OZZY

Fokus:

X








Website ini diterbitkan dalam
 rangka menyebarluaskan
 informasi mengenai
 kesehatan reproduksi dan
 seksualitas dari dan
untuk individu/
organisasi/lembaga yang 
mempunyai kepedulian 
terhadap kesehatan
 reproduksi dan jender. 
Redaksi menerima sumbangan
 pemikiran, opini, hasil kajian 
lapangan serta pengalaman 
yang berkaitan dengan 
maksud penerbitan 
website ini.

Tim Penyusun:
Ahmad Fauzi
Mercy Lucianawaty
Laily Hanifah
Nur Bernadette

Kritik & Saran:
Mitra INTI Foundation
Jl.Mampang Prapatan XIV No. 5
Tegal Parang
Mampang Prapatan
Jakarta 12790
Telp: 021 - 7991890, 7993426
Fax: 021 - 7993426
E-mail: yminti@mweb.co.id 

Depan > Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS > Informasi

Keterpaduan dalam Penanggulangan AIDS Belum Jadi Kenyataan

SENIN pagi, 12 Juli lalu, di harian Bangkok Post terpampang iklan satu halaman, di halaman 11, berjudul "Beware of The Hype (Awas Pernyataan Berlebihan)". Pemasang iklan tersebut adalah AIDS Responsibility Project, yang tidak mencantumkan nama dan alamat. Meskipun tanpa identitas, tampaknya  iklan itu menyuarakan kepentingan produsen obat paten, karena iklan ditutup  dengan kalimat, "masyarakat miskin pantas mendapat yang
lebih baik dari kita daripada harapan dan obat palsu".

Pernyataan pada iklan tersebut dirasakan membela kepentingan obat paten. Iklan tersebut menyatakan, bahwa klaim obat antiretroviral (ARV) generik bermanfaat dan aman, serta perlu disebarkan seluas-luasnya kepada masyarakat  yang memerlukan, sebagai sebuah pernyataan yang berlebihan. Sudah tentu  iklan itu membuat dahi para aktivis AIDS (acquired immunodeficiency  syndrome) berkerut. Sejak pembukaan Kongres AIDS
Sedunia, suara yang jelas  terdengar adalah tuntutan akses untuk semua, termasuk akses terhadap obat  ARV.

Pada Minggu, 11 Juli, pagi hari, di halaman kompleks IMPACT, Bangkok, tempat  Kongres AIDS Sedunia yang ke-15 itu berlangsung, terjadi demo besar-besaran,  menuntut akses obat AIDS untuk semua. Peserta demo sebagian besar aktivis AIDS Thailand. Demo itu juga diikuti peserta kongres  dari negara lain. Peserta demo juga menuntut agar pembicaraan mengenai  perdagangan bebas Thailand dan Amerika Serikat segera diakhiri,
terutama  yang menyangkut isu proteksi obat paten.Kamol Upakaew dari Network of Thai People Living with AIDS, mengungkapkan, perjanjian perdagangan bebas itu dapat mempersulit akses obat ARV. Para demonstran juga menyampaikan surat kepada Badan Kesehatan Dunia (WHO), 

Badan  PBB untuk AIDS (UNAIDS), serta Ketua International AIDS Society Joep Lange.  Ketika pengembangan ilmu kedokteran berhasil menemukan obat yang efektif  untuk AIDS, maka sistem perdagangan dunia menjadi penghalang untuk  tersedianya obat tersebut bagi masyarakat yang kurang mampu. Harapan yang dikemukakan berbagai pihak pada kongres itu, agar menggalang kekuatan bersama melawan AIDS, pada kehidupan nyata masih belum terwujud. Baru sehari kongres dibuka, pertentangan antara produsen obat paten dengan obat generik mulai terasa.

Pertentangan itu terlihat seperti pertentangan antara gajah dan semut. Di ruang pameran, berbagai produsen obat paten memamerkan produk mereka dengan  ruang pamer yang besar, mewah, dan nyaman. Sedangkan produsen obat generik  hanya dapat membagikan brosur-brosur yang amat sederhana. Para aktivis AIDS  tentulah tidak mempunyai dana cukup membuat iklan satu halaman untuk melawan  iklan di harian Bangkok Post tersebut. Namun, mereka semakin menyadari,  hambatan dalam melaksanakan akses untuk semua
yang merupakan tema Kongres  AIDS Sedunia kali ini masih kuat.

Selain meningkatkan jalinan kerja sama untuk akses terapi, pada kongres kali  ini juga didengungkan agar terapi dipadukan dengan upaya pencegahan. Upaya  terapi yang berhasil akan meningkatkan minat masyarakat pada upaya pencegahan. Sebaliknya, upaya pencegahan yang berhasil, akan menyelamatkan nyawa jutaan manusia, serta mengurangi pengeluaran untuk terapi. 

Dewasa ini, upaya pencegahan AIDS tidak boleh ditinggalkan, bahkan harus tetap ditingkatkan. Namun, upaya terapi juga harus segera dilakukan, karena  jumlah orang yang memerlukan terapi sudah hampir mencapai enam juta orang di  seluruh dunia. Upaya pencegahan yang dianggap efektif adalah pemberian informasi, penggunaan kondom, dan pengurangan dampak buruk penggunaan narkoba suntikan  (harm reduction). Sedangkan upaya terapi adalah penggunaan obat ARV dan  infeksi oportunistik, seperti yang diprogramkan WHO. Rekomendasi yang masuk  akal yang didengungkan di dalam arena kongres pada kenyataannya di  masyarakat juga masih merupakan harapan. Upaya terapi di berbagai negara termasuk Indonesia, masih sangat terbatas.

Jumlah orang dengan HIV/AIDS (Odha) yang meninggal tanpa mendapat terapi yang diperlukan, masih banyak. Di sebuah kelurahan di Jakarta Pusat saja sejak Januari sampai Juni 2004, tercatat 24 remaja meninggal dunia karena AIDS. Bahkan cukup banyak remaja
 yang aktif dalam upaya penanggulangan AIDS, tidak dapat menjangkau ARV untuk  keperluan diri mereka sendiri.

Kepedulian terhadap upaya terapi masih rendah, bahkan dari lembaga donor internasional sekalipun. Sampai saat ini, upaya terapi yang dilaksanakan di Indonesia sebagian besar masih menjadi beban Odha dan keluarga. Pemerintah  telah melakukan alokasi dana Rp 10 miliar, namun sampai sekarang belum  terlaksana.

Jumlah Odha yang mendapat dukungan biaya terapi dari lembaga donor amat sedikit. Di Jakarta sekitar 40 orang mendapat dukungan dari MSF Prancis, dan  jumlah yang lebih sedikit di Papua oleh MSF Belgia. Dukungan nyata dari  lembaga donor internasional lain belum terlihat, sementara bantuan Global  Fund untuk 200 Odha baru terlaksana untuk obat infeksi oportunistik. Bantuan obat ARV belum dapat dibagikan. Padahal, Indonesia menetapkan  sasaran untuk tahun 2004 ini akan dapat memberikan layanan ARV pada 5.000  Odha.

Kongres AIDS kali ini berhasil memperbarui komitmen pemimpin pemerintahan dan aktivis AIDS. Tekad yang menggebu dari Perdana Menteri Thailand Thaksin  Shinawatra merupakan angin segar di dalam upaya penanggulangan AIDS. Pada  kenyataan di lapangan, agaknya masih menghadapi berbagai rintangan dalam  pelaksanaannya, termasuk di Thailand. Tampaknya, kita memerlukan sistem  perdagangan baru, yang lebih berpihak kepada kemanusiaan.

(Samsuridjal Djauzi dan Kurniawan Rachmadi, Bangkok)

sumber: aids-ina

 

kembali ke atas

kembali ke index pms & hiv/aids

 

depan | profil | informasi | info buku | link | kritik | Curah Pendapat   
Kesehatan Ibu & Anak
| Keluarga Berencana | Kesehatan Rep Remaja
PMS & HIV/AIDS
| Aging | Gender & Kekerasan