnya mengambarkan sikap para peserta yang biasanya terjadi pada setiap penutupan kongres. Beres-beres, memasukkan semua bahan-bahan kongres ke dalam keranjang dan melupakannya. Mudah-mudahan keadaan ini tak terjadi pada peserta Indonesia. Bukankah sebelumnya yaitu pada hari Kamis 8 Juli 2004 masyarakat telah menitipkan sejumlah harapan pada mereka yang diungkapkan pada sarasehan di Pokdisus AIDS FKUI Jakarta. Peserta Indonesia pada kongres ini cukup banyak (114 orang), mereka mewakili: Odha (Orang dengan HIV/AIDS), pejabat pemerintah, aktivis AIDS serta akademisi. Mampukah Indonesia menindak lanjuti berbagai keberhasilan yang mereka lihat pada negara lain? Mampukah kita memperkuat komitmen untuk memperhatikan dengan sungguh-sungguh upaya penanggulangan AIDS di negeri kita?


Pertumbuhan kasus HIV yang cepat di masyarakat

Jumlah kasus baru HIV/AIDS tak terekam dengan baik melalui sistem survailens kita. Kita semua menyadari bahwa angka yang tercatat di Depkes tidaklah mewakili keadaan di lapangan. Sebagai contoh jumlah kasus HIV/AIDS di propinsi Jakarta yang tercata sejak tahun 1986 sampai Maret 2004 (selama 18 tahun) secara kumulatif  adalah  1212 orang. Namun jumlah kasus yang belum terlaporkan di Jakarta pada tahun 2003 dan awal tahujn 2994 menurut para teman-teman telah mencapai sekitar 2000 orang. Pada tanggal 8 Juli yang lalu Pokdisus menyerahkan 542 kasus kepada  P2MPLP dan pencatatan masih terus
dilakukan. Menurut Prof. Zubairi Djoerban penyerahan pertama yang diterima oleh dr. Sigit P. (P2MPLP) ini masih berupa cicilan karena dalam waktu dekat akan disusul dengan penyerahan formulir laporan yang jauh lebih banyak.

Keadaan di Jakarta kemungkinan besar juga terjadi di daerah lain seperti Jawa Barat, Jogya, Bali, Papua, dan Batam.  Masih banyak kasus yang belum dilaporkan. Jika pejabat di P2MPLP dan teman-teman dilapangan dapat bekerjasama mengerjakan kasus yang belum dilaporkan ini saya memperkirakan sekitar 3000 kasus baru akan terdaftar. Apalagi jika kita melakukan Testing dan Konseling sukarela di kantong-kantong pengguna narkoba suntikan. Program ini belum digarap secara baik.  Angka baru ini dapat merubah sikap masyarakat, pejabat pemerintah, dan tokoh masyarakat yang masih beranggapan masalah AIDS di negeri kita belumlah menjadi ancaman karena jumlahnya masih sedikit. Penambahan angka baru ini juga akan.menunjukkan  kantong-kantong kasus baru terutama yang berasal dari kasus baru akibat penggunaan narkoba suntikan. Kita sudah sejak tahun 1986 menyelenggarakan pencatatan kasus HIV/AIDS dinegeri kita ini. Rasanya sudah waktunya angka yang tercatat mendekati kejadian yang sebenarnya ada di masyarakat. Bukankah angka tersebut akan digunakan untuk pengambilan keputusan?


Meningkatkan Upaya Pencegahan

Keberhasilan Thailand, Uganda serta beberapa negara lain dalam menekan angka penularan dapat kita tiru. Intinya adalah informasi, hubungan seks yang aman serta mengurangi kemudharatan penggunaan jarum suntik di kalangan penggunaan narkoba. Kita sudah tak punya waktu lagi untuk terus berdebat. Umpama rumah kita sedang terbakar maka kita tak dapat menghabiskan waktu untuk membahas bagaimana memadamkan api, namun semua harus berusaha. Orang tua, kalangan agama, guru, tokoh masyarakat amat berperan dalam meningkatkan daya tahan keluarga terutama remaja dalam mencegah penularan HIV/AIDS. Dua jalur penting penularan yang sekarang ini terjadi adalah penggunaan narkoba dan hubungan seks yang tak aman. Kalangan kesehatan perlu diberi kesempatan untuk melakukan upaya dengan sungguh-sungguh untuk melakukan upaya pencegahan yang telah terbukti bermanfaat.

Pada sebuah sidang pleno kongres ini juga digambarkan oleh seorang pakar epidemiologi bagaimana akibat keterlambatan respons suatu negara terhadap terhadap peningkatan kasus infeksi HIV-nya dibandingkan dengan negara lain yang lebih cepat. Kurangnya pesan kedaruratan akibat epidemi AIDS di suatu negera mengakibatkan respons yang dilakukan kurang adekuat. Selain itu pada kongres ini juga disebutkan juga tiga negara yang risiko penambahan kasusnya amat cepat yaitu: Cina, Vietnam dan Indonesia.

Upaya pencegahan AIDS telah dilakukan di Indonesia sejak tahun 1986. Setelah pelaksanakan upaya tersebut selama 18 tahun kita hendaknya tak boleh lelah tapi justru melaksanakan upaya pencegahan dengan lebih efisien karena pengalaman yang begitu lama.


Layanan Terapi yang merata

Program 3 by5 (3juta orang mendapat ARV pada tahun 2005) badan kesehatan sedunia WHO serta dukungan pemerintah dalam program terapi telah diketahui masyarakat. Sejumlah langkah penting telah dilakukan Indonesia. Obat ARV telah masuk daftar obat esensial nasional pada akhir 2002. Seharusnya dengan memasukkan obat ARV ke daftar obat esensial nasional obat ARV tersedia di rumah sakit yang telah ditetapkan. Produksi obat ARV generik telah dapat dilakukan di negeri sendiri sejak akhir tahun 2003. Pada saat kongres ini berlangsung Thailand telah menanda tangani kerjasama dengan 6 negara untuk meningkatkan produski obat generik di dunia. Sedangkan Indonesia telah lama menandatangani kerjasama dengan Thailand sehingga diharapkan akan menjadi penyedia utama obat generik di negara berkembang.

Meski berbagai isyu negatif tentang mutu obat generik dihembuskan namun upaya untuk pengadaan obat ARV generik di dunia harus terus ditingkatkan karena hanya obat inilah yang sementara ini menjadi harapan masyarakat yang tak mampu. Kualitas obat ARV generik seperti obat lainnya harus tetap dipantau dan ditingkatkan. WHO telah mengalokasikan dana untuk bantuan tehnis meningkatkan produksi obat ARV generik di dunia. Indonesia juga dapat memanfaatkan bantuan ini. Thailand sedang memperluas kapasitas produksinya dengan mendirikan pabrik baru sehingga akan mampu memproduksi 100.000 paket setiap bulan. Bahkan dalam jangka panjang Thailand akan berusaha memproduksi bahan baku obat ARV.

Dalam upaya pengadaan dan distribusi obat ARV ini kita perlu saling membantu. Marilah kita hindari perbedaan pendapat yang tak produktif serta membingungkan masyarakat. Keberanian pemerintah untuk berpihak kepada kepentingan masyarakat perlu didukung sehingga kebijakan tersebut dapat segera dinikmati masyarakat.


Keterlibatan Akademisi

Sebenarnya keterlibatan akademisi dalam upaya penanggulangan AIDS sudah berlangsung lama namun gaungnya kurang terdengar. Kelompok Studi Khusus (Pokdisus) AIDS Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia berdiri tahun 1986. Ini menunjukkan kepedulian para akademisi terhadap masalah AIDS sudah sejak dini. Meski dengan sumber daya terbatas kelompok ini dibantu oleh teman-teman Lembaga swadaya Masyarakat telah melakukan upaya penyuluhan, pencegahan serta dukungan dan terapi.

Infrastruktur untuk diagnosis dan terapi telah lama dikembangkan. Pemeriksaan CD4 telah dapat dilakukan pada tahun 1986, viral load tahun 1988. Pengalaman menggunakan ARV telah ada sejak tahun 1987 meski pengalaman yang lebih intensif lebih dirasakan lagi sejak obat ARV generik tersedia. Semua dilakukan dengan tidak menunggu bantuan pemerintah atau lembaga donor. Teman akdemisi di Bali dan kota lain juga berusaha sesuai dengan kemampuan yang ada.  Bayangkan jika kita baru sekarang memulai upaya upaya ini, membangun oinfrastruktur dan menuai pengalaman, mungkin baru 2 sampai 3 tahun kedepan kita akan mampu menatalaksana kasus AIDS dengan terapi ARV.  Sikap untuk memulai dengan kemampuan sendiri ini perlu terus dikembangkan.

Keterlibatan teman-teman profesi kesehatan masyarakat juga nyata. Mereka telah mewarnai berbagai kebijakan dalam upaya penyuluhan dan  pencegahan AIDS di negeri kita. Sudah tentu kita berharap peran ini akan terus ditingkatkan. Pengalaman lapangan yang telah ada selama ini perlu dinilai dan jika baik disebar luaskan. Pengalaman testing dan konseling sukarela di Jakarta dan Bali perlu diketahui teman-teman daerah lain. Pengalaman lapangan tersebut akan lebih berharga daripada konsep yang datang dari luar, karena sesuatu yang berhasil di negara orang mungkin perlu disesuaikan agar juga berhasil di negeri kita.

Salah satu upaya yang dapat dikembangkan oleh teman -teman profesi kesehatan masyarakat adalah penilaian cost effectiveness program upaya penanggulangan AIDS di negeri kita. Kita beruntung memperoleh cukup bantuan dana untuk mendukung upaya penanggulangan AIDS di negeri kita. Namun alangkah baiknya jika kita dapat pengungkapkan prioritas kita kepada lembaga donor yang membantu supaya program yang dijalankan sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat. Selain itu perlu dilakukan evaluasi seberapa jauh dana tersebut bermanfaat untuk masyarakat kita. Apakah program yang kita lakukan telah cukup cost effective, terlepas asal dana yang digunakan. Kita perlu mempertanggung jawabkannya kepada masyarakat. Penilaian tersebut mungkin dapat menyempurnakan penggunaan dana yang terbatas itu sehingga bermanfaat bagi masyarakat secara keseluruhan.

Pulang dari kongres AIDS ini banyak sekali PR (pekerjaan rumah) yang perlu kita lakukan, baik oleh peserta hadir maupun teman-teman lain yang tak menghadiri kongres ini. Kita perlu memperkuat hubungan teman-teman dilapangan dengan pengambil keputusan, kita perlu lebih mempedulikan peningkatan kasus HIV di negeri kita. Suara teman-teman di daerah yang telah lama menunggu obat ARV harus segera ditanggapi dengan langkah nyata. Kita harus selalu menyempurnakan jaringan layanan HIV/AIDS yang tersebar di tanah air. Agar menjadi layanan kesehatan yang lebih bersahabat. Kita perlu mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat agar mudah dijangkau. Kita perlu mempersiapkan diri untuk memikul tanggung jawab penanggulangan AIDS di negeri kita, karena tanggung jawab tersebut merupakan tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat Indonesia. Jika sikap ini dapat kita kembangkan pada bidang lain, upaya penanggulangan AIDS di negeri kita tidak hanya bermanfaat untuk menanggulangi AIDS tapi juga dapat merangsang kemandirian kita sebagai bangsa.


(Samsuridjal Djauzi dan Kurniawan Rachmadi, Bangkok)

sumber: aids-ina

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan