|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Di Mataram
Ditemukan 15 Kasus AIDS Dan 23 Infeksi HIV
Hingga pertengahan Agustus 2005, di Nusa
Tenggara Barat (NTB) ditemukan 15 kasus AIDS dan 23 kasus infeksi
HIV menurut Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) dalam sambutan tertulis
dibacakan Kepala Dinas Kesehatan NTB Dr B Magdalena pada Advokasi Pendirian Kelompok Dukungan Program Sasaran Kelompok Resiko
Tinggi di Mataram, Senin (22/8) mengatakan, kasus tersebut
tersebar pada berbagai kabupaten dan kota seperti Kota Mataram
sebanyak 19 kasus.
Selanjutnya, Lombok Barat anam kasus, Lombok Tengah tiga,
Lombok Timur enam, Dompu satu dan Sumbawa tiga kasus. Sedangkan
untuk Kabupaten Sumbawa Barat, Bima dan Kota Bima belum ditemukan
kasus HIV. Secara nasional kasus HIV dan AIDS sampai 31 Juni 2005
secara kumulatif tercatat 3.358 kasus AIDS sedangkan HIV 3.740
kasus.
Dikatakanya, yang lebih memprihatinkan lagi di daerah ini telah
ditemukan tiga kasus positif HIV dikalangan ibu rumah tangga.
Kondisi ini perlu diwaspadai dan menjadi tugas bersama untuk
mencegah dan menanggulanginya. Tugas berat seperti itu tidak bisa
hanya diberikan kepada Dinas Kesehatan saja tetapi menjadi tugas
semua elemen masyarakat.
Menurut Gubernur, masalah HIV/AIDS di NTB merupakan masalah
yang cukup kompleks ditinjau dari upaya penanggulangannya. Hal ini
dimaklumi karena NTB yang terbuka dimana mobilitas penduduknya
cukup tinggi.
Selain itu, pengiriman tenaga kerja ke luar negeri cukup banyak
dan terus meningkat disamping perkembangan dunia pariwisata
dikhawatirkan membawa resiko terhadap timbulnya penyebaran
HIV/AIDS.
Untuk menemukan HIV positif secara lebih dini, diperlukan
pelayanan onseling dan test secara sukarela. Terkait dengan hal
ini, di NTB telah idirikan dua buah klinik Voluntary onseling And
Testing (VCT) di Rumah akit Umum (RSU) dan Rumah Sakit Jiwa (RSJ)
Mataram. Sarana ini diharapkan bisa membantu masyarakat yang ingin
mengetahui status penyakitnya dan sebagai upaya memberikan bantuan
konseling yang dibutuhkan sehingga penanganan kasus HIV/AIDS bisa
dilakukan lebih dini.
Namun demikian, kata Gubernur, sarana tersebut belum
dimanfaatkan oleh masyarakat. Kedepan perlu dilakukan upaya
mobilisasi dan sosialisasi klinik VCT melalui media massa yang
telah dilaksanakan selama ini.
"Sarana Advokasi tersebut bertujuan untuk meyakinkan
seluruh individu, kelompok atau organisasi yang berpengaruh
melalui berbagai
kegiatan persuasif dan secepatnya melakukan suatu pencegahan
dan penanggulangan penyebaran HIV/AIDS terutama di daerah
ini," kata Gubernur. (Ant/OL-06)
sumber:
Media Indonesia Online, Senin 22 Agustus 2005
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |