|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Keterpaduan dalam
Penanggulangan AIDS Belum Jadi Kenyataan
SENIN pagi, 12 Juli lalu, di harian Bangkok Post terpampang
iklan satu halaman, di halaman 11, berjudul "Beware of
The Hype (Awas Pernyataan Berlebihan)". Pemasang iklan
tersebut adalah AIDS Responsibility Project, yang tidak
mencantumkan nama dan alamat. Meskipun tanpa identitas,
tampaknya iklan itu menyuarakan kepentingan produsen
obat paten, karena iklan ditutup dengan kalimat, "masyarakat
miskin pantas mendapat yang
lebih baik dari kita daripada harapan dan obat palsu".
Pernyataan pada iklan tersebut
dirasakan membela kepentingan obat paten. Iklan tersebut
menyatakan, bahwa klaim obat antiretroviral (ARV) generik
bermanfaat dan aman, serta perlu disebarkan seluas-luasnya
kepada masyarakat yang memerlukan, sebagai sebuah
pernyataan yang berlebihan. Sudah tentu iklan itu
membuat dahi para aktivis AIDS (acquired immunodeficiency
syndrome) berkerut. Sejak pembukaan Kongres AIDS
Sedunia, suara yang jelas terdengar adalah tuntutan
akses untuk semua, termasuk akses terhadap obat ARV.
Pada Minggu, 11 Juli, pagi hari,
di halaman kompleks IMPACT, Bangkok, tempat Kongres AIDS
Sedunia yang ke-15 itu berlangsung, terjadi demo besar-besaran,
menuntut akses obat AIDS untuk semua. Peserta demo sebagian
besar aktivis AIDS Thailand. Demo itu juga diikuti peserta
kongres dari negara lain. Peserta demo juga menuntut
agar pembicaraan mengenai perdagangan bebas Thailand dan
Amerika Serikat segera diakhiri,
terutama yang menyangkut isu proteksi obat paten.Kamol
Upakaew dari Network of Thai People Living with AIDS,
mengungkapkan, perjanjian perdagangan bebas itu dapat
mempersulit akses obat ARV. Para demonstran juga menyampaikan
surat kepada Badan Kesehatan Dunia (WHO),
Badan PBB untuk AIDS (UNAIDS),
serta Ketua International AIDS Society Joep Lange.
Ketika pengembangan ilmu kedokteran berhasil menemukan obat
yang efektif untuk AIDS, maka sistem perdagangan dunia
menjadi penghalang untuk tersedianya obat tersebut bagi
masyarakat yang kurang mampu. Harapan yang dikemukakan
berbagai pihak pada kongres itu, agar menggalang kekuatan
bersama melawan AIDS, pada kehidupan nyata masih belum
terwujud. Baru sehari kongres dibuka, pertentangan antara
produsen obat paten dengan obat generik mulai terasa.
Pertentangan itu terlihat
seperti pertentangan antara gajah dan semut. Di ruang pameran,
berbagai produsen obat paten memamerkan produk mereka dengan
ruang pamer yang besar, mewah, dan nyaman. Sedangkan produsen
obat generik hanya dapat membagikan brosur-brosur yang
amat sederhana. Para aktivis AIDS tentulah tidak
mempunyai dana cukup membuat iklan satu halaman untuk melawan
iklan di harian Bangkok Post tersebut. Namun, mereka semakin
menyadari, hambatan dalam melaksanakan akses untuk semua
yang merupakan tema Kongres AIDS Sedunia kali ini masih
kuat.
Selain meningkatkan jalinan
kerja sama untuk akses terapi, pada kongres kali ini
juga didengungkan agar terapi dipadukan dengan upaya
pencegahan. Upaya terapi yang berhasil akan meningkatkan
minat masyarakat pada upaya pencegahan. Sebaliknya, upaya
pencegahan yang berhasil, akan menyelamatkan nyawa jutaan
manusia, serta mengurangi pengeluaran untuk terapi.
Dewasa ini, upaya pencegahan
AIDS tidak boleh ditinggalkan, bahkan harus tetap ditingkatkan.
Namun, upaya terapi juga harus segera dilakukan, karena
jumlah orang yang memerlukan terapi sudah hampir mencapai enam
juta orang di seluruh dunia. Upaya pencegahan yang
dianggap efektif adalah pemberian informasi, penggunaan kondom,
dan pengurangan dampak buruk penggunaan narkoba suntikan
(harm reduction). Sedangkan upaya terapi adalah penggunaan
obat ARV dan infeksi oportunistik, seperti yang
diprogramkan WHO. Rekomendasi yang masuk akal yang
didengungkan di dalam arena kongres pada kenyataannya di
masyarakat juga masih merupakan harapan. Upaya terapi di
berbagai negara termasuk Indonesia, masih sangat terbatas.
Jumlah orang dengan HIV/AIDS (Odha)
yang meninggal tanpa mendapat terapi yang diperlukan, masih
banyak. Di sebuah kelurahan di Jakarta Pusat saja sejak
Januari sampai Juni 2004, tercatat 24 remaja meninggal dunia
karena AIDS. Bahkan cukup banyak remaja
yang aktif dalam upaya penanggulangan AIDS, tidak dapat
menjangkau ARV untuk keperluan diri mereka sendiri.
Kepedulian terhadap upaya
terapi masih rendah, bahkan dari lembaga donor internasional
sekalipun. Sampai saat ini, upaya terapi yang dilaksanakan di
Indonesia sebagian besar masih menjadi beban Odha dan keluarga.
Pemerintah telah melakukan alokasi dana Rp 10 miliar,
namun sampai sekarang belum terlaksana.
Jumlah Odha yang mendapat
dukungan biaya terapi dari lembaga donor amat sedikit. Di
Jakarta sekitar 40 orang mendapat dukungan dari MSF Prancis,
dan jumlah yang lebih sedikit di Papua oleh MSF Belgia.
Dukungan nyata dari lembaga donor internasional lain
belum terlihat, sementara bantuan Global Fund untuk 200
Odha baru terlaksana untuk obat infeksi oportunistik. Bantuan
obat ARV belum dapat dibagikan. Padahal, Indonesia menetapkan
sasaran untuk tahun 2004 ini akan dapat memberikan layanan ARV
pada 5.000 Odha.
Kongres AIDS kali ini berhasil
memperbarui komitmen pemimpin pemerintahan dan aktivis AIDS.
Tekad yang menggebu dari Perdana Menteri Thailand Thaksin
Shinawatra merupakan angin segar di dalam upaya penanggulangan
AIDS. Pada kenyataan di lapangan, agaknya masih
menghadapi berbagai rintangan dalam pelaksanaannya,
termasuk di Thailand. Tampaknya, kita memerlukan sistem
perdagangan baru, yang lebih berpihak kepada kemanusiaan.
(Samsuridjal Djauzi dan
Kurniawan Rachmadi, Bangkok)
sumber:
aids-ina
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |