|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Pengobatan Anti
Retroviral pada Ko Iinfeksi HIV-HEPATITIS C
Oleh: Zubairi Djoerban
MASALAH HIV
Masalah HIV di Indonesia sudah menjadi masalah besar.
Bukti yang bisa kita lihat di depan mata adalah banyaknya
pasien yang berobat setiap hari di berbagai rumah sakit di
Jakarta, Bandung ataupun Surabaya dan daerah lain seluruh
Indonesia. Di Jakarta sebagai contoh, di RS Cipto Mangunkusumo
setiap hari ada 40 odha yang berobat jalan. Di RSK Dharmais 25
- 40 odha setiap hari yang berobat jalan, sedangkan penulis
sendiri mengobati 10 - 15 odha berobat jalan setiap hari.
MASALAH HEPATITIS C
Di seluruh dunia ada sekitar 150 juta pasien hepatitis C
kronik dengan prevalensi sekitar 3%, termasuk Indonesia. Jadi,
di Indonesia paling sedikit ada 6 juta pasien hepatitis C
kronik. Di Amerika sekitar 2% penduduk terinfeksi hepatitis C.
Infeksi akut biasanya
tanpa gejala. Setelah paparan, sekitar 85% pasien infeksi
hepatitis C akan menjadi infeksi kronik.
Infeksi kronik hepatitis
C dapat berkembang menjadi sirosis hati dan kanker hati. Angka
kematian kedua penyakit hati ini tinggi, di Amerika saja 8.000
-10.000 orang meninggal akibat kanker hati dan sirosis akibat
hepatitis C. Penatalaksanaan masalah hepatitis
C pada odha menjadi penting karena prevalensi hepatitis C
yang tinggi sekali pada odha pengguna narkotika.
Untuk diketahui, pengguna narkotika suntik mempunyai risiko
tinggi untuk tertular oleh virus HIV atau bibit-bibit penyakit
lain yang dapat menular melalui darah. Penyebabnya
adalah penggunaan jarum suntik secara bersama dan berulang
yang lazim dilakukan oleh
sebagian besar pecandu. Walaupun harga jarum suntik
relatif murah, tetapi banyak pecandu yang enggan menggunakan
uangnya untuk membeli jarum suntik baru,
lebih baik uangnya digunakan untuk membeli putauw. Selain HIV,
sebagian besar (sekitar 80%) pengguna narkotika juga
terinfeksi virus hepatitis C.
Infeksi pada katup jantung juga adalah penyakit yang dijumpai
pada odha pengguna naza. Infeksi pada katup jantung
tidak ditemukan pada odha yang tertular seksual. Infeksi
secara bersamaan ini akan menimbulkan efek yang buruk.
Infeksi bibit penyakit lain selain HIV akan menyebabkan virus
HIV membelah dengan lebih cepat sehingga jumlahnya akan
meningkat pesat. Akibatnya perjalanan penyakitnya biasanya
lebih
progresif.
Pengobatan hepatitis C mengalami kemajuan pesat, yaitu antara
lain dengan menggunakan kombinasi pegylated inteferon alfa dan
ribavirin.
MASALAH KOINFEKSI HIV-Hepatitis C
Koinfekasi Hepatitis C pada pasien HIV sering ditemukan,
khususnya pada pengguna narkotika. Prevalensi hepatitis C pada
pengguna narkotika sekitar 50-90%, di Indonesia, maupun di
negara lain. Penelitian kohor 3.048 odha di Eropa (EuroSida)
menunjukkan 75% pengguna narkotika terinfeksi hepatitis C.
Sebagian besar odha yang berobat jalan di berbagai kota di
Indonesia berasal dari pengguna narkotika. Ko infeksi ini
menimbulkan berbagai masalah. Ko infeksi
meningkatkan penularan penularan hepatitis C melalui hubungan
seksual dan juga penularan vertikal hepatitis C, dari ibu ke
anak. Dan ko infeksi juga meningkatkan
penularan HIV secara vertikal dari 16% ke 26%. Rata-rata
prevalensi hepatitis C pada odha pengguna narkotika 80%,
sedangkan pada odha penularan seksual 8%.
Prevalensi sirosis hati akibat hepatitis S, 3 kali lebih
sering ditemukan pada odha dibandingkan dengan prevalensi
sirosis akibat hepatitis C pada orang yang tidak terinfeksi
HIV (Poynard 2005). Pokok bahasan selanjutnya adalah
pengobatan ARV pada odha yang juga terinfeksi hepatitis C.
Pengobatan ARV pada ko infeksi hepatitis C Sekarang ini
tersedia ARV gratis di Indonesia. ARV yang tersedia gratis
adalah duviral (zidovudine + lamivudine) dan neviral
(nevirapine). Sedangkan efavirenz (Stocrin) tersedia gratis
dalam jumlah yang
amat terbatas. Obat lain yang ada di Pokdisus AIDS FKUI RS
Cipto Mangunkusumo adalah stavudine (stavir), didanosine
(videx), nelfinavir (nelvex, nelvir).
Jadi, ada beberapa pilihan kombinasi pengobatan yang dapat
diterima odha di Indonesia, yaitu:
1. Duviral dan Neviral
2. Stavir, Hiviral/Lamivudine dan Neviral
3. Stavir, Hiviral/Lamivudine dan Neviral
4. Duviral dan Stocrin/Efavir
5. Duviral dan Nelfinavir
6. Zidovudine/Retrovir, Lamivudine dan Nelfinavir
7. Stavir, Lamivudine dan Nelfinavir
8. Stavir, Hiviral dan Stocrin
9. Stavir, Hiviral dan Nelfinavir
10. Videx, Hiviral, Stocrin
11. Videx, Hiviral dan Neviral
Didanosine atau Stavudin tidak boleh diminum untuk odha yang
sedang mendapat pengobatan interferon dan ribavirin, karena
beratnya efek samping terhadap
gangguan faal hati. Jadi pilihan pengobatan untuk odha
yang ingin mendapat pengobatan pegylated intereferon-ribavirin
tinggal 3mpat (ad. 1, 4,5,6).
Zidovudine, termasuk Duviral dan Retrovir harus ketat dipantau
bila digunakan bersama ribavirin (untuk pengobatan hepatitis
C), karena masing-masing memudahkan timbulnya anemia. Anemia
bisa diantisipasi dengan pemberian eritropoetin atau transfusi
darah.
Neviral dapat mengganggu faal hati. Jadi, kadar hemoglobin dan
leukosit serta tes faal hati (SGOT, SGPT, bilirubin dll) harus
dipantau ketat.
Inteferon dapat menekan CD4 dan lekosit, jadi untuk odha
dengan CD4 rendah, sebaiknya memusatkan prioritas untuk
pengobatan HIV/AIDS. Bila perlu sekali, pilihan
lain adalah menggunakan "growth factor" (Neupogen,
Granocyte, Leukogen)yang harganya lumayan mahal.
Menurut tim ahli Amerika (DHHS April 2005), Nevirapine
walaupun dapat menimbulkan gangguan faal hati, boleh digunakan
pada odha dengan koinfeksi hepatitis C, dengan pemantauan yang
seksama. Untuk odha dengan CD4 lebih dari 200, pengobatan
sebaiknya dimulai dengan pegylated interferon-ribavirin.
Sedangkan untuk odha dengan CD4 kurang dari 200, pengobatan
dimulai dengan ARV, setelah CD4 naik, baru dipertimbangkan
pegylated interferon-ribavirin.
Konsensus Paris 2005 menganjurkan pemberian pegylated
interferon-ribavirin selama 48 minggu.
Dapat disimpulkan bahwa odha menghadapi berbagai masalah, baik
masalah kesehatan, masalah psikologis maupun masalah sosial.
Odha, khususnya odha pengguna narkotika sering mengalami
masalah beberapa masalah kesehatan sekaligus, tbc,
toksoplasma, sifilis, pneumonia, jamur dan koinfeksi hepatitis
C. Koinfeksi dengan hepatitis C memerlukan penatalaksanaan
yang lebih khusus dan komprehensif. Jenis kombinasi ARV juga
perlu dipantau lebih ketat terhadap gangguan faal hati,
anemia, leukopenia dan penurunan CD4.
BAHAN BACAAN
David Bernstein Hepatitis C - Current State of the Art and
Future Directions 55th Annual Meeting of the American
Association for the Study of Liver Diseases Viral Liver
Disease CME October 29, 2004 - November 2, 2004, Boston,
Massachusetts
Khalili M: Coinfection with Hepatitis Viruses and HIV HIV
InSite Knowledge Base Chapter December 2004
Panel on Clinical Practices for Treatment of HIV Infection
convened by the Department of Health and Human Services
(DHHS): Guidelines for the Use of Antiretroviral Agents in
HIV-1-Infected Adults and Adolescents. April 2005
Thierry Poinard: Management of patients co infected by HCV and
HIV. In New challenges in hepatitis C management. Shangri-La.
Jakarta 24 July 2005-07-31
Valencia E: Advances in the Management of Hepatitis
Infections. Highlights of the 15th European Congress on
Clinical Microbiology and Infectious Diseases April 2 - 5,
2005, Copenhagen, Denmark
Wedemeyer H, Manns MP: Management of Hepatitis C - Addressing
the Issues Beyond the Guidelines. 40th Annual Meeting of the
European Association for the
Study of the Liver Viral Hepatitis April 13 - 17, 2005, Paris,
France
sumber:
AIDS-INA
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |