|
Depan
> Penyakit Menular Seksual & HIV/AIDS
> Informasi
Buah
Merah Belum Teruji Klinis Bisa Sembuhkan AIDS
Walau beberapa waktu terakhir
buah merah (Pandanus Conoideus Lam) dikabarkan mampu menangkal
HIV/AIDS, namun belum ada uji klinis yang membuktikan hal
tersebut.
Hal itu dikatakan Prof Dr
Zubairi Djoerban dari RS Cipto Mangunkusumo dalam acara
seminar bertajuk "Integrasi Pelayanan dan Penanganan
Kasus HIV/AIDS pada Ibu Hamil dan Balita Pada Pusat Layanan
Kesehatan Dasar", Rabu (24/8).
"Hingga saat ini belum ada
suatu kajian ilmiah yang membuktikan khasiat buah merah dalam
mengobati HIV/AIDS. Lagipula hingga kini juga belum dapat
diidentifikasikan zat efektif yang secara spesifik bereaksi
pada virus HIV," ujarnya.
Menurut Zubairi, secara mamfaat
buah merah tidak jauh berbeda dengan buah yang lain seperti
tomat, pisang, dan mangga. "Terutama tomat, banyak
penelitian yang menunjunkkan dampak positif dari pengonsumsian
tomat. Dan laiknya sayur dan buah yang lain buah merah memang
mengandung antioksidan yang dapat mencegah kerusakan sel oleh
radikal bebas tetapi hingga kini uji klinisnya belum
menunjukkan hasil konsisten," katanya.
Lebih lanjut Zubairi
mengategorikan bahwa ada dua jenis sarana pengobatan yaitu
obat dan makanan suplemen (complementary and alternative
medicine/CAM).
Obat, Zubairi menambahkan,
harus mengikuti "good manufacturing practices"
sedangkan CAM yang dianggap sebagai "diet
supplement" cukup mengikuti "manufacturing
requirement" makanan.
"Jadi jika ada orang
bilang bahwa satu obat dapat mengobati berbagai macam penyakit
mulai dari kanker, HIV/AIDS, tekanan darah tinggi dan
lain-lain maka jelas itu berlebihan karena setiap penyakit
tentu memiliki spesifikasi yang berbeda-beda. Hal itu seperti
harapan dewa," katanya.
Walaupun begitu Zubairi tidak
menampik jika terkadang pasien dengan penyakit serius
memerlukan harapan dewa.
"Pada dasarnya tidak
masalah jika pasien mengonsumsi CAM itu asalkan jangan
meninggalkan pengobatan secara medis," katanya.
Menurut Zubairi yang sering
terjadi justru pasien meninggalkan pengobatan medis sehingga
putus obat, hal yang seringkali berakibat fatal.
"Bagi pasien kanker
misalnya, tentu saja ketika tiba-tiba menghentikan kemoterapi
dan mengonsumsi CAM tubuhnya merasa enak karena efek
kemoterapi hilang tetapi setelah itu kanker akan muncul
lagi," ujarnya.
Oleh karena itu untuk
kepentingan pasien maka Zubairi mengimbau setiap pihak untuk
lebih arif dalam menyikapi tren-tren yang bermunculan.
(Ant/OL-06)
sumber:
Media Indonesia Online, Rabu,
24 Agustus 2005
kembali
ke atas
kembali
ke index pms & hiv/aids |